Setelah menitipkan gorengan di Bu Nina, Natesri segera bergegas ke sekolah apalagi arah antara warung Bu Nina dan SMA Garuda tidak sama. Jadi, Naei harus memutar balik langkahnya.
Entahlah, mungkin karena Nari yang sangat kelelahan sehingga tertidur pulas dan membuat dirinya bangun lebih siang atau ada hal lain.
Seingat Nari, saat sampai di warung Bu Nina, ia sempat melihat jam dinding di sana.
Pukul 06.25
Nari semakin mempercepat larinya. Karena tidak memakai jam tangan, Nari hanya bisa menebak-nebak waktu.
Seperti biasa, pedagang kaki lima dan para pekerja mulai memenuhi sudut-sudut jalan.
Aroma dari rumah-rumah makan yang dilewati Nari, membuat ia meneguk ludah. Belum lagi harus berlari dengan perut keroncongan di bawah sinar matahari yang dengan gagah menampakkan dirinya.
Benar-benar sempurna.
Waktu tempuh Nari untuk ke sekolah biasanya hanya memakan tiga puluh menit. Tapi sepertinya Nari akan terlambat karena saat menyeberang tadi, ada seorang pengendara yang seenaknya melintas di lampu merah dan membuat genangan air di samping Nari terpecik ke rok abu-abunya.
Insiden kecil itu membuat Nari menghabiskan wakti dengan percuma hanya untuk meneriaki sang pengedara motor itu yang tidak bertanggung jawab. Tapi untung saja Nari tidak tertabrak.
"BISA BAWA MOTOR GAK SIH?!" Ini adalah hari tersial bagi Nari. Bangun kesiangan, rok kotor, dan sekarang ia hampir terserempet.
Dengan langkah terburu-buru, Nari segera pengendara ugal-ugalan itu yang telah berhenti saat mendengar teriakan Nari.
Waktu yang terus berjalan tidak Nari pedulikan lagi, toh dia sudah terlambat. Kekesalan yang ia alami dari tadi pagi, akan ia tumpahkan ke pengendara itu. Masa bodoh kalau ia akan dikira orang gila, yang jelas Nari ingin mengeluarkan segala unek-uneknya.
"Lo kalau gak bisa bawa motor, jangan sok-sok'an!" cerocos Nari saat sudah berada di samping pengendara itu.
Orang itu membuka kaca helm full face-nya dan meneliti Nari yang sedang menatap tajam dirinya, "Lo bukannya Nari?"
"Lah, dia tau nama gue?" Nari bingung saat orang itu menyebut namanya. Nari yakin, ia tidak memiliki kenalan yang bermotor besar seperti orang itu, apalagi ugal-ugalan di jalan.
Karena tidak mendapat respon dari Nari, orang itu segera membuka helm full face-nya. "Masih gak kenal?" tanya orang itu sambil tersenyum kecil yang dimata Nari lebih seperti seringai.
"Haris?"
*
Sebagai permintaan maaf karena hampir menyerempet Nari, Haris pun menawarkan tumpangan untuk cewek itu.
Meski awalnya Nari terlihat enggan, tapi akhirnya cewek itu mau juga. Sebenarnya, Haris malas membonceng orang lain, tapi Haris tidak suka hutang budi.
Tawaran tumpangan ini, sebenarnya untuk membalas kebaikan Nari kemarin malam meski ada sedikit keributan.
Untuk masalah hampir menyerempet Nari, hanya dijadikan sebagai alasan agar cewek itu mau menerima bantuannya. Meski hal itu benar-benar tidak disengaja. Padahal, jika Haris tidak memiliki hutang budi dengan Nari, ia akan tetap melajukan motor kesayangannya itu.
Berbicara tentang motor kesayangan, Nari seharusnya berbangga diri pikir Haris. Bagaimana tidak? Nari adalah orang pertama yang berani-beraninya duduk di atas Rain– nama motor kesayangannya. Tapi, Haris tidak mau memberitahu cewek itu, nanti dia malah besar kepala.
"Lo bisa cepetan dikit gak?" tanya Nari saat melihat tidak ada lagi para pelajar yang biasanya melewati jalan yang mereka lalui sekarang.
"Bukannya lo bilang udah telat?" balas Haris dengan sedikit berteriak agar cewek itu bisa mendengar suaranya.
Nari memutar malas kedua bola matanya. Ia memang sempat menyalahkan Haris karena sudah telat berkat cowok itu. Bahkan Nari bilang bahwa tidak ada gunanya lagi terburu-buru ke sekolah. Tapi, Nari kembali berpikir optimis apalagi ia masih berstatus murid baru.
"Itu kan tadi. Sekarang gue benar-benar mau sampai tepat waktu, meski udah mepet kayak gini" bantah Nari.
Haris menggeleng kepalanya. Ia sangat heran melihat tingkah Nari yang plin-plan. Tadi ia disuruh pelan-pelan agar tidak membahayakan orang lain, tapi sekarang berubah lagi.
Kalau bukan bentuk balas budi, Haris ogah diperintah cewek itu. Memangnya dia siapa?
"Dasar cewek aneh" gumam Haris sambil menaikkan kecepatan motornya, namun penumpangnya justru memukul sadis punggung Haris.
"GILA LO!"
*
Sepertinya, keberuntungan masih memihak Nari. Tinggal dua menit saja gerbang akan di tutup, namun ia bisa sampai di menit-menit terakhir itu.
"Kok lo ikut masuk?" tanya Nari setelah turun dari motor Haris. Ia merapikan sedikit roknya yang sedikit tersingkap dan rambutnya yang lumayan berantakan karena tidal memakai helm.
Haris bercermin sebentar di kaca spion sambil menyisir rambut hitamnya dengan jari. Ia tidak berniat menjawab pertanyaan Nari yang kelewat bodoh.
Nari yang tidak mendapat balasan apapun dari Haris cuma bisa menghela napas untuk menahan diri agar tidak menendang cowok itu.
"Yaudah, makasih atas tumpangannya" tidak ingin membuang waktu lagi, Nari segera berterima kasih kemudian segera beranjak dari tempat parkir.
Karena terlalu terburu-buru berlari ke kelas, Nari hampir tersandung kakinya sendiri. Namun, ia tetap berlari tidak peduli jika nanti ia benar-benar akan terjatuh.
Koridor yang sudah kosong karena jam pelajaran akan dimulai sebentar lagi membuat Nari semakin gelisah. Semoga saja Pak Bram belum masuk di kelasnya.
Berbanding terbalik dengan Nari yang sangat terburu-buru, Haris justru berjalan dengan santainya ke dalam sekolah. Ia tidak peduli dengan bel yang sudah berbunyi dari tadi.
Seolah-olah akan tahu diberi ceramah, Haris langsung membelokkan langkahnya ke arah kantin. Padahal Bu Kirana bisa saja memberinya izin untuk masuk belajar tapi didahului oleh ceramahan seperti biasa.
Memang, Haris lebih suka bolos daripada diceramahi. Ia benci diberi pencerahan.
Sudah menjadi rahasia umum, jika warung Pak Warno adalah tempat favorit Haris bersama teman-temannya. Jadi tidak heran, jika tempat itu akan tetap ramai meski
saat jam pelajaran. Letaknya yang jauh di belakang dan jarang dikunjungi para guru, membuat mereka bebas merokok di sana tanpa ketahuan.
"Tumben baru sampai" Marwan menyesap kopi hitamnya.
Setelah menemukan tempat duduk, Haris segera mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya, "Korek" minta Haris kepada Dean dengan tangan terbuka.
"Kenapa lo baru sampai?" tanya Dean setelah memakan ketoprak yang ia pesan untuk kedua kalinya.
"Ada masalah tadi" jawab Haris.
Kepulan-kepulan asap dari dari batang nikotin itu sudah menjadi teman keseharian mereka. Pak Warno yang memang perokok berat tidak merasa keberatan, karena ia juga sering diberi beberapa bungkus rokok oleh mereka.
Vano yang tiba-tiba datang langsung duduk di samping Haris.
"Dari mana lo?"
"Biasa, gue ngisi absen dulu, Jo" jawab Vano sambil menyengir.
"Nakal yah nakal aja Van. Gak usah pake rajin segala" ucap Haris yang membuat orang-orang di meja itu tertawa puas.