Sabtu malam, Lina datang ke rumah Dimas bersama Rusman. Ia membawa amplop catatan rumah dan selembar pengakuan yang ditulisnya sendiri. Ruang tengah tidak disiapkan seperti acara keluarga. Tidak ada hidangan besar atau kursi untuk kerabat yang ingin ikut mendengar. Mita datang dengan mobilnya sendiri dan memilih duduk dekat pintu, dengan tas di sisinya. Rangga menyusul terpisah sesudah menyelesaikan urusannya.
Rangga berada di kursi sebelah, sedangkan Dimas duduk berhadapan dengan ibunya. Anisa mengantar anak-anak ke rumah Rina lebih awal. Sinta berada bersama Yuni di rumah orang tuanya. Rusman telah memastikan ada cara menghubungi mereka jika dibutuhkan, sehingga tidak seorang pun dapat menggunakan kebutuhan Sinta untuk memaksa percakapan segera dihentikan.
Lina meletakkan amplop di meja. 'Ini foto sesudah rumah kalian terbakar dan catatan bantuan. Rangga menitipkannya dulu. Bukan kertas ini yang menjelaskan kesalahanku. Aku yang harus mengatakan.'
Mita tidak menyentuh apa pun. Ia meminta Lina berbicara langsung tanpa memulai dari penyakit atau keadaan keluarga sekarang. Lina mengangguk. Tangan yang memegang kertas bergetar, tetapi ia tidak meminta seseorang membacakan untuk menggantikannya.
'Rumah itu tidak terbakar begitu saja. Aku sengaja membakarnya ketika kalian pergi ke pasar malam.'
Rangga bangkit setengah berdiri. Dimas menahan napas, lalu memandang ibunya seolah baru mendengar suara yang tidak dikenalnya. Rusman memegang ujung kursi. Ia sudah memahami ada sesuatu yang disembunyikan Lina, tetapi belum mengetahui pengakuan itu secara lengkap.
'Ibu bilang tidak tahu,' ujar Rangga.
'Aku berbohong. Aku ingin kalian tinggal di rumahku. Aku tidak suka Mita dapat berada di rumah sendiri, dan aku ingin terus mengatur kehidupanmu.'
Mita memandang foto puing yang tampak di mulut amplop. Dulu ia menangis karena kehilangan tempat tidur, pakaian dan benda-benda kecil yang dibelinya dengan menyisihkan uang. Sesudah itu ia disuruh menerima pakaian bekas yang dilempar ke wajahnya dan berterima kasih karena boleh tinggal menumpang. Kini kedua kejadian itu berada dalam satu penjelasan yang sama.
'Ibu tahu aku mengandung,' katanya.
Lina menunduk. 'Aku tahu.'
'Jangan berhenti di situ. Apa yang Ibu inginkan pada kandunganku?'
Ruangan menjadi begitu sunyi sampai suara kendaraan dari jalan terdengar jelas. Lina berusaha menarik napas sebelum menjawab. 'Aku membenci kehamilanmu. Aku pernah ingin anak itu tidak lahir. Aku ingin kamu tinggal bersamaku supaya lebih mudah aku tekan dan kusakiti. Tidak ada pembenaran untuk itu.'
Mita merasakan telapak tangannya dingin. Ia tidak menyangka ada jawaban yang lebih menyakitkan daripada rumah yang dibakar. Rival telah tumbuh, bersekolah dan menghabiskan banyak waktu bersama neneknya. Mengetahui apa yang dahulu diinginkan Lina membuat kenangan-kenangan yang seharusnya sederhana ikut terasa asing.
Rangga menyebut nama ibunya, lalu berhenti. Ia hampir mengatakan Lina sudah berbeda sekarang. Mita menoleh, dan ia menutup mulut sebelum meneruskan. Perubahan yang terjadi bertahun-tahun kemudian tidak dapat menghapus niat yang baru diketahui korban malam itu.
'Kenapa baru sekarang?' tanya Dimas.
'Karena aku takut kehilangan kalian. Aku membiarkan Mita merawatku, menerima maaf dan kasih sayang tanpa mengatakan apa yang sebenarnya kulakukan. Setiap kali merasa bersalah, aku memilih bagian cerita yang membuatku masih dapat diterima.'
Rusman mengusap matanya. Ia tidak menyuruh istrinya berhenti supaya rumah mereka tidak semakin malu. Ia bertanya apakah ada orang lain yang mengetahui atau membantu. Lina menjawab bahwa ia melakukannya sendiri. Anak-anaknya tidak perlu menebak bahwa Mita pernah menyetujui atau mengetahui rencana tersebut.
Lina kemudian menyerahkan kertas pengakuan. Ia menuliskan perbuatan dan niatnya tanpa meminta imbalan berupa maaf. Mita membacanya perlahan, memeriksa apakah kalimat yang baru didengar benar-benar ada di sana. Ia meminta kertas asli dibawa pulang. Lina menyetujuinya dan tidak menambahkan syarat bahwa tulisan itu harus tetap menjadi rahasia keluarga.
Dimas meminta izin membuat salinan agar catatan tersebut tidak hanya berada dalam satu amplop. Mita menyetujuinya, tetapi meminta berkas itu tidak dikirim ke grup keluarga. Mereka tidak sedang mengadakan tontonan atau meminta kerabat memilih pihak. Dimas memotret halaman yang telah ditulis dan memastikan seluruh isinya terbaca sebelum mengembalikan kertas asli. Ia menawarkan salinan kepada Lina juga, supaya tidak ada orang yang kelak mengatakan pengakuannya telah diubah tanpa sepengetahuannya.
Lina menerima bahwa kata-katanya akan tetap ada sesudah mereka pulang. Ia tidak bisa lagi memakai tangis malam itu untuk membuat orang lain melupakan apa yang baru diucapkan. Mita memasukkan kertas ke map yang dibawanya sendiri, terpisah dari lembar kerja butik. Tangannya masih gemetar, tetapi ia memastikan tidak meninggalkan sesuatu yang sudah terlalu lama disembunyikan darinya.
'Aku belum bisa memutuskan apa yang akan kulakukan,' kata Mita. 'Aku tidak akan menjawab permintaan maaf malam ini. Aku juga tidak ingin Ibu datang ke rumah atau menemui Rival sebelum aku memikirkan keamanannya.'
Lina menangis. Untuk sesaat ia tampak ingin mengatakan jangan jauhkan cucunya. Namun, ia melihat kertas di tangan Mita dan menahan kalimat tersebut. 'Aku mendengar permintaanmu.'
Mita berdiri. Dimas menanyakan apakah ia ingin ditemani mengambil anaknya dari rumah Rina. Ia menjawab ingin pergi sendiri dahulu dan akan meminta bantuan bila diperlukan. Rangga hendak berdiri bersamanya, tetapi Mita meminta beberapa menit tanpa percakapan lain sebelum mereka mengurus perjalanan pulang.
Di teras, Mita mengeluarkan telepon dan mengabari Rina bahwa ia akan menjemput Rival. Ia tidak menceritakan seluruh pengakuan melalui sambungan tersebut. Ia hanya meminta anaknya disiapkan tanpa mendengar pembicaraan orang dewasa. Setelah telepon ditutup, ia menyadari betapa keras ia menggenggam tas.
Rangga keluar setelah menunggu. Ia mengatakan tidak mengetahui perbuatan Lina sebelumnya. Mita menjawab bahwa ia akan memikirkan juga apa yang terjadi di antara mereka sendiri. Ia tidak ingin keterkejutan Rangga dipakai untuk menunda tanggung jawab yang dibicarakan Jumat malam.
'Aku dengar,' jawab Rangga. Kali ini ia tidak meminta satu keputusan yang dapat membuatnya merasa aman. Ia menyerahkan amplop foto dan catatan rumah kepada Mita, setelah memastikan istrinya ingin menyimpannya bersama pengakuan Lina.
Mereka meninggalkan rumah Dimas setelah mengatur kendaraan masing-masing. Di dalam tas Mita ada pengakuan asli, foto kerusakan dan catatan lama. Benda-benda itu tidak mengembalikan rumahnya. Namun, untuk pertama kalinya, kehancuran yang dulu dimintanya terima sebagai musibah mempunyai pelaku yang telah menyebut perbuatannya sendiri.