Mita hampir tidak tidur setelah menjemput Rival dari rumah Rina. Anaknya sudah mengantuk dan bercerita bahwa ia bermain sebentar bersama Aqila. Ia tidak mendengar pengakuan Lina. Mita mendengarkan cerita itu sampai Rival tertidur, kemudian duduk di dekat lemari, memegang map yang dibawanya pulang.
Rangga berada di ruang tengah. Mereka pulang dengan kendaraan terpisah, seperti ketika datang ke pertemuan. Tidak ada pertengkaran di jalan atau tuntutan agar Mita segera mengatakan apa yang diinginkannya. Namun, ketika pagi datang, diam di antara mereka tidak lagi dapat disebut istirahat setelah hari yang melelahkan.
'Aku ingin kamu tinggal sementara di tempat lain,' kata Mita setelah Rival masuk kamar mandi.
Rangga menatapnya. 'Karena Ibu?'
'Karena aku perlu ruang untuk memikirkan semuanya. Perbuatan Ibu dan perbuatanmu. Aku tidak ingin menerima permintaan maaf sambil terus berada dalam keadaan yang membuatku sulit memilih.'
Ia tidak mengatakan Rangga menyebabkan kebakaran. Ia mengetahui ada perbuatan yang dilakukan Lina sendiri dan ada yang dilakukan suaminya. Tetapi keduanya meninggalkan persoalan yang selama ini diminta selesai dengan alasan keluarga telah berubah. Mita tidak mau kembali menunda kebutuhan dirinya agar orang lain tidak merasa kehilangan tempat.
Rangga mula-mula bertanya apakah Mita dan Rival yang ingin pergi. Mita menggeleng. Sekolah Rival dekat, butiknya dapat dijangkau dari rumah itu, dan ia ikut menandatangani perjanjian sewa. Tidak ada alasan kebutuhan paling praktis anak mereka harus langsung berubah hanya karena ibunya meminta jarak.
'Aku tidak mau kamu menjelaskan kepada orang bahwa aku membawa Rival kabur. Aku mengatakan dengan jelas: aku ingin tetap di sini dan kamu tinggal sementara di tempat lain.'
Rangga memegang ujung meja. Ia tampak ingin membahas siapa yang membayar lebih banyak selama mereka menyewa. Namun, kalimat itu mengingatkannya pada Sinta dahulu, yang memakai asal tanah rumah untuk membuat Mita merasa tidak berhak berbicara. Ia akhirnya mengatakan akan menghubungi Dimas untuk menanyakan kamar tamu.
Mita tidak menelepon adik iparnya untuk mengatur semua itu. Ia menyiapkan sarapan Rival dan membiarkan Rangga berbicara langsung. Dimas menerima permintaan tersebut setelah membicarakannya dengan Anisa. Ada kamar yang dapat digunakan, tetapi Rangga perlu menyesuaikan diri dengan jadwal kedua anak mereka, termasuk bayi Daniel. Anisa tidak otomatis bertanggung jawab memasak serta mencuci untuk tamu dewasa.
Rangga menyanggupi. Ia mengambil pakaian secukupnya dan barang kerja. Mita meminta kunci rumah diletakkan di meja untuk sementara. Bila perlu mengambil barang lain, mereka akan menyepakati waktu, bukan membiarkan pintu terbuka bagi kedatangan yang tidak diberitahukan.
'Aku masih suamimu,' kata Rangga, nyaris seperti pertanyaan.
'Aku tahu. Itu tidak membuat rasa takutku menjadi tidak penting.'
Ia terdiam, lalu meletakkan kunci. Tidak ada yang meminta Mita memuji tindakan itu sebagai bukti semua perilaku telah berubah. Untuk hari tersebut, Rangga hanya melakukan apa yang diminta orang yang pernah dilukainya.
Rival melihat tas ayahnya ketika keluar dari kamar. Ia bertanya apakah Rangga akan bekerja ke luar kota. Rangga duduk sejajar dengannya dan mengatakan ia akan menginap sementara di rumah Dimas. Ia tetap akan mengantar dan menjemput pada waktu yang disepakati bersama Mita.
'Aku boleh ikut Ayah?'
'Hari ini kamu tetap bersama Ibu. Untuk bertemu Ayah, kita buat rencana yang jelas. Ini bukan karena kamu melakukan kesalahan.'
Rival memandang Mita. Ia mengangguk bahwa perkataan ayahnya benar, lalu menanyakan apakah anaknya ingin sarapan dahulu atau memeriksa tugas sekolah. Tidak ada yang menyuruhnya memeluk Mita agar ia berubah pikiran. Keinginan orang dewasa untuk membuat suasana terasa hangat tidak boleh menjadi pekerjaan yang diam-diam diberikan kepada anak.
Sebelum berangkat, Rangga bertanya bagaimana mereka akan berkomunikasi. Mita meminta urusan Rival dan kebutuhan mendesak disampaikan seperlunya. Percakapan mengenai perkawinan perlu dijadwalkan ketika keduanya siap, bukan dimulai lewat pesan panjang setiap malam. Ia belum memberikan batas tanggal kapan harus memutuskan kembali atau berpisah.
Setelah tas Rangga diangkat ke mobil, Mita mengambil buku pengeluaran. Ia menghitung sewa, kebutuhan Rival dan uang yang harus tetap tersedia untuk butik. Gaji Wanda tidak boleh tertunda hanya karena pemilik toko sedang menghadapi persoalan pribadi. Ada bagian yang selama ini dibayarkan dari penghasilan Rangga, dan ada yang menjadi pengeluarannya sendiri. Ia tidak ingin pembicaraan uang pertama dilakukan ketika tagihan sudah jatuh tempo.
Mita mengirim daftar singkat kebutuhan anak yang harus tetap dibagi. Ia tidak memasukkan harga maaf, kunjungan atau keputusan untuk kembali tinggal bersama. Rangga menerima daftar itu dan mengatakan akan memeriksanya setelah sampai. Mereka belum menyelesaikan seluruh pembicaraan keuangan, tetapi tidak ada hak untuk menghentikan kebutuhan Rival sebagai cara memperoleh jawaban lebih cepat. Mita menutup buku dengan rasa takut yang masih ada. Penghasilannya memberinya pilihan, sekaligus tanggung jawab menghitung apa yang sungguh-sungguh dapat dijalaninya. Ia memutuskan menunda pembelian mesin tambahan sampai keadaan lebih jelas, tanpa mengambil uang yang sudah disiapkan untuk upah pegawainya.
Di rumah Dimas, Rangga membawa tas ke kamar tamu sendiri. Anisa menunjukkan tempat barang yang dapat dipakai bersama, kemudian kembali mengurus Daniel. Dimas mengajaknya duduk setelah membantu Aqila mencari buku. Ia tidak mengatakan Mita keterlaluan atau memakai sakit Lina sebagai alasan agar kakak iparnya dipulangkan.
'Kamu tinggal di sini bukan supaya kami membujuk Mbak Mita,' katanya.
'Aku tahu.'
'Kalau nanti kamu marah, jangan jadikan kami orang yang meneruskan tekanan kepadanya.'
Rangga mengangguk. Ia membuka tas dan menaruh pakaian di rak yang kosong. Untuk pertama kalinya setelah lama menikah, keberadaannya di rumah lain tidak dapat disebut perjalanan kerja. Ia perlu menerima bahwa istrinya mempunyai alasan untuk menutup pintu sementara dan ia tidak berhak membuka kembali hanya karena tidak nyaman berada di luar.
Malam itu Mita membantu Rival menyelesaikan tugas, memeriksa pekerjaan butik, lalu mengunci pintu depan. Ia masih takut menghadapi keputusan berikutnya. Tetapi di dalam rumah yang untuk sementara ditempatinya bersama anaknya, ia dapat meletakkan map pengakuan tanpa segera diminta menenangkan orang lain. Ruang itu tidak menyelesaikan masalah. Ruang itu membuatnya dapat mulai memikirkan masalah sebagai seseorang yang juga mempunyai hak menentukan hidupnya.