Genap enam pekan setelah Rangga pindah ke rumah Dimas, Mita bersedia bertemu untuk membicarakan keadaan mereka. Ia memilih tempat makan yang tidak dikelola keluarga. Rival berada bersama Anisa sesuai pengaturan sebelumnya. Pertemuan itu bukan kejutan yang diminta terlihat seperti makan siang biasa di depan anak.
Rangga datang lebih awal dan menunggu tanpa memesan makanan untuk Mita. Ia membawa catatan mengenai kebutuhan Rival, pembayaran yang sudah dilakukan dan beberapa perubahan jadwal. Catatan dari pertemuan konseling tetap disimpannya sendiri. Ia dapat menceritakan tindakan yang relevan tanpa menjadikan percakapan pribadi dengan pendamping sebagai sesuatu yang harus dinilai istrinya.
Mita duduk di seberang, memesan minum, lalu mengatakan ia ingin berbicara mengenai hal yang sudah terjadi, hal yang belum berjalan, dan keputusan berikutnya. Ia tidak ingin mereka menghabiskan waktu dengan pertanyaan siapa lebih menderita selama tinggal terpisah.
Rangga menjelaskan bahwa ia tetap menghadiri pertemuan lanjutan yang dijadwalkan. Ia mulai mengenali saat dirinya mengubah rasa kecewa menjadi tuduhan atau merasa berhak mendapat jawaban karena telah melakukan sesuatu. Tetapi ia tidak mengatakan mengenali pola sama dengan tidak mungkin mengulangnya.
'Aku melihat beberapa tindakanmu,' ujar Mita. 'Kamu menjemput Rival sesuai janji, membayar kebutuhan yang disepakati dan tidak membawa dia menemui Ibu diam-diam. Ketika aku menolak bantuan mengambil kain, kamu juga tidak tetap datang.'
Rangga mengangguk. Ia merasa lega, lalu hampir menganggap daftar itu sebagai jalan menuju jawaban yang diinginkannya. 'Apa aku bisa pulang minggu ini?'
Mita meletakkan gelas. 'Aku belum siap.'
Wajah Rangga berubah. Ia memandang ke arah meja lain sebelum kembali kepada istrinya. 'Aku sudah mencoba menjalankan semua yang diminta.'
'Aku tahu kamu mencoba. Tapi aku tidak menjanjikan bahwa setelah enam minggu atau sejumlah pertemuan, kamu mendapatkan keputusan tertentu. Aku sedang melihat apakah aku bisa merasa aman. Bukan menghitung apakah kamu sudah menyelesaikan tugas.'
Rangga terdiam. Ada dorongan untuk menyebut pengorbanannya meninggalkan rumah dan menyesuaikan diri di kamar tamu. Ia mengenali dorongan tersebut sebagai cara baru meminta Mita membayar ketidaknyamanannya. Ia menarik napas, kemudian mengatakan ia kecewa, tetapi tidak akan memakai kekecewaan itu untuk mengubah penolakan menjadi kesalahan istrinya.
Mita mendengarkan. Ia tidak harus menghapus rasa kecewa suaminya agar pertemuan berlangsung tenang. Ia juga mengakui bahwa beberapa hari dirinya masih merindukan kebiasaan lama, terutama ketika melihat Rival ingin lebih banyak waktu bersama ayah. Namun, rindu bukan bukti bahwa persoalan telah selesai.
'Aku bisa mengingat hari yang baik dan tetap belum mengizinkan kamu kembali. Dua hal itu tidak perlu kupaksa menjadi satu jawaban,' katanya.
Di meja sebelah, sebuah tutup wadah jatuh dan menimbulkan bunyi keras. Mita tersentak, menarik tangannya dari dekat tepi meja. Rangga melihat gerakan itu dan hampir mengatakan tidak ada apa-apa. Ia berhenti sebelum menjelaskan kepada istrinya apa yang seharusnya dirasakan. Mita mengatur napas, memandang ke arah suara, kemudian meminta jeda beberapa saat.
Rangga tetap duduk dan tidak menyentuh tangannya. Ia bertanya apakah Mita ingin mengakhiri pertemuan atau melanjutkan setelah tenang. Mita memilih tetap tinggal. Kejadian itu bukan tindakan baru Rangga, dan ia tidak menuduhnya membuat bunyi tersebut. Namun, reaksi tubuhnya mengingatkan bahwa pengetahuan tentang hari ini tidak selalu segera menghapus ketakutan yang tersimpan dari hari lain. Ia membutuhkan waktu tanpa diminta membuat rasa takut itu hilang supaya orang di depannya dapat merasa telah dimaafkan.
Mereka membicarakan kejadian ketika Rival bertanya mengenai kekerasan. Mita menghargai Rangga yang tidak menyalahkannya di depan anak. Ia meminta percakapan berikutnya tetap memperhatikan usia dan kebutuhan Rival, tanpa memakai pengakuan sebagai cara meminta anak menghibur pelaku atau menilai apakah ibunya terlalu lama marah.
Rangga menyanggupi. Ia mengatakan akan membahas cara menjaga peran sebagai ayah pada pendampingan berikutnya. Ia tidak meminta Mita menyiapkan jawaban yang dapat dihafalkannya setiap kali Rival bertanya. Orang yang melakukan harus ikut belajar menjelaskan, bukan terus mengandalkan orang yang terluka untuk merapikan akibatnya.
Tentang Lina, Mita mengatakan ia masih meninjau langkah yang tersedia bersama Laras. Pengakuan dan catatan rumah tetap tersimpan. Ia tidak akan membuangnya karena hubungan dengan Rangga mungkin membaik. Bila ia meneruskan persoalan itu melalui jalur resmi, ia ingin suaminya memahami bahwa keputusan tersebut bukan cara mengancam keluarga agar menerima syarat perkawinan.
'Itu perbuatan Ibu kepada kamu dan rumah kita,' jawab Rangga. 'Aku tidak akan mengatakan kamu merusak nama baik hanya karena meminta pertanggungjawaban.'
Mita menatapnya cukup lama. Ia akan mengingat jawaban tersebut ketika tekanan benar-benar datang, bukan menganggap satu kalimat di tempat makan telah membuktikan semua keberanian yang diperlukan. Untuk sementara, ia meminta Rangga tidak menyampaikan rencana yang belum diputuskan kepada kerabat.
Mereka juga memperbarui jadwal Rival. Ada satu kegiatan sekolah yang dapat dihadiri Rangga, sementara Mita tetap bekerja. Pada hari lain, mereka dapat mendampingi anak bersama jika disepakati terlebih dahulu. Pertemuan sebagai orang tua tidak berarti Mita telah menyetujui kembali tinggal serumah atau memberi izin datang tanpa kabar.
Rangga mengatakan ia perlu mencari pengaturan tempat tinggal bila masa menumpang terlalu lama membebani keluarga Dimas. Ia akan membicarakannya dengan adik dan Anisa, lalu menghitung pilihan yang dapat ditanggung sendiri. Mita tidak diminta mengakhiri jarak hanya karena kamar tamu tidak dapat menjadi jawaban selamanya.
Pada akhir pertemuan, mereka memilih meninjau keadaan lagi dalam waktu sekitar sebulan, dengan kemungkinan mengubah jadwal bila diperlukan. Mita tidak berjanji jawabannya akan berbeda. Rangga menerima bahwa waktu peninjauan bukan batas kedaluwarsa rasa takut istrinya.
Mereka pulang terpisah. Mita akan menjemput Rival dari rumah Anisa, sedangkan Rangga kembali menyelesaikan urusan kerjanya. Tidak ada foto yang dikirim kepada keluarga untuk menunjukkan pasangan itu telah berdamai. Mita merasa letih, tetapi ia telah mengatakan belum tanpa harus membuktikan kasih sayangnya terlebih dahulu. Rangga membawa kekecewaan yang menjadi tanggung jawabnya sendiri untuk ditangani. Percakapan itu belum mengembalikan rumah tangga mereka, tetapi tidak pula mengulang cara lama yang membuat satu orang harus mengalah agar yang lain dapat menyebut semuanya sudah baik.