Kamis setelah pertemuan Mita dan Rangga, Sinta mengirim pesan kepada Ati. Ia ingin datang melihat beberapa barang di kamar yang dahulu ditempatinya bersama Aldo. Ia belum ingin menginap, menerima kerabat lain atau membicarakan semua persoalan keluarga sekaligus. Ati membalas bahwa ia bersedia menerima pada waktu yang dipilih Sinta.
Aldi mengantar karena kebetulan sedang mempunyai urusan di sekitar rumah orang tua Sinta. Mita telah menawarkan membantu bila diperlukan, tetapi Sinta tidak ingin setiap langkahnya hanya mempunyai satu orang yang dapat menemani. Ia juga ingin berbicara dengan keluarga Aldo tanpa menjadikan kakak iparnya penghubung untuk semua kalimat yang sulit.
Rumah itu masih menjadi tempat tinggal Ati dan suaminya. Yang perlu dibicarakan adalah benda pribadi yang ingin disimpan, barang bersama yang memerlukan kesepakatan, dan waktu yang sanggup dijalaninya hari itu.
Ati menunggu di ruang depan. Ia tidak memeluk Sinta begitu turun dari kendaraan. Ia bertanya apakah menantunya ingin duduk dahulu atau langsung melihat kamar. Sinta memilih duduk sebentar, karena memandang pintu rumah saja telah membuat jantungnya berdebar lebih cepat.
'Mama menyimpan kemeja Aldo yang waktu itu dibawa ke rumah sakit,' kata Ati. 'Tidak diberikan karena Mama tidak tahu kamu menginginkannya atau tidak.'
'Nanti aku lihat. Tapi jangan keluarkan semua pakaian dulu.'
Ati mengangguk dan mengambilkan air. Aldi menunggu di ruang depan setelah Sinta mengatakan ingin masuk bersama Ati saja. Sebelum bergerak, Sinta memastikan ia dapat pulang tanpa harus menunggu orang lain selesai mengobrol. Aldi mengatakan kendaraannya tersedia dan ia akan mengatur urusannya sendiri.
Kamar itu mempunyai gorden yang dikenalnya. Di meja ada bekas lingkaran gelas dan sebuah lampu kecil yang pernah sering dibiarkan menyala ketika Aldo membaca. Sebagian pakaian Sinta masih tergantung di lemari. Ia tidak merasa kembali menjadi penghuni hanya karena kakinya sudah berada di dalam. Ada perbedaan yang tidak dapat diperbaiki dengan menata benda seperti sebelumnya.
Sinta duduk di tepi ranjang, lalu menunjuk laci meja. Ia ingin memeriksa beberapa dokumen miliknya yang belum dibawa. Ati tidak membukakan laci lain untuk memperlihatkan kenangan yang dipilihnya sendiri. Ia hanya menunggu di kursi dekat pintu.
Di dasar laci, Sinta menemukan telepon lamanya. Benda itu sudah lama tidak dipakai dan tidak langsung menyala ketika tombol ditekan. Ia mengenal goresan di sudut pelindungnya, lalu merasakan sesuatu yang berbeda dari rindu. Ada cerita pada masa awal perkawinan yang belum selesai ditanggungnya secara jujur.
'Ini aku bawa,' katanya, memasukkan telepon ke tas tanpa meminta Ati mencoba menyalakan.
Ati tidak bertanya isi di dalamnya. Ia membawa kemeja yang tadi disebut dan meletakkannya di kursi, belum di pangkuan Sinta. Perempuan muda itu menyentuh kainnya, memejamkan mata, kemudian berkata ingin menyimpannya satu saja. Ia tidak ingin membawa seluruh lemari karena takut seolah membuang Aldo bila meninggalkan sebagian.
'Yang lain tetap di sini dulu. Kalau nanti dibicarakan untuk disumbangkan atau dipindahkan, Mama akan memberi tahu,' ujar Ati.
'Aku juga tidak bisa memutuskan barang yang memang milik Mama. Aku cuma ingin kita jelas, supaya tidak ada yang merasa sesuatu diambil diam-diam.'
Mereka memilih satu kemeja, sebuah buku agenda Aldo yang berisi catatan pekerjaan biasa, dan beberapa foto yang sudah dikenal keduanya. Tidak ada amplop rahasia yang diminta segera dibuka. Foto lain tetap berada di album keluarga. Sinta belum mempunyai tempat untuk semua benda dan tidak ingin rasa takut membuatnya membawa sesuatu yang belum sanggup dirawat.
Ketika melihat kursi tempat ia dahulu menunggu suaminya pulang, tangisnya pecah. Ati berdiri, kemudian bertanya apakah boleh duduk di sebelahnya. Sinta mengangguk. Mereka tidak langsung berpelukan. Dua orang yang kehilangan orang sama tidak selalu menginginkan bentuk penghiburan yang sama.
'Aku sudah membaca pesan Mama,' kata Sinta setelah napasnya lebih teratur. 'Aku belum bisa melupakan ucapan di makam dan rumah sakit.'
'Mama mengerti. Mama salah menyalahkanmu. Kamu tidak perlu menghibur Mama supaya permintaan maaf itu terasa diterima.'
Sinta memandang kemeja di kursi. Ia mengatakan masih ingin berhubungan dengan keluarga Aldo, tetapi tidak akan kembali tinggal di rumah itu untuk menenangkan kesedihan Ati. Ia sedang membangun cara menjalani hari dan melanjutkan pekerjaan. Rumah orang tuanya menjadi tempat sementara selama ia menilai apa yang sanggup dilakukan berikutnya.
Ati mendengarkan tanpa menagih kedudukan sebagai ibu mertua. Ia sendiri telah menyampaikan koreksi kepada kerabat yang menerima tuduhannya. Pengakuan tersebut tidak memaksa Sinta memilih tinggal dekat agar tampak seperti keluarga yang pulih. Ia dapat tetap menjadi bagian hidup menantunya dalam bentuk yang disepakati, bukan diambil kembali lewat rasa berutang.
Setelah hampir satu jam, Sinta meminta pulang. Ia membawa tas berisi barang yang dipilih dan meninggalkan catatan sederhana tentang apa yang dibawa. Ati menyimpan salinannya agar tidak ada kebingungan ketika barang lain kelak ditata. Mereka tidak menentukan jadwal kunjungan berikutnya sebelum Sinta mengetahui bagaimana perasaannya sesudah hari itu.
Di mobil, Sinta memegang telepon lama di dalam tas. Aldi menanyakan apakah ia ingin berhenti makan atau langsung pulang. Ia memilih pulang. Ia belum tahu apakah akan menyalakan benda itu malam ini, tetapi ia tahu tidak ingin membuangnya tanpa lebih dahulu menghadapi bagian dirinya yang pernah memakai sesuatu di dalamnya untuk menyakiti orang lain.
Sesampainya di rumah, ia menyimpan kemeja dan agenda terpisah dari pekerjaan restoran. Telepon diletakkan di meja dengan pengisi daya yang sesuai. Untuk malam itu ia belum membukanya. Ia makan, mengabari petugas yang mendampinginya mengenai kunjungan tersebut, lalu beristirahat. Barang dari rumah Aldo telah dibawa pulang dengan izin yang jelas. Yang paling sulit justru sesuatu yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan memindahkan tempat penyimpanan.
Ati mengirim pesan memastikan daftar barang yang dibawa sudah benar. Sinta memeriksanya dan menjawab bahwa foto lain serta pakaian yang belum dipilih tetap berada di rumah. Mereka tidak perlu membuka pembicaraan baru malam itu hanya untuk memastikan salah satu masih ingin dianggap keluarga.