Pada bulan kesebelas setelah kematian Aldo, Mita kembali menemui Laras untuk membicarakan perkembangan perkara. Ia datang setelah butik tutup, membawa pertanyaan yang ditulis selama beberapa hari. Ada kabar penanganan berkas bergerak ke tahap berikutnya. Kali ini ia ingin mengetahui bagian yang perlu dipersiapkan sebelum menerima panggilan baru, bukan hanya menyimpan lembar pemberitahuan tanpa memahami isinya.
Laras memeriksa dokumen yang memang sudah diterima Mita. Untuk pertanyaan mengenai jalannya perkara, mereka meminta penjelasan melalui pihak yang menangani, dengan waktu yang disepakati. Laras tidak menebak hasil dari kalimat singkat atau menjanjikan hukuman karena telah mendengar sendiri penderitaan kliennya. Mita membutuhkan informasi yang dapat diperiksa, termasuk ketika jawabannya belum tersedia.
Ia menanyakan kemungkinan diminta memberi keterangan lagi dan bagaimana menyampaikan kebutuhan bila tidak sanggup duduk dekat Lina. Pertemuan berikutnya tidak boleh menjadi kejutan yang baru diketahui ketika pintu ruangan dibuka. Penjelasan yang diterima memisahkan hal yang sudah dapat disiapkan dari pengaturan yang masih perlu dimohonkan pada tahapnya.
'Saya tidak ingin harus bersikap tenang supaya perkataan saya dianggap benar,' kata Mita.
'Kita persiapkan kebutuhanmu dan hal yang ingin kamu sampaikan,' jawab Laras. 'Kita juga bedakan bagian yang kamu lihat, dokumen yang kamu terima, dan pengakuan yang baru kamu dengar kemudian.'
Mereka membuka salinan catatan. Foto asli berada pada petugas sejak penyerahan terakhir, begitu pula surat pengakuan asli yang lebih dahulu diterima. Catatan bantuan asli masih disimpan Mita. Ia menandai letak tiap benda dalam daftar agar tidak perlu mengingat semuanya ketika sedang tegang. Ada satu fotokopi yang terbalik urutannya; mereka membetulkan sekarang tanpa mengubah isi.
Pertanyaan mengenai ganti rugi juga dibicarakan. Dana Lina sudah tersedia sebagian, tetapi perhitungan kerusakan bangunan belum disepakati. Mita tidak ingin memasukkan harga tanah sebagai rumah yang dibakar. Tanah tersebut telah diberikan kepada Rangga dan statusnya kini diperjelas oleh dokumen. Ia ingin kerugian yang memang terjadi dinilai secara jujur, dengan batas bukti yang masih dapat ditemukan.
Laras mencatat hal yang perlu dibicarakan bersama pihak Lina dan Rangga pada pertemuan terpisah. Menerima pemulihan kerugian tidak harus dinyatakan sebagai maaf pribadi atau janji kunjungan. Mita meminta agar perbedaan tersebut tertulis jelas dalam pembicaraan, sehingga keluarganya tidak kelak mengatakan uang telah membuat semua hubungan wajib kembali seperti dahulu.
Di sela pembicaraan, Mita mengeluarkan secarik kertas lain. Ia telah menulis pertanyaan yang beberapa kali membuatnya terjaga: apakah keinginannya meneruskan perkara berarti ia sengaja ingin melihat ibu yang sakit menderita. Laras membiarkannya menyelesaikan kalimat tanpa segera menjawab dengan slogan. Mereka membicarakan perbuatan yang dilaporkan serta keputusan kesehatan yang tetap harus ditangani pihak keluarga.
Mita menyadari rasa kasihan tidak otomatis menjawab pertanyaan tentang pertanggungjawaban. Ia dapat menginginkan Lina memperoleh perawatan yang diperlukan dan tetap memberikan keterangan yang benar. Ia tidak harus menawarkan dirinya sebagai pengasuh agar keputusan melapor dianggap lahir dari alasan yang cukup baik.
'Aku masih ingin perkara ini ditangani,' katanya. 'Aku tidak mau mengubah keterangan supaya tidak ada yang perlu merasa malu lagi.'
Keputusan itu dicatat sebagai keinginannya saat ini, dengan penjelasan bahwa jalannya perkara mempunyai proses serta kewenangan sendiri. Ia tidak diberi tombol khayalan untuk menentukan semua akibat hanya dengan memilih lanjut atau berhenti. Bagian yang dapat dikerjakannya ialah menjawab dengan jujur, menyediakan dokumen yang dimiliki dan menyampaikan kebutuhan melalui cara yang tersedia.
Malamnya ia membicarakan jadwal yang mungkin berubah dengan Rangga. Ada hari ketika salah satu dari mereka perlu menjemput Rival lebih awal. Rangga membuka kalender kerjanya dan menandai pilihan yang dapat dipenuhi. Ia tidak menanyakan apakah Mita telah memikirkan ulang setelah melihat ibunya lelah menjalani pemeriksaan.
'Kalau panggilan itu datang saat toko ada pengukuran, aku akan mengatur ulang yang perlu,' ujar Mita. 'Tapi aku tidak akan menutup usaha berhari-hari tanpa tahu keperluannya.'
'Kita periksa tanggalnya setelah ada. Aku bisa mengambil beberapa bagian urusan Rival,' jawab Rangga.
Esok pagi Mita datang ke butik sebelum Wanda. Ia menghitung sisa kain tahap pertama, lalu memisahkannya dari bahan yang baru dipesan. Bu Rukmini menyerahkan hasil jahitan pelanggan lain dan menerima pembayaran sesuai jumlah. Pembicaraan mereka berkisar pada letak kancing, waktu pengambilan serta pesanan yang perlu dicoba lagi. Mita merasa bahunya perlahan turun ketika mengerjakan sesuatu yang batasnya dapat dilihat.
Ada pelanggan yang hanya dapat datang pada jam pertemuannya kemarin. Orang itu akhirnya memilih tempat lain. Mita membaca kabar tersebut dengan kecewa, lalu mencoret jadwal pengukuran yang batal. Ia tidak menghitungnya sebagai kerugian pasti akibat Lina dalam dokumen perkara, tetapi juga tidak berpura-pura semua keputusan dapat dijalankan tanpa biaya pada kehidupan sehari-hari. Ia perlu mencari pengganti waktu kerja dan menjaga pesanan yang sudah diterima. Wanda menawarkan menerima ukuran dasar pada jadwal tertentu, sesuai kemampuan serta tambahan tugas yang mereka sepakati. Untuk fitting yang memerlukan keputusan Mita, mereka tetap memilih waktu ketika pemilik dapat hadir.
Menjelang siang, pengelola katering menelepon untuk memastikan jadwal sepuluh set berikutnya. Mita membuka kesepakatan. Ukuran kelompok kedua perlu diselesaikan sebelum tanggal potong, sedangkan pembayaran tahap terdahulu sudah masuk. Ia membuat janji pengukuran serta mengirim daftar yang perlu dipastikan. Tidak ada janji menerima perubahan sehari sebelum barang diminta jadi.
Sore hari ia menjemput Rival setelah memastikan pekerjaan toko dapat ditangani Wanda sampai penutupan. Rival bercerita bahwa temannya membawa bekal yang sangat pedas dan tetap bersikeras tidak kepedasan. Mita mendengarkan, lalu tertawa ketika anak itu menirukan cara temannya mencari air. Selama beberapa menit, kertas perkara sama sekali tidak hadir di antara mereka.
Sesampainya di rumah, Mita menaruh map pada rak yang dapat dikuncinya sendiri. Ia masih akan membukanya ketika diperlukan. Namun, hari itu juga memuat pembayaran penjahit, pengukuran baru dan cerita seorang anak mengenai bekal sekolah. Ia ingin proses berlangsung karena kejadian itu penting, sambil mempertahankan bagian hidup yang selama ini terlalu sering diminta menunggu sampai semua kebutuhan orang lain selesai.