Memasuki bulan kelima belas setelah Aldo wafat, Mita kembali ke pengadilan untuk mendengar putusan. Pemeriksaan serta rangkaian persidangan sebelumnya telah mengambil waktu berbulan-bulan. Ia sudah memberikan keterangan, mengenali foto yang diserahkan dan menjelaskan kapan menerima pengakuan Lina. Hari itu ia datang bersama Laras, sementara Rangga mengatur keperluan Rival sebelum menuju tempat yang sama.
Selama persidangan terdahulu, ingatan Pak Saleh tetap mempunyai batas. Ia menjelaskan kebakaran serta keadaan sesudahnya, tanpa berubah menjadi orang yang melihat Lina menyalakan api. Catatan penanganan kebakaran menunjukkan kejadian dan kerusakan yang memang tercatat. Dokumen tanah, foto serta keterangan orang lain diperiksa menurut bagian masing-masing, bersama pengakuan Lina yang diberikan dan diulangi dalam pemeriksaan.
Mita ingat saat ditanya apakah pernah melihat sendiri perbuatan itu. Ia menjawab tidak, sebagaimana sejak laporan pertama. Ketidakpastian pada satu bagian tidak diisi dengan keberanian palsu agar ceritanya terdengar sempurna. Ia menceritakan rumah yang hilang, kehamilan saat itu dan pertemuan bertahun-tahun kemudian ketika orang yang menampungnya mengaku telah menyebabkan kehancuran tersebut.
Lina juga telah menjawab pertanyaan di hadapan persidangan, didampingi sesuai kebutuhannya. Ia mengakui perbuatan serta maksudnya, termasuk keinginan mencelakai kandungan. Ia tidak memakai pulihnya Rival sebagai alasan bahwa niat tersebut akhirnya tidak penting. Anak yang lahir selamat tidak mengubah apa yang dahulu ingin dilakukan terhadap ibunya.
Di ruang tunggu hari putusan, Sinta duduk bersama Rusman. Ia membawa air dan keperluan yang memang diperbolehkan. Lina tampak lelah, tongkat tetap berada dekat tangan. Sinta membantu ketika diminta, lalu kembali duduk. Tidak ada pesan terakhir yang harus dibawanya kepada Mita agar perkara berubah sebelum pintu dibuka.
Rangga datang setelah memastikan Rival bersama orang yang telah disepakati untuk menemaninya. Anak itu mengetahui Ayah serta Ibu mengurus perkara lama, dengan penjelasan sesuai usianya. Ia tidak dibawa untuk memandang neneknya di kursi pemeriksaan sebagai cara menumbuhkan maaf atau memperlihatkan akibat yang seharusnya membuatnya memilih pihak.
Ketika putusan dibacakan, Mita duduk dengan kedua telapak tangan menyentuh lutut. Ia mendengar uraian yang memisahkan penyesalan, pembayaran kerugian dan pembuktian perbuatan. Keadaan kesehatan Lina diperhatikan dalam pertimbangan yang dibacakan, begitu pula pengakuan serta pemulihan kerugian. Semua itu tidak membuat pembakaran sengaja berubah menjadi urusan rumah tangga yang cukup diselesaikan dengan saling mengalah.
Hakim menyatakan Lina bersalah atas perbuatan pembakaran yang diperkarakan dan menjatuhkan pidana penjara empat tahun. Mita mendengar jumlah itu, kemudian menunggu bagian berikutnya sampai selesai. Tidak ada suara kemenangan yang keluar dari mulutnya. Ia baru menyadari telah menahan napas ketika Laras menggeser segelas air ke dekat tangannya.
Rusman menunduk lama. Rangga memandang ibunya dan merasakan kesedihan yang tidak perlu diubah menjadi kemarahan kepada istri. Ia dapat takut membayangkan orang tua menjalani penjara serta tetap mengetahui siapa yang dahulu menyalakan api. Dua perasaan itu tidak meminta Mita mengurangi kebenaran agar salah satunya lebih mudah ditanggung.
Sesudah sidang, pihak yang mendampingi menjelaskan isi serta langkah yang tersedia kepada masing-masing. Mita mendengarkan bagian yang berkaitan dengannya dan memastikan cara memperoleh salinan. Keluarga Lina menerima penjelasan sendiri. Tidak ada percakapan di lorong yang menjanjikan satu pelukan dari menantu dapat membatalkan apa yang baru diputuskan.
Hujan turun ketika mereka keluar. Rangga menawarkan mengantar Mita pulang, tetapi Mita memilih bersama Laras sampai tempat yang telah direncanakan. Ia ingin berhenti sebentar sebelum melihat keluarga di rumah. Rangga menerima, memastikan urusan menjemput Rival tetap ditanganinya dan kembali membantu Rusman. Mereka tidak berdiri menunggu Mita memutuskan apakah dapat memberikan penghiburan kepada seluruh keluarga.
Di warung kecil dekat tempat menunggu kendaraan, Mita memegang cangkir hangat dengan kedua tangan. Ia mencoba makan sepotong roti dan baru menyadari sejak pagi hanya minum. Laras duduk di hadapannya tanpa meminta ia menjelaskan perasaan sebagai lega atau puas. Mita mengatakan ia lelah. Jawaban itu cukup untuk waktu tersebut. Setelah hujan mengecil, mereka melanjutkan perjalanan. Ia akan pulang pada waktu yang telah diberitahukan, sesudah mendapat kesempatan beberapa menit menjadi seseorang yang baru melewati hari berat, dengan kebutuhan tubuh yang juga harus ditangani.
Lina menyatakan menerima putusan setelah mendapat kesempatan memahami. Pada waktu berikutnya, ketika proses menuju kekuatan hukum tetap telah selesai dan tidak ada upaya hukum yang diajukan, pelaksanaan pidananya dijalankan. Keluarga mendapat penjelasan mengenai tempat serta jalur pengurusan kebutuhan yang sah. Lina benar-benar menjalani penjara, dengan keperluan kesehatan disampaikan melalui petugas yang bertanggung jawab.
Mita membaca salinan putusan pada hari yang telah dijanjikan, menandai bagian yang ingin ditanyakan dan menyimpannya bersama dokumen perkara. Ia tidak harus membacanya setiap malam untuk memastikan kejadian itu diakui. Pembayaran kerugian telah lunas, perkara mempunyai hasil dan orang yang bertanggung jawab kini menjalani akibat yang diputuskan.
Pada sore setelah kabar pelaksanaan diterima, Rangga pulang lebih diam dari biasanya. Mita menanyakan apakah ingin makan dahulu atau duduk sebentar. Ia memilih duduk. Sesudah beberapa waktu, ia mengatakan sedih memikirkan Ibu. Mita mendengarkan tanpa menawarkan diri mengurus kunjungan atau meminta maaf karena keterangannya menjadi bagian perkara.
'Aku akan mengatur kebutuhan Ibu dengan Bapak dan Dimas,' kata Rangga. 'Kamu tidak perlu mengambil bagian yang tidak kamu pilih.'
Ia kemudian menyiapkan makan untuk Rival sesuai tugasnya, meskipun pikirannya belum ringan. Anak itu bertanya mengapa Ayah lebih diam. Rangga mengatakan sedang sedih menghadapi akibat perbuatan Nenek, dan tetap dapat menemani makan. Ia tidak menjadikan kesedihannya tugas anak untuk menghibur atau membuat Ibu merasa bersalah.
Malamnya Mita menutup map dan menyimpan kunci rak. Ia masih dapat mengingat bau rumah yang terbakar ketika melihat foto lama. Putusan tidak mengembalikan barang, menghidupkan tahun yang hilang atau membuat tubuhnya lupa begitu saja. Namun, kebohongan yang dahulu berdiri di tengah keluarga tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya boleh disebut dalam bisik. Ia telah didengar melalui proses yang mempunyai akhir, sementara kehidupannya tetap dapat diteruskan sesudah pintu pengadilan ditinggalkan.