Tatapan mata itu terlihat begitu putus asa untuk dua orang yang saling mencintai. Air mata perlahan lolos begitu saja dari sudut mata seorang perempuan yang sedang menggenggam tangan pria di hadapannya dengan erat, mengisyaratkan untuk tidak meninggalkannya. Akan tetapi, pria di hadapannya hanya menatap dingin, seakan tidak tersentuh oleh air mata perempuan tersebut.
"Aku mohon, kita mulai semua dari awal, aku akan merelakan apa pun untuk bisa kembali padamu," mohon perempuan itu terdengar putus asa. "Aku tidak akan melepaskan tanganmu lagi," tambahnya berusaha meyakinkan.
Seo Jin tersenyum tipis. Tak ada raut kebahagiaan di wajahnya meski mendengar kalimat perempuan di hadapannya. "Mengorbankan semuanya?" decak Seo Jin tersenyum sinis. "Apa kau tahu apa arti dengan mengorbankan semuanya?" tanyanya menatap perempuan di hadapannya dengan ekspresi dingin yang menusuk. Perlahan dia melepaskan tangan perempuan itu. "Kita akhiri saja semua sampai disini, tidak ada alasan lagi untuk kita bersama," ujarnya dengan nada datar.
Perempuan itu membulatkan kedua matanya tak percaya, wajahnya memucat mendengar keputusan Seo Jin. "Aku tidak mau!" ujarnya dengan nada tegas. Dia mencoba meraih tangan Seo Jin, namun pria itu segera menepisnya. "Aku tidak bisa berpisah darimu lagi. Aku minta maaf karena pernah meninggalkanmu."
"Aku sudah memaafkanmu. Aku bersyukur karena putus denganmu lebih awal," ujar Seo Jin tanpa perasaan.
Hye Mi terenyak, wajahnya mulai memerah karena marah. "Apa karena perempuan itu?" desis Hye Mi dengan tatapan berkilat tajam. "Kau tidak mau kembali karena perempuan itu?" tanyanya lagi setengah mendesak Seo Jin.
"Tidak," ujarnya tak acuh "lagi pula aku sudah melupakan semuanya," tambah Seo Jin tetap dengan ekspresi dingin di wajahnya. "Mari kita tidak perlu bertemu lagi." Tanpa keraguan sedikit pun, Seo Jin berbalik pergi, menghiraukan panggilan putus asa perempuan di belakang punggungnya.
CUT!
"Kerja bagus, Kim Seo Jin!" seru sutradara Kang dengan raut wajah senang. "Hanya tinggal dua pengambilan adegan lagi, untuk hari ini kita selesai sampai di sini," tambahnya seraya beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Seo Jin.
"Aku bisa menyelesaikan pengambilan adegan lainnya hari ini juga," ujar Seo Jin mendapatkan reaksi terkejut dari sutradara Kang. Seo Jin menatap sutradara Kang dengan bersungguh-sungguh.
Sutradara Kang tersenyum. "Baiklah jika kau dan Hye Mi tidak keberatan, kalian akan menyelesaikan dua adegan lagi hari ini."
"Tentu saja, aku juga tidak keberatan. Bukankah perilisan film ini juga sebentar lagi? Jadi, kita tidak perlu membuang banyak waktu." Hye Mi menatap Seo Jin namun pria itu hanya mengacuhkannya.
"Baik, kita ambil dua adegan terakhir hari ini." Sutradara Kang lalu memberikan instruksi pada para staf segera menyiapkan set untuk adegan selanjutnya.
Hye Mi mengambil tempat di samping Seo Jin. "Apa kau besok ada jadwal kosong?" tanya Hye Mi sembari menyilangkan kakinya. Seorang staf memberikan segelas kopi hangat untuk mereka berdua.
"Aku pikir kau tidak akan membuat para wartawan heboh dengan skandal kencan," gumam Seo Jin dengan wajah tak peduli.
Hye Mi berdecap pelan. "Aku punya tempat bagus untuk mengajakmu makan malam," ujar Hye Mi dengan percaya diri.
Sementara itu Tae San yang mendengar percakapan mereka bergegas menghampiri keduanya. "Seo Jin besok harus pergi ke Incheon," sahut Tae San dengan cepat. Seo Jin hanya menatap Tae San dengan wajah datar, meski sebenarnya dia tidak pernah mengatakan pada manajernya itu bahwa dia akan benar-benar pergi ke Incheon.
Hye Mi tersenyum, namun wajahnya terlihat kesal. Dia tahu bahwa secara tidak langsung Seo Jin telah menolak ajakannya. "Baiklah. Kurasa untuk ketiga kalinya aku di tolak." Perempuan itu bangun dari duduknya dan berjalan pergi setelah melempar tatapan sinis pada Tae San.
Han Tae San duduk di kursi yang tadinya ditempati oleh Hye Mi. "Dia tidak pernah berhenti menggoda mu," desis Tae San. Dia memang tidak suka dengan cara Hye Mi dalam mendekati Seo Jin atau lebih tepatnya Tae San memang tidak menyukai Hye Mi yang menurutnya berwajah malaikat tapi memiliki kepribadian yang buruk.
Tae San kembali menatap Seo Jin dengan raut wajah cemas. "Kau yakin bisa menyelesaikan dua adegan terakhir hari ini? Kemarin aku sudah diskusi dengan sutradara Kang untuk tidak membuatmu menyelesaikan semua adegan dalam satu waktu. Apa kau tahu bahwa kau tidak boleh sampai terlalu lelah?"
Seo Jin menyesap kopinya dengan tenang sembari mendengarkan rentetan kalimat panjang dari Tae San. "Kau terlalu berlebihan," sahut Seo Jin datar.
Tae San menghela napas. "Dua adegan terakhir adalah perkelahian, apa kau yakin akan melakukannya? Bagaimana jika hal itu terjadi di sini? Apa kau ingin melihatku mati karena di teror oleh para wartawan dan media?" Tae San mengatakannya dengan nada putus asa. "Kim Seo Jin, aku tahu-"
"Aku baik-baik saja," potong Seo Jin dengan cepat. Dia berdiri dari tempat duduknya ketika sutradara Kang memanggilnya untuk segera melakukan pengambilan adegan selanjutnya. Tae San hanya bisa menghela napas berat untuk ke sekian kalinya karena sikap keras kepala Seo Jin.
"Astaga! Dia benar-benar tidak pernah mau mendengarkanku," desahnya dengan lelah.
Adegan di mulai dengan Seo Jin yang sedang mengemudi setelah meninggalkan Hye Mi. Di tengah jalan, sebuah mobil mengikutinya secara diam-diam. Seo Jin masih tak menyadarinya hingga ia berhenti di sebuah halte bus, tempat dia seharusnya bertemu dengan seseorang. Tepat ketika Seo Jin turun dari mobil, sekelompok orang dengan setelan jas hitam turun dari mobil yang tadi mengikutinya. Tanpa memiliki kesempatan untuk mencerna apa yang terjadi, para pria itu mulai memukul dan menghajar Seo Jin hingga membuatnya terkapar tidak berdaya.
Memastikan bahwa Seo Jin sudah sekarat, mereka bergegas pergi sebelum ada orang yang melihat. Seo Jin berusaha untuk bangun sekuat tenaga, namun usahanya sia-sia. Darah segar membasahi pelipisnya, tulangnya terasa remuk oleh pukulan-pukulan para pria tadi. Seo Jin berusaha mengulurkan tangannya untuk menggapai ponselnya yang berdering, menampilkan nama seorang perempuan yang seharusnya dia temui malam ini.
CUT!!
Suara sutradara Kang mengakhiri proses pengambilan adegan terakhir dengan baik. Han Tae San bergegas menghampiri Seo Jin yang sedang bangun dari posisinya. Pria itu terlihat sedikit pucat meskipun adegan k*******n tadi hanya pura-pura.
"Kau tidak apa-apa? Apa mereka benar-benar memukulmu terlalu keras?" tanya Tae San membantu Seo Jin berdiri. "Ah ... riasan ini benar-benar membuatmu terlihat sangat menyedihkan," ujar Tae San menyerahkan tisu basah pada Seo Jin untuk menghapus riasan yang ada di wajahnya.
Seo Jin mengabaikan Tae San dan berjalan sedikit sempoyongan menuju kamar mandi. Dia merasakan kepalanya berputar disertai rasa sakit yang luar biasa. Melihat reaksi Seo Jin, Tae San bergegas berlari mengikuti pria itu dengan wajah cemas. Dia bahkan mengabaikan panggilan sutradara Kang di belakangnya.
Seo Jin membuka pintu kamar mandi dengan kasar sembari memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Wajahnya benar-benar memerah disertai keringat dingin mulai mengucur membasahi tubuhnya. Dia menutup pintu kamar mandi dan menguncinya, membuat Tae San yang menyusul semakin diselimuti oleh kecemasan.
"Ya! Kim Seo Jin, jangan kunci pintunya! Apa yang terjadi? Apakah ini waktunya?!" Seo Jin mengabaikan teriakan Tae San yang terus menggedor pintu kamar mandi tanpa henti.
Berjuang di tengah rasa sakitnya, Seo Jin berusaha mencari botol obatnya setiap kali kondisinya seperti saat ini, tapi sialnya dia menyadari bahwa botol obatnya tertinggal di dalam tas. Seo Jin berpegangan erat pada pinggiran kloset, mencoba untuk menahan rasa sakit teramat sangat yang seperti sedang menggerogoti kepalanya.
"Tidak sekarang! Kumohon ...," bisiknya dengan kepayahan. Dia berusaha tetap mengendalikan kesadarannya, namun tak berhasil.
"Seo Jin-ah, buka pintunya sekarang! KIM SEO JIN! YA! SADARKAN DIRIMU!" Tae San semakin khawatir saat tak mendengar gerakan dan suara apa pun dari dalam kamar mandi. Dia berusaha menenangkan dirinya dengan menghitung dalam hati sampai akhirnya dia mendengar suara pintu kamar mandi mulai terbuka. Tae San menahan napas menunggu Seo Jin menunjukkan dirinya.
"Seo Jin-ah?" Tubuh Tae San menegang saat melihat Seo Jin yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi menatapnya dengan sorot mata tajam.
••••
Ruangan yang terlihat temaram itu disinari oleh berbagai macam lampu sorot, berputar-putar bagai sirene. Hentakkan musik yang dimainkan sang DJ cukup untuk membuat gendang telinga pecah. Tetapi, tidak bagi mereka yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya di atas lantai dansa, dengan pakaian dan tarian yang sungguh tidak pantas jika diperlihatkan didepan umum. Tentu saja. Karena ini adalah klub malam. Dimana semua itu pasti terjadi disini, tempat para manusia yang mencari kepuasan, kebebasan, dan bagi mereka yang mencintai gemerlap dunia malam.
Seorang pria bertubuh gemuk berjalan sempoyongan menuju pintu keluar klub. Pria itu beberapa kali mengumpat saat menabrak seseorang yang lewat di depannya. "Dasar, orang-orang b******k," umpatnya saat dia kembali menabrak seorang pria dengan setelan jaket kulit.
Pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik. "Hei, pak tua!" panggilnya tanpa sopan santun. Dia berjalan menghampiri pria itu lalu menarik kerah kemejanya. "Kau yang seharusnya mendapatkan u*****n ku! Kau berjalan dengan pikiran tidak waras!" desis pria itu dengan sorot mata tajam menusuk. Tatapannya membuat pria itu sedikit merasa takut.
"Ah ... kau benar, aku tidak boleh mengemudi sendiri." Pria itu bergumam dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan pria tadi di kerah kemejanya. Setelahnya dia berjalan pergi masih dengan langkah sempoyongan.
"Manusia tak berguna," desis pria berjaket kulit itu tersenyum sinis.
Dia kembali berjalan menuju pintu masuk klub malam. Sesaat langkahnya terhenti merasakan ponselnya yang berada dalam saku jaketnya bergetar. Merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel tersebut, ia tersenyum miring melihat siapa si penelepon yang dengan kurang ajar mengganggu kesenangannya.
"Kenapa?" tanyanya pada si penelepon tanpa minat.
"YA! KIM TAE HYUN! Kau dimana? Jangan membuat masalah! Kau sudah berjanji untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa merusak reputasi Seo Jin!" ujar Tae San di seberang telepon dengan suara panik.
Pria itu-Seo Jin atau lebih tepatnya Tae Hyun-kepribadian lain dari seorang Kim Seo Jin, tersenyum miring. "Kau sangat peduli sekali dengannya sebagai seorang manajer," decih Tae Hyun dengan sinis. "Baiklah, aku mengerti. Biarkan aku bersenang-senang, maka aku akan menepati janjiku untuk menjaga reputasi si pengecut ini." Tae Hyun mematikan panggilan telepon tersebut, memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya dan kembali berjalan masuk ke dalam klub. Dia mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaketnya.
••••
Young Eun menatap langit malam dengan tatapan menerawang. Perempuan itu membenarkan mantelnya saat merasakan udara dingin mulai menusuk tulangnya. Bukan waktu yang tepat untuknya mendapatkan pekerjaan pada jam seperti ini. Tapi, dia tidak punya pilihan selain harus melakukannya. Perempuan itu tersadar saat seorang pria bertubuh gemuk berjalan keluar dari area klub.
"Tuan, apakah Anda yang memanggil sopir pengganti?" Young Eun yang sejak sepuluh menit yang lalu berdiri di tempat parkir menghampiri seorang pria yang sedang berjalan sempoyongan menuju mobilnya. Tak perlu bertanya apa yang membuat pria itu dalam kondisi seperti ini.
"Oh, kau sopir pengganti?" tanyanya pada Young Eun. "Tapi aku bisa mengemudi sendiri," ujarnya dengan yakin, namun dia hampir terjerembap jatuh jika saja Young Eun tidak membantunya.
"Tuan, biar saya yang mengantar Anda. Anda tidak boleh mengemudi dalam keadaan seperti ini," katanya pada pria itu. Tapi pria paruh baya itu justru mendorong Young Eun dan membuat perempuan itu jatuh tersungkur. Young Eun menghela napas panjang, berusaha menahan kesabarannya. Dia bergerak bangun dan menghampiri pria itu.
"Biarkan saya yang mengemudi, tuan." Young Eun mengambil kunci mobil pria itu, namun lagi-lagi si pria mendorong Young Eun. Beruntungnya seseorang dengan cekatan menahan tubuh Young Eun dan tidak membuat perempuan itu sampai jatuh untuk kedua kalinya.
Untuk beberapa lama, Young Eun merasa sedang berhalusinasi karena seorang pria tampan dengan tatapan tajam yang mampu memorak-porandakan hati semua perempuan, berdiri di hadapannya dengan segaris senyum jahil dan kerlingan nakal.
"Aku tahu aku memang tampan," ujar Tae Hyun pelan. Young Eun seketika tersadar, dia menarik diri menjauh dari Tae Hyun.
"Ternyata kau berulah lagi, pak tua." Tae Hyun melempar seringai tipis pada Young Eun sebelum berjalan menghampiri pria tadi yang sedang berusaha membuka pintu mobilnya.
Tae Hyun menarik lengan pria itu dengan kasar. "Apakah kau ingin masuk kantor polisi ... atau rumah sakit?" tanya Tae Hyun dengan nada tajam.
Young Eun mendekati keduanya dan menarik lengan Tae Hyun. Dia hanya tidak ingin memperpanjang urusan. "Permisi, tapi aku baik-baik saja dan kau bisa pergi."
Tae Hyun tersenyum miring, dia mengabaikan kata-kata Young Eun. "Jangan salah paham. Pria ini berhutang permintaan maaf padaku," ujar Tae Hyun dengan nada santai.
"Kau lagi! Kenapa kau menggangguku?! Apa kau pengawal perempuan ini?! Apa yang kau mau? Kau ingin uang? Baiklah, aku akan memberikanmu uang!" Pria itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar dolar dari dalam dompetnya dan melemparnya pada Young Eun.
"Apa?" Kentara sekali jika tatapan Young Eun kini tersinggung atas perlakuan pria tersebut.
Tae Hyun tidak tahan dengan sikap pria di hadapannya, tanpa berkata-kata dia meninju wajah pria tersebut dan membuatnya tersungkur ke tanah. Young Eun tentu saja terkejut karena hal itu, dia mencoba menghentikan Tae Hyun saat dia kembali berusaha menyerang pria tadi.
"Hentikan! Apa kau mau terkena masalah?" tanyanya pada Tae Hyun. Dia menahan lengan Tae Hyun dengan kuat. "Aku akan mengantar pria itu pulang, kau bisa pergi dan terima kasih atas bantuan mu yang tidak perlu," ujar Young Eun.
Tae Hyun tergelak. Dia mendecih. "Bantuan tidak perlu katamu?" desisnya dengan tatapan tajam. "Apa kau akan diam saja menerima pukulannya? Kau membiarkan dirimu terluka hanya karena uang ini?" Tae Hyun menunjuk uang yang berserakan di tanah. "Kalau begitu aku akan memberimu uang dan kau biarkan pria itu mati kedinginan disini, dia bahkan tidak pantas untuk tidur di kamar yang nyaman," ujar Tae Hyun kesal.
Dia mengeluarkan dompet dari saku jaketnya dan mengambil beberapa lembar uang untuk dia berikan pada Young Eun. "Ambil ini, aku memberikan ini padamu."
Young Eun terdiam di tempatnya. Wajahnya berubah datar. Dia menatap uang yang disodorkan Tae Hyun lalu berganti menatap pria itu dengan dingin. "Ternyata kau sama saja dengan pria itu," bisik Young Eun dengan nada rendah.
Tae Hyun terkekeh pelan. "Apa yang membuatmu mengatakan hal itu? Aku tidak mendorong atau memukulmu seperti pria itu," ujarnya seraya mengarahkan dagunya pada pria tadi yang masih terkapar di tanah. Sepertinya pengaruh alkohol terlalu kuat mempengaruhi pikirannya, ditambah dengan pukulan keras dari Tae Hyun di wajahnya.
"Karena itu," potong Young Eun cepat, "karena justru kau tidak memukul dan mendorongku, tapi kau menilai ku sama seperti cara dia menilai ku, inilah kenapa aku sangat membenci orang-orang seperti kalian!" Young Eun berbalik pergi dengan perasaan kacau. Seharusnya malam ini dia tidak menerima panggilan untuk sopir pengganti jika dia tahu akan berakhir seperti ini.
Tae Hyun tersenyum penuh arti. Dia sedikit berlari mengejar Young Eun dan menarik lengan perempuan itu untuk menghentikannya. "Baiklah. Bagaimana jika kita tinggal bersama?" Tubuh Young Eun seketika membeku mendengar pertanyaan itu. Dia bahkan tak tahu harus bereaksi bagaimana saat seringai tipis tersungging di bibir pria di depannya.
•••••