Tae Hyun tersenyum penuh arti. Dia sedikit berlari mengejar Young Eun dan menarik lengan perempuan itu untuk menghentikannya. “Baiklah. Bagaimana jika kita tinggal bersama?” Tubuh Young Eun seketika membeku mendengar pertanyaan itu. Dia bahkan tak tahu harus bereaksi bagaimana saat seringai tipis tersungging di bibir pria di depannya.
Young Eun berusaha menguasai dirinya. Dia menghempaskan tangan Tae Hyun dari lengannya lalu menampar pria itu dengan marah. “Kau pikir siapa dirimu hingga berani mengatakan hal itu?” Jelas sekali jika saat ini Tae Hyun benar-benar telah membuat Young Eun marah.
Tae Hyun bergeming menerima tamparan keras di wajahnya. Pria itu tersenyum kecil, membuat Young Eun menjadi bingung dengan reaksi yang diberikan Tae Hyun. Mungkin seharusnya dia tidak menampar wajah pria itu, melainkan membanting tubuh pria itu dengan sangat keras ke tanah.
“Ah ... sepertinya aku salah menggunakan kalimat,” ujar Tae Hyun terkekeh geli. “Maksudku, bekerja di rumahku sebagai asisten pribadi.” Tae Hyun meralat kalimatnya di awal. “Kau tidak akan bisa menolak tawaranku jika aku bisa membayarmu dengan tinggi.”
Sejenak, Young Eun merasa terbujuk oleh tawaran yang terdengar menguntungkan itu, namun dia segera tersadar. “Tuan, jangan salah paham. Aku sungguh tidak tertarik bekerja denganmu.” Young Eun mengatakannya dengan nada tegas. “Aku harap kita tidak akan bertemu lagi,” katanya sembari berbalik pergi. Dia berjalan dengan langkah tergesa seraya sesekali melirik ke belakang, berharap Tae Hyun tidak mengikutinya.
“Tentu saja kita akan bertemu lagi,” bisik Tae Hyun menatap kepergian Young Eun dengan senyum tipis.
••••
Tae Hyun membuka pintu rumahnya dan terkejut saat melihat Tae San duduk di sofa ruang tamu sedang menunggunya. Wajah pria itu terlihat sangat lelah dan kesal di saat yang bersamaan. Tapi Tae Hyun menghiraukan hal itu, dia berjalan melewati Tae San menuju kamarnya di lantai dua.
“Dari mana saja kau? Apa kau benar-benar tidak membuat masalah lagi di luar sana?” Tae San berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Tae Hyun yang berdiri di tangga.
Tae Hyun berbalik, menatap Tae San dengan tak acuh. Tatapan mata itu benar-benar sangat berbeda dengan Seo Jin yang selalu dingin dan datar. Mereka adalah orang yang sama, namun dengan kepribadian yang berbeda. Ada kalanya Tae San sungguh tidak bisa membedakan Tae Hyun dan Seo Jin karena mereka berdua adalah kepribadian yang hampir mirip satu sama lain. Jika Tae Hyun memiliki tatapan tajam dan ekspresi wajah yang terkesan arogan, Seo Jin juga memiliki tatapan tajam dan dingin serta menusuk, sedangkan ekspresi wajahnya selalu datar dan sama.
“Aku tidak membuat masalah apa pun!” ujar Tae Hyun dengan tak acuh. Dia perlahan menuruni anak tangga dan mendekati Tae San yang berdiri di ujung tangga. “Apa kau ingin aku membuat masalah sekarang?” tanyanya dengan seringai penuh di bibirnya.
Tae San merasa gentar dan tegang di saat yang bersamaan. Jika dia membaut Tae Hyun marah, wajahnya mungkin tidak akan selamat. Tae San sudah pernah mengalami hal itu, jadi tidak untuk kedua kalinya. “Ba-baiklah jika kau tidak membuat masalah lagi,” ujar Tae San dengan sedikit gugup. Sosok yang paling dia takuti adalah Tae Hyun. Kepribadiannya sangat mudah emosi dan tidak pernah ragu untuk melakukan k*******n.
Tae Hyun menyeringai tipis. Dia berbalik dan kembali berjalan menaiki anak tangga. “Aku hanya sedikit bersenang-senang, apa salahnya?” bisik Tae Hyun tanpa berbalik.
Tae San menghembuskan napas berat. Sepertinya setiap kali bersama Seo Jin, usianya semakin berkurang karena terlalu sering dia menghela napas. Anehnya dia bertahan sejauh ini bersama Seo Jin selama sepuluh tahun sejak mereka masih satu SMA. Melihat bagaimana kondisi Seo Jin yang tak pernah membaik, dia tidak bisa meninggalkan pria itu. Getaran ponsel Tae San membuat pria itu seketika tersadar. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari pintu kamar Seo Jin yang tertutup di lantai dua, Tae San menerima panggilan telepon tersebut.
“Iya, presdir Park. Ah ... Seo Jin sedang istirahat di kamarnya. Ah ... tidak, dia sama sekali tidak membuat masalah.” Tae San berjalan ke ruang tamu dan mendudukkan dirinya di sana. Berbohong pada atasan mereka adalah hal yang paling melelahkan bagi Tae San. “Baik. Aku akan mengawasinya,” ujar Tae San sebelum menutup panggilan telepon tersebut. Pria itu menghempaskan tubuhnya pada punggung sofa. “Kenapa dia harus memiliki kehidupan yang melelahkan seperti ini,” gumam Tae San seraya menatap langit-langit ruangan.
••••
Young Eun merasa nyaris gila karena selama seharian ini dia terus memikirkan apa yang terjadi semalam. Sesaat dia menyesal karena tidak menerima tawaran pria itu, namun disisi lain dia tidak ingin berhubungan dengan pria kasar dan arogan seperti Tae Hyun.
“Apakah aku membayarmu untuk melamun?” Young Eun tersadar. Dia meletakkan gelas yang dia bersihkan ke tempat rak. Melempar senyum canggung pada pria tampan yang berdiri di hadapannya. “Maafkan saya, pak Lee. Saya berjanji tidak akan melamun lagi,” ujar Young Eun dengan senyum lebarnya.
Lee Ji Hoon tertawa kecil. Pria itu berjalan mendekati meja barista. “Apa kau bekerja lagi semalam?” tanya Ji Hoon seraya menatap lekat wajah Young Eun. Ada lingkaran hitam di kedua mata perempuan itu yang tidak bisa disembunyikan darinya.
“Apa?” Young Eun mengedip beberapa kali, lalu tersenyum dengan gugup. “Aku hanya menerima panggilan untuk sopir pengganti,” ujarnya. Dia melanjutkan pekerjaan membersihkan gelas yang sudah di cuci dan menatanya di rak. Tentu saja dia tidak akan bercerita tentang kejadian yang sebenarnya.
Ji Hoon berdecap pelan. “Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu agar tidak bekerja dengan begitu keras? Apa kau ini robot? Bahkan robot saja bisa rusak jika digunakan terus-menerus,” dengus Ji Hoon. Dia mulai mengomel setiap kali Young Eun bersikap keras kepala.
Young Eun tersenyum. “Ah ... Baiklah, baiklah. Aku akan bekerja di sini dengan lebih keras lagi agar kau menaikkan bayaran ku,” ujarnya dengan nada bercanda.
“Tentu saja. Aku akan menaikkan bayaran mu jika kau juga mau membantuku untuk kencan butaku besok,” canda Ji Hoon, tapi hal itu mendapatkan tatapan tajam dari Young Eun.
“Kenapa kau tetap pergi jika tidak ingin melakukan kencan buta?” Pertanyaan Young Eun itu membuat Ji Hoon terdiam. Dia menatap Young Eun beberapa detik sebelum akhirnya terdengar suara bel pintu Cafe. Young Eun bergegas mengambil catatan dan bolpoin lalu berjalan menghampiri meja tempat pelanggan itu duduk.
“Kita bertemu lagi nona ...,” Tae Hyun melirik name tag karyawan di baju Young Eun, “Seo Young Eun.” Sebuah seringai lebar tersemat di wajah pria itu yang tertutup oleh masker hitam. Tentu dia tidak bisa asal berkeliaran seperti semalam, mengingat wajahnya yang bisa saja memenuhi tag line berita di media dengan judul artikel yang pasti akan membuat semua orang di agensinya sakit kepala.
Young Eun memicingkan kedua matanya, mencoba untuk mengenali pria yang duduk di hadapannya. “Siapa ...,” Young Eun sedikit ragu untuk bertanya.
Tae Hyun melepas maskernya sejenak dan mengedipkan sebelah matanya pada Young Eun yang membuat perempuan itu terserang sakit kepala mendadak. “Kau! Bagaimana kau bisa ada di sini? Kau menguntit ku?!” tanyanya dengan wajah panik.
Bertemu dengan Tae Hyun semalam saja membuat dia merasa s**l setengah mati, kini dia harus mendapati pria kurang ajar itu sedang duduk di hadapannya sebagai pelanggan di tempatnya bekerja. Apalagi melihat seringai menyebalkan Tae Hyun, membuat Young Eun semakin kesal. Dia melirik ke belakang punggungnya, memastikan bahwa Ji Hoon sudah pergi ke ruangannya.
“Apa kau benar-benar menguntit ku?” Tae Hyun hanya mengangkat kedua bahunya tak acuh. “Apa kau sudah gila?” Sebuah anggukan itu membuat Young Eun ingin menendang tulang kering pria itu.
“Aku ingin kau pergi denganku, sekarang,” ujar Tae Hyun tanpa pikir panjang. Dia kembali memakai maskernya.
“Apa?” Young Eun tak pernah membayangkan hal semacam ini akan terjadi dalam kehidupannya. “Apa kau benar-benar penguntit?” Young Eun merasa bahwa seharusnya dia langsung kabur sejak tadi.
“Pergilah denganku sekarang. Aku tidak tahu kapan aku bisa datang lagi,” ujar Tae Hyun. Dia beranjak berdiri dari duduknya, meraih tangan Young Eun dan hendak membawa perempuan itu keluar dengan paksa.
Young Eun berusaha memberontak. “Tunggu! Tunggu dulu! Aku tidak bisa pergi bersamamu! Aku sedang bekerja!” Young Eun berusaha melepaskan genggaman tangan Tae Hyun dari pergelangan tangannya, namun pria itu justru semakin mempererat genggamnya.
“Kau menolak tawaranku semalam, jadi kau harus pergi bersamaku sekarang! Apa kau ingin aku menemui manajer Cafe ini dan mengatakan apa yang terjadi padamu semalam?” Kalimat yang terkesan seperti ancaman itu membuat Young Eun menjadi panik. Dia terdiam dengan menimbang beberapa hal, sebelum akhirnya menyetujui permintaan Tae Hyun.
“Baik, tunggu sebentar! Aku harus meminta izin!” ujar Young Eun berusaha meyakinkan Tae Hyun untuk melepaskan tangannya.
Tae Hyun menaikkan satu alisnya tinggi. “Kau tidak berniat kabur dariku, bukan?” tanyanya dengan tatapan tajam.
Young Eun menggelengkan kepalanya cepat. Dia melirik sekitarnya, merasa sedikit lega karena masih belum ada pengunjung karena mereka baru saja buka. Jadi dia tidak perlu menghadapi tatapan aneh dari para pelanggan karena ulah pria di hadapannya.
“Baiklah. Aku akan mengawasi mu dari sini.” Tae Hyun melepaskan tangan Young Eun dan mempersilahkan perempuan itu untuk meminta izin pada Ji Hoon. Secepat kilat Young Eun berlari ke dalam Cafe untuk menemui Ji Hoon.
“Pak Lee, bisakah aku izin sebentar hari ini? Aku ... aku merasa tidak enak badan.” Young Eun tidak tahu harus menggunakan alasan apa untuk berbohong pada Ji Hoon.
“Kau sakit? Aku akan mengantarmu—”
“Tidak perlu,” seru Young Eun cepat, membuat Ji Hoon terkejut karena reaksi Young Eun terlihat berlebihan. Pria itu menjadi kebingungan.
“Ah, maafkan aku. Kau boleh memotong gajiku karena hal ini. Aku akan segera kembali.” Setelah membungkuk sejenak pada Ji Hoon, Young Eun bergegas pergi. Dia berpapasan dengan Hye Rin teman kerjanya dan meminta maaf karena izin secara tiba-tiba.
Hye Rin kebingungan melihat tingkah Young Eun, tapi dia tidak bisa bertanya pada perempuan itu karena Young Eun sudah bergegas pergi.
Tae Hyun berdiri menunggu sembari menyilangkan kedua tangannya. Punggungnya bersandar pada dinding depan Cafe, saat beberapa orang menatap ke arahnya, Tae Hyun berusaha untuk menyembunyikan wajahnya. Pria itu tersenyum ketika mendapati Young Eun keluar dari dalam Cafe dan berjalan menghampirinya.
“Sekarang katakan padaku apa yang kau inginkan?!”
••••
Young Eun terheran dan dipenuhi pertanyaan dalam pikirannya saat ini. Seperti benang kusut yang tidak menemukan ujungnya untuk bisa terurai. Sepanjang perjalanan dia merasa cemas karena Tae Hyun tidak mengatakan ke mana pria itu akan membawanya, namun pertanyaan itu justru berganti dengan pertanyaan baru yang lebih membingungkan untuknya.
Young Eun tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini. Perasaannya perlahan menghangat saat mendengar suara deburan ombak dan melihat birunya air laut. Dia tidak ingat kapan terakhir kalinya pergi ke tempat ini, yang jelas itu sudah sangat lama sekali.
“Bukankah kau ingin ke sini?” Tae Hyun berdiri di samping Young Eun, menatap gulungan ombak di depan sana. Disini dia tidak perlu cemas ada orang yang akan mengenalinya sebagai Seo Jin.
Young Eun perlahan berpaling, menatap Tae Hyun dengan tatapan tak terbaca. Ada kesedihan dalam sorot mata perempuan itu, namun ada kebahagiaan pula yang terpancar di dalam sana. Young Eun mengangguk pelan. “Sejak kecil aku ingin pergi ke sini. Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya pada Tae Hyun. Untuk sejenak, dia merasa begitu familier dengan wajah Tae Hyun.
Tae Hyun terdiam untuk beberapa saat. Membiarkan suara ombak mengisi jeda diantara mereka. “Karena aku mengenalmu,” bisik Tae Hyun begitu pelan.
Young Eun mengerutkan keningnya. Dia hanya bisa mendengar perkataan Tae Hyun dengan samar karena kerasnya suara ombak. “Apa ... yang kau katakan?”
Wajah Tae Hyun yang semula sendu, kini berubah penuh seringai. “Aku hanya menebak,” ujarnya asal, membuat Young Eun memberengut sebal.
“Baiklah. Aku akan anggap ini sebagai permintaan maafmu untuk kejadian semalam.” Kalimat Young Eun membuat Tae Hyun berpaling. Tatapan pria itu seperti menyimpan sesuatu yang begitu dalam dan gelap. Tak tertebak.
“Baik. Kau bisa menganggapnya begitu. Jadi, apa kau bisa menerima tawaranku semalam?”
Young Eun berpaling, balas menatap Tae Hyun. “Apa kau bersungguh-sungguh? Kau tidak memiliki maksud tertentu, bukan?” Dia menatap Tae Hyun lekat, mencoba mencari kebohongan di dalam mata pria itu, namun Young Eun tak bisa menemukan apa pun di dalam sana. Justru hal itu membuatnya jantungnya tiba-tiba berdegup begitu kencang.
“Kenapa? Kau takut aku akan memintamu untuk tidur bersamaku?” tanya Tae Hyun dengan senyum miring. Tatapan pria itu mengerling jahil.
“YA!” teriak Young Eun panik bercampur kesal. “Jika kau mengatakan hal itu lagi, aku benar-benar akan mematahkan tulangmu!” ancam Young Eun dengan tatapan bersungguh-sungguh. Perempuan itu lalu mengerutkan keningnya saat menyadari sesuatu. “Tapi ... ngomong-ngomong, kenapa wajahmu terasa tidak asing?” gumam Young Eun.
Dia melangkah lebih dekat untuk bisa menatap Tae Hyun dengan sesama, memperhatikan setiap detail wajah pria itu, saat merasakan jantungnya berdegup kencang, Young Eun membuang muka. “Aku seperti pernah melihat wajahmu di suatu tempat,” ujarnya berusaha mencoba mengingat sesuatu.
Tae Hyun mendecih. “Sebenarnya kau ini hidup di jaman apa? Batu? Apa kau sejak tadi tidak menyadari bahwa kau sedang bersama dengan pria yang diinginkan oleh semua perempuan di Korea,” jelas Tae Hyun dengan nada enteng. Dia merasa heran bagaimana Young Eun tidak langsung mengenali dirinya di pertemuan pertama mereka. Entah perempuan itu hidup di dalam gua atau bagaimana.
Young Eun tersadar. Dia ingat dimana pernah melihat wajah pria di hadapannya. “Jangan bilang kau ... Kim Seo Jin?” seru Young Eun dengan kedua mata membulat sempurna. Dia menutup mulutnya yang ternganga lebar.
Tae Hyun berdecap. Mendengar Young Eun menyebut nama itu membuatnya merasa kesal. Dia meraih tangan Young Eun dan menarik perempuan itu untuk lebih dekat. Sorot mata Tae Hyun benar-benar tajam dan menusuk, membuat Young Eun tak bisa berkutik di tempatnya.
“Bukan Kim Seo Jin, tapi ... Kim Tae Hyun. Pria dengan suara, sorot mata, dan tatapan ini adalah Kim Tae Hyun. Ingat baik-baik!” Tae Hyun mengatakannya dengan penuh penekanan.
“Apa?” Young Eun terenyak. Dia seperti terikat oleh tatapan mata Tae Hyun.
Tae Hyun semakin mendekatkan wajahnya pada Young Eun, membuat jantung perempuan serasa seperti akan melompat dari dalam rongga dadanya. Angin laut yang menampar wajahnya dan menerbangkan rambutnya, sama sekali bukan sesuatu yang dipedulikan Young Eun, melainkan dia hanya berharap bisa menghilang saat ini juga.
Tatapan Tae Hyun saat ini seakan mampu menenggelamkan Young Eun seperti laut menelan ombak. “Di tempat ini ... adalah saat pertama kali aku jatuh cinta padamu.” Tak ada kebohongan atau pun keraguan di dalam sana. Tae Hyun mengatakannya penuh dengan kesungguhan dan ketulusan.
Tubuh Young Eun seperti tersengat listrik ribuan volt. Melihat tatapan kesungguhan Tae Hyun dan sorot mata pria di hadapannya, membuat dunia Young Eun seperti sedang berputar tidak pada tempatnya.
••••