Young Eun mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Dia bahkan menahan napas untuk beberapa detik karena begitu terkejut dengan kalimat pria di hadapannya. Suara deburan ombak seperti terdengar begitu samar dalam telinganya, sekitarnya tiba-tiba terasa sunyi hingga membuatnya merasa apakah dia benar masih berada di dunia nyata atau mimpi. Young Eun nyaris tak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan.
“A-apa yang baru saja kau ... katakan?” Young Eun berusaha menguasai dirinya dan mencoba mendapatkan kembali kewarasannya karena mendengar kalimat tidak masuk akal beberapa detik yang lalu. Setelahnya tawa Young Eun pecah seketika. Dia bahkan sampai membungkuk dan menutupi wajahnya. Merasa geli bercampur malu menjadi satu.
Tae Hyun menautkan kedua alisnya bingung. “Aku bersungguh-sungguh,” ujarnya dengan nada tegas. “Kurasa, ini bukan hal lucu yang bisa kau tertawakan,” ujar Tae Hyun dengan suara berat dan wajah serius.
Young Eun perlahan menghentikan tawanya melihat wajah Tae Hyun saat ini. Dia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan cepat. “Apa kau baru saja bercanda denganku? Mana mungkin kau bisa jatuh cinta padahal kita baru bertemu, tidakkah ini terdengar sangat tiba-tiba?” Young Eun mengatakannya dengan satu tarikan napas. Dia tidak pernah membayangkan bahwa sosok Kim Seo Jin yang digilai para gadis bisa segila ini.
“Ini bukan pertemuan pertama kita,” sahut Tae Hyun dengan nada tenang. Dia mencondongkan tubuhnya, sepasang iris coklat gelapnya menatap Young Eun tajam.
Young Eun seketika gelagapan mendapati wajah tampan dalam jarak begitu dekat seperti saat ini. Entah dia merasa beruntung atau s**l karena bisa melihat wajah seorang Kim Seo Jin dengan begitu dekat, sesuatu yang membuat hampir semua kaum hawa merasa iri padanya.
“Baik. Ini pertemuan kedua kita. Puas?” Young Eun berusaha untuk tidak gugup karena jarak mereka yang semakin dekat. “Baik. Ayo kita pulang.” Young Eun berbalik dengan cepat dan melangkah dengan tergesa. “Sepertinya aku benar-benar tertimpa s**l hari ini,” dengus Young Eun menggerutu di tengah langkahnya. Sebenarnya dia hanya ingin menjauhkan dirinya dari Tae Hyun karena kecepatan detak jantungnya semakin tidak normal.
Tae Hyun tersenyum tipis menatap punggung Young Eun yang semakin menjauh. Tatapan mata pria itu terkesan menyimpan begitu banyak makna yang tak mampu orang lain mengerti.
Sepanjang perjalanan, Young Eun sama sekali tidak berbicara, begitu pula dengan Tae Hyun. Mereka membiarkan keheningan mengisi celah diantara mereka. Tae Hyun sesekali melirik ke arah Young Eun dan membuat perempuan itu harus memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari tatapan Tae Hyun yang mampu memorak-porandakan hatinya.
“Kau menghindari tatapanku,” ujar Tae Hyun tiba-tiba.
Young Eun melotot. “Apa yang kau bicarakan? Fokus saja menyetir atau kita akan mengalami kecelakaan,” ujar Young Eun dengan gugup.
Tae Hyun tersenyum tipis. Ia kembali fokus pada kemudinya. Mobil mereka mulanya menyusuri jalanan yang terlihat lengang dengan tenang, sampai akhirnya sebuah motor memotong jalan di depan jalur mobil mereka dan membuat Tae Hyun harus menginjak rem secara tiba-tiba untuk menghindari kecelakaan. Keduanya tersentak ke depan karena mobil yang berhenti tiba-tiba.
Mendengar bunyi rem mobil seperti itu, sebuah kilasan ingatan berkelebat di depan mata Young Eun. Perlahan tubuh Young Eun menjadi tegang lalu gemetaran. Wajahnya mulai memucat dan napasnya mulai tidak beraturan. Tae Hyun tersadar dan segera melepaskan sabuk pengamannya. Dia meraih tubuh Young Eun ke dalam pelukannya dan menepuk punggung perempuan itu pelan. “Tenanglah, kau akan baik-baik saja.” Tae Hyun berbisik lirih di telinga Young Eun.
“Tidak apa-apa, kau akan baik-baik saja. Aku ada disini bersamamu.” Young Eun tak bisa berpikir dengan jernih, tubuhnya seperti merasa kesakitan, namun dia tidak tahu bagian mana yang terasa begitu sakit. Dia membalas pelukan Tae Hyun dan mencengkeram mantel pria itu dengan erat, seperti sedang berusaha mencari kekuatan. Perlahan Young Eun mulai merasa tenang. Tubuhnya tak lagi gemetaran. Napasnya yang semula memburu cepat, kini perlahan kembali teratur. Dia tidak tahu kenapa perasaannya menjadi nyaman saat dia berada dalam pelukan Tae Hyun.
••••
Seo Jin berdiri menatap sosok anak laki-laki yang sedang meringkuk ketakutan di sudut ruangan yang temaram tanpa cahaya lampu. Meski pandangannya terbatas karena gelapnya ruangan itu, Seo Jin masih bisa melihat anak laki-laki yang gemetar ketakutan di sudut sana, memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya diantara lututnya.
Berjalan dengan penuh keraguan dan rasa takut dalam dirinya, Seo Jin mendekati anak laki-laki itu, bermaksud untuk menolong. Seo Jin tidak yakin ini mimpi atau bagian dari ingatannya yang terlupakan. Seo Jin hanya tahu bahwa dia ada keinginan untuk menghampiri anak laki-laki itu.
“Tidak! Jangan mendekat! Jangan mendekat! Aku minta maaf! Jangan mendekat!” Anak laki-laki itu berteriak histeris, meminta Seo Jin untuk tidak mendekatinya. “Kumohon jangan mendekat!” Anak laki-laki itu menutup kedua telinganya dan semakin meringkuk dengan ketakutan.
“Aku ...” Seo Jin tak bisa melanjutkan kata-katanya saat tiba-tiba anak laki-laki itu mengangkat kepalanya dan menatap Seo Jin dengan senyuman misterius.
Seo Jin tersentak bangun dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Napasnya memburu dengan cepat. Pandangannya sedikit buram. Sampai akhirnya dia memejamkan kedua matanya sejenak dan mencoba untuk mengatur napasnya agar kembali normal.
Ketika dia sepenuhnya membuka mata dan mendapatkan kembali kesadarannya, pria itu bergegas bangun dengan wajah memucat. Dia menatap sekelilingnya lalu menghembuskan napas lega karena mendapati dirinya ada di dalam kamarnya sendiri bukan terbangun di tempat asing seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Seo Jin mengurut pelan kepalanya menyadari bahwa kepribadian lain muncul, mengambil alih tubuh dan kesadarannya. Mengingat ingatan terakhir kali yang dia lihat adalah saat dia selesai melakukan pengambilan adegan terakhir di lokasi syuting dan mengalami serangan panik. Menghembuskan napas berat, Seo Jin bergerak turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Untuk beberapa lama, Seo Jin menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan ekspresi tak terbaca. Tak ada yang tahu apa yang sedang dia pikirkan. Ekspresi wajahnya selalu sama setiap hari. Samar, Seo Jin mendengar suara langkah seseorang lalu panggilan keras dari Tae San.
“Seo Jin-ah, kau di dalam?” Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan wajah terkejut Tae San yang menemukan dirinya. “Kau ... Seo Jin?” tanya Tae San dengan ragu-ragu. Seo Jin tak menjawab, dia mengambil handuk dan mengeringkan wajahnya, lalu berjalan keluar dari kamar mandi diikuti Tae San di belakangnya. Wajah pria itu terlihat tegang.
“Siapa yang muncul kali ini?” tanya Seo Jin tanpa menoleh pada Tae San. Dia berjalan menuju ruang pakaiannya dan mengenakan sweter rajut warna coklat.
Tae San menghela napas lega karena menyadari bahwa pria yang ada di depannya adalah Seo Jin, bukan kepribadiannya yang lain. “Kim Tae Hyun. Aku tidak tahu pasti apa yang dilakukan olehnya. Tapi, dia mengunjungi sebuah klub malam kemarin, sepertinya tidak ada media yang tahu itu, setelahnya aku tidak bisa menghubunginya lagi.” Tae San mengerang putus asa. “Kemarin seharusnya kau pergi ke Incheon untuk menemui ayahmu. Ibumu bahkan berkali-kali menghubungiku dan untuk sekian kalinya aku harus mengarang kebohongan.”
Seo Jin tak menjawab. Dia berjalan menuruni anak tangga dengan langkah yang tenang, semakin membuat Tae San menjadi kesal karena untuk seseorang yang berada dalam masalah, Seo Jin selalu tenang dan tak bisa dipahami.
“Bagaimana dengan jadwalku besok?” Seo Jin mengalihkan pembicaraan.
Tae San berdecap pelan. “Besok kau memiliki jadwal untuk menemui dokter Kim.”
“Batalkan,” ujar Seo Jin tegas. Dia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum di dalam kulkas.
Tae San terus mengekor di belakang Seo Jin. “Kau tidak boleh menghentikan pengobatanmu. Apa kau akan terus membiarkan hal ini terjadi?”
Seo Jin meletakkan gelas minumannya ke atas meja dengan kasar, membuat Tae San berjengit kaget. Seo Jin menatap Tae San dengan pandangan dingin. “Lima belas tahun,” bisik Seo Jin dengan suara berat. “Lima belas tahun aku harus hidup seperti ini. Menurutmu sampai kapan aku harus menjalani pengobatan tanpa kemajuan sama sekali?” Kali ini sorot mata Seo Jin terlihat putus asa.
“Karena itu, kau tidak boleh menghentikan pengobatanmu, Seo Jin-ah.” Tae San berusaha membujuk Seo Jin. Dia bisa memahami perasaan Seo Jin yang ingin menyerah, namun dia juga tidak bisa membiarkan Seo Jin menyerah begitu saja.
Di tengah suasana tegang yang menyelimuti mereka, terdengar suara bel rumah. Tae San bergegas berjalan menuju pintu. Dia terkejut saat mendapati seorang perempuan berdiri di depannya dan membungkuk memberi salam.
“Sia...pa?” tanyanya dengan kening berkerut tebal.
Young Eun tersenyum dengan gugup. “Saya Seo Young Eun. Kemarin Seo Jin ... Tae Hyun, ah ...” Young Eun bingung harus menyebutkan nama siapa.
Tae San tersenyum kecut. “Baik, tunggu sebentar.” Tae San kembali ke dalam rumah dan mendekati Seo Jin dengan wajah cemas. “Apa kau memanggil perempuan itu ke sini?” tanyanya pada Seo Jin. Pria itu menatap Tae San dengan alis terangkat bingung.
Seo Jin bergerak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ia mengerutkan keningnya saat dia mendapati seorang perempuan sedang berdiri menatapnya dengan canggung.
“Ah ... kau sudah bangun ternyata. Aku pikir, aku datang terlalu pagi.” Young Eun menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gugup. Kemarin dia sudah menerima tawaran Tae Hyun untuk menjadi asisten pribadinya. Karena itu Young Eun datang dengan alamat yang diberikan oleh Tae Hyun.
Sementara Seo Jin hanya menatap Young Eun dengan wajah penuh pertanyaan. “Apa kau wartawan?” tanya Seo Jin dengan nada dingin. “Jika kau ingin berburu berita, bisakah kau tidak datang di jam sepagi ini?” Wajah dingin dan tatapan yang ditunjukkan pria di hadapannya membuat Young Eun terkejut.
Young Eun membulatkan kedua matanya. “Apa?”
“Apa kau akan pergi dengan tenang jika aku memberimu uang?” tanya Seo Jin tanpa berpikir dua kali untuk mengatakannya. Sedangkan Tae San mulai panik mendengar perkataan Seo Jin.
Wajah Young Eun seketika memerah menahan kesal. “Permisi!” Dia menarik napas dalam satu tarikan kuat. “Kau baru saja mengatakan bahwa aku wartawan? Kau ...”
“Ah ... sepertinya ada kesalahpahaman di sini,” potong Tae San menginterupsi.
“Kalau begitu aku bertanya, siapa kau?” sergah Seo Jin. Dia sedang dalam suasana hati yang sedikit buruk saat ini.
Kekesalan Young Eun semakin berkali lipat mendengar kalimat itu. Apa lagi wajah pria di hadapannya begitu dingin dan datar dengan tatapan yang menusuk. Melihat cara dia menatapnya saja sudah membuat Young Eun ingin memaki pria itu.
“Nona ...” Tae San tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan sesuatu karena Young Eun segera memotong ucapannya.
“Wah! Luar biasa sekali,” decak Young Eun dengan nada tak percaya. “Kemarin kau terlihat seperti pria yang benar-benar terobsesi denganku, tapi sekarang kau bertanya; siapa aku? Apakah kau kehilangan semua ingatanmu dalam semalam? Kau merengek padaku bahkan sampai menguntitku di tempat kerja untuk memintaku bekerja padamu, tapi sekarang kau berkata; siapa aku?” Young Eun tak bisa menahan nada suaranya untuk tidak meninggi. Dia merasa harga dirinya sedang di pertaruhkan di sini.
Seo Jin perlahan mulai memahami apa yang terjadi. Sepertinya perempuan di hadapannya salah mengira dirinya sebagai kepribadiannya yang lain. “Maaf, aku mabuk saat bertemu denganmu hingga mengatakan hal yang tidak masuk akal.” Seo Jin tak punya pilihan selain harus berbohong.
“Nona, kau bisa bicara denganku saja.” Tae San berusaha membujuk Young Eun. Dia menarik Seo Jin untuk masuk ke dalam rumah agar tidak semakin membuat keruh keadaan.
Young Eun dengan cepat menahan pintu yang hendak di tutup oleh Seo Jin. “YA!, Tidakkah kau terlalu arogan dengan mengatakan hal itu?! Kau pura-pura tidak mengenalku setelah apa yang kau lakukan padaku?!” Young Eun berteriak dengan penuh kekesalan. Napasnya naik turun karena berusaha menekan emosinya. “APA SEPERTI INI KEPRIBADIAN SEORANG KIM SEO JIN?!” teriak Young Eun marah. Dia berusaha menahan diri untuk tidak memukul wajah tampan di hadapannya.
Tae San semakin panik. Bukan karena kata-kata Young Eun yang memaki Seo Jin, melainkan dia cemas jika setelah ini Young Eun akan menyebarkan kejadian ini di media sosial, yang tentu saja bisa merusak reputasi Seo Jin.
Seo Jin tak bereaksi. “Aku sudah mengatakan padamu bahwa kemarin aku mabuk. Apakah itu belum jelas?” Seo Jin berbalik pergi sebelum akhirnya dia benar-benar menutup pintu rumahnya dengan rapat di depan wajah Young Eun.
Young Eun berteriak kesal karena dia baru saja dicampakkan sekaligus dipermalukan oleh orang yang sama yang kemarin membuatnya sejenak merasa terbang, tapi saat ini dia benar-benar dijatuhkan dengan keras. Young Eun menendang pintu rumah Seo Jin seraya mengeluarkan berbagai macam kalimat makian. Sedangkan Seo Jin yang masih berdiri di balik pintu, termenung dengan raut wajah tak terbaca.
Tae San mengejar Young Eun yang pergi dengan marah. Dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan Young Eun bertindak gegabah. Dalam hati memaki tindakan Tae Hyun dan Seo Jin, meski mereka berada dalam satu tubuh dengan kepribadian yang berbeda, keduanya selalu sama-sama menimbulkan masalah dan Tae San yang selalu harus turun tangan untuk menyelesaikannya.
“Nona, tunggu sebentar!” Tae San menghadang Young Eun. “Tolong, bicara denganku sebentar,” pinta Tae San dengan tatapan memohon. Dia selalu berada dalam situasi yang membuatnya harus membuang harga dirinya, padahal bukan dia yang membuat masalah. Menjengkelkan sekali.
Young Eun menghela napas kasar. “Kenapa? Kau takut aku akan membocorkan kejadian ini di media?” Young Eun mengangguk cepat. Dia merogoh saku mantelnya dan mengambil ponselnya. “Baik, aku akan melakukannya!” Young Eun mendorong Tae San untuk minggir dari hadapannya.
Tae San semakin panik dengan ancaman itu. “TIDAK!” seru Tae San keras. Dia sedikit berlari dan berhenti di depan Young Eun lalu secara tidak terduga, pria itu tiba-tiba berlutut di depannya dengan wajah memelas. “Tolong, jaga rahasia ini! Kumohon! Aku akan menuruti keinginanmu!”
Young Eun membulatkan kedua matanya, tercengang dengan tindakan Tae San.
••••