Young Eun menuangkan soju ke dalam gelasnya untuk ke dua puluh kalinya sejak satu jam yang lalu. Perempuan itu sudah mulai mabuk saat Da In datang menghampirinya. Perempuan itu menggelengkan kepalanya melihat bagaimana kondisi Young Eun saat ini. Teman sekaligus sahabatnya itu seperti baru saja di tinggal pria yang disukainya menikah.
“Apa yang kau lakukan? Kau seperti baru saja dicampakkan,” dengus Da In mengambil tempat duduk di depan Young Eun. Dia menyambar gelas milik Da In, lalu menuangkan soju ke dalam gelas tersebut dan meneguknya.
Young Eun tertawa kecut. “Aku memang baru saja dicampakkan di pertemuan ketiga.” Young Eun menggebrak meja dengan kasar, hingga membuat beberapa pelanggan kedai menoleh ke arah mereka berdua. Da In hanya bisa tersenyum malu dan meminta maaf pada pelanggan yang terganggu karena ulah sahabatnya tersebut.
“Siapa? Ji Hoon sunbae?” tanya Da In ingin tahu.
Young Eun melotot kesal. “Rasanya tidak akan memalukan seperti ini jika pria itu adalah Ji Hoon sunbae,” dengus Young Eun. Dia meletakkan kepalanya di atas meja sembari menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.
Melihat bagaimana kondisi temannya itu, Da In merasa yakin jika pria itu memang bukan Lee Ji Hoon seperti tebakannya. Lagi pula, sejak kapan Young Eun menyukai Ji Hoon, justru yang Da In ketahui sebaliknya.
“Dia tiba-tiba datang dan mengatakan ingin tidur denganku,” gumam Young Eun dengan setengah mabuk.
Da In terkejut mendengar ocehan Young Eun. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Young Eun yang sudah memerah. “Mengajakmu tidur? Apa kau sedang mengalami romansa e****s?” Sebuah pukulan keras mendarat dengan mulus di kepala Da In.
“YA! KAU PIKIR AKU PEREMPUAN MACAM APA YANG MAU TIDUR DENGAN SEMBARANG PRIA?!” seru Young Eun dengan kesal. Dia bahkan tidak peduli dengan belasan pasang mata yang menatapnya.
Da In lagi-lagi harus tersenyum meminta maaf pada para pelanggan karena ulah Young Eun. Dia memberikan isyarat dengan memutar jari telunjuknya di samping kepalanya, seolah sedang mengatakan bahwa Young Eun gila. Perempuan itu jika sudah mabuk, ucapannya lebih kasar dari pada saat dia sadar, jadi Da In berusaha memaklumi itu. Lagi pula siapa yang akan tetap waras di tengah pengaruh alkohol.
“Tapi sepertinya aku memang murahan. Aku benar-benar datang ke rumahnya dan dia bilang, kau siapa?” Young Eun berteriak kesal, menjambak rambutnya hingga berantakan. “Setelah dia mengatakan jatuh cinta padaku keesokan harinya dia melupakanku sepenuhnya,” gerutu Young Eun setengah merengek. Dia mengambil botol soju di depannya dan meneguknya langsung, membuat Da In hanya bisa menghela napas berat.
“Baik, katakan padaku siapa pria itu! Aku akan menghajarnya untukmu!” ujar Da In dengan berapi-api.
Young Eun mendengus. Dia mengarahkan pandangannya ke jalan, menatap sebuah papan iklan besar yang terpanjang di tepi jalan. Lebih tepatnya menatap wajah seorang pria yang menjadi model dalam iklan tersebut. Kim Seo Jin.
“Apakah dia bersungguh-sungguh atau dia berpura-pura?” gumam Young Eun, pandangannya menatap lekat pada papan iklan tersebut.
Da In mengikuti arah pandang Young Eun, sebuah kerutan halus tercetak di kening perempuan itu. “YA! Sebenarnya siapa yang sedang kau bicarakan?!” seru Da In mulai kesal bercampur penasaran.
Young Eun tersenyum kecut. Dia benar-benar menyesal karena percaya dengan ucapan pria b******k itu. Seharusnya dia lebih jual mahal demi harga dirinya. Perlahan jarinya terangkat, hendak menunjuk ke arah papan iklan tersebut, namun sebelum Da In memahami maksud Young Eun, perempuan itu sudah jatuh tak sadarkan lebih dulu.
“Aish! Jinjja!” Da In menggerutu dengan kesal.
••••
Seo Jin memperhatikan bayangan pepohonan yang berkelebat di depannya dari balik jendela mobil. Sorot mata pria itu masih begitu dingin dan tidak terbaca. Sesekali Tae San yang duduk di kursi kemudi, melirik Seo Jin lewat kaca spion, memastikan bahwa pria itu tidak berubah menjadi kepribadian lain, karena saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju Incheon untuk berkunjung ke rumah tua Seo Jin.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau tidak melupakan obatmu?” tanya Tae San sedikit khawatir. Melihat Seo Jin yang dingin dan jarang berbicara, membuat Tae San tidak pernah tahu apa yang tersimpan dalam pikiran pria itu.
Seo Jin melipat kedua tangannya di depan d**a lalu menatap punggung Tae San. “Apa kau berpikir bahwa aku tidak akan pernah sembuh?” Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Tae San berteriak protes.
“Apa yang kau katakan? Siapa yang bilang kau tidak akan sembuh? Kau akan sembuh saat waktunya tiba.” Tae San sendiri tidak tahu kapan yang dia maksud. Hanya saja dia berusaha untuk tidak kehilangan harapan demi Seo Jin.
Seo Jin tertawa hambar. “Saat waktunya tiba?” decihnya pelan. “Itu terdengar seperti aku harus menunggu sampai mati,” ujarnya dengan nada tenang.
Tae San tak tahu harus mengatakan apa mendengar perkataan Seo Jin. Dia tahu benar apa yang sedang dicemaskan oleh temannya itu. “Apa kau ingin mengambil cuti? Mungkin kau butuh waktu beberapa hari untuk menenangkan diri. Aku yang akan mengatakannya ke pihak agensi.” Tae San berusaha untuk membujuk Seo Jin. Setidaknya dengan begitu, Tae San berharap bahwa Seo Jin akan merasa lebih baik setelah mengambil cuti.
“Apa aku perlu pensiun?”
Tae San nyaris menginjak rem mendadak. “Ya! Berhenti mengatakan tentang pensiun! Aku tahu pekerjaan ini berarti untukmu, jadi jangan berkata bahwa kau akan pensiun hanya karena masalah ini.”
“Memangnya apa yang bisa aku lakukan selain bekerja di bidang ini? Terjun sebagai idol saja itu karena ulah Jeon Kook.” Terjun ke bidang Entertainment memang bukan kehendak Seo Jin sejak awal. Hal ini terjadi begitu saja ketika kepribadiannya yang bernama Jeon Kook mengambil waktu dan tubuhnya selama beberapa hari. Ketika Seo Jin terbangun, dia sudah mendapati dirinya menjadi trainee di sebuah agensi.
Seo Jin bisa saja memutuskan kontrak saat itu dan membayar penalti. Tapi menyadari bahwa bisa saja di suatu hari nanti kepribadiannya yang lain mengambil alih dirinya untuk selamanya. Hal itu tentu akan membuat sosok Kim Seo Jin hilang dan tak pernah dikenal oleh siapa pun.
“Beberapa kali aku berpikir untuk berhenti, tapi menyerah ternyata lebih sulit.” Seo Jin tersenyum getir. “Berkali-kali aku mengatakan padamu ingin berhenti sejak lima tahun lalu, kenyataannya aku masih sibuk sampai di tahun ke delapan ini. Jadi, jangan khawatir.” Meski mengatakan hal itu, Tae San justru merasa jauh lebih khawatir dengan kondisi Seo Jin.
Sejak lima belas tahun lalu saat untuk pertama kalinya dia mendapatkan diagnosa dari dokter bahwa dia mengidap DID (dissociative identity disorder). Seo Jin tak pernah lagi berteman dengan siapa pun. Satu-satunya tempat untuknya untuk mengatasi rasa kesepiannya adalah terjun ke dunia entertainment. Setidaknya Seo Jin bisa tersenyum dan tertawa meskipun itu hanya topeng yang dia kenakan.
••••
Young Eun membungkuk meminta maaf berkali-kali pada seorang pelanggan pria yang masih berteriak dengan marah padanya. Tak terima dengan kecerobohan Young Eun yang tanpa sengaja menumpahkan kopi di lengan kemejanya.
"Kau tahu berapa harga kemeja ini? Gajimu tiga bulan disini tidak akan mampu menggantinya!" ujarnya dengan nada tinggi.
Young Eun tak memiliki pilihan selain kembali membungkuk dan berulang kali mengucapkan permintaan maaf yang sama sekali tidak dihiraukan. Seluruh pelanggan Kafe hanya bisa memperhatikan kejadian tersebut dengan kasihan. Mereka tak ingin ikut campur dengan persoalan yang dihadapi pelayan Kafe itu. Mereka hanya kembali fokus pada urusan masing-masing meski sesekali menikmati kejadian di hadapan mereka.
"Ada apa ini?" Seorang pria dengan setelan rapi datang menghampiri mereka. Seketika semua mata para pelanggan di sana tertuju pada pria dengan perawakan tinggi dan berkulit putih tersebut. Rahangnya tegas dengan tulang hidung tinggi, serta tatapannya yang tajam dan jenaka di waktu yang bersamaan.
"Kau manajer disini?" tanya pelanggan tersebut pada Ji Hoon.
Pria itu tersenyum, ramah. "Saya bukan manajer disini," balasnya dengan nada ringan. Pelanggan itu seperti tak percaya, ia menatap Ji Hoon dengan tatapan menilai.
"Dimana manajernya?" tanyanya lagi pada Ji Hoon. "Panggilkan dia sekarang juga!" perintahnya bersikeras.
Young Eun segera melotot ke arah Ji Hoon. Dia seakan sedang berkata melalui tatapannya, apa-yang-sedang-kau-lakukan? Tapi Ji Hoon tak memedulikan tatapan Young Eun.
Pelanggan tersebut mendengus, kesal. "Panggil manajernya! Pelayannya tidak becus melakukan pekerjaannya! Pecat saja dia!" serunya sembari mengacungkan jari telunjuknya pada Young Eun.
Ji Hoon kembali mengukir senyum. Kali ini senyuman manis, namun air muka dan tatapannya justru menyiratkan sebaliknya.
"Saya rasa dia tidak bisa dipecat begitu saja hanya karena kesalahan sekecil ini." Pria itu bersedekap di depan d**a. Wajahnya menampakkan keangkuhan yang kian membuat Young Eun memucat di tempatnya. Ia menyikut pelan lengan Ji Hoon sembari memberikan isyarat untuk meminta maaf saja dan mengalah untuk segera mengakhiri kekacauan ini.
Pelanggan tersebut melotot, marah. Merasa kalimat Ji Hoon seperti mengejeknya. "Memangnya siapa kau? Kau bukan manajer disini!" Pria itu menggerutu semakin kesal. Ia hendak menarik kemeja Ji Hoon, namun Young Eun segera memasang badan dan menghalanginya.
"Saya minta maaf atas kekacauan ini, tuan. Saya minta maaf, biarkan saya mencuci kemeja Anda." Tangan Young Eun segera ditepis dengan kasar oleh pelanggan tersebut, ia bahkan mendorong Young Eun hingga jatuh.
Ji Hoon yang melihat hal itu semakin kesal karena sikap kasar si pelanggan. "Sebaiknya Anda berhenti, tuan. Dia sudah meminta maaf atas ketidaksengajaannya. Apa Anda ingin saya panggilkan petugas keamanan untuk mengusir Anda dari sini?" Aura Ji Hoon perlahan berbeda dari sebelumnya. Kali ini tatapannya menyorot tajam dan tegas.
"Sudah kubilang, panggilkan aku manajernya! Aku ingin dia dipecat!" seru pelanggan tersebut semakin marah. Ia melempar cangkir kopinya ke lantai. Pecahannya yang berserakan mengenai tangan Young Eun. Melihat hal tersebut, Ji Hoon mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Rahangnya mengeras.
Dia maju selangkah, menarik kerah kemeja pelanggan tersebut hingga si pria terkejut. "Saya adalah pemilik Kafe ini. Jika tuan tidak ingin saya laporkan ke polisi atas perusakan barang dan pembuat keributan, lebih baik Anda segera pergi dari sini! Atau Anda ingin saya mematahkan seluruh tulang Anda terlebih dahulu supaya Anda mendapatkan kompensasi seperti keinginan Anda?" Ji Hoon mencengkeram erat pergelangan tangan pria itu hingga membuatnya meringis.
Ia mulai merasa terintimidasi oleh kalimat dan tatapan pria muda didepannya. Dengan kasar, ia menepis tangan pria muda tersebut dari kerah kemejanya "b******k!" umpatnya sebelum berbalik pergi meninggalkan kekacauan yang dia timbulkan di dalam Kafe.
Melihat seluruh pelanggan terkejut dengan kejadian itu, Ji Hoon segera membungkuk dan meminta maaf pada pelanggan di sana. Ia kemudian berpaling pada Young Eun yang masih terduduk di lantai dengan air muka tak percaya.
"Kau tidak apa-apa?" Ia segera membantu Young Eun untuk berdiri dan menuntunnya menuju ruangannya di bagian belakang Kafe.
"Kenapa kau malah memancing amarahnya? Bagaimana jika dia menyebarkan rumor buruk tentang Kafe ini dan membuat para pelanggan kabur?" Young Eun berujar dengan kesal. "Aku tidak akan bertanggung jawab jika hal itu terjadi. Kau bahkan sampai mengancamnya," gerutu Young Eun.
Ji Hoon mengangkat kedua bahunya tak peduli. Tak ingin ambil pusing dengan akibat dari apa yang terjadi tadi. Ia berjalan ke arah kotak obat dan mengeluarkan alkohol, kapas, perban, dan obat merah dari sana, membawanya ke sofa dimana Young Eun duduk dengan gerutuan panjang.
"Seharusnya kau memecatku saja, Lee Ji Hoon sajangnim," ujar Young Eun diplomatis. Ia sengaja menekan kalimatnya pada kata panggilan untuk pria itu.
"Berhenti memanggilku seperti itu nona Seo Young Eun," ujarnya dengan nada tenang. Meski sebenarnya dia tidak merasa terganggu jika setiap kali Young Eun akan memanggilnya begitu saat perempuan itu sedang kesal padanya.
"Seharusnya kita minta maaf dan mengakhirinya dengan baik-baik," dengus Young Eun. Masih tidak terima dengan sikap Ji Hoon.
Ji Hoon menanggapinya dengan senyum tipis. Tanpa berbicara, ia mengambil tempat di samping Young Eun dan menarik tangan perempuan itu ke pangkuannya lalu memperhatikan luka di telapak tangan Young Eun sembari mendesah pelan.
"Sampai kapan kau akan terus meminta maaf padanya jika dia saja bersikeras tidak akan memaafkanmu? Apa kau akan bersujud didepannya? Jangan melakukan hal bodoh hanya karena pekerjaan seperti ini. Kau bisa mencari pekerjaan yang lebih baik dari tempat ini." Ji Hoon mulai membersihkan luka ditangan Young Eun dengan kapas yang sudah ia basahi dengan alkohol.
Young Eun termenung sejenak mendengar kalimat itu, lalu meringis menahan sakit saat merasakan lukanya bersentuhan dengan kapas yang dioleskan Ji Hoon.
"Kau bahkan hanya diam saja saat tanganmu terluka seperti ini," gumam Ji Hoon dengan nada sedikit kesal.
Young Eun menghembuskan napas dalam. "Ji Hoon-sshi, berhentilah membantuku seperti tadi. Kau selalu membuatku merasa berhutang padamu," sahut Young Eun dengan senyum tipis di bibirnya.
Ia kesal bukan karena sikap Ji Hoon pada si pelanggan tadi, melainkan ia berharap bahwa bosnya itu tidak akan ikut campur dalam masalahnya.
Ji Hoon menatap Young Eun sejenak. "Teruslah merasa seperti itu, maka aku akan terus melakukannya dan membuatmu terganggu." Ji Hoon selesai mengoleskan obat merah pada luka ditangan Young Eun, lalu membalut luka tersebut dengan perban.
Young Eun memperhatikan apa yang dilakukan oleh Ji Hoon padanya dengan wajah masam. "Lihatlah! Dari dulu kau selalu membantuku untuk merawat lukaku," dengus Young Eun sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. Ada perasaan bersalah tiba-tiba menyelinap ke dalam hatinya.
Ji Hoon menyelesaikan tugasnya membalut luka Young Eun dengan rapi. "Karena kau perempuan ceroboh, selalu saja terluka oleh apa pun." Ji Hoon mengetuk pelan kepala Young Eun yang membuat perempuan itu merutuk dengan kesal.
•••