Selama lima belas tahun dia menjalani hidup dengan segala macam situasi yang harus dia hadapi, untuk pertama kalinya Young Eun merasa tidak punya persiapan untuk menghadapi hal semacam ini. Terlibat dalam kehidupan seorang artis terkenal, yang tidak pernah Young Eun ketahui akan membawanya pada takdir yang seperti apa. Begitu pula dengan Seo Jin. Dia tidak pernah membayangkan bahwa akan ada orang lain yang mengetahui tentang rahasia besar yang dia simpan selama lima belas tahun, selain Tae San.
Young Eun menyeret kopernya memasuki rumah Seo Jin. Dia sedikit kesulitan karena beratnya koper yang harus dia bawah, namun Seo Jin sama sekali tidak berkeinginan untuk membantunya. Pria itu hanya berjalan di depannya dengan tak acuh.
“Dasar pria tidak berperasaan,” umpat Young Eun pelan, namun Seo Jin masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Pria itu membalikkan tubuhnya. “Kau baru saja mengumpatku,” ujar Seo Jin menyerupai pernyataan dari pada pertanyaan. Tak tersirat kekesalan dalam nada bicara pria itu, membuat Young Eun merasa penasaran dengan isi pikiran Seo Jin. Pria itu sudah terlihat seperti patung berjalan yang tidak banyak memiliki gambaran emosi di wajahnya, membuat Young Eun harus selalu berpikir untuk menebak apa yang ada dalam pikiran Seo Jin.
Young Eun seketika mengubah wajah cemberutnya berganti dengan senyuman kaku. “Tidak, sepertinya kau salah dengar. Mungkin telingamu sedikit bermasalah,” ungkap Young Eun beralasan. Seo Jin tentu tidak akan percaya begitu saja bahwa dia salah mendengar apa yang dikatakan perempuan itu, tapi dia juga tidak ingin membahas hal itu lebih jauh dengan Young Eun, hanya akan memicu perdebatan diantara mereka yang tiada akhir.
“Kamarmu ada di lantai dua.” Young Eun mengangguk sebagai jawaban. Dia kembali menarik kopernya, lalu mengangkatnya ketika hendak menaiki tangga, namun tiba-tiba sebuah tangan mengambil alih kopernya dari tangan Young Eun.
Young Eun sempat tercengang untuk beberapa detik atas sikap Seo Jin yang selalu tiba-tiba dan tidak bisa ditebak itu. Seraya mencibir pelan, Young Eun berjalan mengekor di belakang Seo Jin. Mereka berdua lalu berhenti di antara dua pintu kamar yang ada di depan mereka.
“Kamarmu di sebelah sini dan ini kamarku.” Seo Jin meletakkan koper Young Eun tepat di depan pintu kamar perempuan itu dan menunjuk pada pintu kamarnya.
“Kenapa harus bersebelahan?” tanya Young Eun dengan keberatan. Selama 24 jam dia harus melihat Seo Jin, bahkan kamar mereka pun harus bersebelahan. Ini seperti tidak ada privasi bagi Young Eun sama sekali.
Ketika Young Eun hendak kembali mengajukan protes, Seo Jin sudah lebih dulu membungkamnya. “Apa kau lupa dengan isi kontrak perjanjian nomor satu dan empat?”
Young Eun mendengus. “Iya, aku mengerti. Aku harus ada di sekitarmu selama 24 jam dan ikut ke mana pun kau pergi,” jelas Young Eun dengan nada penekanan. “Jadi, apa aku juga harus ikut denganmu ke kamar mandi?” Young Eun mengajukan pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan oleh Seo Jin akan keluar dari bibir perempuan itu.
“Jika kau tidak keberatan, tidak masalah.” Seo Jin membalas pertanyaan Young Eun dengan nada enteng.
Young Eun mendelik. Dia tidak menyangka bahwa Seo Jin akan menjawabnya dengan kalimat itu. “Tidak! Aku tidak akan pernah melakukan hal itu!” sahut Young Eun penuh ketegasan.
Seo Jin mengangguk dengan puas. “Baiklah. Kau sudah menghafal isi kontrak kita. Setelahnya mari kita tetapkan berapa bayaranmu.”
Mendengar tentang gajinya, Young Eun mulai bersemangat. “Apa aku boleh menyebutkan angka yang aku inginkan?” tanya Young Eun dengan mata berbinar penuh harap. Dia tidak peduli jika Seo Jin akan berpikir bahwa dia perempuan yang gila uang. Kenyataannya dia memang sedang membutuhkan uang untuk melunasi hutan judi kakaknya, jika tidak mereka berdua akan kehilangan rumah yang sudah dipenuhi oleh kenangan Young Eun dengan kedua orang tuanya.
Seo Jin mengangguk tanpa berpikir dua kali, membuat senyum di wajah Young Eun semakin melebar dengan sempurna.
“Bagaimana dengan 10 juta won satu tahun, setuju?” tanya Young Eun penuh harap.
“Setuju.” Angka itu bukan masalah bagi Seo Jin mengingat besarnya penghasilan setiap bulan yang dia dapatkan.
“Oke!” Young Eun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai bentuk bahwa mereka telah saling bersepakat. Seo Jin merasa ragu, namun melihat senyuman di wajah Young Eun, Seo Jin meraih tangan perempuan itu dan menjabatnya. Tanpa sadar, sebuah senyum simpul terukir di bibir Seo Jin dengan tulus, bukan senyaman paksaan seperti ketika dia berdiri di depan kamera. Sebuah senyuman yang membuat jantung Young Eun mulai kembali menggila.
“Baik, ikut aku.” Seo Jin berbalik, berjalan menuju sebuah ruangan yang tak jauh dari kamar mereka.
Setelah berhasil menguasai dirinya lagi karena senyuman Seo Jin tadi, Young Eun bergegas menyusul Seo Jin dan meninggalkan kopernya di depan kamar. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan luas yang berisi semua pakaian Seo Jin hingga sepatu dan jam tangan. Lalu di sudut ruangan lain yang di sekat oleh lemari, ada banyak berbagai macam hadiah yang diberikan penggemar untuk Seo Jin.
Seo Jin membawa Young Eun melewati puluhan hadiah itu lalu berjalan ke sisi lain ruangan. Sesaat, Young Eun menatap heran dan bertanya-tanya ketika Seo Jin menunjukkan beberapa foto yang dia pajang di dinding dengan bingkai yang berbeda-beda.
“Sejauh ini, kepribadian yang sudah muncul adalah Kim Tae Hyun,” Seo Jin menunjuk pada foto pertama. “Kim Jeon Kook, Jung Hee Seok, Park Jae Min, Kim Nam Jung, dan Min Yoon Ki.”
Young Eun mengangguk dengan wajah mengerti. “Sejauh ini kau baru bertemu dengan Kim Tae Hyun, Jung Hee Seok, dan Kim Jeon Kook.”
“Apa ... aku akan bertemu dengan kepribadianmu yang lain nanti?”
Seo Jin mengangguk pelan. “Cepat atau lambat kau akan bertemu dengan mereka semua dan kau harus memiliki cara untuk bisa membujuk atau mengakrabkan diri dengan mereka agar mereka mau menuruti kata-katamu.”
“Kenapa? Apakah mereka selalu membuat masalah seperti Jeon Kook?”
Seo Jin terdiam sejenak. Dia melangkah lebih dekat pada Young Eun. “Mereka bahkan terkadang bertingkah di luar kendalimu. Terutama, Min Yoon Ki, dia adalah kepribadian yang paling melankolis dan sering mencoba untuk bunuh diri.”
Young Eun terkejut mendengar hal itu. “Itu artinya dia bisa sangat berbahaya.”
Seo Jin mengangguk. “Kau harus menggunakan berbagai cara agar mereka tidak membuat masalah. Mereka kadang muncul di saat yang tidak terduga, bahkan ketika aku bangun tidur, aku bisa berganti dengan kepribadian yang lain.”
Kali ini Young Eun menghela napas, dia menatap Seo Jin dengan simpati. “Karena itu aku harus bersamamu selama 24 jam?”
“Benar. Kau tidak boleh jauh-jauh dariku tanpa izin dariku,” ujar Seo Jin dengan tatapan bersungguh-sungguh.
Sialnya. Jantung Young Eun menggila karena tatapan Seo Jin saat ini.
••••
Young Eun tidak tahu kenapa dia bisa terdampar di tempat ini. Dia bahkan masih tidak bisa mengerti kenapa dia harus terlibat dalam kehidupan seseorang seperti Kim Seo Jin. Pria dingin dan angkuh yang membuatnya kesal setiap hari. Mungkin jika dia bisa menjawab kenapa harus dia yang terlibat dengan hidup Seo Jin, Young Eun bersumpah akan mencari jalan keluar untuk kabur dari neraka ini.
“Ambilkan minuman untukku.” Seo Jin memberikan isyarat tangan pada Young Eun. Padahal minuman itu berada tepat di sebelah tempat duduknya. Dia memang hanya berniat untuk membuat Young Eun kesal padanya.
“Ada di sebelahmu,” ujar Young Eun kesal. Jika saat ini mereka tidak sedang berada di lokasi pemotretan dengan banyak orang yang memperhatikan, Young Eun mungkin sudah memukul wajah tampan Seo Jin. Pria itu selama satu hari ini benar-benar berniat memperbudak dirinya.
“Apa kau tidak bisa melihat aku sedang di rias?” Ucapan dengan nada datar itu membuat Young Eun harus menghela napas panjang untuk sekian kalinya. Dia meraih minuman Seo Ji di atas meja samping pria itu lalu menyodorkannya ke tangan Seo Jin dengan wajah cemberut.
“Baik, Seo Jin-sshi. Kau bisa melanjutkan pemotretan.” Seo Jin beranjak berdiri. Dia berjalan menuju set pemotretan untuk sesi kedua kalinya setelah berganti pakaian dan memperbaiki riasannya.
Young Eun duduk dengan bertopang dagu. Tatapan perempuan itu menyorot tajam pada Seo Jin yang sedang sibuk melakukan berbagai macam pose. Sebenarnya pose apa pun, pria itu sudah terlihat tampan. Wajahnya benar-benar sudah sangat sempurna. Bahkan tanpa riasan pun, Seo Jin tetap sudah seperti pangeran.
Young Eun menggelengkan kepalanya pelan menyadari bahwa dia baru saja memuji wajah Seo Jin tanpa sadar. Tatapannya yang sempat berubah kagum dalam beberapa detik lalu kini kembali menyorot tajam, seperti menyimpan dendam. Meskipun dalam hati dia mengakui bahwa Seo Jin salah satu perwujudan dari kata sempurna.
Setelah selesai dengan dua sesi pemotretan, Seo Jin berganti pakaian setelah sebelumnya menyuruh Young Eun untuk membuatkannya ramen. Seperti mendapatkan peluang untuk membalas sikap menyebalkan Seo Jin padanya, Young Eun menaruh beberapa permen coklat di dalam ramen.
“Selama menikmati, Seo Jin-sshi.” Seo Jin menerima ramen tersebut tanpa curiga sedikit pun. Sementara Young Eun tersenyum penuh arti sembari memperhatikan Seo Jin yang mulai menyuap ramennya tanpa ragu.
Tepat ketika Seo Jin hendak memasukkan satu sendok pertama ke dalam mulutnya, pria itu menyadari ada hal aneh. “Apa ini?” tanyanya saat menemukan coklat yang dimasukkan oleh Young Eun. Sekilas bentuk coklat itu mirip dengan jamur, sampai-sampai Seo Jin harus melebarkan matanya untuk memastikan.
Young Eun yang melihat bahwa Seo Jin menyadari ada sesuatu di dalam ramennya, bergegas melarikan diri dari sana dengan alasan pergi ke toilet. Seo Jin hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum simpul. Tanpa mengatakan apa pun lagi dan tanpa diketahui oleh Young Eun, Seo Jin tetap memakan ramen itu hingga tak tersisa.
Bukan masalah besar meskipun ada coklat di dalam ramennya, Seo Jin hanya perlu mengeluarkan coklat itu dan menghabiskan ramennya. Dia tahu bahwa itu ulah Young Eun, perempuan itu pasti melakukannya untuk balas dendam padanya.
••••
Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu terus menangis dan berkali-kali menggumamkan kata maaf. Dia meringkuk ketakutan di sudut ruangan. Sementara seorang pria mulai berjalan mendekatinya dan berjongkok di depannya, menatap tajam anak laki-laki itu.
“Seo Jin-ah, kau adalah anak laki-laki! Tidak seharusnya kau bersikap lemah seperti ini!” ujar sosok itu dengan penuh ketegasan. Suaranya yang besar dan berat, seperti mencekik leher Seo Jin.
Seo Jin yang berusia sepuluh tahun itu tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap wajah ayahnya. Bagi Seo Jin, mendapatkan tatapan seperti saat ini sudah teramat menakutkan untuknya, apalagi ketika ayahnya itu memukulnya dan memaksanya untuk terus belajar tanpa henti.
Setelahnya, kilasan kejadian itu berganti dengan Seo Jin yang berusia dua belas tahun sedang berdiri di tepi pantai dengan pasir putih dan lembut di menyentuh kakinya, suara deburan ombak yang menghantam kedua kakinya terdengar membuai telinganya. Seo Jin berpaling dan melempar senyum hangat pada seorang gadis yang sedang berjalan ke arahnya.
Seo Jin bergerak gelisah dalam tidurnya. Seperti ada seseorang yang menindih tubuhnya hingga membuatnya sulit untuk bernapas dengan benar. Seo Jin ingin bergerak bangun dan membuka matanya, namun seperti ada tangan yang mencegahnya untuk bangun. Dia tidak bisa melakukan apa pun selain mengerang dengan putus asa.
Seo Jin merasa seperti kembali terlempar ke ruangan gelap yang dingin. Sejauh apa pun dia berlari, ruangan gelap itu seperti bayangan yang selalu mengikuti di belakangnya. Setiap kali Seo Jin berlari ke arah lain untuk mencari pintu keluar, dia terus melihat pintu yang sama dan setiap kali dia membuka pintu itu, Seo Jin kembali berakhir di ruangan yang sama pula.
Sampai akhirnya dia tersentak bangun dengan tiba-tiba. Napasnya mulai kembali normal. Tatapannya matanya pun menyorot dengan sendu. Perlahan, Seo Jin bergerak bangun dari atas ranjangnya, lalu menuju kamar mandi. Selan beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi itu terbuka, menampilkan sosok Seo Jin yang sudah berpenampilan berbeda dari sebelumnya. Dia kini bukan mengenakan kaos putih, melainkan sweter warna hijau dengan celana jins hitam.
••••
Young Eun berjalan melewati ruang tamu dengan langkah mengendap. Dia terbangun karena mendengar suara dentingan piano. Ketika Young Eun dengan lancang membuka kamar Seo Jin, dia tidak menemukan pria itu di dalam sana. Akhirnya dengan perasaan penasaran, Young Eun mengitari seluruh sudut rumah untuk mencari keberadaan Seo Jin.
Ketika mendengar suara dentingan piano itu, Young Eun berjalan menuju ruang studio, dimana Seo Jin biasanya duduk di sana untuk menulis lagu atau berlatih bernyanyi. Kedua kaki Young Eun sampai di depan pintu, namun dia merasa ragu untuk membuka dan mengintip ke dalam. Dia takut jika Seo Jin akan memarahinya, namun dia juga ingat bahwa Young Eun harus ada di samping pria itu ke mana pun. Bahkan jika bisa, ke kamar mandi sekalipun.
Young Eun menarik napas dalam ketika tangannya sudah menyentuh kenop pintu, memutarnya perlahan, disertai perasaan ingin tahu bercampur gugup, Young Eun mendorong pintu itu lalu mengintip ke dalam. Dia mendapati Seo Jin duduk di depan piano. Suara merdu yang dia dengar tadi adalah hasil dari permainan jari-jari Seo Jin di atas tuts piano.
Young Eun berdiri terpaku untuk beberapa lama di tepi pintu. Dia menatap punggung tegap Seo Jin dengan perasaan tak menentu. Setiap nada yang ia dengar terasa menyedihkan, seperti ada luka dan kesedihan yang sedang berusaha disampaikan oleh pria itu melalui permainan pianonya.
“Apa kau berdiri di sana untuk mengawasiku?” Seo Jin menghentikan permainan pianonya dan berpaling menatap Young Eun yang kelimpungan karena tertangkap basah memperhatikannya diam-diam.
“Aku ... aku tidak sengaja mendengar permainan pianomu yang indah, Seo Jin-sshi.” Young Eun mengukir senyuman lebar, yang terkesan seperti senyuman paksa, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Seo Jin mengerutkan keningnya dengan tatapan bingung. “Siapa kau?” Young Eun seketika mematung di tempatnya mendengar pertanyaan itu.
•••••••