Seo Jin mengerutkan keningnya dengan tatapan bingung. “Siapa kau?”
Young Eun seketika mematung di tempatnya mendengar pertanyaan itu. Tidak mungkin jika pria di depannya ini Seo Jin dengan mengajukan pertanyaan semacam ini pada Young Eun. Jantungnya mulai berdegup gugup, dalam hati menebak apa yang terjadi.
“Apa kau asisten baru?” tanya Seo Jin dengan nada pelan. Tatapannya menyorot sendu.
Young Eun mulai tersadar. “Huh?” Dia menggerakkan matanya bingung. “Ah ... ya. Aku asisten baru di sini,” ujar Young Eun dengan gugup. Dia berjalan dengan ragu mendekati Seo Jin yang masih memperhatikannya dengan tatapan dalam.
“Mungkin ini terdengar tidak sopan. Tapi, siapa ... namamu?” Young Eun tahu bahwa pria yang berdiri di hadapannya dan memainkan piano beberapa menit yang lalu bukanlah Kim Seo Jin. Young Eun kini mulai bisa membedakan setiap kepribadian Seo Jin yang muncul melalui tatapan dan ekspresi mereka, meski dia masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri berinteraksi dengan semua alter ego Seo Jin.
Pria itu mengukir senyum lembut, namun dengan air muka sedih. “Min ... Yoong Ki.”
Young Eun mendesah panjang. Mendengar nama itu, dia harus lebih menekankan perasaan waspadanya, mengingat apa yang Seo Jin katakan bahwa alter ego Yoong Ki adalah kepribadian yang pesimis dan mudah putus asa, serta suka melalukan hal ekstrem seperti bunuh diri. Terdengar sedikit menakutkan untuk Young Eun, namun itu artinya Yoong Ki adalah alter ego Seo Jin yang sangat rentan akan rasa sakit.
“Yoong Ki-sshi, permainan pianomu tadi sangat indah sekali,” puji Young Eun dengan tulus. “Apa ... kau mau memainkannya lagi untukku?” Young Eun mengerjapkan kedua matanya seraya memasang mimik wajah penuh harap.
Seo Jin berpesan pada Young Eun agar dia menjauhkan Yoong Ki dari atap, dapur, dan bahkan benda-benda yang tajam. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Yoong Ki dengan benda-benda tersebut, karena Seo Jin mengatakan bahwa terakhir kali alter ego itu muncul, Seo Jin tiba-tiba sudah terbangun di rumah sakit dengan pergelangan tangan yang di perban. Dokter mengatakan dia masih beruntung karena sayatan di pergelangan tangannya tidak dalam.
Yoong Ki lalu berpaling menatap tuts piano di depannya. “Bukankah musik tadi terlalu menyedihkan bagimu?” tanya Yoong Ki dengan wajah melankolis.
Young Eun sedikit melebarkan matanya. Dia bisa melihat seperti apa alter ego Yoong Ki. Pria itu memiliki tatapan yang dalam dan sendu. Wajahnya terlihat sedih, matanya seperti memancarkan keputusasaan yang begitu dalam. Benar-benar kepribadian yang pesimis dan sensitif.
“Ah ... benar, tapi aku rasa tidak akan sedih jika kau membaginya dengan orang lain. Mungkin saja musikmu itu justru menjadi penghibur dan penyembuh untuk orang lain yang mendengarnya.”
Meski alter ego Yoong Ki lebih pada kepribadian yang cenderung pesimis dan mudah putus asa, dia termasuk jenius dalam menulis lagu dan membuat musik. Itulah kenapa beberapa lagu Seo Jin sering menempati peringkat pertama di berbagai tangga lagu dan setiap albumnya yang keluar pasti akan terjual habis dalam hitungan menit.
“Aku lelah. Tinggalkan aku sendirian.” Yoong Ki beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan keluar dari ruangan tersebut, mengabaikan Young Eun.
Young Eun bergegas mengekor di belakang Yoong Ki, wajahnya terlihat panik. “Eh, kenapa kau tidak tinggal di sana dan menulis lagu baru?” Jelas sekali jika Young Eun berusaha untuk menahan Yoong Ki pergi dari sana.
“Aku sedang tidak ingin,” sahut Yoong Ki tak acuh. Dia membuka pintu kamar Seo Jin.
“Ah! Tunggu!” Young Eun menarik lengan Yoong Ki dan menahan pria itu untuk masuk ke dalam kamar, membuat Young Eun harus menerima tatapan tajam darinya.
Young Eun tersenyum seramah dan semanis mungkin. Dia harus tetap berada di dekat pria itu untuk mengawasinya. “Aku dengar, kau banyak menulis lagu dan membuat musik yang luar biasa untuk Seo Jin. Aku akan menemanimu di studio. Jadi, mungkin ...”
“Aku lelah,” potong Yoong Ki cepat. “Aku ingin tidur dan jangan menggangguku,” tambahnya penuh penekanan. “Kau tidak perlu mengawasiku dengan ikut masuk ke kamarku, bukan?”
Young Eun seketika gelagapan mendapatkan pertanyaan itu. “Ah ... tidak!” Young Eun menggelengkan kepalanya dengan senyum bodoh. Dia tidak tahu harus melakukan apa.
“Pergilah.” Yoong Ki berbalik dan melepaskan tangan Young Eun di lengannya pelan.
Melihat bagaimana ia gagal untuk membujuk Yoong Ki, Young Eun menghela napas lemah. “Ah benar ... kau lelah.” Young Eun tersenyum kecut. “Baik. Kau bisa tidur, tapi ...”
BRAKKK!
Belum sempat Young Eun menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar itu tertutup dengan keras tepat di depan wajahnya. Young Eun menggeram kesal menatap Yoong Ki yang ada di balik pintu itu, dia merasa ingin memukul pintu di depannya untuk melampiaskan kekesalannya.
“Ah ... bagaimana caranya aku mengawasi dia? Apa aku harus berdiri di depan pintu ini sampai Seo Jin kembali?” Young Eun mengentakkan kakinya kesal. Dia menyenderkan punggungnya ke dinding dengan tarikan napas panjang.
•••••
Young Eun terbangun tiba-tiba ketika mendengar bunyi nyaring ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia tidak tahu berapa lama sudah tertidur setelah dia berkali-kali memastikan Yoong Ki tidak melalukan sesuatu yang mencurigakan. Young Eun mengulurkan tangannya dengan mata masih terpejam, berusaha menggapai ponselnya yang masih terus berbunyi. Dia sedang berjuang melawan rasa kantuknya saat hendak menjawab panggilan tersebut. Sembari mata yang masih setengah terpejam, Young Eun menggeser tombol hijau pada layar ponselnya lalu menyapa si penelepon dengan suara serak khas bangun tidurnya.
“YA! SEO YOUNG EUN! APA KAU MAU MATI?!”
Mendengar teriakan keras itu seketika membuat Young Eun membuka matanya dengan lebar. Nyawanya terkumpul sepenuhnya menyadari bahwa Da In yang meneleponnya.
“Ada apa denganmu? Pagi-pagi kau sudah berisik!” dengus Young Eun. Dia bergerak bangun dan duduk di tepi ranjang.
“Kau ada dimana sekarang? Kenapa kau keluar dari Kafe Ji Hoon sunbae tanpa memberitahuku? Apa yang terjadi? Apa kakakmu membuat masalah lagi di rumah? Apa kau diserahkan pada para rentenir itu?”
Young Eun menghela napas dalam-dalam mendengar serentetan pertanyaan dari Da In. “Berhentilah memikirkan hal-hal yang berlebihan. Aku baik-baik saja dan mendapatkan pekerjaan baru, jadi aku harus pindah dari Kafe.” Young Eun berjalan ke arah jendela lalu membuka tirainya. Perempuan itu menyipitkan matanya saat melihat sosok Seo Jin sedang berdiri menatap pohon sakura di depannya. Young Eun tidak tahu apakah yang berdiri di sana benar Seo Jin atau Yoong Ki, atau mungkin alter egonya yang lain.
“Katakan padaku, kau ada dimana? Ji Hoon sunbae sangat mencemaskanmu karena kau berhenti tiba-tiba.” Masih terdengar omelan panjang dari Da In di seberang panggilan, namun Young Eun sama sekali tidak memedulikannya. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Seo Jin yang saat ini berdiri memunggunginya.
“Aku akan menghubungimu lagi. Kita bertemu di tempat biasa. Bye!” Young Eun mematikan panggilan secara sepihak. Dia setengah berlari dengan tergesa menuju taman belakang rumah Seo Jin.
Young Eun menghentikan langkahnya, ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menormalkan kembali detak jantungnya akibat berlari dari lantai dua ke taman belakang. “Seo Jin-sshi?” Young Eun berjalan sedikit ragu mendekati Seo Jin yang terlihat tidak peduli dengan kehadirannya. Pria itu masih fokus memandang pohon sakura yang terlihat meranggas di depannya.
“Seo Jin-sshi?” panggil Young Eun untuk kedua kalinya, tapi Seo Jin sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Seketika hal itu membuat Young Eun menyadari sesuatu. Jantungnya kembali berdegup kencang sembari berusaha menebak siapa kali ini yang berdiri di depannya. Dia hanya berharap bukan Yoong Ki atau Jeon Kook.
“Sedang apa kau disini?” Suara dengan nada berat dan dalam itu membuat Young Eun terenyak. Untuk beberapa detik, dia mencoba mengingat suara berat itu lagi dan saat dia mengenali siapa sosok yang kini masih berdiri memunggunginya, Young Eun mundur satu langkah ke belakang tanpa sadar.
“Tae ... Hyun-sshi?” Suaranya seperti tercekat. Young Eun tidak tahu kenapa dia harus memberikan respons seperti ini saat mengetahui bahwa alter ego itu adalah Tae Hyun.
“Kenapa kau bisa ada di sini tanpa sepengetahuanku?” Tae Hyun perlahan membalikkan tubuhnya. Sorot mata Tae Hyun menatapnya dengan tajam dan mengintimidasi.
“Aku ...” Young Eun merasa seperti tertangkap basah sedang bolos sekolah, tapi sebenarnya lebih menyeramkan dari pada itu.
Tae Hyun perlahan mendekat lalu menarik tangan Young Eun dengan kuat, membuat perempuan itu tersentak kaget.
“Apa kau di sini karena Seo Jin?” tanya Tae Hyun ingin tahu.
Tae Hyun tidak seharusnya tahu bahwa dia disini sebagai asisten Seo Jin, terlebih lagi Tae Hyun juga tidak boleh mengetahui kontrak antara dirinya dan Seo Jin. Young Eun tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Tae Hyun jika dia mengetahuinya.
Young Eun mengerjapkan kedua matanya dengan gugup bercampur takut. “Aku ... bukankah kau yang memberiku alamat rumah ini? Kau sendiri yang mengatakan padaku akan memperkerjakanku sebagai asistenmu,” ujar Young Eun memberikan alasan. Sebenarnya bukan sepenuhnya alasan, karena dia memang sebelumnya datang ke rumah Seo Jin karena alamat yang diberikan Tae Hyun padanya.
Tae Hyun terdiam sejenak. Tatapannya masih menyorot tajam. “Bagaimana mungkin Seo Jin bersedia menerimamu di sini karena permintaanku.” Tae Hyun berdecap pelan. “Pengecut itu tidak mungkin dengan sukarela melakukannya.”
Dia benar, Seo Jin tidak mungkin menerima Young Eun secara sukarela hanya karena keinginan Tae Hyun. Young Eun hanya bisa meringis dalam hati membenarkan perkataan Tae Hyun.
“Ah ... karena aku mengancamnya,” sahut Young Eun. Satu alis Tae Hyun terangkat ke atas, tak mengerti. “Aku mengancamnya akan melaporkan ke media bahwa dia mengidap penyakit.” Young Eun menarik dua sudut bibirnya ke atas, senyuman yang terkesan sedikit dipaksakan.
Tae Hyun menatap Young Eun untuk beberapa lama, mencoba mencari kebohongan dimata perempuan itu. “Dia benar-benar tidak memintamu melakukan sesuatu atau yang lainnya?” tanya Tae Hyun kembali memastikan.
Young Eun mengangguk dengan cepat. “Tidak. Dia bahkan membayarku dengan gaji yang tinggi,” sahut Young Eun dengan nada antusias. “Kau tahu bukan, aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja, jadi aku meminta dia memperkerjakanku sebagai asisten.” Tae Hyun menganggukkan kepalanya percaya. Penjelasan Young Eun begitu masuk akal.
“Kalau begitu, ayo kita pergi berkencan hari ini.” Tanpa memberikan kesempatan untuk Young Eun mencerna kalimatnya, Tae Hyun dengan cepat menarik tangan perempuan itu untuk berjalan mengikutinya.
“TUNGGU!” sergah Young Eun cepat. “Hari ini kau harus menghadiri konferensi pers untuk perilisan film Seo Jin,” ujar Young Eun memberitahu. Tae San sudah memberikan dia peringatan jika terjadi sesuatu dengan Seo Jin, Young Eun harus bertanggung jawab karena kini dia yang menggantikan tugas Tae San saat Seo Jin di rumah, terutamanya bernegosiasi dan membujuk para alter ego Seo Jin agar tetap bisa melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal Seo Jin.
“Aku tidak peduli!” Bukan Tae Hyun jika akan langsung mendengarkannya.
“Kalau begitu aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!” balas Young Eun sedikit mengancam.
Tae Hyun mendelik kesal. “Kenapa kau melakukan ini padaku?” Dia tidak peduli dengan reputasi Seo Jin. “Lagi pula ini waktuku, bukan milik Kim Seo Jin!” tegasnya.
Young Eun membuang napas kasar. “Tapi tubuh yang kau tempati itu juga milik Kim Seo Jin, jadi kau harus melakukan apa yang dia lakukan juga!” ujar Young Eun tak kalah tegas. Dia tahu, membujuk Tae Hyun tidaklah mudah seperti dia membujuk alter ego yang lain dengan menjanjikan mereka suatu barang atau sesuatu yang mereka sukai. Sementara Tae Hyun, dia adalah kepribadian yang sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkan siapa pun, bahkan Tae San tidak pernah berhasil untuk bernegosiasi atau berbicara dengan Tae Hyun.
Tae Hyun menyipitkan kedua matanya, menatap Young Eun tajam. “Aku ... tidak mau!” balas Tae Hyun penuh penekanan.
Young Eun menarik lengan Tae Hyun saat pria itu hendak berbalik pergi. “Baik! Bagaimana jika aku mengabulkan keinginanmu? Maka, kau juga harus melakukan apa yang aku katakan!” Young Eun mencoba untuk melakukan negosiasi.
Tae Hyun terdiam. Wajahnya tampak sedang berpikir, mungkin dia mulai tertarik dengan tawaran Young Eun. Sebuah senyuman tipis diam-diam tersungging di bibir perempuan itu. “Kau tertarik, bukan?” tanyanya pada Tae Hyun.
“Kau akan melakukan apa yang aku inginkan?” Tae Hyun memandang Young Eun ingin tahu.
Young Eun mengangguk. “Tentu saja, jika kau juga melakukan apa yang aku katakan. Bagaimana? Bukankah tidak ada yang rugi?” Young Eun menatap Tae Hyun penuh harap.
Tae Hyun kembali terdiam sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk untuk menyetujui tawaran Young Eun. “Ah! Baik, kau harus bersiap-siap!” Young Eun tersenyum dengan senang karena berhasil membuat Tae Hyun menuruti kata-katanya. Dia hendak melangkah pergi untuk bersiap-siap, namun Tae Hyun menahan lengannya.
“Hanya untuk kali ini,” desis Tae Hyun dengan sorot mata tajam.
Young Eun lagi-lagi mengangguk dengan senyum lebar, seperti tidak terpengaruh dengan ucapan dan tatapan Tae Hyun. “Aku mengerti. Cepat bersiaplah sebelum manajer Seo Jin datang.” Young Eun bergegas melesat pergi saat ia berhasil melepaskan tangan Tae Hyun dari lengannya. Dia menghela napas lega, seperti baru saja melalukan negosiasi dengan malaikat maut.
•••••