Kilatan cahaya kamera yang membidik objek di depannya, membuat pandangan Young Eun sedikit memburam. Meski bukan dirinya yang menjadi sasaran kamera itu, Young Eun bertanya-tanya, bagaimana mungkin Seo Jin bisa tahan tanpa berkedip ketika kilatan cahaya kamera yang berkali-kali tanpa jeda itu terarah padanya. “Kehidupan publik figur ternyata tidak selalu terlihat menyenangkan,” gumam Young Eun berdiri paling belakang di antara para wartawan yang datang untuk memburu berita.
Sementara beberapa orang yang menjadi objek kamera tersebut mengukir senyum ramah dan manis seraya melambaikan tangan. Young Eun menatap dengan was-was pada Tae Hyun yang berdiri di antara para aktor dan aktris di depan sana. Meskipun Tae Hyun seperti terlihat menikmati apa yang dia perankan, namun Young Eun tidak pernah tahu apa yang tersimpan dalam pikiran Tae Hyun. Dia bisa saja melakukan hal tidak terduga selama konferensi pers berlangsung.
“Apa kau yakin dia bisa melakukannya seperti yang sudah kau katakan?” tanya Young Eun berbisik pada Tae San yang berdiri di sampingnya. Mereka kini sedang fokus memperhatikan Tae Hyun.
Terdengar suara MC acara yang meminta para pemain film The Day We Meet itu untuk duduk di kursi yang disediakan untuk melakukan sesi wawancara. Beberapa wartawan mulai bersiap untuk mengajukan pertanyaan yang sudah mereka siapkan untuk masing-masing pemain film bergenre romance tersebut.
“Kita masih harus berharap dan mengawasi dia. Jika dia mulai melakukan sesuatu yang aneh, kita harus menariknya turun dari sana,” ujar Tae San dengan tatapan bersungguh-sungguh. Dia tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Tae Hyun.
Sesi wawancara tersebut berjalan dengan baik, sesuai dengan harapan Young Eun dan Tae San karena Tae Hyun tidak banyak mengatakan apa pun. Pertanyaan seputar film tersebut dijawab oleh pemain yang lain. Sampai akhirnya salah satu wartawan mengajukan pertanyaan secara personal pada Seo Jin.
“Untuk Seo Jin-sshi, sebagai pemeran utama yang jatuh cinta pada seorang perempuan dalam film tersebut, apakah dalam kehidupan nyata Anda pernah mengalaminya?”
Mendengar pertanyaan itu membuat Young Eun maupun Tae San menahan napas dan menatap penuh harap pada Tae Hyun untuk tidak memberikan jawaban yang salah.
Tae Hyun tersenyum mendengar pertanyaan itu, sebuah senyuman dan air muka yang menyiratkan sesuatu. Tatapannya tertuju pada Young Eun yang sedang menatapnya penuh harap agar dia memberikan jawaban yang tepat.
“Jatuh cinta di kehidupan nyata?” ujar Tae Hyun mengulang pertanyaan wartawan tersebut. “Saya sudah melakukannya sejak beberapa hari yang lalu.” Jawaban yang tidak terduga itu membuat para wartawan mulai penasaran. Mereka dengan cepat sibuk menulis sesuatu di laptop mereka.
“Kau jatuh cinta?” bisik Hye Mi yang duduk di sebelah Tae Hyun. “Sulit dipercaya kau bisa jatuh cinta.”
Tae Hyun berpaling paling Hye Mi dengan wajah dingin. “Bukan menjadi urusanmu. Jika kau sekarang tahu bahwa aku menyukai orang lain, seharusnya kau memiliki rasa malu untuk berhenti menggangguku.” Kalimat itu membuat wajah Hye Mi memerah seketika. Perempuan itu mengatupkan bibirnya rapat, berusaha menahan kekesalannya.
Tae San dan Young Eun secara bersamaan mengurut kepalanya pelan mendengar jawaban itu. Tae San sudah bisa menebak berita apa yang akan muncul di media nanti. Dia memang harus membuat perhitungan dengan Tae Hyun setelah konferensi pers ini selesai. Sedangkan Young Eun menghela napas panjang, dia tidak bisa melakukan apa pun untuk membereskan kekacauan yang nanti akan diterima oleh Seo Jin karena ulah Tae Hyun.
•••••
Setelah acara konferensi pers yang meninggalkan banyak tanda tanya untuk publik karena pengakuan tidak terduga Tae Hyun, pria itu sama sekali tidak merasa bersalah. Keluar dari ruangan konferensi, tanpa peduli dengan Tae San yang mengomel padanya panjang lebar, Tae Hyun menarik lengan Young Eun dan membawa perempuan itu menuju tempat parkir.
“Ya! Apa yang kau lakukan?!” Young Eun berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Tae Hyun, namun pria itu terlalu kuat.
“Aku sudah melakukan apa yang kalian suruh. Sekarang, kau harus menepati janjimu untuk pergi berkencan denganku!” ujar Tae Hyun tak ingin mendapatkan bantahan apa pun dari Young Eun. Dia mendorong perempuan itu masuk ke dalam mobil, sementara Tae San berlari mengikuti mereka dengan napas tersengal dan wajah merah padam.
“Kalian mau ke mana?” tanyanya dengan wajah bingung saat melihat Young Eun sudah duduk di kursi mobil lalu disusul Tae Hyun di kursi kemudi.
“Jangan ganggu aku! Atau akan membuat masalah ini semakin besar!” ancam Tae Hyun pada Tae San yang berdiri menatap keduanya dengan wajah memucat. Sedangkan Young Eun menggerakkan bibirnya, menggumamkan kata maaf.
Tae San hendak membuka pintu mobil untuk mencegah Tae Hyun, namun nahasnya pria itu sudah lebih dulu mengunci pintu mobil. “KIM TAE HYUN!” teriak Tae San marah. Tae Hyun sama sekali tidak peduli dengan teriakan marah Tae San karena kekacauan yang dia sebabkan di konferensi pers beberapa saat yang lalu.
“Apa yang kau lakukan? Kau baru saja membuat masalah dan sekarang kau melarikan diri?!” ujar Young Eun kesal seraya melipat kedua tangannya.
Tae Hyun mengangkat kedua bahunya tak acuh. Dia memasang sabuk pengamannya dan mulai menyalakan mesin mobil. “Aku tidak peduli. Lagi pula Seo Jin yang akan membereskannya.”
“YA! KIM TAE HYUN! BUKA PINTUNYA!” Tae San memukul kaca mobil berkali-kali dengan marah, seperti hendak memecahkan kaca mobil didepannya. “KAU MAU KEMANA?!”
Tae Hyun sama sekali tidak memberikan tanggapan atas teriakan Tae San di luar mobil. Dia hanya memberikan senyum menyebalkannya pada Tae San sebelum akhirnya dia menginjak gas dan membawa mobil itu keluar dari area basemen parkir. Meninggalkan Tae San yang terus berteriak kesal.
“Apa kau tidak bisa sehari saja tidak membuat masalah?!” tanya Young Eun dengan nada menggerutu.
Tae Hyun tidak memedulikan protes dari Young Eun. “Pakai sabuk pengamanmu,” ujar Tae Hyun memperingatkan. Dia kembali fokus pada kemudinya lalu menambah kecepatannya. Young Eun yang tidak siap dengan kecepatan mobil yang tiba-tiba berubah, refleks berteriak marah karena ulah Tae Hyun.
•••••
Young Eun harus memegangi dadanya dengan napas yang memburu dengan cepat. Dia merasa jantungnya nyaris melorot turun ke dalam perutnya. Young Eun melempar tatapan mematikan pada Tae Hyun yang terlihat begitu tenang setelah membuatnya hampir terbunuh karena serangan jantung.
“Apa kau benar-benar ingin membuat kita mati?” Young Eun meraih botol minum di bawah kursinya, meneguk air itu dengan rakus. “Kau benar-benar gila!” seru Young Eun tak bisa menahan kekesalannya.
Tae Hyun melepas sabuk pengamannya lalu menatap Young Eun dengan tenang. Tanpa mengatakan apa pun, Tae Hyun menatap Young Eun dengan lekat lalu mencondongkan tubuhnya. Young Eun yang tidak siap sama sekali dengan jarak mereka yang tiba-tiba sedekat ini, refleks menarik tubuhnya ke belakang hingga tersudut ke pintu mobil.
Tae Hyun menarik kedua sudut bibirnya. Dia memiringkan kepalanya ke samping, lebih dekat ke sisi wajah perempuan itu, membuat Young Eun menutup kedua matanya rapat-rapat. Tae Hyun yang melihat bagaimana reaksi perempuan tersebut, tersenyum dengan geli.
“Ayo kita turun.” Tae Hyun melepaskan sabuk pengaman Young Eun lalu kembali duduk dengan tegak. Dia mengenakan hoodie hitam, menutup rambutnya dengan topi, lalu mengenakan masker.
Young Eun membuka kedua matanya. Dia menatap Tae Hyun yang sudah bersiap dengan penyamarannya dan hendak turun dari mobil. Perempuan itu seketika menyadari sesuatu yang tentu saja membuat kedua pipinya memerah karena malu.
Tae Hyun membuka pintu mobil dan keluar. Sedangkan Young Eun mengentakkan kedua kakinya dengan kesal. “Astaga! Apa yang aku pikirkan?!” Young Eun merutuki dirinya, menyesali apa yang baru saja terlintas dalam benaknya karena sikap Tae Hyun.
Young Eun turun dari mobil dengan wajah kebingungan. Dia berjalan mendekati Tae Hyun. “Kenapa kau membawaku ke sini? Apa yang akan kita lakukan?” Young Eun menghentikan langkahnya saat mereka hendak memasuki lobi hotel. Dia terlihat ragu.
Tae Hyun menarik lengan Young Eun dengan sedikit paksaan. “Menurut apa yang bisa dilakukan saat pria dan wanita sedang bersama?” bisik Tae Hyun dengan senyum misteriusnya.
Young Eun mendelik kesal. “Jangan bermain-main. Kau baru saja membuat masalah, jangan menambah masalah lagi!” desak Young Eun.
Tae Hyun tak memedulikan protes dan omelan panjang Young Eun di sebelahnya. Dia terus menarik lengan perempuan itu untuk mengikutinya. Mereka masuk ke dalam lift lalu menuju lantai paling atas gedung. Young Eun masih bertanya-tanya tentang apa yang akan dilakukan Tae Hyun padanya. Dia mulai panik saat mereka hendak masuk ke dalam sebuah kamar.
Young Eun menarik tangannya dari genggaman Tae Hyun dengan paksa. “Tunggu! Sebenarnya apa yang kau inginkan? Apa yang akan kita lakukan jika masuk ke sana?” Young Eun bertanya dengan nada kesal bercampur cemas.
“Bukankah sudah kukatakan bahwa hari ini kita berkencan!”
“Memangnya kencan macam apa hingga kita harus masuk ke kamar hotel? Aku tidak mau!” Young Eun bersikeras. Semakin Tae Hyun menarik tangannya, Young Eun semakin berusaha memberontak. Sampai akhirnya Tae Hyun membopong tubuh perempuan itu dalam gendongannya, membuat Young Eun berteriak kesal.
Tae Hyun membuka pintu kamar hotel tersebut lalu melempar Young Eun ke atas ranjang dengan keras. Perempuan itu seketika tercengang saat menyadari apa yang ada di depannya. Dia menemukan tiga pelayan perempuan memberi salam padanya. Sedangkan di belakang para pelayan tersebut, ada beberapa potong pakaian mahal dan perlengkapan rias.
“Aku ingin kalian mengubah penampilannya.” Tae Hyun mendudukkan dirinya di sofa sembari memberikan instruksi pada tiga pelayan tersebut. Mereka menurut dan bergegas mengarahkan Young Eun untuk mencoba beberapa baju.
“Apa maksudmu? Kenapa aku harus melakukan ini hanya untuk berkencan denganmu?” Young Eun berteriak protes untuk sekian kalinya. Jika tahu akan berakhir seperti ini, sejak awal dia tidak akan pernah setuju untuk pergi bersama Tae Hyun, atau lebih tepatnya sejak awal seharusnya dia tidak pernah terlibat dalam kehidupan seorang Kim Seo Jin.
Tae Hyun berdecap. “Kenapa kau selalu berisik? Apa kau lebih suka aku membuat masalah di luar sana?” tanya Tae Hyun sedikit mengancam. Pada akhirnya Young Eun menurut meski sesekali gerutuan dan makian keluar dari bibirnya. Dia berusaha menahan diri agar Tae Hyun tidak membuat masalah lebih besar lagi.
••••
Ji Hoon menatap ponselnya untuk lima kalinya dalam satu jam ini. Tepatnya, menatap pesan yang dia kirim untuk Young Eun sejak beberapa waktu yang lalu, namun belum ada balasan sama sekali dari perempuan itu. Ji Hoon menghela napas panjang. Dia kembali berjalan menyusuri kawasan sekitar Myeong-dong. Langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang dia kenal sedang berseteru dengan dua orang yang tak dia kenal.
“Lee Da In?” gumam Ji Hoon menyadari siapa perempuan yang dilihatnya tersebut.
Da In menatap marah pada dua orang di depannya, namun dia berusaha untuk tetap terlihat tenang. “Kalian berkencan di belakangku?” Melihat tak ada tanggapan dari keduanya, Da In berdecap pelan. Perempuan yang berdiri di samping kekasihnya adalah teman satu kantornya sendiri, seseorang yang tidak pernah dia sangka akan menusuknya dari belakang.
“Da In, sebenarnya kami sudah saling mengenal sejak lama,” ujar Hyun Ki tanpa rasa bersalah.
Da In tertawa kecut. “Lalu? Kalian membenarkan hubungan ini? Kenapa kalian berpura-pura tidak saling mengenal saat pertama kali aku mempertemukan kalian? Kenapa kalian melakukan hal ini?” Da In menatap dua orang di depannya dengan tajam, seolah dari tatapan tersebut dia bisa membunuh dua orang di depannya.
“Da In, tenanglah. Apa kau tidak malu menjadi pusat perhatian orang-orang?” ujar Se Mi dengan nada pelan, terkesan mencemooh Da In.
“Wah! Seharusnya aku yang mengatakan hal itu pada kalian. Apa kalian tidak malu berselingkuh di depanku?!” Da In mengangkat tangannya, hendak memukul Hyun Ki, namun dia mengurungkannya. Da In beralih mengulurkan tangannya, membuat Hyun Ki kontan menutup matanya waspada berpikir bahwa Da In benar-benar akan memukulnya, namun perempuan itu justru membenarkan kerah baju Hyun Ki. “Kalian berdua benar-benar serasi, yang satu tidak punya malu dan satunya lagi hanya sampah!” Da In menepuk pipi kiri Hyun Ki. “Semua totalnya 5 juta won!” Da In menyodorkan tangannya ke arah Hyun Ki.
“Apa?” Se Mi bertanya tak mengerti.
Da In berpaling pada perempuan itu seraya menarik satu sudut bibirnya. “Kau tidak tahu? Beberapa barang yang dia pakai adalah hasil dari gajiku, termasuk pakaiannya sekarang. Ah! Juga jam tangan dan sepatu ini.” Da In menunjuk jam tangan mahal dan sepatu kulit yang dikenakan Hyun Ki.
Pria itu terlihat semakin memucat dan salah gelagapan. “Da In-ah, tolong lupakan kejadian ini. Maafkan aku. Aku akan mengembalikan uang yang kupinjam darimu, ya?”
“Benar. Kita lupakan kejadian hari ini. Kau bisa berpura-pura tidak melihat kami disini,” sahut Se Mi tak tahu malu. “Pikirkanlah. Kau pasti tidak akan nyaman jika kejadian ini sampai berlanjut di tempat kerja. Aku dan Hyun Ki, kami saling menyukai sejak lama, tapi dia lebih dulu berpacaran denganmu. Jadi, lupakan kejadian ini, kau bisa putus baik-baik dengan Hyun Ki dan tetap berhubungan baik denganku, ya?”
Da In tertawa. Dia tidak habis pikir dengan dua orang di depannya ini. Mereka sudah jelas telah melakukan sesuatu yang membuat siapa pun dalam posisinya akan merasa marah, namun mereka dengan entengnya mengatakan untuk melupakan semuanya dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun.
“Da In-ah!” Ji Hoon berjalan menghampiri mereka dengan langkah yang tenang. Perhatian mereka seketika tertuju pada Ji Hoon. Saat pria itu telah berdiri di dekat Da In, ia menarik pinggang Da In lebih dekat dengannya, membuat tiga orang itu merasa kebingungan, tapi sebenarnya Da In yang lebih terkejut dengan tindakan Ji Hoon yang tidak terduga.
“Siapa kau?” tanya Hyun Ki penasaran.
“Aku?” Ji Hoon tersenyum, lalu menatap Da In yang masih menunjukkan wajah terkejutnya. “Aku adalah pria yang menyukainya.” Ji Hoon berujar dengan nada enteng, membuat kedua mata Da In membulat sempurna.
“Apa yang kau katakan?” bisik Da In. Ji Hoon memberikan isyarat dengan kedipan matanya agar Da In tidak mengatakan apa pun.
“Pria yang menyukainya?” tanya Se Mi ingin tahu. Untuk beberapa saat, dia terpesona melihat ketampanan Ji Hoon.
Ji Hoon tersenyum, semakin membuatnya terlihat lebih tampan. “Jadi, kau dulu menolakku hanya demi berkencan dengan pria seperti dia?” Ji Hoon menunjuk Hyun Ki dengan tatapan mencibir. “Sekarang, pria ini mencampakkanmu gara-gara perempuan ini?” Kali ini Ji Hoon mengarahkan jarinya menunjuk Se Mi, mencemooh.
Da In hanya bisa melotot dengan raut wajah bodoh. Dia ingin mengatakan sesuatu, namun Ji Hoon segera berbisik di dekat telinganya. “Mari kita beri mereka pelajaran.” Akhirnya Da In hanya bisa diam mengikuti apa yang dilakukan oleh Ji Hoon.
“Mereka berdua ini bahkan tidak sebanding dengan penolakanmu padaku. Karena sekarang, pria ini sudah putus denganmu, mari kita pergi dan mulai kembali dari awal.” Ji Hoon menarik tangan Da In untuk melangkah pergi dari sana.
“Pria itu menyukai Da In?” Se Mi menatap kepergian Da In dan Ji Hoon dengan tatapan tak percaya. Sedangkan Hyun Ki mencibir dengan wajah kesal.
•••••••