Da In menghela napas panjang untuk sepuluh kalinya dalam waktu lima menit terakhir, ocehan panjang dari perempuan yang duduk di depannya benar-benar membuat telinganya memerah, belum lagi merengek seperti anak kecil yang sesekali terdengar sejak satu jam yang lalu, membuat Da In sudah mulai kehilangan kesabaran.
“DIAM!” seruan keras itu membuat semua orang yang duduk di balik meja kerja mereka masing-masing, berpaling ke arah meja kerja Da In dengan berbagai macam tatapan. Sebagian terkejut dan kesal, sebagian lagi mencoba untuk tidak peduli dengan teriakan lantang Da In.
“Bukankah sudah cukup kau menggangguku setelah kau berkencan dengan Hyun Ki, apa sekarang kau juga tidak tahu malu bertanya tentang pria yang bersamaku tempo hari?” tanya Da In dengan nada kesal. Sejak kejadian dua hari lalu, Se Mi mulai bersikap menyebalkan, bahkan terkesan tidak tahu malu karena sudah menyebabkan hubungan dia dengan Hyun Ki berakhir.
Se Mi berdecap. Dia menegakkan tubuhnya lalu melipatkan kedua tangannya di depan d**a. “Lagi pula, dia sendiri yang mengajakku untuk berhubungan di belakangmu, jadi bukan sepenuhnya itu salahku.” Se Mi mengatakannya dengan nada enteng tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Da In menggebrak meja lalu bangun dari duduknya, untuk kedua kalinya mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. “Bukan sepenuhnya salahmu?” desis Da In mengulang kalimat Se Mi dengan geram. “Baik. Jika kau menganggap itu tidak sepenuhnya salahmu. Bukankah seharusnya kau tetap meminta maaf dengan tulus dan setidaknya punya rasa bersalah sedikit saja padaku?”
Se Mi tersenyum menyebalkan. “Da In-ah,” panggil Se Mi dengan suara tenang. “Sadarkan dirimu, Hyun Ki memang sejak awal tidak menyukaimu. Bukankah kau juga tahu kalau dia hanya ingin memanfaatkan dirimu saja? Seharusnya kau bersyukur karena aku membantumu putus dengan pria semacam dia.” Se Mi mengukir senyum memuakkan.
Da In menghela napas panjang dan berat. Apa yang dikatakan oleh Se Mi memang tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Hyun Ki mungkin sejak awal tidak benar-benar menyukainya dan hanya memanfaatkan dirinya, tapi bukan berarti mereka berdua bisa bermain di belakang Da In dengan sesukanya.
“Memang. Dia hanya pria b******k dan sampah! Tapi, bukankah kau juga sama dengan dia? Kau menjalin hubungan dengan pria yang masih memiliki pacar. Kau sama tidak tahu malunya seperti dia. Jadi, berhenti merecokiku dengan hal-hal yang tidak masuk akal. Oh ya! Untuk pria yang tempo hari berkata menyukaiku, kita sudah berteman sejak SMA. Jangan pernah bermimpi kau bisa mendekatinya dengan sifat rubah ekor sembilan mu itu.” Da In merapikan mejanya lalu bergegas pergi setelah membuat wajah Se Mi memerah karena marah.
Beberapa karyawan yang duduk di meja dekat mereka, melirik Se Mi dan saling berbisik.
“ISH! MENYEBALKAN!” dengus Se Mi kesal seraya mengentakkan kakinya.
••••
Young Eun tak hentinya menatap ke arah Seo Jin ... atau lebih tepatnya Nam Jung—sejak satu jam yang lalu. Perempuan itu merasa tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Dia terus memperhatikan Nam Jung yang sedang duduk di depannya dengan buku di tangannya serta kaca mata tebal bertengger di atas hidung mancungnya. Sosok yang ada di depannya ini benar-benar terlihat sangat cerdas dan berwibawa.
“Kenapa semua alter egonya yang lain tidak seperti ini? Jauh dari kata membuat masalah,” desis Young Eun pelan.
Nam Jung yang menyadari Young Eun sedang memperhatikannya sejak tadi, mengalihkan pandangannya dari buku di depannya ke arah Young Eun. Melihat bahwa Nam Jung menatap ke arahnya, Young Eun dengan cepat menundukkan kepalanya dan menyambar majalah di depannya, berpura-pura membaca majalah.
Nam Jung mengernyitkan dahinya. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Nam Jung dengan suara tenornya.
Young Eun melirik sekilas. “Tentu saja, membaca,” jawabnya dengan berusaha tenang.
“Kau yakin bisa membaca dengan terbalik?” Nam Jung berusaha menahan tawanya untuk tidak pecah.
Young Eun seketika menyadari tindakan bodohnya. Dia dengan cepat membalik majalah tadi, namun karena sudah terlanjur malu, Young Eun akhirnya menutup majalah tersebut lalu menatap Nam Jung.
“Jadi, Nam Jung-sshi ...” Young Eun menggantung kalimatnya sejenak, dia tampak berpikir. “Besok, Seo Jin-sshi ada pemotretan. Jadi, kalau dia belum kembali ...”
“Aku tahu maksudmu,” sahut Nam Jung cepat. Dia menutup bukunya lalu beranjak berdiri dari tempat duduknya. Dia menatap Young Eun untuk beberapa lama. “Mau ikut denganku?”
“Huh?” Young Eun mengedipkan kedua matanya dengan bingung.
“Aku bosan di rumah, aku akan pergi ke tempat karaoke, kau mau ikut?” tanya Nam Jung dengan nada santai.
“APA?!” Young Eun melebarkan kedua bola matanya dengan terkejut. “Ah ... tidak bisa kita pergi besok saja?” tanya Young Eun berusaha membujuk.
“Eoh? Kau tidak mau ikut denganku? Baiklah, aku bisa pergi sendiri.” Nam Jung berjalan meninggalkan ruang tamu, namun Young Eun dengan cepat meraih lengan pria itu dan menghentikannya.
“Aku ... akan ikut! Aku akan ikut ke mana pun kau pergi.” Young Eun memasang wajah memelasnya. Dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti ke mana pun pria itu pergi, bahkan mungkin ke lubang buaya sekali pun.
“Ah! Tidak!” Young Eun menggelengkan kepalanya cepat, menyadari pemikiran konyolnya. Dia masih ingin hidup, tidak mungkin dia untuk selalu mengikuti Seo Jin hanya karena kontrak mereka.
Young Eun menatap tempat karaoke mereka saat ini seraya menghela napas dalam-dalam. Nam Jung terlihat sudah akrab dengan beberapa pelayan di sana, bahkan dia sudah memiliki ruangan VIP setiap kali dia berkunjung. Young Eun setidaknya bisa bernapas sedikit lega karena alter ego Nam Jung sampai sejauh ini tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.
“Aku sering datang ke sini, makanya aku mengenal beberapa pelayan di sini dengan akrab.” Nam Jung menjelaskan dan membuat Young Eun hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
Young Eun memilih duduk untuk melihat Nam Jung yang mulai memutar musik dan menatap layar di depannya. Tubuhnya bergerak sesuai ritme lagu, sedangkan Young Eun hanya bisa menganggukkan kepalanya dan berusaha menikmati musik yang begitu kental genre hip hop. Young Eun melotot dengan ekspresi kagum saat Nam Jung mulai menyanyi bagian rapp dengan sempurna. Setelah menyelesaikan satu lagu, Young Eun memberikan tepukan tangan dengan senang. Dia tidak tahu jika alter ego Nam Jung memiliki bakat sebagai rapper yang handal.
Young Eun akhirnya ikut menari bersama Nam Jung dan menikmati entakkan musik yang di putar. Pria itu mulai mabuk dan meracau dengan bahasa Inggris yang begitu cepat, membuat Young Eun tertawa lepas karena tingkah tak terduga Nam Jung. Sampai akhirnya pria itu tiba-tiba mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya dan jatuh pingsan di atas sofa.
Young Eun berusaha untuk tidak panik dan mencoba untuk membangunkan Nam Jung, berselang beberapa detik kemudian, pria itu mulai bergerak membuka matanya. Young Eun seketika menghembuskan napas lega, namun menyadari raut wajah dan tatapan mata Nam Jung saat ini, Young Eun menyadari sesuatu.
“Kim Tae Hyun-sshi?”
Tae Hyun menarik tangan Young Eun ke dekatnya, masih dalam posisi dia berbaring di sofa. Jarak keduanya yang begitu dekat, membuat jantung Young Eun kembali berdetak hebat. Dia merutuk, pada saat seperti ini, kenapa Tae Hyun harus muncul?
“Kenapa kau ada di sini?” tanya Tae Hyun dengan suara dalamnya yang berat.
Young Eun gelagapan, merasa bingung harus menjawab apa. “Uhm ... Nam Jung yang membuatku datang ke sini,” jelas Young Eun dengan ekspresi sedikit takut.
Tae Hyun bergerak bangun, masih dengan menggenggam tangan Young Eun. “Kenapa ekspresimu seperti itu? Apa kau tidak senang jika aku yang muncul?” Pertanyaan itu membuat Young Eun menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Tentu saja bukan seperti itu. Aku ... hanya terkejut karena satu hari ini dua kepribadian muncul.” Young Eun menunjukkan senyum lebarnya. Meski sebenarnya dia sedikit khawatir karena setelah kejadian siang tadi, Seo Jin belum juga kembali. Biasanya hanya akan ada satu alter ego yang muncul, setelahnya Seo Jin kembali, namun kali ini justru Tae Hyun yang muncul, bukan Kim Seo Jin.
“Pecundang itu sedang meringkuk ketakutan di dalam sana. Kau tidak perlu memikirkannya.”
“Meringkuk? Apa maksudnya? Dia tadi ...”
“Apa kau mulai mengkhawatirkan si pecundang itu?” tanya Tae Hyun dengan tatapan tajamnya.
Young Eun terdiam sejenak. “Maksudku, kenapa dia meringkuk ketakutan? Apa ... kau mengetahui sesuatu tentang rahasianya?” Young Eun mengajukan pertanyaan dengan hati-hati. Sepertinya dari semua kepribadian Seo Jin, Tae Hyun adalah kepribadian yang paling tahu segalanya, dia seolah-olah seperti Seo Jin dengan ingatan yang berbeda.
Tae Hyun mendengus pelan. “Aku tahu semua hal. Dia hanya seorang pecundang. Aku harap dia akan terjebak di sana selamanya, itulah kenapa aku ada di sini untuk menggantikan rasa sakitnya.” Tae Hyun berujar dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Pria itu mungkin terkadang arogan, tapi setiap kali Young Eun menatap jauh ke dalam mata pria itu, Young Eun selalu menemukan kesedihan dan luka yang begitu dalam. Entah itu pada Seo Jin atau Tae Hyun, mereka berdua seperti satu orang yang sama.
“Apa ... kau juga tidak mau membaginya denganku?” Young Eun menatap Tae Hyun dengan saksama. Pria itu mungkin terkadang bisa lebih dingin dari kepribadian Seo Jin, namun di saat yang bersamaan pula, Tae Hyun juga kepribadian yang terlihat paling rapuh.
Tae Hyun berdecap pelan. “Apa dia memintamu untuk membujukku?” Tae Hyun tertawa sinis. “Dia menyuruhmu untuk bertanya padaku tentang ingatannya yang hilang?” Ada kekesalan dalam nada bicara Tae Hyun.
Young Eun terkejut mendengar kalimat itu. “Ingatan yang ... hilang? Apa Seo Jin pernah kehilangan ingatannya?” tanya Young Eun bingung. Dia tidak pernah mendengar bahwa Seo Jin pernah kehilangan ingatannya, pria itu bahkan tidak pernah mau bercerita apa pun padanya. Tentu apa yang dikatakan oleh Tae Hyun adalah sesuatu yang baru bagi Young Eun.
Tae Hyun menarik Young Eun lebih dekat hingga wajah mereka hanya berjarak lima senti. Tatapan pria itu seolah-olah hendak menelan dia bulat-bulat, membuat Young Eun sedikit takut. “Jadi, si pecundang itu tidak berani mengatakannya padamu? Baguslah. Dia selamanya akan jadi pecundang yang menyedihkan, karena yang hanya bisa melindungimu adalah aku.”
Young Eun menarik diri menjauh. Dia melepaskan genggaman tangan Tae Hyun dari pergelangan tangannya lalu beranjak berdiri. “Baik. Kau tidak perlu mengatakan apa pun padaku. Kalian tidak perlu bercerita apa pun, karena aku yang akan mencari tahu sendiri.” Young Eun berujar dengan tegas.
Dia tidak tahan lagi dengan semua kalimat ambigu yang diucapkan Tae Hyun. Setiap perkataan pria itu selalu meninggalkan tanda tanya besar dalam kepalanya, bukan karena Young Eun merasa penasaran dengan kehidupan Seo Jin, hanya saja Tae Hyun selalu bersikap seolah-olah dia dan pria itu saling mengenal satu sama lain sebelumnya.
Tae Hyun mengikuti langkah Young Eun yang berjalan keluar ruangan karaoke. Dia menarik lengan perempuan itu dan menghentikannya. “Jangan pernah coba-coba mencari kebenarannya, Seo Young Eun! Aku tidak ingin hidupmu dalam bahaya untuk kedua kalinya! Apa kau sungguh ingin aku menghilang?!” Nada suara Tae Hyun sarat akan kemarahan, begitu pula dengan tatapan pria itu.
Young Eun membuang napas dengan kesal. “Tidak ada pilihan lain karena kau sama sekali tidak mau membantuku,” sahut Young Eun tak peduli. “Lagi pula, kau selalu berbicara sesuatu yang tidak kumengerti. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Apa kau mengenalku? Apa kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya atau bagaimana? Kau benar-benar membuatku bingung!” Young Eun akhirnya meluapkan semuanya pada Tae Hyun.
Dia membutuhkan sebuah jawaban untuk semua pertanyaan yang menghantuinya sejak pertemuan pertama mereka. Young Eun bahkan tidak memahami kenapa sikap Tae Hyun seolah-olah pria itu begitu mengenal dia di masa lalu sebelum akhirnya keduanya kembali bertemu. Young Eun benar-benar merasa bingung.
“Kau tidak perlu tahu. Kau cukup tetap berada di sisiku dan jangan pernah menggali kebenaran apa pun yang mengganggumu. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu!” desis Tae Hyun dengan suaranya yang dalam dan menusuk.
“Tapi aku tidak bisa diam dengan tanda tanya besar ini! Apa kau sama sekali tidak peduli dengan Seo Jin? Apa ...”
“DIAM!” bentak Tae Hyun dengan keras. Young Eun seketika terdiam dengan nyali menciut. Melihat tatapan kemarahan di mata Tae Hyun, tampaknya kalimat Young Eun sudah membuat pria itu marah.
“Dengarkan aku baik-baik! Kau akan sangat menyesal jika menggali tentang ingatan Seo Jin yang hilang! Kalian berdua tidak akan pernah bisa menghadapi kenyataannya!” Tae Hyun menatap Young Eun bersungguh-sungguh. Tak ada sedikit pun kebohongan dalam mata pria itu. Setiap kalimat yang di tegaskan Tae Hyun, membuat tubuh Young Eun mendadak kaku untuk beberapa detik.
“Jika Seo Jin sampai menemukan ingatannya, dia tidak akan pernah kembali lagi!” desis Tae Hyun tajam. Ia lalu berjalan pergi meninggalkan Young Eun yang terpaku di tempatnya. Ia menatap punggung Tae Hyun yang menjauh dari jarak pandangnya dengan perasaan tak menentu. Young Eun seperti di suguhi dengan banyak kepingan puzzle yang menunggu untuk tersusun dengan rapi dan hal pertama yang dia lakukan adalah bertanya pada Seo Jin.
••••