Byung Joo berdiri di dekat jendela ruangan kerjanya. Pandangan pria itu menyorot tajam ke depan, menatap gedung-gedung pencakar langit di balik jendela besar tersebut. Sebuah ketukan pintu membuat fokusnya untuk sejenak beralih pada seorang pria tinggi tegap dengan setelan jas hitam mahal berjalan memasuki ruangan, lalu membungkuk memberi salam pada Byung Joo dengan sopan. Jelas sekali bahwa pria itu merupakan salah satu orang kepercayaan Byung Joo.
“Bagaimana? Apa yang kau dapatkan?” tanya Byung Joo dengan wajah serius. Dia berjalan mendekati pria itu dengan raut wajah tegas dan dinginnya. Sekilas, ekspresi itu begitu mirip dengan Seo Jin.
Young Woon menyerahkan sebuah map yang berisi dokumen yang sudah dia kumpulkan selama dua hari ini sesuai perintah Byung Joo, ia menerimanya dan membuka map tersebut dengan tak sabar. Setelah mendengar perkataan Mi Jung kemarin, Byung Joo dengan cepat memberikan perintah pada Young Woon untuk menyelidiki Young Eun dan mengawasi apa saja yang dilakukan oleh Seo Jin. Selama ini dia tidak pernah mengawasi apa saja yang dilakukan putranya tersebut, karena Byung Joo bisa dengan mudah mengetahui bagaimana kehidupan Seo Jin dari media.
“Tuan Seo Jin terlihat beberapa kali mengunjungi rumah sakit dan menemui seorang psikiater.” Young Woon mulai menjelaskan sembari Byung Joo membaca lembaran kertas yang ada di tangannya dan mengamati beberapa foto Seo Jin atau pun Young Eun yang diambil diam-diam oleh orang suruhan Young Woon.
“Menurut informasi yang saya dapatkan dari salah seorang perawat di sana, tuan Seo Jin sudah mengunjungi psikiater tersebut selama lima belas tahun terakhir.” Kalimat itu membuat kening Byung Joo berkerut samar.
“Lalu?” Byung Joo membaca beberapa baris kalimat di atas kertas tersebut yang merupakan hasil tes kesehatan Seo Jin selama satu tahun. “DID?” bisik Byung Joo nyaris tak percaya. Dia menatap Young Woon bertanya, meminta penjelasan lebih lengkap.
“Tuan Seo Jin menderita kepribadian ganda sejak lima belas tahun lalu. Sepertinya dia juga menyembunyikan penyakitnya ini dari awak media, terutamanya dari nyonya Mi Jung.”
Byung Joo tak menunjukkan reaksi yang berarti, namun tak bisa dipungkiri bahwa dia cukup terkejut dengan kenyataan ini. Selama ini dia berpikir bahwa Seo Jin pasti menjalani hidup yang baik dengan pilihan yang diambil hingga berani memberontak padanya, tapi kenyataannya, Seo Jin justru sedang menyembunyikan sesuatu yang di luar dugaan.
“Jika dia menderita DID sejak lima belas tahun lalu, itu artinya sejak dia kehilangan ingatannya tentang gadis itu,” gumam Byung Joo setelah berpikir beberapa saat. “Lalu, bagaimana dengan perempuan yang menjadi asisten pribadinya? Kau menemukan sesuatu tentang dia?” Perihal Young Eun, Byung Joo sudah terbiasa mencari tahu semua latar belakang orang-orang yang ada di sekitar Seo Jin, bahkan sebelumnya dia juga meminta Young Woon untuk mencari tahu tentang Tae San.
Young Woon yang sama sekali tidak mengubah ekspresi wajahnya, namun dia mengatakan kalimat yang membuat Byung Joo lebih terkejut. “Dia adalah putri dari Seo Jung Ha.”
Byung Joo menatap Young Woon dengan iris mata melebar. Dia kembali membaca lembaran kertas yang diberikan Young Woon dengan saksama dan dia menemukan kenyataan bahwa perempuan yang saat ini menjadi asisten pribadi Seo Jin adalah putri bungsu dari Seo Jung Ha. Seseorang yang pernah begitu dibencinya.
“Apa Seo Jin tahu jika perempuan itu adalah putri Seo Jung Ha?” tanya Byung Joo dengan wajah was-was.
“Tidak, tuan. Tuan Seo Jin sama sekali tidak tahu. Dia juga masih kehilangan semua ingatannya, begitu pula dengan gadis itu. Dia kehilangan ingatannya setelah kecelakaan kedua orang tuanya, itulah kenapa kebenaran tentang kecelakaan pemilik Jeguk Farmasi tidak pernah terungkap,” jelas Young Woon penuh keyakinan.
Byung Joo melempar map ditangannya ke atas meja dengan gusar. “Kita tidak tahu kapan mereka kembali menemukan ingatannya, jika sampai hal itu terjadi, gadis itu pasti akan membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya, karena dia adalah satu-satunya saksi kecelakaan itu.”
“Apakah tuan ingin saya menyingkirkan gadis itu?” tanya Young Woon sedikit ragu.
Byung Joo terdiam sejenak, dia menatap Young Woon dengan tatapan yang sulit diartikan. “Tidak sekarang. Tetap awasi mereka berdua dan laporkan setiap perkembangan kecilnya padaku,” perintah Byung Joo tegas. “Aku tidak bisa membiarkan Seo Jin atau pun perempuan itu mendapat kembali ingatannya!”
•••••
Young Eun berdiri dengan gelisah di samping pintu kamar Seo Jin. Sepulang mereka dari tempat karaoke, mereka tidak saling berbicara. Bahkan Tae Hyun bersikap seolah-olah dia tidak ada, pria itu benar-benar mengabaikan dirinya seperti Seo Jin.
Young Eun menegakkan tubuhnya dan masuk kembali ke kamarnya saat mendengar suara knop pintu kamar Seo Jin perlahan terbuka. Young Eun menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu kamarnya. Dia terlihat seperti orang bodoh saat ini hanya untuk memastikan pagi ini yang keluar adalah Seo Jin atau Tae Hyun, atau mungkin juga kepribadian yang lain.
“Kau sudah bangun?” sapa Young Eun seolah-olah ia dan pria itu kebetulan keluar dari kamar secara bersamaan. Padahal Young Eun sejak satu jam yang lalu memang sengaja menunggu pria itu di depan pintu kamarnya.
Pria yang di sapa itu menatap Young Eun dengan kerutan tipis di keningnya. Ia memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing.
“Apa yang terjadi kemarin?”
Young Eun membulatkan matanya, berbinar dengan senang saat menyadari bahwa pria yang keluar dari kamar tadi adalah Seo Jin.
“Ah ... sepulang dari Incheon, Kim Nam Jung muncul lalu Kim Tae Hyun,” jelas Young Eun.
Seo Jin menghela napas panjang. “Apa dia mengajakmu minum?” Seo Jin merasa pengar pagi ini.
Young Eun dengan wajah terpaksa mengangguk membenarkan. “Kita pergi ke tempat karaoke semalam dan dia terlalu mabuk. Setelah itu, Tae Hyun keluar.”
Seo Jin menatap Young Eun kesal. “Kenapa kau membiarkan Nam Jung melakukannya? Seharusnya kau bisa menahan pria itu!” ujar Seo Jin penuh penekanan.
Young Eun memberengut kesal. “Kau marah padaku? Seharusnya kau segera muncul saat aku berusaha mencegahnya!” balas Young Eun dengan kesal pula.
Seo Jin mendengus pelan. “Baik. Lupakan saja! Apa jadwalku hari ini?” Seo Jin berjalan menuruni anak tangga menuju lantai satu. Dia berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum.
Young Eun yang mengekor di belakang pria itu menyahut, “kau ada lanjutan untuk pemotretan tempo hari.” Young Eun terlihat berpikir sejenak, ia menatap Seo Jin yang duduk di meja dapur untuk beberapa lama. “Bisakah aku ambil libur untuk satu hari ini saja?” tanya Young Eun dengan mata mengedip beberapa kali.
Seo Jin melirik ke arah Young Eun dengan tak acuh. Melihat bagaimana reaksi Seo Jin yang seolah-olah tidak mendengarnya, Young Eun bergegas berjalan mendekati pria itu. “Hanya untuk satu hari ini. Berikan aku libur. Aku sudah menghubungi manajermu. Ya?” Sebenarnya dia tidak perlu sampai memasang wajah memelas hanya untuk mendapatkan satu hari libur, karena sudah seharusnya dia punya hari libur, setidaknya satu hari.
“Memangnya apa yang akan kau lakukan?” tanya Seo Jin sedikit penasaran, namun tidak ingin menunjukkannya.
“Kenapa kau ingin tahu? Ini masalah pribadi,” sahut Young Eun.
Seo Jin mengangkat kedua bahunya tak peduli. “Selama kau tidak mematikan ponselmu, aku akan memberikanmu libur hanya untuk hari ini.”
Mendengar kalimat itu Young Eun merasa senang namun sekaligus kesal. “Hanya hari ini? Ya! Bagaimana bisa kau memberiku libur hanya satu kali selama aku bekerja denganku? Itu namanya p********n!” protes Young Eun kesal.
Seo Jin tak memedulikan kalimat protes Young Eun. Dia beranjak dari tempat duduknya, berjalan menjauh dari dapur. “Apa kau tidak akan bersiap-siap untuk pergi? Sebelum aku berubah pikiran.” Seo Jin mengatakannya tanpa menoleh sedikit pun.
Young Eun yang tadinya berwajah masam, seketika tersenyum lebar dan dengan secepat kilat berlari melewati Seo Jin menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
“Terima kasih!” seru Young Eun seraya membentuk tanda hati dengan kedua tangannya sebelum perempuan itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
Seo Jin sejenak mematung di tempatnya melihat mata berbinar dan senyuman manis Young Eun beberapa detik lalu. Tanpa sadar, seulas senyuman tipis tersungging di bibir pria itu.
••••
Ji Hoon membalas sapaan ramah dari beberapa pengunjung yang datang ketika bel pintu Kafe berbunyi, menampilkan sosok perempuan yang sejak beberapa hari lalu menyita pikirannya. Berbeda dengan reaksi yang diberikan oleh Ji Hoon, Da In yang duduk di dekat meja kasir melotot tajam ke arah Young Eun yang sedang melempar senyum polos tanpa dosanya. Perempuan itu berjalan menghampiri mereka berdua dan dengan santai menyeruput es cokelat milik Da In yang masih penuh sampai tersisa setengah, membuat si pemilik semakin melotot dengan kesal.
“Wah! Cuacanya cukup panas. Kau tidak keberatan, bukan?” tanya Young Eun meletakkan gelas es cokelat Da In kembali ke atas meja. Padahal dia sudah menghabiskan nyaris setengahnya.
“Ya! Kau sudah hampir menghabiskannya dan baru minta izinku, dasar tidak tahu malu,” cibir Da In. “Dan dari mana saja kau ini? Apa yang kau lakukan dengan pekerjaan barumu hingga kami sangat sulit menghubungimu? Kau sudah seperti bintang papan atas,” omel Da In dengan berapi-api. Young Eun hanya membalasnya dengan cengiran lebar.
“Apa yang terjadi? Kenapa kau sulit sekali di hubungi?” Pertanyaan yang keluar dari bibir Ji Hoon itu membuat Young Eun menoleh ke arah pria tampan tersebut. Terlihat sekali bahwa Ji Hoon beberapa hari ini mengkhawatirkan dia.
“Ah ... maafkan aku, bosku benar-benar menyusahkan, jadi aku jarang memegang ponsel.” Young Eun tidak bercerita bahwa dia bekerja dengan Kim Seo Jin, sang bintang besar. Da In pasti akan sangat heboh jika mengetahui hal itu dan mungkin bisa jadi sangat merepotkan, mengingat Da In juga menyukai pria menyebalkan itu. Sedangkan dia masih tidak tahu bagaimana reaksi yang akan diberikan oleh Ji Hoon jika mendengar kebenaran tersebut. Young Eun masih merasa tidak enak karena dia lebih memilih bekerja dengan orang yang baru dikenalnya, dibandingkan bekerja dengan Ji Hoon. Young Eun selalu merepotkan pria itu sejak mereka masih SMA.
“Bukankah kau memang memiliki hobi membuat orang lain cemas? Lagi pula, kenapa kau tidak bercerita sama sekali tentang pekerjaanmu? Apa kau ... menyembunyikan sesuatu dari kami?” Da In menatap Young Eun dengan saksama, memberikan kesan intimidasi, tapi hal itu sama sekali tidak mempengaruhi Young Eun.
“Aku tidak bisa mengatakan tentang pekerjaanku kali ini, apa dan siapa. Aku benar-benar harus menjaga rahasia,” bisik Young Eun seraya menatap sekeliling mereka dengan waspada. “Yang perlu kalian tahu, bosku adalah orang yang sangat penting, jadi aku harus tutup mulut tentang segala sesuatu yang aku lihat dan aku dengar saat bekerja,” tambah Young Eun dengan senyum paksa.
Ji Hoon maupun Da In terlihat kecewa mendengar hal itu. “Mendengar kau mengatakan hal seperti itu, kau seperti bekerja dengan artis terkenal saja,” sungut Da In asal, namun membuat Young Eun melebarkan matanya. Dia mulai terlihat sedikit gugup.
“Tidak! Mana ada artis terkenal yang mau memperkerjakanku?” tanya Young Eun dengan nada mengelak.
“Aku sempat datang ke rumahmu kemarin dan Hyun Joong hyung mengatakan kau sudah pindah sejak beberapa hari yang lalu. Di mana kau tinggal?” Meski mengatakannya dengan nada tenang dan tertata, namun tatapan Ji Hoon saat ini seperti sedang menelanjangi Young Eun.
Young Eun bergerak gugup di tempat duduknya saat Da In juga terlihat terkejut dengan perkataan Ji Hoon. “Kau tidak tinggal di rumah?” Jelas sekali bahwa Young Eun tidak mengatakan apa pun perihal pekerjaan barunya pada Ji Hoon atau pun Da In.
“Ya! Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari kami?! Apa kau tinggal serumah dengan bosmu? Ya Seo Young Eun, cepat katakan yang sejujurnya pada kami!” desak Da In dengan penuh penekanan. Wajah marahnya benar-benar terlihat menyebalkan bagi Young Eun.
“Pelankan suaramu, apa kau ingin membuat pengunjung sunbae kabur?” tegur Young Eun seraya meringis tak enak hati pada para pengunjung Kafe yang menatap ke arah mereka.
“Aku pikir Ji Hoon sunbae bisa memahami, benar bukan?” Ji Hoon hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Dia memang tidak mempermasalahkan sikap Da In, karena dia juga jauh lebih penasaran untuk mendengar kejujuran dari Young Eun.
“Apa ... kau benar-benar tinggal di tempatnya?” tanya Ji Hoon mengulang pertanyaan Da In yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Young Eun. Perempuan itu terlihat kikuk.
Young Eun menatap dua orang di depannya bergantian, mereka memandang Young Eun seolah-olah dia adalah seorang kriminal yang sedang di interogasi. “Aku ... sebenarnya ...” Kedua mata Young Eun bergerak gelisah. Dia berada dalam posisi terdesak saat ini, hingga tak menyadari bahwa ponselnya sejak tadi terus mendapatkan panggilan.
“Cepat katakan!” desak Da In dengan tajam mematikannya. Melihat bagaimana dua orang di depannya ini terus menekan Young Eun, dia merasa tidak memiliki pilihan lain.
“Sebenarnya ... aku ...,” Kalimat Young Eun terhenti ketika matanya menangkap sosok familier berjalan memasuki Kafe dengan langkah yang tegas namun tergesa. Matanya membulat sempurna saat sosok itu terlihat jelas dan sedang berjalan menuju ke tempat mereka bertiga duduk.
••••••••