Young Eun benar-benar panik melihat Seo Jin masuk ke dalam Kafe, apalagi pria itu mengambil tempat duduk tepat di meja depan mereka. Berbeda dengan para pengunjung yang begitu terkejut sekaligus senang melihat Seo Jin ada di Kafe yang sama dengan mereka, tak jauh berbeda dengan reaksi Da In. Wajah perempuan itu berbinar dengan senang, seperti baru saja menemukan permata di depannya.
Young Eun tanpa berpikir panjang, bergerak mendekati meja tempat Seo Jin duduk, menatap pria itu dengan tajam. Dia baru saja membuka mulutnya untuk mencerca Seo Jin dengan banyak pertanyaan dan hendak menarik pria itu pergi ketika tiba-tiba Seo Jin berkata, “ah, bisa aku pesan cappucino dingin satu?”
“Apa?” Young Eun membulatkan kedua matanya terkejut.
Seo Jin tersenyum hingga kedua matanya nyaris tinggal segaris. Young Eun merasa seperti tersengat listrik melihat Seo Jin yang tersenyum manis dan lembut seperti saat ini, berbeda dengan Seo Jin yang tadi pagi dia temui. Sementara itu, Ji Hoon berjalan mendekati mereka, hendak menjelaskan bahwa Young Eun bukan pelayan di sana.
“Ah maafkan saya, dia bukan ...”
“Sunbae!” Young Eun membalikkan tubuhnya dengan cepat, menatap Ji Hoon yang sudah berdiri di sampingnya—menghentikan kalimat pria itu dengan wajah panik. “Tidak apa-apa, biar aku yang melayani pesanannya.” Young Eun tersenyum lebar, senyuman yang terkesan begitu dipaksakan.
“Tapi ...” Ji Hoon terlihat ragu.
“Jangan khawatir. Aku ... penggemarnya,” sambar Young Eun cepat. Kedua bahunya seketika melorot lemas, menyesali kalimatnya tanpa pikir panjang.
Ji Hoon dan Da In menatap Young Eun dengan aneh, namun perempuan itu tetap memasang senyum lebar, seolah-olah dia memang sangat senang karena bisa bertemu dan berinteraksi secara langsung dengan Seo Jin. Pada akhirnya, Ji Hoon menyetujui permintaan Da In dan meninggalkan dua orang tersebut menuju meja barista.
“Apa ... benar kau salah satu penggemarku?” Seo Jin bertanya dengan nada yang malu-malu, kentara sekali dari wajah pria itu dan senyumannya.
Malu? Memangnya sejak kapan wajah dingin dan beku seorang Kim Seo Jin bisa berubah manis dan ramah dalam sehari? Itu hanya terjadi dalam dramanya.
Young Eun menghela napas panjang. Dia berpikir sejenak. Melihat bagaimana sikap Seo Jin di depannya, Young Eun ragu jika ini benar-benar kepribadian Kim Seo Jin, meski pria itu pandai sekali berakting, tapi Young Eun tahu benar perbedaan setiap kali alter ego Seo Jin muncul. Kali ini, Young Eun tidak tahu pasti siapa yang ada di depannya, mengingat dia sudah bertemu dengan hampir semua alter ego Seo Jin. Jika benar yang ada di hadapannya adalah salah satu alter ego Seo Jin yang sudah di temui, seharusnya dia tidak melupakan Young Eun.
“Apa kau Kim Seo Jin-sshi?” Young Eun dengan ragu-ragu bertanya. Dia menanti reaksi Seo Jin dengan perasaan bercampur aduk untuk memastikan dugaannya.
Seo Jin diam untuk sejenak, lalu tersenyum dengan ramah. “Ah ... Maafkan aku, sepertinya kau salah orang. Aku Park ... Jae Min.”
Tepat seperti dugaan Young Eun. Pria yang saat ini duduk di depannya bukan kepribadian Seo Jin, melainkan salah satu alter ego Seo Jin. Young Eun mengedarkan pandangannya ke sekeliling Kafe. Perhatian beberapa pengunjung masih terfokus pada Seo Jin atau mungkin tepatnya pada alter ego Jae Min. Young Eun lalu berganti menatap Jae Min dengan wajah tegangnya, membuat pria itu kebingungan.
“Kau baik-baik saja? Apa kau bisa segera membuat pesananku?” tanya Jae Min. Nada bicaranya benar-benar sangat berbeda dengan Kim Seo Jin.
“Permisi,” tegur Jae Min kedua kalinya saat melihat Young Eun hanya menatapnya tanpa merespons kalimatnya. Young Eun seketika tersadar dengan apa yang dia lakukan, perempuan itu lalu melirik ke arah meja tempat duduk Da In, lalu Ji Hoon yang berdiri di balik meja barista, keduanya juga sedang memperhatikan dia dan Jae Min dengan tatapan penuh tanya.
“Ah ... maafkan aku Jae Min-sshi. Tapi ...” Tepat saat itu sosok Tae San muncul dari ambang pintu. Pria itu terlihat panik sembari mengedarkan pandangannya menyapu sekeliling Kafe, mencari sosok Seo Jin. Ketika matanya menangkap sosok Young Eun di sana, dia menyadari bahwa Seo Jin juga ada di sana.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Tae San pada Young Eun maupun Jae Min. Tatapan matanya sudah seperti hendak menelan mereka berdua bulat-bulat.
“Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku?” tanya Tae San menatap Young Eun tajam.
Young Eun tak bisa menjawab. Matanya bergerak gelisah ke sekitarnya, menyadari bahwa mereka masih menjadi perhatian. Young Eun pura-pura membungkuk sesaat. “Saya akan segera mengantar pesanan Anda,” ujar Young Eun dengan kaku. Dia membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan cepat menuju meja barista sebelum Tae San kembali mencercanya dengan berbagai pertanyaan. Hal itu akan semakin membuat Ji Hoon maupun Da In curiga padanya.
Tae San menatap Jae Min dengan wajah kesal. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Tae San berusaha menahan kemarahannya.
Jae Min tersenyum. “Ah! Manajer, aku sedang ingin minum kopi,” sahut Jae Min dengan santai. “Bolehkan aku bersantai sedikit? Aku tidak tahu kapan akan keluar lagi,” ujar Jae Min setengah berbisik.
Tae San menghela napas dalam-dalam, mencoba untuk bersabar. “Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak pergi ke mana pun!” tegas Tae San. Pria itu menarik kursi di depan Jae Min, dia memperhatikan situasi di dalam Kafe, beruntungnya tidak begitu ramai.
“Kau harus segera kembali! Banyak orang yang mengenali wajahmu saat ini.” Tae San sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kalian sudah berjanji untuk tidak membuat ulah yang bisa merugikan Seo Jin.”
Jae Min melipat kedua tangannya di atas meja. Dia memasang wajah masam. “Kau sangat menyebalkan, manajer. Jika kau terus melarangkan melakukan ini dan itu, aku mungkin akan bertingkah.” Jae Min menatap Tae San dengan senyum kekanakan.
Tae San menghela napas panjang. Di antara semua kepribadian Seo Jin yang sejauh ini sudah dia temui, kepribadian Jae Min yang sedikit lunak. Sayangnya, dia terkadang membuat masalah tanpa dia sadari dan dengan wajah polos serta ekspresi kekanakan, membuat Tae San terkadang sulit untuk benar-benar marah.
••••
“Aku pergi dulu ya,” Young Eun meraih tas selempangnya di atas meja, namun Da In dengan cepat mencegahnya.
“Kau akan pergi ke mana? Apa bosmu memintamu bekerja bahkan di hari Sabtu?” tanya Da In dengan mata melotot tajam. Perempuan itu memang pandai dalam membuat Young Eun terintimidasi.
Young Eun tersenyum sedikit kikuk. “Aku sudah memberitahumu, dia memang paling tegas dan sangat kompeten. Jadi, aku harus pergi sebelum dia memenggal kepalaku. Sampai jumpa!” Young Eun menyambar tasnya dari tangan Da In dengan cepat, lalu melesat pergi secepat mungkin sebelum mendengar teriakan keras dari Da In.
Young Eun berlari hingga sedikit lebih jauh dari Kafe, lalu mendekati mobil Seo Jin yang terparkir di tepi trotoar. Dia melihat Tae San duduk di kursi kemudi, sementara Jae Min duduk di kursi sampingnya. Pria itu tersenyum dan menyapanya.
“Maafkan aku, aku harus mencari alasan agar mereka tidak curiga,” ujar Young Eun seraya bergegas masuk ke dalam mobil.
“Apa pria tadi pemilik Kafe?” Pertanyaan tiba-tiba Jae Min membuat Young Eun mengalihkan perhatiannya pada pria itu.
“Maksudmu Ji Hoon sunbae?” Jae Min mengangguk. “Benar. Sebelumnya aku juga bekerja di sana,” jelas Young Eun menambahkan.
“Sepertinya dia menyukaimu,” sahut Tae San tiba-tiba. Kalimatnya di balas anggukan setuju dari Jae Min. Mereka mengatakan hal tersebut karena memergoki cara Ji Hoon berbicara dan menatap Young Eun saat mereka di Kafe tadi. Dari sikap yang dia tunjukkan, begitu jelas bahwa Ji Hoon memang menyukai Young Eun.
Young Eun berubah salah tingkah. Sebenarnya itu bukan sesuatu yang baru dia dengar. “Tidak ada yang bisa dia sukai dari perempuan sepertiku,” sanggah Young Eun.
Jae Min menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan pernyataan Young Eun. “Aku bukan pria bodoh meskipun kita baru pertama kali bertemu. Caranya menatapmu tadi sangat menjelaskan bahwa dia menyukaimu,” terang Jae Min. “Lalu, apa kau juga menyukainya?”
Pertanyaan itu membuat Young Eun terdiam sejenak. Tae San yang sibuk mengemudi, mengintip dari balik kaca spion, memperhatikan reaksi Young Eun.
“Aku menyukainya sebagai kakak laki-laki,” sahut Young Eun tak acuh. “Lagi pula, kenapa kalian jadi sangat perhatian dengan kisah asmara orang lain? Apa kalian berdua punya kisah percintaan yang sangat menyedihkan?” tanya Young Eun sedikit kesal.
“Ah ... kau tipe orang yang emosional, sangat tidak cocok dengan Seo Jin.”
Young Eun melirik Jae Min dengan wajah ketus. “Apa maksudmu? Aku tidak pernah berencana untuk jatuh cinta padanya!” sungut Young Eun seraya memalingkan muka ke arah jendela.
••••
Young Eun memperhatikan Jae Min yang tidak hentinya melempar senyum ramah dan sapaan kepada beberapa staf pemotretan. Hal itu tentu membuat Young Eun senang karena alter ego Jae Min adalah kepribadian yang ramah dan menyenangkan, berbeda sekali dengan Seo Jin atau pun Tae Hyun.
“Berhenti menyapa, kau justru membuat para staf heran,” ujar Young Eun mendekati Jae Min dan menyodorkan segelas jus jeruk padanya.
“Benar. Mereka menatapku dengan aneh. Seolah-olah seperti melihat hantu.” Jae Min menghela napas. “Tapi, bukankah itu artinya Seo Jin hyung harus lebih ramah pada orang. Dia tidak boleh memasang wajah dingin dan datarnya seperti itu. Benar-benar tidak cocok denganku.”
Young Eun mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya, Young Eun merasa lebih santai di saat alter ego Seo Jin muncul. “Aku bahkan baru saja berpikir akan lebih baik jika dua kepribadian itu tidak muncul,” desah Young Eun pelan, namun Jae Min mendengarnya.
Tepat di tengah percakapan mereka, sosok pria tampan dengan dengan setelan jas hitam berjalan mendekati mereka. Perhatiannya tertuju pada Young Eun dengan penuh minat. “Oh, Seo Jin-sshi?” sapanya dengan ramah.
Young Eun berpaling, memandang pria yang kini sedang tersenyum pada mereka berdua. Sesaat, Young Eun lalu menyadari bahwa pria yang kini berdiri di depannya adalah Seo Kang Joon, salah satu aktor terkenal yang kerap kali popularitasnya di bandingkan dengan Seo Jin. Bisa dibilang jika Kang Joon menganggap Seo Jin adalah rivalnya dalam dunia akting, mengingat Seo Jin pertama kali debut sebagai penyanyi, namun jam terbang dia bermain dalam drama dan film lebih banyak dibandingkan Kang Joon.
Jae Min yang melihat kedatangan Kang Joon, memasang wajah tak peduli, namun berbeda dengan Kang Joon yang terlihat senang dengan pertemuan mereka. “Aku tidak menyangka kali ini kita bertemu di tempat pemotretan yang sama.” Jae Min hanya melirik tanpa membalas kalimat Kang Joon.
“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan film barumu bersama Hye Mi, apakah berjalan lancar?” tanyanya berpura-pura peduli.
Jae Min tersenyum tipis. “Hyung tidak perlu memberikan selamat apa pun. Terakhir kali kita bertemu sudah sepakat untuk tidak saling menyapa.” Dari wajah Jae Min, terlihat jelas bahwa dia tidak menyukai Kang Joon Dan Young Eun tahu itu.
Kang Joon terlihat terkejut dengan kalimat Jae Min. “Apa ingatanmu berhenti pada hari itu? Padahal setelah itu kita bertemu lagi dan kau bilang akan menyapaku jika kita bertemu lagi.” Kang Joon tertawa, merasa lucu dengan pernyataan Seo Jin. “Aku tidak menyangka jika kau memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Apa kau ini punya banyak kepribadian?” Tatapan Kang Joon kali ini tidak terlihat ramah seperti sebelumnya.
Young Eun yang melihat wajah Jae Min berubah kesal, beranjak dari tempat duduknya. “Ah! Mungkin dia memang sedikit pelupa.” Young Eun melempar tatapan pada Jae Min. “Dia memang memiliki perubahan perasaan yang ekstrem, benarkan?” Young Eun menatap tajam Jae Min seraya memberikan isyarat pada pria itu untuk mengiyakan.
“Ya. Noona be—awh!” Jae Min mengadu ketika Young Eun menginjak kakinya dengan sengaja karena pria itu memanggilnya dengan sebutan noona. Kang Joon mengerutkan keningnya saat melihat tingkah aneh dua orang di depannya.
“Begitu ya? Maaf, aku hanya bercanda. Apa lain kali kau mau minum kopi denganku?” tawar Kang Joon dengan nada ramah yang dibuat-buat.
Jae Min mengabaikan kalimat Kang Joon. Young Eun menyadari bahwa situasinya mulai keruh. “Oh! Sudah waktunya kau bergegas, kau masih memiliki satu sesi pemotretan lagi.” Young Eun menarik Jae Min bangun dari tempat duduknya dan membawa pria itu menuju ruangan make up yang sudah di sediakan. Sementara Kang Joon memperhatikan kepergian keduanya dengan tatapan tajam, senyum di bibirnya seketika lenyap, berganti dengan seringai tipis.
•••••••