Young Eun mengerjapkan kedua matanya pelan. Dia mulai mengumpulkan kesadarannya saat mencium bau menyengat obat-obatan. Perempuan itu bergerak bangun dan melihat ruangan tempatnya berada, lalu berpaling pada selang infus yang ada di tangan kirinya. Young Eun mengurut pelan kepalanya saat mengingat kejadian terakhir yang membuatnya ada di sini. Young Eun bergerak pelan untuk duduk ketika seorang pria datang masuk ke dalam kamar rawatnya.
“Kau sudah sadar?” tanya pria itu dengan aksen Busan yang kental.
Young Eun mendongak, seketika kedua matanya melotot lebar saat mengenali pria yang kini berdiri di hadapannya.
“Kau sungguh menyusahkan sekali. Apa kau berniat untuk bunuh diri dengan berdiri di tengah jalan? Jika iya, seharusnya kau melompat dari atas jembatan sungai Han. Kudengar arusnya sedang sangat deras.” Pria itu menarik kursi di samping ranjang Young Eun. Ia duduk dengan melipat kedua kakinya. Pakaian pria itu sangat berbeda dengan pria yang pernah dia temui kemarin.
“Ah ... sebentar. Kau ...” Young Eun tidak tahu harus mengatakan apa atau menanyakan bagaimana, yang jelas dia sedang kebingungan dengan sikap pria di depannya. Terakhir kali dia bertemu dengan Seo Jin, tatapan pria itu sangat dingin dan menusuk. Tapi saat ini, Seo Jin seperti seseorang yang jauh berbeda bahkan dari caranya berpenampilan dan berbicara.
“Oh! Maafkan aku, aku hampir lupa untuk tidak memperkenalkan diri.” Pria itu menunjukkan sebuah senyuman lebar. Wajahnya begitu ramah dengan tatapan yang ceria. “Aku Jung Hee Seok.” Dia membuat tanda peace dengan kedua tangannya.
“APA?!” seru Young Eun mengerjapkan kedua matanya dengan wajah kebingungan. “Apa kau sedang bermain-main denganku? Jangan berbohong! Kau bukan Kim Tae Hyun atau Kim Seo Jin?!” Young Eun tidak tahu sebenarnya siapa nama pria di hadapannya ini. Semua orang jelas mengenalnya sebagai Kim Seo Jin sang top star. Tapi kemudian pria itu menyebutkan namanya sebagai Kim Tae Hyun padanya dan sekarang menyebut namanya sebagai Jung Hee Seok. Memang bagian mana yang tidak membuat Young Eun kebingungan dan merasa kesal?
Hee Seok tertawa keras. Tawa yang seperti mampu membuat siapa pun ikut bahagia saat mendengarnya. Dia membenarkan rambutnya dengan gerakan pelan. “Kau ini bicara apa? Kim Tae Hyun dan Kim Seo Jin? Tentu saja kami orang yang berbeda.” Sekali lagi aksen Busan yang kental itu membuat Young Eun mengerutkan kening.
Young Eun termenung dengan tatapan penuh pertanyaan. Seketika perempuan itu menarik napas. “Ah ... jadi kalian saudara kembar tiga?” tanya Young Eun menarik kesimpulan. Jika benar, berarti dia harus merasa sedikit lega karena yang mengusirnya kemarin dan mengiranya wartawan adalah Kim Seo Jin, bukan Kim Tae Hyun.
Young Eun menganggukkan kepalanya dan tersenyum lega. “Ah ... ternyata seperti itu.”
Hee Seok mengerutkan keningnya. “Saudara kembar? Apa yang kau katakan? Kami bukan saudara kembar,” ujar Hee Seok. “Lebih tepatnya hanya wajah kami saja yang kebetulan sama,” tambahnya, semakin membuat Young Eun kebingungan dan bertanya-tanya.
Young Eun menggelengkan kepalanya, dia menatap Hee Seok tajam. “Sudah kubilang jangan bercanda! Jika kalian bukan saudara kembar, lalu apa?!” Young Eun meninggikan suaranya. “Apakah masuk akal jika kalian bukan saudara kembar tapi memiliki wajah yang sama?”
Di tengah percakapan mereka yang sudah seperti perdebatan itu, Tae San masuk dengan wajah panik bercampur cemas. Napas pria itu seperti orang yang baru saja lari maraton. Kenyataannya dia memang berlari dari basemen parkir sampai ke lantai lima, tempat Young Eun di rawat.
Ini karena tadi Tae San menghubungi Hee Seok setelah pria itu kabur darinya saat di Incheon. Lalu ketika Tae San kebingungan mencari Hee Seok, pria itu mengatakan bahwa dia ada di rumah sakit dan butuh bantuan Tae San. Tentu saja Tae San mengemudi dengan kecepatan penuh untuk sampai ke rumah sakit dan berlari sekencang mungkin ke sini karena berpikir bahwa tubuh Seo Jin yang terluka. Tapi ketika melihat siapa yang ada di ranjang rumah sakit saat ini adalah Young Eun, Tae San berpaling dengan tatapan menakutkan pada Hee Seok, membuat pria itu membentuk tanda peace dengan dua jarinya.
“Ah ... maafkan aku karena membuatmu harus berlarian seperti ini. Aku tidak sengaja menemukan dia saat sedang jalan-jalan.” Hee Seok berujar dengan nada enteng, seperti tak ada penyesalan sama sekali karena telah membuat Tae San lari seperti orang kesetanan.
“Menemukanku?” ujar Young Eun dengan nada tak percaya. Dia hendak membalas kalimat Hee Seok namun teriakan Tae San membuatnya terkejut.
“YA! JUNG HEE SEOK!” teriak Tae San dengan murka. “KENAPA KAU MEMBUAT MASALAH?!” Tae San seperti hendak menelan Here Seok bulat-bulat. Sementara Young Eun hanya bisa terpaku di ranjangnya menatap dua pria di hadapannya dengan wajah bodoh bercampur bingung.
••••
Young Eun tersedak minuman yang baru saja dia minum mendengar apa yang dikatakan Tae San. Dia meletakkan botol cola disampingnya, lalu menatap Tae San dengan tajam. Saat ini mereka sedang duduk di taman rumah sakit. Tentu saja setelah mengusir Hee Seok dan meminta pria itu untuk menunggu di mobil. Meski sempat terjadi perdebatan panjang, akhirnya Hee Seok menurut setelah Tae San berjanji akan membelikan pria itu peralatan memancing dan tenda untuk berkemah.
“Saudara kembar?” desis Young Eun setengah tidak percaya. “Kau pikir aku akan percaya itu? Dia sendiri yang mengatakan bahwa mereka bukan saudara kembar,” ujar Young Eun keras.
Tae San meringis. Dia menoleh ke sekitar mereka, memastikan bahwa tak ada yang akan menguping pembicaraan mereka. Tae San sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Young Eun dan berbisik. “Mereka saudara kembar. Maaf jika ini membuatmu bingung tapi begitulah kenyataannya.” Tae San berusaha untuk tidak memperlihatkan wajah berbohongnya pada Young Eun. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya tentang kondisi Seo Jin pada perempuan di depannya. Dia tidak tahu seberapa jauh yang diketahui oleh Young Eun dan seberapa besar perempuan itu bisa dipercayai.
“Tae San-sshi, apa kau sedang mempermainkanku?! Terakhir kali kau berkata padaku untuk melupakan semuanya karena dia sedang mabuk, tapi sekarang kau berkata bahwa mereka saudara kembar!” Young Eun mengurut pelan kepalanya. “Astaga! Berani sekali kalian mempermainkanku!”
Tae San meringis pelan. Dia sebenarnya juga tidak ingin berbohong seperti ini, tapi dia tidak punya pilihan lain. “Aku mohon jangan katakan hal ini pada siapa pun! Tidak ada yang boleh tahu kejadian kemarin dan hari ini! Apa pun yang kau lihat dan yang kau dengar, kau harus melupakannya!” Tae San memasang wajah memohon.
Melihat bagaimana reaksi Tae San saat ini. Young Eun mereka sedikit aneh. “Lalu, dimana Kim Tae Hyun saat ini?” tanya Young Eun menatap Tae San dengan lekat. “Jika benar mereka adalah saudara kembar, bukankah seharusnya aku bisa menghubungi Kim Tae Hyun?” tanya Young Eun setengah mendesak.
Tae San menjadi gelagapan mendapatkan pertanyaan yang mengintimidasi itu, matanya berpaling ke arah lain dengan gugup. “Ah ... itu ... dia ... sedang pergi ke suatu tempat, jadi untuk sementara ini dia tidak bisa berada di sini,” jelas Tae San berbohong. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa Tae Hyun adalah salah satu kepribadian Seo Jin. Jika hal itu sampai tersebar di media, karier Seo Jin bisa saja terancam.
Young Eun meneliti raut wajah Tae San, sedetik kemudian perempuan itu mendengus kesal. “b******k itu! Bagaimana bisa dia berkata jatuh cinta padaku lalu tiba-tiba menghilang begitu saja,” dengus Young Eun lalu meneguk cola-nya dengan kesal. “Jika aku bertemu lagi dengannya aku bersumpah akan mematahkan tulangnya!”
Mata Tae San melotot. “Apa? Dia mengatakan hal seperti itu padamu?” Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan pelan oleh Young Eun, seketika hal itu membuat Tae San menjadi sakit kepala mendadak.
“Dia bahkan menemuiku di tempat kerja lalu memaksaku untuk ikut dengannya ke pantai. Lagi pula, bagaimana bisa dia menemukan tempatku bekerja? Apa dia benar-benar seorang penguntit?” gumam Young Eun.
“TIDAK!” seru Tae San tiba-tiba. Wajahnya benar-benar memucat mendengar setiap penjelasan Young Eun. “Young Eun-sshi, kau benar-benar tidak boleh mengatakan hal ini pada siapa pun! Aku akan memberimu apa pun yang kau inginkan! Apa pun! Tapi tolong lupakan semuanya, lupakan jika kau pernah bertemu dengan Tae Hyun atau pun Hee Seok, ya? Jika media sampai mengetahuinya, kau pasti tahu apa yang akan terjadi pada karier Seo Jin. Dunia hiburan di sini benar-benar sangat keras dan kejam.”
Young Eun mengerutkan keningnya tebal. Ini kedua kalinya dia melihat Tae San memohon dengan putus asa padanya, membuatnya menjadi semakin kebingungan. “Ya! Terakhir kali kau juga mengatakan hal itu padaku! Apa kau bersungguh-sungguh?” tanyanya pada Tae San.
Tae San mengangguk dengan yakin. “Aku bersungguh-sungguh! Apa yang kau inginkan? Aku akan mengabulkannya! Tapi kau harus melupakan apa yang kau lihat dan kau dengar!” Tae San menatap Young Eun dengan sungguh-sungguh.
Sebuah senyum penuh arti tersinggung di bibir Young Eun. “Biarkan aku menjadi asisten pribadinya,” ujar Young Eun enteng.
“APA?!”
“Aku akan menjaga rahasia ini, jadi kau harus memberiku pekerjaan sebagai asisten pribadinya.”
Kedua bahu Tae San merosot lemas mendengar permintaan Young Eun yang terdengar tidak masuk akal. “Young Eun-sshi,” Tae San menarik napas dalam-dalam. “Berapa yang kau minta? 10 juta won? 20 juta won? Atau 50 juta won? Aku akan memberikan sebanyak yang kau minta.”
Mendengar Tae San menyebutkan angka yang fantastis itu sejenak membuat Young Eun tergiur, namun dia tidak mau mendapatkan uang itu hanya karena dia mengetahui rahasia Kim Seo Jin.
“Aku bukan orang yang akan menerima uang itu dengan begitu saja. Jika kau tidak mau mempertimbangkan keinginanku ...” Young Eun beranjak berdiri, “mungkin aku harus melakukan sesuatu,” ujarnya dengan senyum penuh arti. Dia membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan pergi saat Tae San menarik napas dalam-dalam dan berteriak menghentikannya.
“Baik! Aku akan mempertimbangkan keinginanmu! Tapi kau tidak boleh mengatakan apa pun pada media!” seru Tae San yang membuat senyuman lebar tersungging di bibir Young Eun.
••••
Young Eun berdiri mematung menatap sosok pria berdiri di depannya yang dua hari lalu berpenampilan eksentrik dan wajah ramah penuh senyuman, kini terlihat dengan penampilan yang jauh berbeda. Young Eun sejenak kebingungan untuk memastikan siapa pria yang berdiri di depannya itu. Dia melirik Tae San yang duduk tak jauh dari mereka, pria itu seketika mengangguk dengan wajah tak terbaca.
“Tae Hyun-sshi?” tanya Young Eun dengan nada ragu.
Seo Jin tak segera bereaksi. Dia duduk di sofa lalu menatap Young Eun datar. “Sepertinya kau salah mengenali orang,” ujar Seo Jin dingin.
Young Eun terenyak, menyadari sesuatu. “Kim Seo Jin-sshi?” Young Eun duduk, jarak mereka tersekat oleh sebuah meja besar.
Seo Jin menoleh ke arah Tae San, memberikan isyarat pada pria itu untuk meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan tersebut. Sementara Young Eun bertanya-tanya apa yang hendak di katakan oleh Seo Jin hingga harus meminta Young Eun datang ke tempat ini. Seo Jin bahkan menyewa ruangan VVIP di sebuah restoran mewah hanya untuk bertemu dengannya.
“Sepertinya kau benar-benar seorang top star sampai harus menyewa ruangan ini hanya untuk berbicara denganku,” ujar Young Eun sembari berdecap kagum. Dia sejenak memperhatikan interior mewah ruangan yang didominasi warna coklat tersebut.
Seo Jin menuangkan wine ke dalam gelas Young Eun dan gelasnya. Mendengar apa yang dikatakan Tae San setelah dia mendapatkan kesadarannya kembali, Seo Jin sedikit ingin tahu seberapa jauh Young Eun mengenal Tae Hyun.
“Jika kau sudah tahu bahwa aku kaya, kau pasti menginginkan uangku.” Seo Jin menyesap wine-nya dengan tenang.
Young Eun melotot. “Apa maksudmu?” tanya perempuan itu tak mengerti. Dia memperhatikan Seo Jin dengan lekat, untuk sejenak dia menyadari bahwa dari tiga pria yang dia temui, semuanya memiliki perbedaan, namun yang membuat Young Eun heran karena wajah mereka benar-benar sama. Hanya cara berbicara, berjalan, bersikap, dan perilaku hingga suara mereka berbeda. Kim Seo Jin yang duduk di depannya benar-benar pria dengan tatapan dingin, bahkan saat mereka tanpa sengaja bertatapan, Young Eun merasa seperti sedang dilempar ke kutub Utara.
“Berapa yang kau minta untuk tutup mulut?” Young Eun terenyak. “Aku bisa menjadikanmu kaya dengan rahasia yang kau ketahui.” Young Eun mulai tersinggung dengan ucapan Seo Jin. Pria itu bahkan mengatakannya tanpa pertimbangan sedikit pun.
“Kim Seo Jin-sshi, aku—“
“Aku tidak membutuhkan asisten pribadi,” potong Seo Jin cepat. Young Eun berusaha menahan perasaan kesal yang mulai menghinggapi hatinya.
“Cepat sebutkan nominal yang kau inginkan dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku,” ujar Seo Jin dengan tatapan tajam menusuk.
Young Eun mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah. “Apa uang bagimu adalah segalanya?” Seo Jin tak menjawab, dia hanya menatap Young Eun dengan datar. “Jika benar, maka kau salah. Tidak semua hal di dunia ini bisa kau beli dengan uang!” tegas Young Eun. Dia menahan diri untuk tidak mengeluarkan makiannya pada Seo Jin.
Seo Jin tersenyum tipis mendengar kalimat Young Eun. Dia memandang perempuan yang sedang menatapnya dengan wajah merah padam. “Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Bukankah kau membutuhkannya untuk melunasi hutan-hutang keluargamu? Bukankah ini adalah kesempatan bagus untukmu? Cepat, katakan berapa yang kau minta untuk tutup mulut!” ujar Seo Jin dengan nada santai.
Young Eun terkejut mendengar Seo Jin mengetahui masalahnya. “Kau ... mencari tahu latar belakangku?” tanya Young Eun dengan nada tak percaya sekaligus terluka. “Kau melakukannya hanya untuk mengancamku agar tutup mulut?” Young Eun tertawa kecut. Dia tidak habis pikir bahwa seorang Kim Seo Jin yang begitu digilai oleh perempuan seluruh Korea, ternyata memiliki temperamen yang sangat buruk.
“Kenyataannya semua yang ada di dunia ini tidak gratis, bukan?” Seo Jin menyenderkan punggungnya di sandaran sofa. “Cepat, katakan berapa yang kau mau. Jangan membuat semuanya menjadi rumit.”
Young Eun meraih gelas wine-nya lalu tanpa berpikir dua kali menyiram wine itu ke wajah Seo Jin. Mendapatkan perlakuan itu, Seo Jin tak bereaksi. Dia hanya diam menatap Young Eun yang sedang marah.
“Yang kau inginkan adalah supaya aku tutup mulut, bukan?” Napas Young Eun menderu cepat. “BAIK! AKU AKAN TUTUP MULUT! AKU AKAN BERPURA-PURA TIDAK MENGINGAT DAN MENDENGAR APA PUN YANG KAU KATAKAN!” Young Eun merasakan dadanya begitu sesak, seperti ada batu besar yang menyumbatnya.
Selain tatapan dingin Seo Jin yang menusuk hatinya, kalimat pria itu benar-benar seperti pisau yang menancap dalam dadanya. “Ah ... seharusnya aku tidak pernah percaya pada pria b******k bernama Kim Tae Hyun atau pun Jung Hee Seok.” Young Eun mengambil tas selempangnya dan mengenakannya. “Dan aku juga tidak perlu percaya atau pun bertemu dengan pria sepertimu dalam kehidupan ini!” Young Eun bergegas melangkah pergi dari sana.
Seo Jin terpaku di tempatnya. Dia merasakan sesuatu yang aneh menyusup dalam hatinya, sebuah rasa sakit yang tidak ia mengerti mulai memenuhi dadanya. Dia menatap kepergian Young Eun dengan datar. Seo Jin tidak tahu kenapa dia merasa sakit melihat perempuan itu, seperti ada bagian dalam dirinya yang hilang.
•••••