Young Eun tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi dua hari lalu. Kemarahan dalam dirinya masih belum berkurang sama sekali dan saat dia tanpa sengaja melihat wajah Seo Jin di papan iklan di beberapa tempat, Young Eun merasa ingin meludah tepat di gambar wajah pria itu.
“Apa ada seseorang yang sedang membuatmu kesal?” Ji Hoon duduk di samping Young Eun. “Sejak tadi kau terdengar menggerutu dan memaki seseorang. Apa itu aku?”
Young Eun menggelengkan kepalanya pelan. “Dia bahkan tidak sepadan dengan sunbae,” ujar Young Eun sembari menatap ke arah papan iklan di depannya. “Dia benar-benar manusia paling b******k yang aku harap tidak akan pernah aku temui di kehidupan ini,” dengus Young Eun.
Ji Hoon mengangguk mengerti. “Syukurlah jika itu bukan aku.” Ji Hoon tersenyum lembut. “Kenapa kau menolak ku antar pulang? Kau tidak harus duduk di sini untuk menunggu bus.”
Young Eun tersenyum. Ji Hoon terlalu baik untuk dia susahkan. “Aku lebih suka naik bus, karena aku tidak akan merasa berhutang budi.” Ji Hoon sudah terlalu banyak membantunya sejak mereka bertemu di SMA. Itulah kenapa terkadang membuat Young Eun semakin merasa tidak nyaman ada di dekat Ji Hoon.
“Apa yang kau katakan? Kau punya seorang bos yang tampan, seharusnya kau tidak menolaknya,” ujar Ji Hoon dengan nada jenaka.
Young Eun mengangguk. Dia menarik napas panjang. Tatapannya tertuju pada pepohonan di seberang jalan yang mulai kehilangan daunnya karena berguguran. “Sepertinya sunbae harus segera mencari pacar. Orang akan salah paham jika melihat kita sering bersama.”
Ji Hoon tertawa renyah. “Memangnya kenapa dengan penilaian orang lain? Kau biasanya tidak peduli itu. Lagi pula, bagaimana jika kau berkencan denganku sungguhan?” Sebuah senyuman hangat terukir di bibir Ji Hoon. Ada sorot kesungguhan di balik tatapan pria itu, namun Young Eun segera melengos ke arah lain saat menyadari tatapan itu.
“Apa sunbae bercanda? Bagaimana bisa hubungan kakak beradik ini menjadi pria dan wanita?” Young Eun tertawa kecut. “Aku akan semakin tidak nyaman berada di dekat sunbae karena akan semakin membuatmu susah.”
Ji Hoon merasa ada sesuatu yang menikam hatinya pada detik itu juga. Kalimat Young Eun seperti menampar dirinya untuk sadar pada kenyataan di depan mata. Ji Hoon tersenyum samar dan menundukkan wajahnya dengan tatapan sedih. “Ah ... kau benar, akan sangat canggung jika kita memiliki hubungan yang seperti itu.”
Young Eun mengangguk. Dia tidak berani mengarahkan tatapannya pada Ji Hoon. “Ah ... busku sudah datang.” Young Eun beranjak dari duduknya saat sebuah bus berhenti di depan mereka. “Sampai jumpa, sunbae!” serunya seraya melambai pada Ji Hoon sebelum naik ke dalam bus.
Ji Hoon terpaku di tempatnya. Dia hanya bisa menatap kepergian Young Eun dengan nanar. Sama seperti waktu sebelum-sebelumnya. Ji Hoon hanya bisa menatap punggung perempuan itu dari kejauhan. Young Eun memang selalu ada disampingnya, namun bagi Ji Hoon perempuan itu terasa sangat jauh melebihi langit dan bumi.
“Kau selalu mengatakannya hal itu untuk menilaiku secara tidak langsung,” bisik Ji Hoon pada angin lalu.
••••
Menjalani sebuah kehidupan yang sudah dirancang orang lain untuk kita jalani menjadi sesuatu yang melelahkan bagi setiap orang. Tapi bagi Seo Jin itu adalah sebuah hal yang memang harus dia lakukan, karena sejak kecil dia memang tidak bisa melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dia inginkan. Terlahir dari keluarga yang kaya dan terpandang, terkadang membuat Seo Jin merasa sangat tertekan. Sejak duduk di bangku sekolah, tak ada yang ingin berteman dengannya tanpa embel-embel Sujin grup. Ke mana pun Seo Jin pergi menginjakkan kakinya, nama itu selalu melekat padanya seperti bayangan yang mengerikan.
Tak ada yang mau berteman dengan Seo Jin dengan tulus. Mereka pasti memiliki maksud tertentu saat memilih berteman dengannya. Awalnya Seo Jin membiarkan hal itu, namun ketika dokter mendiagnosis dirinya menderita DID sejak lima belas tahun lalu dan membuat Seo Jin semakin mulai menutup diri dan tidak pernah memiliki teman. Satu-satunya orang yang sampai hari ini tetap berada di sisinya dan menjaga rahasianya hanya Tae San.
Setelah mengikuti trainee selama dua tahun sebelum akhirnya debut sebagai penyanyi solo dan aktor delapan tahun lalu, Seo Jin tidak satu pun memiliki teman atau membuat pertemanan. Karena jika mereka mengetahui rahasianya, tentu hal itu akan menguntungkan bagi mereka yang ingin menjatuhkannya. Ayahnya bahkan mungkin akan menendangnya keluar dari rumah jauh sebelumnya. Tapi, dibandingkan itu semua, ada sesuatu yang begitu mengganggunya sejak dua hari terakhir setelah pertemuannya dengan Young Eun.
Seo Jin untuk pertama kalinya tidak sedikit pun melihat ambisi di mata perempuan itu, justru sebaliknya. Seperti ada begitu banyak luka dan keputusasaan yang dia lihat dalam sorot mata Young Eun. Melihat bagaimana marahnya perempuan itu saat dia menawarkan sejumlah uang untuk tutup mulut, Young Eun bersikap saat berlawanan dengan beberapa orang yang pernah dia temui sebelumnya. Mereka semua bahkan memanfaatkan hal itu untuk memeras Seo Jin, tapi kali ini perempuan yang dia temui kemarin berbeda dari mereka semua.
Terlebih lagi salah satu kepribadiannya yang kasar dan arogan, Kim Tae Hyun—mengatakan jatuh cinta pada Young Eun. Tae Hyun bukan tipe kepribadian yang akan mudah mengatakan hal-hal semacam itu pada orang yang baru dia temui. Bahkan Tae Hyun tak pernah peduli dengan orang lain, sama seperti dirinya. Jika sampai Tae Hyun mengikuti Young Eun ke tempat kerja dan mengajak perempuan itu bepergian, tentu sangat terasa tidak biasa dan aneh bagi Seo Jin.
Di tengah pertanyaan yang memenuhi benaknya itu, ponsel Seo Jin bergetar. Ia merah benda persegi itu di atas meja lalu menggeser tombol hijau pada layarnya.
“Kau sudah menemukan dimana perempuan itu tinggal?” tanya Seo Jin pada Tae San di seberang telepon.
“Memangnya apa yang akan kau lakukan? Dia sudah cukup marah melihatmu, apa kau ingin membuat dia membunuhmu?” tanya Tae San dengan nada kesal.
Seo Jin menahan napas mendengar hal itu. “Aku hanya ingin memastikan sesuatu,” bisik Seo Jin dengan tatapan tak tertebak.
••••
Young Eun menyusuri sepanjang jalan menuju rumahnya dengan lunglai ketika matahari mulai condong di kaki langit. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaan paruh waktunya dengan membagikan brosur di sepanjang jalan Myeong-dong. Dalam satu hari, Young Eun bisa melakukan tiga pekerjaan paruh waktu sekaligus. Kadang pula, perempuan itu rela untuk tidak tidur saat malam hari hanya untuk mencari tambahan uang. Kehidupan benar-benar telah menghajar dirinya habis-habisan.
Young Eun sampai pada tikungan jalan menuju rumahnya. Dari jarak beberapa langkah, pagar rumah sederhana itu sudah terlihat didepan matanya. Seketika kasur empuk dan kamarnya yang nyaman meskipun kecil, membuatnya segera ingin membaringkan tubuhnya setelah mandi. Tetapi, saat langkahnya memasuki pagar rumah, keinginan itu meluap saat ia mendengar suara teriakan dari dalam rumah disusul dengan bunyi pecahan benda.
Young Eun segera memacu langkahnya cepat dengan perasaan tak karuan saat mendengar suara kegaduhan. Berbagai macam pertanyaan memenuhi benaknya. Sesampainya di mulut pintu, Young Eun terbelalak saat mendapati rumahnya dalam kondisi kacau, sementara Hyun Joong sedang dipukuli oleh dua pria berbadan besar, sedangkan satu dari mereka menghancurkan barang-barang dan satu lagi hanya duduk menatap Hyun Joong dengan seringai kejam.
"Cepat bayar hutangmu! Atau aku akan membawa semua barang-barang di rumah ini!"
Suara itu cukup menegaskan sesuatu hal pada Young Eun tentang apa yang terjadi. "Hentikan!" teriaknya keras, menghentikan pukulan pria dengan jas hitam tersebut ke wajah dan tubuh Hyun Joong. Kali ini mereka menatap Young Eun dengan penasaran.
Young Eun berlari menghampiri Hyun Joong yang kini tergeletak dilantai tak berdaya. Wajahnya memar di beberapa bagian dan pelipisnya berdarah "Tolong beri aku waktu. Pasti aku akan membayar semua hutangku," ujarnya sembari berusaha bangun dan meraih tangan salah satu dari mereka, namun segera ditepis dengan kasar.
"Hentikan!" hardik Young Eun lagi. Ia menatap Hyun Joong. "Kakak, apa lagi yang kau lakukan?" tanya Young Eun masih dipenuhi pertanyaan. Ia butuh penjelasan atas semua kekacauan yang dilihatnya saat ini.
Seorang pria yang berdiri paling depan, menyahut. "Kakakmu ketagihan berjudi. Jadi, dia tidak punya pilihan lain selain berhutang pada kami," jelasnya dengan seringai dibibirnya. “Jika dia tidak bisa melunasinya dalam seminggu, kami akan mengambil rumah ini sebagai jaminan.”
Young Eun mengarahkan tatapannya dengan marah pada Hyun Joong yang kini tertunduk, menyesal. "Maaf, Young Eun-ah," gumamnya pelan. Tapi kata maaf itu benar-benar terdengar sangat menyakitkan bagi Young Eun.
Kedua bahu Young Eun melemas, kecewa. Kebiasaan berjudi Hyun Joong masih saja menyulitkan mereka. Young Eun berpaling, menatap para pria didepannya tanpa gentar sedikit pun. "Berapa hutangnya?" tanyanya berusaha tetap tegar.
Pria tadi tersenyum meremehkan. "Sepuluh juta won," jawabnya dengan senyum lebar. "Kau bisa membayarnya bukan? Jika tidak, bagaimana jika kau ikut kami saja?" Pria itu mencolek dagu Young Eun yang segera ditepis kasar olehnya.
"Kami akan membayarnya!" Young Eun beranjak berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Hyun Joong terkejut mendengar ucapan adiknya. Sementara para rentenir itu saling melempar senyum puas satu sama lain.
Tak berselang lama, Young Eun keluar dengan beberapa lembar uang ditangannya. Itu adalah hasil dia menabung dari gajinya selama beberapa bulan. "Aku hanya memiliki satu juta won, sisanya kami akan membayarnya dengan cicilan." Young Eun menyerahkan uang ditangannya yang segera diterima oleh pria tersebut dengan wajah senang.
"Hanya ini?" tanya pria itu, mencemooh. Young Eun mengangguk. "Sisanya kami bayar nanti. Uang itu tentunya sudah cukup membuat kalian tidak sia-sia dengan datang kemari."
Pria itu terbahak. "Baiklah. Seminggu lagi kami akan datang kesini untuk menagih hutang kakakmu!" Pria itu melempar kerlingan pada Young Eun lalu memberikan isyarat pada kedua anak buahnya untuk pergi.
Young Eun menatap kepergian para rentenir tersebut sembari mengepalkan kedua tangannya dengan erat, menahan gemuruh dalam hatinya.
"Young Eun-ah," panggil Hyun Joong lemah. Ia berusaha bangkit berdiri dengan bersusah payah.
Young Eun berpaling, menatap Hyun Joong dengan mata nyalang. "Kakak sudah puas?" bisiknya dengan d**a mulai dipenuhi sesak. "Apakah kau tidak cukup puas dengan hanya menghancurkan hidupmu sendiri? Kenapa kau juga membuat hidupku menjadi semakin sulit? Apa kakak tahu? Aku menabung uang itu selama berbulan-bulan. Aku bekerja tanpa peduli waktu supaya kita tetap bisa hidup dengan layak! KENAPA KAKAK TIDAK BISA MENINGGALKAN KEBIASAAN BURUKMU?!" Young Eun berteriak marah. Dadanya seakan hendak meledak karena dipenuhi oleh sesak dan kemarahan yang mendominasi.
"KARENA ITU, SEHARUSNYA KAU TIDAK MEMBAYARNYA!" balas Hyun Joong dengan kesal.
Young Eun terenyak. Ia semakin marah mendengar jawaban Hyun Joong. "Lalu membiarkanmu dipukuli sampai mati?" tanyanya dengan napas tersengal. "BEGITUKAH YANG KAKAK INGINKAN?!" teriak Young Eun kian marah.
"BENAR! KENAPA KAU TIDAK MEMBIARKAN SAMPAH INI DIPUKULI SAMPAI MATI?!" Napas Hyun Joong memburu cepat. Perasaan bersalah mulai menyelimuti dirinya. "JADI KAU TIDAK PERLU LAGI MENGURUS SAMPAH INI!"
"BENAR!" sahut Young Eun. "Matilah jika kakak ingin mati! Aku tidak peduli! Aku akan membiarkan kakak dipukuli sampai mati! Jadi, matilah dan pergi dari hadapanku!" Young Eun beranjak pergi keluar rumah. Hatinya dipenuhi oleh rasa sakit yang tidak mampu lagi dia hentikan. Lukanya seakan kian berdarah setiap harinya. Young Eun tidak tahu bagaimana caranya agar luka itu tidak kian meluas.
Ketika Young Eun berjalan keluar dari balik pagar. Seorang pria berjalan menghampirinya. Young Eun terpaku di tempatnya melihat Seo Jin berdiri di depan pagar rumahnya dan menatapnya dengan tatapan yang memorak-porandakan hatinya.
Perempuan itu lalu tersenyum dengan getir, dia merasa Seo Jin mungkin saja hendak menuntut dirinya karena apa yang dia lakukan tempo hari pada wajah tampan pria itu. Young Eun menundukkan kepalanya sembari menarik napas dalam, berusaha menyingkirkan sesak dalam dadanya. “Sekarang kau benar-benar melihat kehidupanku yang menyedihkan ini.” Seo Jin tidak menjawab, dia hanya menatap Young Eun dengan ekspresi tak terbaca.
Young Eun perlahan mendongak. “Sekarang apa lagi yang kau inginkan? Apa kau akan menuntut permintaan maaf dariku karena kejadian dua hari lalu atau ... kau datang ke sini untuk memberikanku uang?” Young Eun melangkah mendekat pada Seo Jin. Dia tahu, hal ini terdengar seperti dia tidak tahu diri, namun Young Eun merasa putus asa saat ini. Sedangkan Seo Jin masih tidak mengatakan apa pun.
“Benar. Aku memang seharusnya menerima tawaranmu. Seharusnya aku menyebutkan berapa nominal yang aku inginkan. Seharusnya malam itu aku tidak marah dan menyiram wine ke wajahmu.” Betapa pun Young Eun ingin menangis saat ini karena sesak yang semakin memenuhi dadanya, dia tidak bisa meneteskan air mata sedikit pun. “Apa sekarang aku harus berlutut agar kau memaafkanku?” tanya Young Eun menatap Seo Jin yang hanya diam di tempatnya.
Young Eun tak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu karena tatapan dan wajah Seo Jin nyaris tidak menunjukkan emosi yang berarti.
Young Eun menganggukkan kepalanya. “Baik. Aku akan berlutut dan kau harus memberikanku uang untuk tutup mulut. Bukankah kau tidak ingin aku membocorkan rahasiamu?” Young Eun menatap Seo Jin. Pria itu mengambil satu langkah lebih dekat pada Young Eun. Sorot matanya seperti mengurung perempuan itu ke dalam tatapan yang gelap.
Seo Jin tidak tahu kenapa hatinya tiba-tiba berdenyut nyeri melihat bagaimana Young Eun begitu menderita saat ini. Seo Jin tidak mengerti kenapa dia bisa berakhir di depan rumah Young Eun hanya karena perasaan penasarannya. Dia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Untuk pertama kalinya, Seo Jin merasakan sebuah dorongan aneh karena melihat tatapan penuh kepedihan di mata Young Eun.
Seo Jin menarik Young Eun ke dekatnya dan mencium bibir perempuan itu dengan tiba-tiba. Dunia seperti berhenti bagi Young Eun ketika merasakan sepasang bibir itu menyentuh permukaan bibirnya dengan lembut.
•••••