Seo Jin menarik Young Eun ke dekatnya dan mencium bibir perempuan itu dengan tiba-tiba. Dunia seperti berhenti bagi Young Eun ketika merasakan sepasang bibir itu menyentuh permukaan bibirnya dengan lembut. Jika saja Seo Jin tidak mendekap tubuhnya, mungkin Young Eun sudah jatuh lemas karena detak jantungnya seperti hendak meloncat keluar.
Seo Jin melepaskan ciumannya lalu menarik diri menjauh untuk memberikan jarak diantara mereka. Dia menatap Young Eun yang seperti masih terjebak di dalam alam bawah sadarnya. Perempuan itu lalu mengangkat pandangannya ketika sudah mampu menguasai dirinya, ia menatap Seo Jin dengan sepasang irisnya yang masih melebar.
“Kau ...” Young Eun tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Kau bilang ingin menjadi asistenku, bukan?”
Young Eun mengerjapkan kedua matanya pelan. Dia berharap tidak salah mendengar apa dikatakan oleh Seo Jin.
“Ayo kita tinggal bersama.” Seo Jin mengatakan kalimat itu dengan begitu gamblang, tak peduli dengan reaksi Young Eun saat ini. Perempuan itu seperti merasakan de javu untuk kedua kalinya dan jantungnya terasa semakin hendak melompat keluar.
“Apa kau ... Kim Tae Hyun-sshi?” tanya Young Eun. Meski melihat tatapan dingin pria di hadapannya adalah milik Kim Seo Jin, namun mendengar Seo Jin mengatakan hal yang sama padanya seperti apa yang dikatakan oleh Tae Hyun, membuat Young Eun merasa kebingungan.
“Apa kau masih belum bisa membedakan sorot mata dan tatapan ini?”
Young Eun terdiam sejenak. Dia tersadar bahwa yang berdiri di hadapannya bukan Kim Tae Hyun, melainkan Kim Seo Jin. Young Eun hanya masih tidak mengerti, bagaimana bisa mereka benar-benar memiliki wajah yang sama, bahkan sekalipun mereka saudara kembar, tentu ada yang berbeda.
“Ah ... benar, Seo Jin-sshi.” Young Eun mendesah sedikit kecewa. Bukan karena dia mengharapkan bahwa yang berdiri depannya adalah Tae Hyun, hanya saja dia merasa kesal dengan pria itu yang tiba-tiba menghilang setelah mengatakan cinta padanya.
“Kau terlihat kecewa karena aku bukan dia.”
Young Eun menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak! Bukan seperti itu! Hanya saja si b******k itu tidak seharusnya mengatakan bahwa dia jatuh cinta padaku jika akhirnya akan menghilangkan dengan tiba-tiba!” jelas Young Eun menyangkal dengan kesal.
Seo Jin mengamati wajah Young Eun untuk beberapa lama, membuat perempuan itu menjadi semakin gugup. “Ngomong-ngomong ... apa kau bersungguh-sungguh dengan pertanyaanmu tadi?” tanya Young Eun dengan sorot mata penuh harap.
Seo Jin tidak segera menyahut, justru dia menarik tangan Young Eun untuk mengikutinya masuk ke dalam mobil. Mereka sudah terlalu lama di luar, tidak bagus jika ada yang mengenali Seo Jin di tempat ini apalagi dia sedang bersama dengan Young Eun. Jika ada wartawan, pasti besok akan muncul berita dengan tagline besar dan membuat Tae San atau pun pihak agensi akan mencercanya.
“SEBENTAR!” Young Eun memutar lengannya untuk melepaskan diri dari genggaman Seo Jin. Dia menatap pria itu dengan kedua pipi bersemu merah, merasa harus memperjelas sesuatu. “Kalau kau datang hanya untuk mengatakan itu ... kenapa tadi ...” Young Eun merutuk dalam hati karena terpikirkan untuk menanyakan hal memalukan itu. Seketika dia menyesal saat Seo Jin menatapnya dengan lekat dan sialnya kalimatnya tidak bisa dia tarik kembali.
Seo Jin terdiam sesaat. Pertanyaan Young Eun cukup wajar bagi seorang perempuan yang terkejut karena seorang pria menciumnya tiba-tiba.
“Hanya ingin memastikan sesuatu.” Seo Jin mengatakannya dengan nada tenang. Seperti tidak merasa bersalah karena telah membuat perempuan itu merasa terguncang akibat perbuatannya.
“Huh?!” Young Eun tidak tahu bahwa cara Seo Jin dalam memastikan keraguannya adalah dengan cara mencium seseorang. “Memastikan sesuatu?” tanya Young Eun bingung bercampur malu. “Tapi, tetap saja! Bagaimana bisa kau melakukan hal itu padaku? Memangnya aku ini kunci jawaban?! Apa semua pria melakukan hal itu pada sembarang perempuan,” gerutu Young Eun dengan kesal. Dia menundukkan kepalanya, lalu melirik Seo Jin dengan gugup yang hanya menatapnya tanpa mengatakan apa pun.
“Kalian berdua memang sama saja,” bisik Young Eun lirih. Dia menatap ujung sepatu kets-nya.
Seo Jin mendecakkan lidahnya pelan, tidak memedulikan kekesalan perempuan itu, ia kembali menarik tangan Young Eun untuk mengikutinya, tapi perempuan itu kembali melepaskan tangannya.
“Kau mau membawaku ke mana?” tanya Young Eun memasang sikap waspada. Sebuah pemikiran kotor terlintas begitu saja dalam benaknya. “Setidaknya beri aku jawaban yang sederhana untuk sikapmu ini.” Jangan salahkan Young Eun yang berpikiran aneh, ini semua karena sikap Seo Jin yang menciumnya tiba-tiba dan mengatakan padanya untuk tinggal bersama. Hal gila apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh pria itu? Baik Kim Tae Hyun maupun Kim Seo Jin sama-sama memiliki keahlian dalam membuatnya melayang lalu menjatuhkan dia disaat yang bersamaan.
Seo Jin menghela napas pelan. Sejak pertemuan pertama, Young Eun memang satu-satunya perempuan yang memperlakukannya dengan tak acuh. Sedikit menarik untuk Seo Jin sebenarnya, cara Young Eun dalam memperlakukan dirinya, berbeda dengan kebanyakan perempuan di luar sana.
“Membicarakan kontrak,” jelas Seo Jin singkat.
Kedua mata Young Eun mendadak berbinar senang. Sejenak dia lupa tentang apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Seo Jin.
“OKE!” serunya dengan nada senang. Ia berjalan mendahului Seo Jin menuju mobil pria itu yang terparkir di tepi jalan.
“Sebanyak apa aku bisa mempercayaimu?” tanya Seo Jin ketika keduanya sudah duduk di dalam mobil.
Young Eun mengangkat semua jarinya. “Sepuluh persen! Kau bisa mempercayaiku! Aku sangat pandai menyimpan rahasia! Aku akan menyimpan rahasiamu sampai aku mati!” ujar Young Eun bersungguh-sungguh. “Aku tidak akan mengatakan apa pun tentang saudara kembarmu.”
Seo Jin tersenyum begitu tipis. Ternyata Young Eun sepenuhnya mengira bahwa tiga pria yang dia temui adalah saudara kembarnya, memang akan lebih baik bahwa hal itu yang Young Eun percayai.
“Bagus.” Seo Jin hendak mengambil ponselnya di dalam laci dasbor ketika tiba-tiba dia mulai merasakan kepalanya berputar dan berdenyut sakit. Tangannya yang hendak mengambil ponsel pun terhenti.
“Apa kau baik-baik saja?” Young Eun menjadi kebingungan melihat Seo Jin meringis kesakitan. Seo Jin tak menjawab pertanyaan Young Eun, pria itu terus memegangi kepalanya dan mengerang kesakitan.
“Seo Jin-sshi? Apa yang terjadi?” Young Eun berujar dengan panik. “Seo Jin-sshi! Ya! Seo Jin-sshi!” Panggilan berkali-kali itu sama sekali tidak mendapat sahutan satu pun dari Seo Jin. Akhirnya Young Eun mengambil ponselnya dan menekan beberapa angka untuk melakukan panggilan darurat. Tetapi, bertepatan saat Young Eun hendak memencet tombol panggil, sebuah tangan menahannya.
Young Eun terkejut sekaligus merasa lega karena Seo Jin tak lagi mengerang kesakitan. “Seo Jin-sshi? Kau sudah baik-baik saja? Apa kita perlu ke rumah sakit?” Young Eun tak bisa menyembunyikan wajah khawatirnya saat ini.
Seo Jin perlahan berbalik dan menatap Young Eun dengan tatapan berbeda. Young Eun semakin bingung karena melihat senyuman lebar tersungging di bibir Seo Jin. Padahal beberapa detik lalu wajah pria itu pucat pasi dan kesakitan, tapi saat ini Seo Jin tersenyum seperti tidak terjadi apa pun.
“Seo Jin-sshi, kau baik-baik saja?” tanya Young Eun untuk sekian kalinya.
“Ah ... noona, kenapa kau berisik sekali,” dengus pria itu dengan nada kesal. Dia merapikan rambutnya dan membuka kotak dasbor mobil, mencari sesuatu.
“NOONA?” Young Eun berteriak kaget. “Apa yang kau katakan?!”
Seo Jin berpaling menatap Young Eun dengan santai. “Apa noona tidak tahu arti kata ‘berisik’. Ah ... s**l! Kenapa dia tidak membawa earphone-ku di dalam mobilnya?”
Young Eun seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan, namun membuat jantungnya justru berdebar penasaran. Dia mulai menyadari sesuatu. “Kau ... siapa?” tanya Young Eun dengan ragu. Wajahnya mulai ketakutan karena sikap Seo Jin yang berubah dengan tiba-tiba.
Pria itu berpaling. “Kim ... Jeon Kook.” Jeon Jook tersenyum lebar, memperlihatkan barisan giginya yang rapi. “Namaku Kim Jeon Kook.”
“MWO?!” Young Eun nyaris melempar ponselnya.
••••
Tae San berlari seperti orang kesurupan menghampiri Young Eun yang berdiri di tepi mobil. Perempuan itu meremat kedua tangannya dengan cemas. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan hanyalah menghubungi Tae San dan mengatakan apa yang terjadi.
“Dimana dia?” tanya Tae San dengan napas tersengal. Young Eun memberikan isyarat dengan dagunya ke arah kerumunan orang. Wajah perempuan itu sama cemas dan was-was sejak beberapa saat yang lalu. Dia bahkan merasa tidak bisa berpikir karena terlalu bingung dengan perubahan sikap Seo Jin.
Jantung Tae San benar-benar meletup-letup. Berharap kemungkinan yang dia cemaskan tidak terjadi, namun saat kedua kakinya menuntun dia menyibak kerumunan, Tae San merasa seperti melihat akhir dunia.
“Sebenarnya apa yang terjadi padanya?” Young Eun berdiri di belakang punggung Tae San. Mereka sedang memperhatikan Jeon Kook yang bermain gitar dan bernyanyi dengan dikelilingi banyak orang. Beruntungnya mereka tidak saling berdesakkan untuk memegang tubuh Seo Jin.
Tae San mengurut pelipisnya pelan. “Aku akan menceritakan semuanya nanti. Sekarang, bantu aku untuk membawanya pulang.”
Meski masih kebingungan, Young Eun akhirnya menurut dengan mengikuti Tae San ke tengah kerumunan. Pria itu berbisik di telinga Jeon Kook, entah apa yang dia katakan karena wajah Jeon Kook terlihat tersenyum senang.
Young Eun membungkuk berkali-kali pada orang-orang yang ada di sana dan meminta mereka untuk segera bubar. Meski perlu usaha keras untuk meminta mereka bubar, akhirnya Young Eun berhasil membubarkan kerumunan dan Tae San berhasil membujuk Jeon Kook untuk pergi dari sana.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dengan disertai tarikan napas panjang dari Young Eun dan Tae San. Mereka seperti baru saja selesai berperang. Beruntungnya tidak ada wartawan di sana, meski begitu bukan menjadi hal yang baik karena beberapa orang sudah terlanjur mengambil video dan foto.
“Kalian benar-benar menyebalkan, selalu melarangku melakukan ini itu!” Terdengar dengusan sebal dari Jeon Kook yang duduk di sebelah kemudi. “Aku hanya ingin menyanyikan lagu untuk mereka. Tidakkah hyung lihat tadi seperti apa mereka sangat menyukai suaraku? Kalian seharusnya berterima kasih padaku karena Seo Jin hyung bisa menjadi penyanyi karena aku yang mengikuti audisi dan tanda tangan kontrak dengan agensi.”
“Karena itu!” sentak Tae San keras, dia lalu tersadar dan menurunkan nada suaranya. “Karena itu jangan berani melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan karier Seo Jin, karena itu juga kariermu,” ujar Tae San berusaha tetap berkepala dingin. Meski sebenarnya saat ini dia ingin sekali memukul kepala Seo Jin agar pria itu sadar kembali. Satu kepribadian seperti Seo Jin saja sudah membuatnya sakit kepala setiap hari, apalagi jika setiap hari semua kepribadian Seo Jin muncul, mungkin Tae San benar-benar harus kehilangan semua rambutnya.
Young Eun yang duduk di kursi belakang, mendengar setiap perkataan Jeon Kook dengan keheranan. Dia tidak tahan lagi untuk tidak mengajukan pertanyaan. “Bisakah kalian menjelaskan sesuatu padaku?” tanya Young Eun pada keduanya.
Tae San melirik Young Eun dengan wajah kecut, sementara Jeon Jook berpaling pada Young Eun sembari tersenyum. “Ah ... apa noona asisten Seo Jin hyung? Atau ... kau pacarnya?”
“YA!” teriak Tae San dan Young Eun bersamaan. Jeon Kook seketika mengerut mendapatkan tatapan mematikan dari dua orang tersebut. “Ah baiklah, baiklah. Tidak apa-apa jika kalian tidak mau memberitahuku.” Jeon Kook mengetuk jarinya ke kaca mobil. “Tae San hyung, kau tidak boleh mengingkari janjimu padaku.”
Tae San menghembuskan napas berat. Sepertinya setelah ini dia harus memeriksa tekanan darahnya ke dokter, sejak beberapa hari terakhir kepribadian Seo Jin sering muncul.
“Aku ... berjanji. Tapi aku akan memberikannya nanti jika kau juga tidak berulah seperti ini lagi,” ujar Tae San dengan nada memperingatkan.
Jeon Kook menyenderkan punggungnya di kursi dengan wajah memberengut.
••••
Young Eun tidak pernah membayangkan bahwa hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya. Dia masih merasa sulit percaya, namun penjelasan dan kenyataan yang ada di depan matanya, seperti menampar dirinya untuk tersadar bahwa apa yang dia lihat dan dia dengar memang kenyataannya. Young Eun tidak tahu harus merasa kesal atau kasihan pada Seo Jin. Pria yang dikenal sebagai top star itu ternyata memiliki lubang besar dalam dirinya, yang sewaktu-waktu bisa saja menarik pria itu ke dalamnya dan menjebaknya pada kegelapan yang tidak berujung.
“Jadi ... dia menderita DID?” gumam Young Eun yang pada dirinya sendiri. Untuk sekian kalinya dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan berat.
Young Eun menatap pohon maple di depannya. Untuk sesaat, dia merasa sedih, lalu berganti dengan perasaan kesal.
“Ah ... jadi sebenarnya jantungku seperti ini karena siapa? Kim Tae Hyun yang menyatakan cinta padaku atau ... Kim Seo Jin yang menciumku?” Young Eun meringis pelan. “Aish! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bahkan tidak tahu jantungku ini berdetak untuk siapa? Ouch!” Young Eun mengentakkan kakinya kesal.
Sementara itu di sisi lain, Seo Jin mulai mendapatkan kembali kesadarannya. Pria itu bergerak bangun sembari memperhatikan sekelilingnya. Hal terakhir yang dia ingat adalah dia sedang bersama dengan Young Eun di dalam mobil.
Seo Jin keluar dari dalam kamarnya setelah memeriksa jam digital di atas mejanya. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum, di sana dia melihat Tae San duduk di kursi dapur dengan beberapa botol bir.
Melihat kedatangan Seo Jin, Tae San terkejut. “Ya! Siapa lagi kali ini?” tanya Tae San dengan wajah cemas menatap Seo Jin. Pria itu sudah memasang sikap waspada.
“Ada apa denganmu? Siapa yang keluar kali ini?” Seo Jin tak memedulikan reaksi Tae San, dia membuka kulkas dan mengambil satu botol bir dari dalam sana.
Tae San untuk mengatakan sesuatu pada Seo Jin. “Kim Jeon Kook. Ada hal yang lebih mendesak dari pada apa yang dia lakukan.” Kali ini wajah Tae San benar-benar berubah serius, membuat Seo Jin sedikit penasaran.
“Seo Young Eun ... dia mengetahui kondisimu,” ungkap Tae San dengan nada lemah.
••••