Suatu hari aku benar-benar ketakutan saat menemukan diriku terbangun di tempat asing. Bertemu dengan orang-orang yang memanggil namaku dengan berbeda. Beberapa kali aku kehilangan ingatan tentang apa yang baru saja aku lakukan. Setiap kali aku bangun, aku sudah melewatkan beberapa hari tanpa ingatan apa pun.
Seo Jin berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan masker dan jaket bertudung hitam. Sesekali menunduk memandangi lantai di bawahnya ketika berpapasan dengan beberapa orang dan perawat. Meski hanya seminggu atau dua Minggu sekali dia datang, Seo Jin masih harus tetap waspada agar media tidak mengetahuinya.
Kehidupan seorang idol atau pun aktor memang tidak mudah. Dia harus selalu tersenyum tak peduli bagaimana kondisi dan suasananya hatinya hanya untuk membuat orang lain bahagia. Di awal Seo Jin memulai karies, dia sempat tertekan dan stres untuk beberapa waktu hingga dalam satu Minggu, semua kepribadiannya muncul untuk mengambil alih. Mereka mungkin seperti penyakit, tapi bagi Seo Jin, keberadaan semua alter ego itu adalah bentuk dari sebuah rasa sakit dan kesedihan yang tidak bisa Seo Jin tangani sendirian.
Aku menyadari bahwa ada orang lain yang hidup di dalam tubuhku. Mereka memiliki kepribadian, sikap, cara berbicara, hingga usia dan jenis kelamin yang berbeda. Mereka seperti sebuah refleksi dari semua kenangan dan luka yang menyakitkan.
Seo Jin menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu, dengan ragu dia memutar kenop pintu berwarna putih. Di dalam ruangan tersebut, seorang pria paruh baya dengan jas putih duduk di kursinya. Dia tersenyum menyadari siapa yang datang mengunjunginya.
“Kenapa kau begitu lama sekali untuk mempertimbangkan nasihatku,” ujar dokter dengan name tag Dr. Kim Sang Hoon itu, ia terlihat senang melihat Seo Jin.
Seo Jin menarik kursi di sebarang meja dokter Kim. Melepas masker dan jaketnya. “Aku tidak berkata akan secepatnya datang ke sini,” balas Seo Jin dengan senyum tipis di bibirnya.
Dokter Kim menyunggingkan senyum hangat. “Terakhir kali kau datang ke sini keadaanmu sangat buruk. Tapi sepertinya saat ini kau baik-baik saja. Apakah benar begitu?” Sebenarnya itulah harapan dokter Kim untuk Seo Jin setelah beberapa bulan pria itu tidak datang melakukan konseling dan terapi.
“Aku dengar kau baru saja merilis album ke-5 di bulan lalu. Itulah kenapa aku merasa sedikit lega karena percaya kau baik-baik saja,” ungkap dokter Kim dengan tulus. Dia sudah membantu Seo Jin selama lima belas tahun ini, jadi dia cukup mengenal dekat bagaimana sosok Seo Jin yang sebenarnya berbeda dengan orang-orang di luar sana ketahui.
Di awal pertemuan mereka, saat itu usia Seo Jin masih sekitar tiga belas tahun ketika untuk pertama kalinya dia mendiagnosis Seo Jin menderita DID. Tak ada satu pun keluarganya yang mengetahui hal itu, hanya seorang teman yang dia percaya sampai sekarang. Dokter Kim bahkan sudah berkali-kali memaksa Seo Jin untuk mengatakan hal itu pada keluarganya agar selain mendapatkan terapi dan obat di rumah sakit, Seo Jin juga mendapatkan dukungan dari teman dan keluarganya untuk kesembuhannya.
“Apa kau masih belum mengatakan kondisimu pada keluargamu?” tanya dokter Kim ingin tahu.
Seo Jin menyenderkan punggungnya. “Aku akan memberitahu mereka saat aku sudah siap.” Sebenarnya itu hanya alasan dia untuk secara tidak langsung menolak melakukan apa yang disarankan oleh dokter Kim. Karena Seo Jin tahu, apa yang akan dilakukan ayahnya jika dia mengetahui kondisinya.
“Lalu, bagaimana kondisimu? Apa mereka sering muncul akhir-akhir ini?” Pertanyaan itu membuat Seo Jin terdiam. “Ada sebab kenapa kau harus mengalami semua ini selama lima belas tahun. Apa kau juga masih bermimpi atau mendapatkan sebuah ingatan?”
Seo Jin mengangkat wajahnya. “Aku bermimpi melihat anak laki-laki itu lagi,” jelas Seo Jin. Sebenarnya bukan pertama kalinya dia bermimpi seperti itu. “Selama dua Minggu ini sudah ada tiga kepribadian yang muncul. Apa kondisiku memburuk?”
Dokter Kim terdiam, memikirkan apa yang dikatakan Seo Jin. “Aku masih belum bisa memastikan apakah itu pertanda kondisimu memburuk atau tidak. Sebenarnya sedikit baik jika mereka muncul dan bisa berbagi ingatan denganmu, itu juga akan membantumu mendapatkan ingatanmu yang hilang di usia sepuluh sampai tiga belas tahun.”
Seo Jin pernah mengalami masa-masa sulit karena didikan ayahnya yang sangat keras. Tapi anehnya, pada hari itu saat Seo Jin terbangun di rumah sakit. Ingatan terakhir kalinya adalah saat dia pergi ke Jeju dengan ibunya, itu pun adalah kejadian saat dia berusia sepuluh tahun. Seo Jin tidak tahu penyebab dia kehilangan ingatan tiga tahunnya, karena ibunya pun tidak pernah mengatakan apa pun padanya. Mi Jung hanya berkata bahwa Seo Jin kelelahan karena sering dipaksa oleh ayahnya untuk belajar dan mendapatkan beberapa pukulan fisik.
“Aku juga ingin tahu kenangan apa yang aku lupakan selama tiga tahun itu.” Seo Jin menatap dokter Kim dengan air muka tak terbaca. “Tapi aku juga takut untuk mengingatnya, dokter Kim. Aku takut, jika kenangan yang aku lupakan itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan dan tidak bisa aku atasi. Aku mungkin telah melupakan seseorang yang sangat penting juga di saat itu.” Perasaan Seo Jin tiba-tiba diselimuti oleh sesak.
Selama lima belas tahun dia belajar untuk mengatasi semua masalah yang ditimbulkan oleh semua kepribadiannya. Selama lima belas tahun pula dia hidup menarik diri dari semua orang, agar mereka tidak bisa melihat betapa lemahnya seorang Kim Seo Jin. Mereka bahkan hanya bisa mengetahui sosok Kim Seo Jin didepan layar kamera.
Dokter Kim menatap Seo Jin dengan penuh simpati. “Mungkin itu salah satu penyebabnya kau menderita DID. Semua rasa sakit yang tidak bisa kau atasi dan trauma di masa lalumu itu, bisa menjadi pemicu munculnya banyak kepribadian dalam dirimu sebagai respons untuk beradaptasi dengan rasa sakit, takut, dan trauma yang kau miliki. Hal ini dapat dikatakan mirip dengan mekanisme pertahanan diri secara mental.” Dokter Kim menjelaskan sembari tersenyum.
“Sembuh atau tidaknya dirimu, itu juga kembali padamu. Aku hanya bisa membantu dengan terapi dan obat-obatan. Mulailah untuk berdamai dengan masa lalumu, mungkin itu bisa menjadi salah satu cara agar kau bisa sembuh.”
Seo Jin berjalan dengan langkah lunglai meninggalkan ruangan dokter Kim setelah percakapan panjang mereka. Kalimat dokter Kim sedikit mempengaruhinya, namun sisi lain dalam dirinya menolak untuk melakukannya. Seo Jin masih takut jika kenangan yang dia lupakan itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan untuk dia ingat.
••••
“Silakan datang di pembukaan toko ini Minggu depan, untuk lima pengunjung pertama bisa makan gratis. Silakan!” Young Eun terus menyunggingkan senyum lebarnya pada semua orang yang lewat di depannya. Salah satu pekerjaan yang dia lakukan setiap di akhir pekan seperti ini adalah membagikan brosur di sekitar kawasan Myeong-dong.
Bukan hal yang mudah memang melakukan pekerjaan ini, apa lagi ketika orang-orang itu menerima brosur yang dia berikan lalu tanpa melihat atau membaca, mereka membuangnya ke tempat sampah begitu saja tepat di depan mata Young Eun. Dia ingin sekali menegur orang-orang itu, namun Young Eun memilih diam dan tetap tersenyum hanya karena dia membutuhkan pekerjaan ini.
Setelah berdiri selama lebih dari dua jam di bawah sinar matahari yang cukup panas hari ini, Young Eun duduk di taman sembari minum sebotol cola dingin. Dia butuh menyegarkan tenggorokannya. Young Eun menatap beberapa pejalan kaki di depan taman, lalu berpaling pada keluarga kecil yang sedang piknik di taman tersebut. Sejenak, Young Eun tersenyum, sebuah senyuman sedih. Ada perasaan iri yang selalu menghampirinya setiap kali dia melihat pemandangan seperti saat ini.
Tersadar dengan apa yang dia pikirkan, Young Eun menggelengkan kepalanya pelan. “Memangnya apa yang aku harapkan?” gumamnya.
Setelah merasa cukup istirahat selama sepuluh menit, Young Eun segera beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke tepi jalan di dekat taman, melanjutkan pekerjaannya membagikan brosur pada setiap pejalan kaki yang dia lewati.
Young Eun tidak menyadari bahwa seseorang sejak tadi terus mengawasinya dari dalam mobil yang terparkir di trotoar. Sampai akhirnya pria itu turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Young Eun yang masih belum melihat kedatangannya. Perempuan itu masih fokus dengan pekerjaannya.
“Silakan ....” Tangan Young Eun terhenti di udara ketika seorang pria berdiri di hadapannya. Young Eun perlahan mendongakkan kepalanya. “Kau ... Seo Jin-sshi?” Ia terkejut saat menyadari siapa yang sedang berdiri di hadapannya.
“Apa dalam sehari kau bisa melakukan sepuluh pekerjaan?” tanya Seo Jin. Pria itu memakai hoodie hitam dengan sebuah kacamata bertengger di hidung mancungnya.
Seo Jin mungkin berpikir bahwa penampilannya tidak akan mencolok atau mencurigakan, justru di musim panas seperti ini, penampilan pria itu terlihat sedikit mencolok.
“Aku bisa melakukan apa pun,” dengus Young Eun. Dia kembali melanjutkan membagikan brosurnya.
Seo Jin memperhatikan sekelilingnya dengan sedikit waspada. Dia mulai tidak bisa memahami dirinya sendiri karena datang menemui Young Eun di tempat ramai seperti ini.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Young Eun menatap Seo Jin ingin tahu. “Pasti ada sesuatu yang kau inginkan dariku sampai kau datang menemuiku di tempat seperti ini,” ujar Young Eun menyimpulkan.
Seo Jin menarik kedua sudut bibirnya. “Aku ingin memastikan bahwa kau belum membocorkan ke media tentang rahasiaku.” Padahal sebenarnya bukan itu tujuan Seo Jin datang menemuinya.
Young Eun mencibir. “Kenapa? Apa kau datang ke sini untuk mengancamku?”
Seo Jin mengedikan bahunya. “Justru sebaliknya, aku ingin kita mulai membicarakan kontrak. Apa kau lupa bahwa untuk memastikan kau tidak membocorkan hal ini, kau harus bekerja di bawah pengawasanku.”
Young Eun memicingkan kedua matanya, menatap Seo Jin tajam. Sepertinya pria itu baru saja mengancam dirinya secara tidak langsung. “Bagaimana jika aku menolak bekerja sama denganmu? Meskipun kau membayarku tinggi, aku tidak mau bekerja dengan orang sepertimu,” ungkap Young Eun tegas. Dia membalikkan tubuhnya hendak melangkah pergi, namun dengan cepat Seo Jin meraih tangannya dan menahan perempuan itu.
“Aku akan membuatmu mau melakukannya dengan cara apa pun,” ujar Seo Jin dengan nada dingin. “Apa kau menolak karena kau sama halnya seperti orang lain yang melihatku sebagai monster?” Seo Jin melangkah lebih dekat, memberikan kesan intimidasi. Tanpa sadar, Young Eun mundur satu langkah ke belakang. “Apa ... kau takut padaku? Takut dengan semua kepribadian yang ada dalam diriku?” tanya Seo Jin dengan suara berat namun dalam.
Young Eun menelan ludah dengan gugup. Kedua matanya mengerjap pelan. Melihat bagaimana wajah Seo Jin sedekat ini dengannya, membuat jantungnya kembali menggila.
“Tidak!” Young Eun menggelengkan kepalanya dengan gerakan cepat. “Aku tidak takut padamu, tidak sedikit pun!” ujar Young Eun penuh penekanan. Ia menegakkan tubuhnya, balas menatap Seo Jin dengan percaya diri.
Seo Jin tersenyum tipis, membuat jantung Young Eun yang malang semakin berdetak tak karuan. Dia hanya berharap bahwa Seo Jin tidak mendengarnya. Tatapan mata pria itu saja sudah membuat sekujur tubuhnya gemetar, apa lagi saat pria itu tersenyum.
“Ku anggap kau setuju.” Seo Jin menyambar brosur di tangan Young Eun lalu melemparnya ke tempat sampah yang ada di dekat mereka. Mata Young Eun membulat terkejut melihat tindakan Seo Jin yang seenaknya.
“Hei! Kenapa kau membuang brosurnya? Aku harus menghabiskannya dan mendapatkan uangku!” seru Young Eun kesal. Dia hendak memungut brosur itu lagi, namun Seo Jin segera menahannya. Seo Jin tidak peduli dengan wajah kesal Young Eun akibat tindakannya.
“YA! Kenapa kau berbuat seenakmu sendiri?!”
Dia mengacuhkan seruan protes Young Eun lalu menarik tangan perempuan itu menuju mobilnya. Young Eun mencoba untuk melepaskan diri, namun sia-sia saja. Genggaman tangan Seo Jin di pergelangan tangannya terlalu kuat.
“Ya! Lepaskan! Kau tidak bisa bertindak sesukamu seperti ini!” protes Young Eun terus meronta untuk melepaskan tangannya. “Jika kau tidak melepaskan tanganku, aku akan berteriak dan memberitahu semua orang bahwa Kim Seo Jin ada disini!” ancam Young Eun.
Seo Jin bergeming, dia membuka pintu mobilnya dan menyuruh Young Eun untuk masuk ke dalam.
“Aku sungguh akan berteriak dan memberitahu semua orang!” ujar Young Eun untuk kedua kalinya, namun ancamannya sepertinya tidak membuat Seo Jin gentar sedikit pun.
Young Eun menarik napas dalam. “Baik! Aku akan mengatakannya!” Seo Jin mendorong tubuh Young Eun ke mobilnya tepat saat Young Eun hendak berteriak. Seo Jin mengurung tubuh Young Eun dengan kedua lengannya. Sepasang iris coklat gelap itu menyorot begitu dalam dan dingin, seperti hendak membekukan tubuh Young Eun hanya dalam hitungan detik.
“Jika kau memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu, katakan! Maka hidupmu juga tidak akan pernah tenang!” ujar Seo Jin dengan nada mengintimidasi. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Young Eun, membuat perempuan itu semakin merasa terdesak dan takut disaat yang bersamaan.
“Apa yang akan terjadi denganmu jika aku juga memberitahukan ke media bahwa kau berusaha memanfaatkanku karena kau mengetahui rahasiaku? Atau ... bagaimana jika kau adalah seorang kekasih simpanan seorang Kim Seo Jin? Apa kau akan baik-baik saja dengan semua berita itu? Semua orang akan mengetahui identitas dan wajahmu. Kau yakin akan baik-baik saja jika hal itu terjadi?”
Tubuh Young Eun mendadak kaku di tempatnya, kedua lututnya melemas mendengar ucapan Seo Jin yang begitu menyudutkannya. Melihat Young Eun tegang dengan wajah memucat, Seo Jin perlahan menarik diri lalu melepaskan Young Eun dan tersenyum tipis.
“Aku sudah terbiasa dengan media dan semua berita itu, sepertinya hanya agensi yang sakit kepala, aku tidak peduli dengan reputasi. Kau juga pasti tahu bahwa agensi akan membereskannya dengan cara mereka.” Seo Jin merasa di atas angin karena berhasil membuat Young Eun berhenti memberontak padanya.
Young Eun menarik napas dalam-dalam. Dia menatap Seo Jin dengan wajah merah padam. “Kau ... benar-benar b******k,” maki Young Eun kesal. Dia lalu membuka pintu mobil di sebelahnya dan duduk di samping kursi kemudi. Seo Jin diam-diam tersenyum karena sudah berhasil membuat Young Eun menuruti keinginannya.
••••••••