14 April 2021
Jakarta, Indonesia
"Kak, aku mau nanya." ujar Regita yang sebelumnya masih menimbang-nimbang untuk melontarkan hal ini dari mulutnya.
Tyan menoleh ke arah wajah pacarnya, memalingkan wajahnya sesaat dari jalanan.
"Apanih tiba-tiba, bikin takut aja." ujar Tyan, kekehan kecil keluar dari mulutnya. "Nanya apa, ayo sini." tambahnya, jantungnya sedikit terpacu melihat air muka serius pacarnya.
"Kakak beneran bakal lanjut kuliah di LA?" Tyan terdiam sejenak, kosa kata-kosa kata di otaknya seketika buyar. Tak disangka pertanyaan ini akan sungguh datang. Dia pikir, dia bisa menyembunyikannya, walaupun dia juga sadar bahwa pada waktunya pacarnya juga akan dan harus tahu.
Ia berpikir keras, memikirkan jawaban seperti apa yang harus dilontatkannya. Jawaban seperti apa yang tidak akan menyakiti insan di depannya. Jawaban seperti apa yang akan diterima dengan baik. Jawaban seperti apa yang akan membuat pacarnya untuk tidak mencoba untuk membencinya.
"Um, kamu denger darimana gi?"
"It doesn't matter kak, is it true or not?" tanya Regita, masih senantiasa menatap wajah Tyan yang sedang menyetir, menatap fokus ke depan.
Tyan masih bergeming, sembari menepikan mobilnya di sisi jalan, agar dia bisa fokus ke satu hal sekarang, Regita, pacarnya.
Setelah telah menepikan mobilnya, ia menghela nafasnya berat. "It's true, i'm sorry, aku mo bilang sama kamu dari dulu, tapi aku bingung mau bilangnya gimana, it has been my dream, for a long time." ujarnya, menatap kedua manik yang selalu saja membuatnya jatuh cinta.
Regita balik menatapnya sendu, matanya sedikit berkaca-kaca membuat d**a Tyan semakin sesak melihatnya. Tyan menutup kedua matanya, tidak ingin rasa sesaknya semakin besar. "Kakak udah rahasiain itu selama ini? why?" tanya Regita, sedikit meninggikan nada bicaranya, meminta penjelasan.
"Please don't be mad, aku minta maaf."
"I just, i—i'm not mad kak, i just a little bit dissapointed—kenapa kakak ga bilang dari lama gitu? Aku juga kan gabakal bikin kakak ngelepasin mimpi kakak, i want the best for you too kak, dan kakak sama sekali ga ngasih aku clue apa-apa about LA, you're not even mention LA at all."
"I'm sorry, aku tau gi kalau kamu bakal tetep dukung aku, tapi aku cuman takut, takut dengan fakta bahwa kita harus ldr." Tyan memberanikan diri untuk menatap mata pacarnya dan meraih kedua tangannya.
"And that's makes you lied about your dream? Selama ini kakak selalu cerita, kakak cinta sama Jakarta, kakak gamau pergi dari Jakarta, mimpi kakak di Jakarta, so that's a lie?" Regita tersenyum pahit, mengingat segala ucapan-ucapan yang pernah dilontarkan oleh pacarnya.
"Aku ga sepenuhnya bohong gi, trust me, i love Jakarta, and you love Jakarta, and i love you. Thingking about Jakarta makes my heart skipped a beat gi, but so do LA. I love living in here, with you by my side, but—"
"Ya, i know, but you should have told me, hubungan ini dua arah, aku gamau kakak bawa beban ini sendirian kak. We could talk, find out the solution, together."
Tyan mengangguk, menunduk, menatap kedua tangan Regita yang kini sudah dibasahi oleh air matanya.
"I'm sorry, i'm so sorry."
"Lain kali bilang ya kak, i want to know all about you, about your dream, about LA, about everything you wanna do in the future." ujar Regita sambil sedikit menunduk, mencari mata pacarnya yang kini ditutupi oleh rambut. Tyan menjawabnya masih dengan anggukan, mengeratkan genggaman tangannya dan menyiratkan sedikit senyuman di bibirnya. Dirinya sedih, sekaligus senang, perkataan pacarnya tadi membuat hatinya berdesir, ia terharu karena seketika mengetahui bahwa rasa cinta pacarnya kepadanya sudah sebesar itu.
"Pokoknya utang cerita ya about—."
Tyan memotong perkataanya dengan mererengkuhnya dengan dekapan yang erat, tidak ada rasa ingin melepaskannya sedikit pun. Saat ini pun dia sangat merindukannya, bagaimana saat nanti mereka tidak bertemu dengan waktu yang lama.
"Shut up, i love you so much."
"I love you too, kak, i always do."
...
5 Maret 2021
Jakarta, Indonesia
"Cewek cakep, jangan sendirian aja dong, nanti digangguin." ujar Tyan menoel pundak Regita yang sedang duduk asik dengan novelnya.
"Diem ya kak, jangan ganggu momen dulu, lagi sedih nih." tegurnya, tanpa memalingkan wajahnya dari novel itu. Yang ditegur hanya cemberut, memilih untuk melihat-lihat beberapa buku lain yang tergeletak di meja.
Bukannya ikut membaca, namun Tyan malah menegakkan buku-buku tersebut dan menyusunnya menjadi menara. Alhasil buku tersebut jatuh berhamburan, ada yang hanya jatuh di meja, ada yang jatuh langsung ke lantai.
"Ih kak jangan berisik, don't forget we're on the perpus." Regita berbicara dengan sedikit berbisik. Matanya sedikit melotot karena sebal dengan tingkah laku aneh pacarnya.
Tyan hanya menampilkan deretan giginya sembari memunguti buku-buku yang terjatuh. Ia kembali duduk ke kursinya, memangku wajahnya dengan kedua tangannya, dengan mata menatap lurus ke adik kelasnya. Yang ditatap tentu saja merasa risih, lalu memilih untuk menatap balik.
"Kak, tinggal 5 lembar, please jangan ganggu dulu."
"Yaudah cepet ya bacanya, bosen." ujar Tyan pasrah, memilih untuk membalas pesan-pesan yang masuk di handphonenya. Bagi Tyan, pacarnya memang terlihat sangat cantik saat sedang fokus, namun ia tetap saja kesal jika pacarnya terlalu fokus.
Setelah beberapa waktu, Regita menutup novel yang dibacanya.
"Kak, seriously, bagus banget loh ceritanya, it's beautiful and sad at the same time, kakak harus baca, recommended!" ucap Regita dengan semangat, senyumnya terukir besar di wajahnya. Rasa cukup kesal yang tadi dirasakan Tyan kini tiba-tiba hilang berkat senyuman itu.
"Oh yeah? Emang tentang apa?" ujar Tyan tersenyum manis menatap pacarnya. Melupakan pikirannya beberapa menit yang lalu untuk bermurung ke pacarnya.
"Tentang pasangan ldr gitu, tokyo bali." senyum Tyan sedikit meluntur, hatinya tiba-tiba mencelos mendangar perkataan itu. Rasanya belakangan ini hatinya tidak pernah tenang karena menyembunyikan sesuatu dari pacarnya. Ya, cepat atau lambat dia harus segera menyurahkan rahasianya kepada Regita, before it's too late.
"And then? Akhirnya gimana?"
"They broke up, in a really good way."