11 September 2021
15.11 PM, Jakarta
01.00 AM, Los Angeles, CA, USA
"Jadi gimana tadi konsultasinya? lancar?" suara di balik laptop berhasil menyadarkan Regita yang sedari tadi hanyut dalam lamunannya. Ia belum menjawab, hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak terlalu yakin dalam menjelaskan situasinya. Kondisi dirinya saat ini jauh dari kata baik-baik saja, banyak sekali yang ia pikirkan, sehingga membuatnya mau tak mau dibawa tenggelam bersama masalah yang berterbangan di benaknya.
"Kakak sendiri gimana? Tugasnya dah beres?" tanya Regita, mengalihkan pembicaraan.
"Udah sih ini, paling tinggal kirim ke email Prof. Lorens aja besok pagi." jawab Tyan sembari tersenyum lebar menatap layar laptopnya. Ia harap senyum lebarnya kini bisa menularkan sedikit rasa senang kepada pacarnya yang sedari tadi terlihat memikirkan banyak hal. "Jadi...Do you wanna talk about it?" tanya Tyan hati-hati, tidak ingin melewati batasnya, ataupun tidak ingin membiarkan pacarnya sendirian menyimpan beban tersebut. Setidaknya ada dia yang bisa mendengar keluh kesahnya, walaupun ia tak yakin juga apabila dia bisa memberi solusi atau tidak.
Regita masih belum menjawab. Ia berbikir sejenak lalu menghela nafasnya berat, seolah menghembuskan segala masalah yang membuatnya menjadi lebih pendiam daripada hari-hari sebelumnya.
"Gaada kemajuan sama sekali kak, kayak, kakak tau banget kan kalo i really want to be an architect, tapi mama kekeh banget mau aku buat masuk ke kedokteran. Kalo gini mah kayak percuma aja konsultasi, kalo akhirnya juga tetep harus ngikutin plannya dia."
Tyan hanya diam sembari mendengarkan keluh kesah pacarnya, tanda untuk menyuruh pacarnya untuk melanjutkan ceritanya. Ia tidak ingin memotong karena takut akan menghilangkan niat pacarnya untuk bercerita.
"Aku kayak udah capek banget debat sama mama. Omongan aku, penjelasan aku tuh kayak cuma angin berlalu gitu kak dibuatnya. This is my life, but she set it like it hers. Aku tau emang kedokteran tuh meyakinkan, udah tau nantinya bakal jadi apa, tapi aku kan juga punya cita-cita ya kak, and the way she saw cita-cita aku cuma main-main sesaat aja itu sakit banget kak, kayak ga dihargain. Padahal dari akunya juga gaperna main-main, kakak juga tau kan kalo aku serius mau jadi arsitek, aku bahkan udah ngerencanain persiapan aku dari dulu-dulu banget. Yet she don't try to understand me."
Regita memberi jeda, ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum semakin dikendalikan oleh emosi. Tyan mengambil kesempatan ini untuk memberikan feedback yang sedari tadi telah dipikirkannya dengan matang-matang.
"I know you upset ya gi, i've felt that before, even if it's a different case, but the situation is pretty similar. Of course it hurts, but the key is patient gi, waktu itu juga aku yakinin bunda tentang UCLA juga gak sehari dua hari, it takes years. Emang harus sabar, but it works kan? Buktinya aku sekarang udah leha-leha di LA."
Regita tersenyum kecil mendengar tutur pacarnya itu, membuat Tyan lantas ikut tersenyum miring, bangga bisa mengukir senyuman disana.
"Tapi ya kak, mama tuh batu, maunya ya semua kehendak dia diturutin. Aku ga yakin kalo mama bisa luluh mau aku omongin seratus kali pun." ujarnya jengkel, sudah benar-benar muak beradu mulut dengan ibu nya karna permasalahan ini. Jika ada pepetah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, maka benar. Regita dan ibu nya benar-benar mirip, sama-sama keras kepala, sama-sama susah untuk diyakinkan. Tetapi bukan Tyan namanya jika tidak dapat meyakinkan Regita. Ia sudah hafal dengan perilaku si gadis negeri seberang ini. Regita hanya perlu waktu dan usaha, hingga akhirnya bisa percaya dengannya, lalu begitu pula solusi untuk masalah ini kan?
"Gi, denger ya, aku emang gaterlalu tau mama kamu gimana, but i know you kan. Aku harap itu cukup. Kalo kamu emang bener-bener mau gapai mimpi kamu, mau ada badai topan sekalipun harusnya kamu terjang kan? Kamu harus usaha sekuat tenaga kamu, jangan dulu pentingin hasilnya, yang penting usaha kamu udah maksimal. Aku bilang ini ga dari segi yakinin mama kamu aja ya, salah satunya juga yakinin diri kamu sendiri, kalo kamu bisa tuh masuk jurusan yang kamu mau. My experience bisa kamu jadiin patokan, kayak oh ternyata usaha ga mengkhianati hasil."
Regita mengangguk, setuju akan semua opini yang dikerahkan oleh lawan bicaranya. Di sisi lain dirnya juga merasa buruk, hanya bisa mengeluhkan sesuatu, tanpa benar-benar menunjukkan usaha yang maksimal.
"Iya ya kak, setelah dipikir-pikir usaha aku dibanding sama kakak juga ga sebanding, kayak kakak juga harus beraniin untuk ngadep dan yakinin banyak orang untuk gapai mimpi kakak, kayak ke bunda sama ayah kakak dan kakak bahkan harus beraniin diri untuk yakinin aku juga. Kakak juga usaha kerasa banget kan buat bisa keterima disana. Aku yang baru usaha gini aja udah ngeluh, giman-"
"Hey, hey, stop there, disini aku bukan mau adu nasib atau apa, aku cuma mau kamu tetep semangat buat gapai mimpi kamu. Mungkin saat ini mama kamu belum setuju sama pendapat kamu, tapi kita gatau nanti gimana kan? Mama kamu kan maunya yang terbaik buat kamu, kalo gitu kamu harus buktiin kalo arsi itu yang terbaik buat kamu. Waktu kamu masih banyak kan, mulai dari sekarang sampe detik pendaftaran SNM nanti. Jadi kamu masih bisa tuh yakinin mama kamu, kalo bisa yakinin tiap hari sampe mama kamu sendiri capek dengernya, tapi inget, kesel sama mama kamu nya jangan sampe kelewatan, jangan sampe kalian nyakitin satu sama lain karena masalah yang seharusnya bisa dibicarain baik-baik. Janji ya?"
Regita menganggukan kepalanya, matanya berkaca-kaca, terharu karena tutur kata pacarnya. Dirinya seketika ingat, seberapa beruntungnya ia bisa didampingi oleh orang seluarbiasa Tyan. Walaupun kini mereka berdua harus dipisahkan oleh jarak dan waktu, namun kehadiran Tyan tak pernah hilang arti. Regita pikir, tanpanya, tanpa Tyan, sepertinya ia takkan bisa bertahan di dunia yang kejam ini.