24 Agustus 2021
Jakarta, Indonesia
Aroma airport bukan salah satu aroma yang Regita sukai, namun ia juga tak membencinya. Datang ke tempat ini membawa berbagai memori baginya. Regita kecil mungkin akan sangat membenci tempat ini, tempat dimana ia selalu menangis meminta ayahnya untuk tetep tinggal dan tidak pergi ke ruangan dengan kaca-kaca besar itu. Namun, dirinya yang kecil juga akan melompat senang saat melihat ayahnya berjalan dengan gagahnya memakai seragam putih, lengkap dengan topi yang selalu diselipkan di antara lengan kirinya. Selama bertahun-tahun lamanya Regita akan selalu menyambut ayahnya dengan sebuah pelukan, menyalurkan rindu yang mungkin entah kapan selalu menumpuk di hatinya.
Regita tidak benci dengan pekerjaan ayahnya. Ia malah sangat bangga karena teman-temannya selalu iri dengannya. Iri dengan mainan-mainan yang selalu ia dapat tiap kali ayahnya pulang atau bahkan iri dengan produk-produk luar negeri miliknya yang jarang sekali ditemui di Indonesia. Regita selalu senang akan hal itu, sampai saat itu, 2 tahun yang lalu, saat dimana ibu nya menangis, meraung di depan tv ruang tamu. Dirinya yang baru pulang sekolah dibuat bingung, namun secara naluri langsung memeluk ibunya yang sudah terkulai lemas di lantai. Saat itu ia belum tahu, apa yang membuat ibunya menangis, yang ia tahu bahwa ia harus menenangkan ibunya, itu saja. Tetapi dua kata yang diucapkan ibunya membuat kakinya langsung seketika lemas, pikirannya seketika kosong, seperti ada sekelibat petir yang baru saja menyambarnya. Nak, papamu meninggal.
Dalam setahun mungkin bisa dihitung berapa kali ia bertemu ayahnya, namun ia sayang ayahnya, rasa sayangnya bahkan tak bisa diukur dengan apapun. Ketika mendengar kabar buruk itu dunianya serasa runtuh, ditambah lagi ayahnya bahkan turut disalahkan karena dianggap telah menghilangkan banyak jiwa. Karena itu airport bisa jadi membawa memori buruk padanya. Airport tempat datang dan pergi.
"Bang, gaada yang ketinggalan kan? Passport nya ada kan? Barang-barang yang mau dipake di perjalanan ga kamu masukin koper kan? Nanti jangan lupa makan ya di pesawat." ujar ibu Tyan berkali-kali dengan nada tergesa-gesa. Wajar saja, ibunya sedang panik, melepaskan anaknya ke negeri yang beribu-ribu mil jauhnya.
"Iya, iya bun, beres semua kok. Aku yang mau pergi kok bunda yang ribet." ujar Tyan tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Di akhir tawanya ia menyunggingkan senyum miring pada sang pacar, yang langsung dibalas dengan kekehan kecil oleh Regita.
"Ya, lo kayak gatau bunda aja bang, gue tinggal study tour ke bali seminggu aja dia ribet banget. Apalagi lo, udah jauh, bertahun-tahun pula." Adik Tyan kini ikut berbicara setelah daritadi sibuk membantu ayahnya mengangkut barang-barang Tyan dari bagasi mobil ke porter.
"Lo jangan kangen lo sama gue." ujar Tyan, menunjukkan muka mengejek ke adiknya. Adik Tyan yang bernama Marco itu mendelik tak setuju. "Gue mah malah seneng, bisa maen xbox lo sepuasnya." balasnya.
Regita hanya tertawa menanggapi lelucon-lelucon tadi. Regita tak pernah tau rasanya punya adik ataupun kakak, oleh karena itu terkadang ia begitu iri dengan hangatnya keluarga Tyan, canda tawa keluarganya membuat atmosfir perpisahan yang seharusnya sedih menjadi begitu ringan dan indah.
Setelah beberapa saat sesi berpamitan Tyan dan keluarganya, kini tinggal lah mereka berdua. Keluarganya sengaja meninggalkan Regita dan Tyan berdua saja, memberi space agar mereka bisa menghabiskan waktu terakhir mereka dengan lebih leluasa. Mereka bertukar senyuman canggung. Hal seperti ini sungguh asing bagi mereka yang selalu bertemu tiap harinya. Mereka bahkan tak pernah mengucapkan kata goodbye, untuk apa mengucapkan kata perpisahan jika paginya mereka akan bertemu lagi kan?
"Sayang, take care ya disini, since i'm not gonna be here for quite some time." ucap Tyan. Tersenyum teduh dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ia ingin sekali menangis, jauh dari pacarnya itu pasti sangatlah berat, tetapi ia memutuskan untuk tidak menitikkan air matanya agar pacarnya juga tidak terlalu sedih dengan perpisahan sementara ini.
"Kakak juga, don't be too hard on yourself, jangan begadang terus, kakak udah pinter, jadi jangan terlalu maksain diri lagi." balas Regita, menatap mata Tyan sambil menggenggam kedua tangannya. Rasanya tidak ingin melepas, rasanya tidak ingin berpisah.
Tyan menatap ke arah tangan mereka yang bertautan, lalu berpindah lagi menatap wajah teduh Regita. Ia mengangguk dan langsung menarik tubuh pacarnya ke dalam dekapannya. Aroma floral lily yang khas menyerbak masuk ke indera penciumannya. Aroma yang pastinya akan terus membekas dan tak pernah hilang dari ingatannya. Tyan bahkan sudah membeli perfume dengan merk yang sama, jaga-jaga jika ia merindukan aroma khas itu. Regita tentu saja membalas pelukannya, sembari menepuk-nepuk punggung Tyan dengan sangat lembut dan pelan.
"I'm gonna miss you kak, like a lot." ucap Regita dengan suara yang sedikit teredam. "You're gonna miss me too, right?" tanyanya, mengendurkan sedikit pelukannya. Ia menongakkan kepalanya agar dapat melihat wajah pria favoritnya. Pria itu tidak menjawab dan malah terkekeh kecil, menyebabkan Regita menyebikkan bibirnya, kesal. "You have no idea, I've always miss you gi, even now." jawabnya. Regita tersenyum puas mendengar jawaban itu, lalu kembali mengeratkan pelukannya.
Tyan nya memang selalu hangat, pikirnya.
Setelah cukup lama berpelukkan, Tyan melepaskan pelukannya. Baru tersadar bahwa saat ini mereka sedang di tempat umum, pipi keduanya memerah, setelah dipikir-pikir malu juga. "I gotta go now, see you when i see you, Regita." ujar Tyan, melambaikan tangannya dan langsung pergi tanpa mendengar balasan dari Regita. Ia takut, ia takut tak bisa melepasnya, bisa-bisa ia tak jadi pergi jika mendengar suara itu lagi. Regita disisi lain mengerti, ia berdiam diri disana seraya menatap punggung pacarnya menjauh. Setelah punggung pacarnya sudah ditelan kerumunan, barulah matanya meneteskan air mata yang sekuat tenaga ia tahan sedari tadi.
"I love you, so be safe kak." ucapnya lirih.