Bab 14 – Bayangan yang Kembali
Pagi itu bengkel kecil Jaya kembali terasa hidup. Bukan karena pelanggan, melainkan karena semangat baru yang tumbuh di d**a Jaya. Ia sudah bersiap sejak subuh, mengenakan kemeja sederhana dan celana panjang rapi—berbeda dengan biasanya yang selalu belepotan oli.
Rema memperhatikannya sambil tersenyum lembut. “Mas, kamu kelihatan beda hari ini.”
Jaya menatap istrinya, lalu menghela napas. “Hari ini aku ikut Pak Wiryo ketemu orang penting. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku yakin ini awal sesuatu yang besar, Rem.”
Rema menggenggam tangannya. “Aku selalu percaya sama kamu, Mas. Jangan takut. Aku dan Khafi selalu ada di belakangmu.”
---
Di sebuah hotel mewah di pusat kota, Jaya bertemu dengan beberapa pengusaha otomotif. Pak Wiryo memperkenalkannya dengan bangga.
“Ini Jaya, montir dengan tangan emas. Mesin-mesin tua yang kalian anggap bangkai, di tangannya bisa hidup lagi. Dia bukan sekadar mekanik. Dia calon besar.”
Para pengusaha menatap Jaya dengan penuh rasa ingin tahu. Salah satunya, pria paruh baya dengan jas abu-abu, menyodorkan tangan. “Kalau memang sehebat itu, buktikan di depan kami. Ada mobil koleksi saya di basement, mesinnya sudah mati bertahun-tahun. Kalau bisa kau hidupkan hari ini juga, aku percaya.”
Jaya menelan ludah, lalu mengangguk mantap. “Beri saya kesempatan, Pak.”
---
Sementara itu, di Surabaya, Rema yang menunggu di rumah mendapat tamu tak terduga.
Ketukan pintu terdengar keras. Saat dibuka, berdirilah Rudi dengan senyum licik.
“Rema…” suaranya berat, penuh kepalsuan. “Lama tak jumpa.”
Rema langsung pucat. Tangannya gemetar memegang pintu. “Apa yang kamu lakukan di sini, Rud? Pergi! Aku nggak mau lihat kamu lagi.”
Rudi tertawa kecil, langkahnya maju memaksa. “Masih sama cantiknya. Kau yakin mau buang aku? Ingat dulu… kau rela tinggalkan Jaya demi aku. Dan sekarang? Hidupmu hancur lagi. Jaya itu pecundang. Dia nggak akan pernah bisa melindungimu.”
Air mata Rema jatuh. Ia menatap tajam, tapi hatinya bergetar. Luka lama yang pernah ia buat kembali mengoyak batinnya.
“Pergi, Rudi! Aku bukan perempuan yang sama seperti dulu. Aku sudah memilih Jaya, dan aku akan bertahan bersamanya.”
Rudi mendekat lebih jauh, berbisik di telinganya. “Percayalah… saat Jaya jatuh lagi, kau akan datang padaku. Kau nggak bisa bohongi dirimu sendiri, Rema.”
Dengan seluruh keberanian, Rema mendorong tubuh Rudi keras hingga ia tersentak mundur. “Kalau kamu masih punya harga diri, jangan pernah datang lagi. Sekali lagi kau ganggu keluargaku, aku akan lawan!”
Rudi menatapnya dengan dingin. “Baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti kau menyesal.” Ia berbalik, meninggalkan aroma ancaman yang menusuk udara.
Rema terisak di ruang tamu, tubuhnya gemetar. Ia memeluk Khafi yang baru terbangun karena suara ribut. “Nak… jangan takut. Ibu nggak akan pernah ninggalin kamu dan Abi lagi.”
---
Di hotel, Jaya berkeringat di basement. Tangannya hitam oleh oli saat membongkar mesin tua yang ditunjukkan pengusaha tadi. Waktu terus berjalan, para investor menunggu dengan wajah penuh ragu.
Pak Wiryo mendekat, berbisik, “Tenang, Nak. Percaya pada tanganmu sendiri.”
Dengan satu tarikan napas dalam, Jaya memutar kunci kontak. Mesin yang tadinya mati itu meraung hidup, suaranya lantang menggema. Ruangan itu hening beberapa detik, sebelum akhirnya tepuk tangan membahana.
Pria berjas abu-abu berdiri, menepuk pundaknya. “Luar biasa. Mulai hari ini, kau bekerja dengan kami. Aku ingin lihat bengkelmu berkembang. Kau bukan lagi montir kampung, Jaya. Kau punya masa depan.”
Jaya hampir tak percaya. Air matanya menetes, kali ini bukan karena sakit, tapi haru. Dalam hati ia berbisik, Rem, Khafi… kita akan bangkit. Tunggu aku.
---
Di luar, langit mendung menggantung. Dua jalan kini terbentang: satu menuju cahaya kebangkitan Jaya, dan satu lagi menuju kegelapan yang dibawa Rudi. Pertarungan mereka baru saja dimulai.
---