Bab 13 – Gerbang Baru
Pagi itu, suara azan Subuh berkumandang dari surau kecil dekat kontrakan. Jaya sudah terjaga sejak malam, tak bisa tidur. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya berbeda—ada api kecil yang mulai tumbuh.
Rema keluar dari dapur, membawa piring sederhana berisi nasi hangat dan tempe goreng. “Mas, makan dulu. Kamu butuh tenaga.”
Jaya menatap istrinya, senyum tipis muncul di wajah yang jarang sekali tersenyum belakangan ini. “Terima kasih, Rem. Kamu selalu ada. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku udah benar-benar jatuh.”
Rema menepuk pundaknya lembut. “Aku percaya, Mas. Tuhan nggak akan kasih ujian tanpa jalan keluar.”
---
Siangnya, sesuai janji, Jaya menemui Pak Wiryo. Pria tua itu menunggunya di sebuah bengkel besar di pinggir kota, jauh berbeda dengan bengkel Jaya yang compang-camping.
Begitu Jaya datang, Pak Wiryo menoleh dengan senyum puas. “Datang juga kau, Nak. Bagus. Mari ikut aku.”
Jaya menurut. Mereka masuk ke ruangan belakang, tempat sebuah mobil sport mewah terparkir. Mesin terbuka, penuh kerumitan yang tak pernah dilihat Jaya sebelumnya.
“Ini, bisa kau perbaiki?” tanya Pak Wiryo sambil menatap tajam.
Jaya menelan ludah. Ia mendekat, tangannya menyentuh perlahan mesin yang berkilau. Komponen asing, sistem elektronik rumit, tapi nalurinya sebagai mekanik bekerja. Ia mulai membongkar, mengutak-atik, dan dalam hitungan jam, mesin itu kembali menderu dengan suara sempurna.
Pak Wiryo tertawa keras. “Ha! Aku tahu aku tidak salah menilai. Kau punya tangan emas, Jaya. Tangan yang bisa membuka pintu masa depanmu.”
Jaya tersenyum lega, keringat bercucuran di wajahnya. “Terima kasih, Pak. Saya hanya… melakukan yang saya bisa.”
“Tunggu, Nak,” ucap Pak Wiryo serius. “Aku bukan sekadar pelanggan. Aku mantan pengusaha otomotif besar, sekarang lebih sering jadi konsultan. Aku punya koneksi ke investor, jaringan pabrik, bahkan penguasa daerah. Kalau kau mau, aku bisa jadikan kau lebih dari sekadar montir kampung.”
Jaya terdiam, hatinya bergetar. Kata-kata itu seperti kunci menuju masa depan yang selama ini tertutup rapat.
“Tapi,” lanjut Pak Wiryo, “aku perlu tahu dulu. Kau benar-benar siap bangkit? Karena jalan ini bukan cuma soal mesin. Ada politik, ada bisnis, ada lawan-lawan besar. Termasuk orang yang sudah merusak hidupmu.”
Jaya mengepalkan tangannya. Sorot matanya kini penuh tekad. “Pak, saya sudah kehilangan segalanya. Kalau sekarang saya berhenti, berarti saya benar-benar mati. Saya siap, apapun risikonya.”
Pak Wiryo menatapnya lama, lalu tersenyum. “Bagus. Mulai besok, kau ikut aku. Aku akan perkenalkanmu ke dunia yang bisa membuatmu berdiri lebih tinggi dari siapapun. Bahkan lebih tinggi dari Rudi.”
---
Malamnya, Jaya pulang dengan wajah berbeda. Ada cahaya baru yang memancar. Rema yang sedang menidurkan Khafi langsung menyadarinya.
“Mas… ada apa? Kok senyum-senyum?” tanyanya pelan.
Jaya duduk di sampingnya, menggenggam tangan istrinya erat. “Rem, aku ketemu jalan. Pak Wiryo bukan orang biasa. Dia bisa bantu aku bangkit. Dia bisa kasih kita kesempatan kedua.”
Air mata Rema jatuh, kali ini bukan karena sedih, tapi haru. Ia menatap suaminya dengan senyum yang penuh doa. “Aku percaya sama kamu, Mas. Aku akan temani kamu sampai kapanpun.”
Jaya mencium keningnya. Lalu ia menatap Khafi yang tidur pulas. “Nak… Abi janji. Kali ini Abi nggak akan kalah lagi.”
---
Di sisi lain kota, Rudi duduk di sebuah kafe mewah bersama rekan bisnisnya. Wajahnya penuh kepuasan.
“Bengkel Jaya? Sudah mati total. Orang itu sebentar lagi habis,” katanya sambil menyalakan cerutu.
Seorang pria di meja itu menyeringai. “Bagus. Tapi hati-hati, Rud. Kadang orang yang sudah jatuh, justru bisa bangkit lebih kuat. Kau yakin dia nggak akan jadi ancaman lagi?”
Rudi tertawa terbahak. “Hah! Jaya? Dia itu cuma montir kampung. Kalau pun bangkit, aku akan pastikan dia jatuh lagi. Kali ini untuk selamanya.”
Ia tidak tahu, bahwa malam itu juga, roda takdir mulai berputar.