Bab 12 – Jejak Luka, Api Balas Dendam
Pagi itu Surabaya masih berkabut tipis. Jalanan basah sisa hujan semalam. Jaya duduk di kursi kayu depan bengkel yang setengah hancur. Tangannya sibuk mengasah obeng tumpul, bukan karena butuh, tapi hanya untuk menahan pikirannya yang nyaris pecah.
Rema keluar membawa secangkir kopi hitam. “Mas, minum dulu. Jangan terlalu dipikirin. Kita bisa mulai dari nol lagi.”
Jaya menoleh, menatap mata istrinya yang berkaca-kaca. Ada luka di sana, tapi juga ada keyakinan. “Mulai dari nol? Rem… kita bahkan sekarang minus. Kontrakan diusir, bengkel rusak, nama kita diinjak-injak.”
Rema menunduk, air matanya jatuh. Tapi ia tetap memaksa tersenyum. “Selama kita masih punya Khafi, kita nggak pernah benar-benar kalah, Mas.”
Ucapan itu menusuk Jaya. Ia meneguk kopinya, pahit, tapi pahit itulah yang kini jadi teman sejatinya.
---
Siangnya, datanglah kabar buruk lain.
Dua pria berseragam preman masuk ke bengkel tanpa permisi. Mereka tertawa mengejek, lalu melempar selembar kertas ke meja.
“Jaya, mulai bulan ini lu kena blacklist. Semua supplier onderdil nggak bakal ngasih barang ke lu lagi. Lu ngerti kan siapa di belakang ini?”
Jaya membaca kertas itu—surat peringatan dari asosiasi bengkel lokal. Tanda tangan Rudi tercetak jelas di bawahnya.
Urat di pelipis Jaya menegang. “Dasar licik…” gumamnya.
Salah satu preman mendekat, menepuk bahu Jaya keras. “Saran gua, jangan macem-macem. Masih mending cuma bengkel lu yang ditutup. Kalau lu maksa, bisa-bisa yang ilang bukan cuma motor.”
Mata Jaya membelalak. Ucapan itu jelas-jelas ancaman buat nyawa Rema dan Khafi.
“Keluar dari sini!” Jaya menggebrak meja. Suaranya bergetar tapi penuh amarah. Preman itu tertawa, lalu pergi sambil meludah di lantai bengkel.
---
Malamnya, Jaya tak bisa tidur. Ia duduk di teras rumah, rokok murah menyala di tangannya. Pandangannya kosong menatap gelap.
Rema menghampiri, duduk di sampingnya. “Mas… kamu jangan nyalahin diri sendiri terus. Semua ini ulah Rudi. Dia yang jahat, bukan kamu.”
Jaya menggeleng. “Tapi kalau aku nggak bisa melindungi kalian, aku apa, Rem? Aku suami gagal, ayah gagal, lelaki gagal.”
Rema meraih tangan Jaya, menggenggam erat. “Kamu bukan gagal, Mas. Kamu lagi diuji. Khafi butuh kamu. Aku juga butuh kamu. Jangan hancur di depan kami. Kalau kamu jatuh, kami ikut jatuh.”
Jaya menunduk, air matanya jatuh untuk kesekian kali. Tapi dalam hatinya, bara balas dendam semakin menyala.
---
Beberapa hari kemudian, nasib baik seolah memberi secercah jalan.
Seorang pria tua datang ke bengkel, berjalan dengan tongkat kayu. Wajahnya penuh keriput, tapi matanya tajam. Ia membawa motor tua Honda CB yang tampak usang.
“Sampeyan Jaya?” tanyanya dengan suara berat.
“Iya, Pak. Ada apa?”
Pria itu tersenyum tipis. “Aku dengar bengkelmu hancur. Tapi aku juga dengar tanganmu masih ajaib. Motor tua ini nggak ada yang bisa benerin. Coba sampeyan perbaiki. Kalau bisa, aku kasih upah lebih.”
Jaya tertegun. Ia menatap motor itu, lalu pria tua itu. Ada sesuatu di sorot matanya—bukan sekadar pelanggan biasa.
Dengan hati-hati, Jaya mulai membongkar mesin. Tangannya gemetar, tapi ingatannya sebagai mekanik ulung membimbing setiap gerakan. Bau oli, karat, dan debu mesin tua memenuhi udara. Rema ikut menemaninya, mengelap keringat suaminya dengan kain lusuh.
Setelah berjam-jam, mesin itu akhirnya menyala dengan suara halus. Pria tua itu tersenyum lebar, menepuk pundak Jaya.
“Bagus. Sangat bagus. Sudah lama aku nggak lihat mekanik sehandal ini. Namaku Pak Wiryo. Aku punya banyak kenalan di dunia otomotif. Kalau kau butuh jalan untuk bangkit, mungkin aku bisa buka pintu.”
Jaya terdiam. Ada cahaya baru yang muncul di depan matanya.
“Pak… saya… saya nggak tahu harus bilang apa.”
“Bilang saja kamu siap. Karena kalau kamu berani, aku bisa kenalkan kamu ke orang-orang yang bahkan Rudi pun nggak bisa sentuh.”
---
Malam itu, Jaya bercerita pada Rema.
“Rem, mungkin ini jalan kita. Pak Wiryo bukan orang biasa. Aku bisa rasa, dia orang besar. Kalau aku dapat dukungan dia, kita bisa bangkit, kita bisa lawan Rudi.”
Rema menggenggam tangannya erat, matanya penuh harap. “Mas… kalau ini jalannya, aku akan selalu ada di belakangmu. Aku percaya.”
Jaya menatap Khafi yang tertidur pulas di ranjang kecilnya. Ia mengepalkan tangan, bisikannya nyaris seperti janji suci:
“Anakku… istrimu… tunggu. Abi akan berdiri lagi. Abi akan balas semua luka ini. Abi akan bikin Rudi menyesal pernah lahir ke dunia.”
---