Bab 11 – Dalam Gelap, Mencari Cahaya
Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela terasa lebih dingin daripada hangat. Bengkel Jaya masih berantakan setelah p*********n kemarin. Pecahan kaca berserakan, oli menetes di lantai, dan bau besi terbakar masih tercium. Tetangga yang lewat hanya melirik, lalu buru-buru berjalan lebih cepat seakan takut ikut terseret masalah.
Jaya berdiri di tengah reruntuhan itu. Matanya kosong, tubuhnya lelah. Tangannya masih berbalut perban akibat luka semalam. Hatinya menjerit. Semua kerja kerasnya selama ini seakan musnah hanya dalam semalam.
Rema datang membawa segelas teh hangat. Wajahnya pucat, tapi senyumnya tetap ia paksakan. “Mas… minum dulu. Kamu belum makan sejak kemarin.”
Jaya menerima gelas itu, menatap wajah istrinya. Rambut hitam Rema yang biasanya terurai indah kini tampak kusut. Matanya sembab karena menangis semalaman. Tapi justru di situlah letak ketegarannya. Ia masih ada di samping Jaya, ketika semua orang memilih menjauh.
“Terima kasih, Rem.” Jaya menyesap teh itu, rasanya hambar di lidahnya. “Aku nggak ngerti lagi harus gimana. Semua kayak menutup jalan.”
Rema duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat. “Mas, kita masih punya satu sama lain. Itu yang penting. Kalau bengkel hancur, kita bisa bangun lagi. Kalau orang-orang menjauh, biarlah. Asal kamu jangan berhenti percaya sama dirimu sendiri.”
Jaya menatap istrinya lama. Ada api kecil yang mulai menyala di dadanya. Api yang nyaris padam, tapi dihidupkan lagi oleh kata-kata Rema.
---
Namun, takdir seakan belum puas menguji. Siang itu, surat dari pemilik kontrakan datang.
“Mas Jaya, maaf. Mulai bulan depan, kontrak rumah ini saya putus. Ada orang yang mau bayar lebih mahal. Saya nggak bisa nolak.”
Jaya terdiam, menahan amarah. Ia tahu ini lagi-lagi ulah Rudi. Laki-laki itu ingin memutus setiap tali kehidupan yang mereka miliki.
Setelah pemilik kontrakan pergi, Rema jatuh terduduk. “Mas… kita mau tinggal di mana?”
Jaya menahan sesak di dadanya, lalu memeluk istrinya erat. “Tenang, Rem. Selama aku masih hidup, kamu sama Khafi nggak akan tidur di jalan.”
Tapi dalam hatinya, Jaya benar-benar remuk.
---
Malamnya, Jaya duduk di teras rumah, menatap langit Surabaya yang gelap. Hujan turun deras, petir menyambar. Suara tangisan Rema terdengar dari dalam kamar, bercampur dengan suara batuk kecil Khafi.
Jaya menunduk, air matanya jatuh membasahi tanah. Ia berbisik lirih, hampir tak terdengar:
“Tuhan… kenapa semua ini terjadi? Apa aku memang nggak pantas bahagia? Apa aku salah ambil jalan? Kalau memang aku harus jatuh, tunjukkan aku alasan untuk bangkit lagi. Jangan biarkan aku jadi laki-laki yang kalah.”
Saat itulah, suara kecil memecah malam.
“Abi…”
Jaya menoleh. Khafi berdiri di ambang pintu dengan piyama lusuhnya, wajah polosnya setengah tertidur. Bocah itu mendekat, lalu duduk di pangkuan Jaya.
“Abi jangan nangis…” ucapnya dengan suara lembut. “Abi kan kuat. Abi kan jago. Abi nggak boleh kalah.”
Kata-kata sederhana itu membuat d**a Jaya bergetar. Ia memeluk anak itu erat, mencium puncak kepalanya.
“Iya, Nak. Abi kuat. Demi kamu sama umi, Abi nggak akan kalah.”
---
Keesokan harinya, Jaya bangun dengan tekad baru. Ia mulai membereskan bengkel, meski perlahan. Rema ikut membantu, menyapu pecahan kaca, mengelap oli, meski tangannya sampai lecet.
Beberapa tetangga yang kemarin menjauh, kini mulai melirik lagi. Melihat Jaya dan Rema tetap berdiri meski diterpa badai membuat sebagian dari mereka tergerak.
Seorang pria tua, pelanggan lama, datang mendekat. “Mas Jaya… bengkelmu hancur, tapi aku percaya sama kamu. Aku bawa motor ke sini, tolong diperbaiki ya. Aku nggak peduli gosip orang.”
Jaya tertegun. Matanya berkaca-kaca. “Pak… terima kasih. Terima kasih sudah percaya.”
Itu mungkin hanya satu motor, tapi bagi Jaya itu adalah secercah cahaya di tengah gelap.
---
Namun, malam itu cahaya itu kembali diuji.
Pesan suara masuk ke ponselnya. Suara Rudi yang dingin terdengar jelas:
“Jaya… gua kasih pilihan terakhir. Lu pergi dari Surabaya, tinggalkan Rema, atau gua hancurin hidup lu sampai lu nggak bisa napas. Gua serius. Lu nggak akan bisa menang lawan gua.”
Jaya mengepalkan tangan, urat-uratnya menegang. Ia menatap Rema yang sedang menidurkan Khafi. Wajah istrinya damai, meski tubuhnya jelas lelah.
Jaya berbisik pada dirinya sendiri, dengan mata menatap langit:
“Lu salah pilih lawan, Rudi. Lu bisa hancurin hartaku, nama baikku, bahkan rumahku. Tapi ada satu hal yang nggak akan pernah bisa lu hancurin—tekadku. Mulai malam ini, gua nggak akan cuma bertahan. Gua akan balas. Gua akan bangkit, sampai lu sendiri yang tunduk di hadapanku.”
---