Bab 10 – Luka yang Dibuka Lagi
Malam itu, Surabaya terasa lebih dingin dari biasanya. Hujan rintik-rintik turun membasahi genteng rumah kontrakan Jaya dan Rema. Lampu redup di ruang tamu hanya menyorot wajah Jaya yang muram. Sejak surat dari bank datang, pikirannya terus bergemuruh. Ia tahu, ini bukan sekadar masalah utang—ini perang yang Rudi mulai.
Rema duduk di sampingnya, memeluk Khafi yang sudah terlelap. “Mas… aku takut. Rasanya hidup kita nggak akan tenang kalau Rudi terus gangguin.”
Jaya mengelus punggung Rema lembut, suaranya parau. “Jangan takut, Rem. Aku nggak akan biarin dia ambil kamu, apalagi Khafi. Selama aku masih berdiri, dia nggak akan menang.”
Rema menatap Jaya dengan mata berkaca-kaca. “Tapi Mas… dia punya uang, punya kuasa. Kamu cuma—”
“Cuma montir biasa, ya?” Jaya menyeringai getir, tapi matanya menyala. “Justru itu. Aku memang bukan siapa-siapa, tapi aku punya sesuatu yang dia nggak akan pernah punya: cinta kamu, dan anak ini. Itu udah cukup bikin aku nggak takut sama dia.”
Rema terdiam. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan, lalu ia memeluk Jaya erat, seakan ingin menyatu selamanya.
---
Keesokan harinya, pagi itu disambut berita buruk. Seorang pelanggan setia bengkel datang dengan wajah cemas.
“Mas Jaya, maaf banget… mulai besok aku nggak bisa lagi servis motor di sini. Ada yang bilang bengkelmu nggak aman, katanya suka nipu, ganti spare part palsu.”
Jaya terkejut. “Apa? Siapa yang ngomong begitu?”
Pelanggan itu hanya menghela napas. “Aku nggak tahu, Mas. Tapi gosip udah nyebar. Orang-orang mulai percaya. Maaf, aku harus jaga diri.”
Setelah pelanggan itu pergi, Jaya duduk lemas di kursi kayu. Tangannya menutupi wajah. Ia tahu ini jelas ulah Rudi. Perlahan tapi pasti, reputasi yang ia bangun bertahun-tahun mulai runtuh.
---
Malamnya, Jaya menerima pesan w******p dari nomor asing. Sebuah foto.
Foto itu menampilkan Rema… sedang duduk di sebuah kafe. Di seberangnya, Rudi. Wajah Rudi tersenyum puas, sementara Rema tampak tegang.
“Besok gua upload ini ke grup kampung. Biar orang tau siapa istri lu sebenarnya,” tulis pesan itu.
Jaya gemetar. Ia segera menatap Rema yang sedang menidurkan Khafi. “Rem… kamu tadi siang ketemu Rudi?”
Rema tersentak, wajahnya pucat. “Mas… aku—aku bisa jelasin.”
“Jelaskan sekarang.” Suara Jaya bergetar, menahan amarah dan kecewa.
Air mata langsung menggenang di mata Rema. Ia mendekat, meraih tangan Jaya. “Mas, dia yang maksa! Dia tiba-tiba muncul, bilang kalau aku nggak mau ketemu sebentar, dia bakal datang langsung ke bengkel dan bikin ribut di depan semua orang. Aku takut… makanya aku nurut. Tapi aku sumpah, Mas, aku nggak ngapa-ngapain! Aku cuma duduk, nggak lebih!”
Jaya menarik napas dalam, mencoba mengendalikan diri. Ia ingin marah, tapi melihat wajah Rema yang tulus membuat hatinya luluh. Ia meraih dagu istrinya, menatap dalam ke matanya.
“Aku percaya kamu, Rem. Tapi jangan pernah lagi kasih dia kesempatan. Sekali aja kamu goyah, semua yang kita punya bisa hancur.”
Rema mengangguk cepat, air matanya jatuh deras. “Aku janji, Mas. Aku nggak akan biarin dia ngacak-acak hidup kita lagi.”
Jaya memeluknya erat, tapi dalam hati ia tahu: Rudi makin gila, makin berbahaya.
---
Beberapa hari kemudian, badai benar-benar datang.
Siang itu, ketika Jaya sedang bekerja di bengkel, beberapa pria berbadan besar datang. Mereka merusak spanduk bengkel, melempar kaca, bahkan menendang motor-motor pelanggan. Orang-orang sekitar menonton dari jauh, tapi tak ada yang berani mendekat.
“Jaya!” salah satu pria berteriak. “Ini peringatan! Berhenti sok jadi jagoan! Kalau nggak, lu sama keluarga lu bakal nyesel!”
Jaya maju, darahnya mendidih. “Kalau Rudi yang nyuruh kalian, bilang sama dia: aku nggak takut! Selama aku hidup, dia nggak akan bisa ambil Rema dariku!”
Para pria itu tertawa sinis, lalu pergi setelah meninggalkan kekacauan.
Bengkel hancur berantakan. Spanduk robek, kaca pecah, dan beberapa motor pelanggan ringsek. Jaya terjatuh berlutut di tengah bengkel, kepalan tangannya berdarah. Air matanya jatuh, bukan karena sakit fisik, tapi karena hancurnya usahanya.
Rema datang terburu-buru, histeris melihat keadaan itu. Ia meraih bahu Jaya, menangis. “Mas! Ya Allah… bengkelmu…”
Jaya menatap reruntuhan itu dengan mata kosong. “Nggak apa-apa, Rem… selama aku masih punya kamu sama Khafi, aku nggak apa-apa.”
Tapi jauh di dalam hatinya, Jaya tahu: ia sedang kalah dalam permainan kotor Rudi.
---
Malam itu, setelah semua tenang, Jaya duduk di teras rumah kontrakan. Angin malam berhembus kencang. Rema duduk di sampingnya, memegang tangannya erat.
“Mas… apa kita harus pergi dari sini? Kita mulai lagi dari nol di tempat lain?” tanya Rema lirih.
Jaya menoleh, menatap wajah cantik istrinya yang penuh luka tapi tetap setia. “Kalau kita kabur, berarti kita kalah. Aku nggak mau Khafi tumbuh besar dengan cerita bahwa ayahnya pengecut. Aku akan lawan Rudi. Sampai habis-habisan kalau perlu.”
Rema meneteskan air mata, lalu mengangguk. “Kalau gitu, aku akan tetap di sampingmu. Apapun yang terjadi.”
Jaya meraih wajah Rema, mengecup keningnya lama. Malam itu, di bawah langit Surabaya yang kelam, ia bersumpah pada dirinya sendiri: ia akan bangkit. Ia akan jadi lebih kuat dari siapapun, bahkan lebih kuat dari Rudi.
Bahkan jika harus kehilangan segalanya lebih dulu, ia rela.
---