Bab 9 – Retakan Pertama
Pagi itu, Surabaya tampak ramai seperti biasa. Jalanan penuh kendaraan, pedagang sibuk membuka lapak, dan anak-anak berlarian menuju sekolah. Namun, di balik hiruk-pikuk itu, hati Jaya diliputi kegelisahan. Semalam, Rudi muncul di bengkel seperti badai, membawa ancaman yang jelas: ia tidak akan berhenti sampai Rema kembali padanya.
Jaya menatap cermin kecil di bengkel, melihat wajahnya sendiri yang penuh gurat letih. Mata hitamnya dipenuhi lingkar gelap karena kurang tidur. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Mas?” suara lembut menyentuh telinganya.
Rema berdiri di ambang pintu dengan wajah sendu, rambut panjangnya terurai lembut. Pakaian sederhana yang ia kenakan justru menonjolkan kecantikannya yang alami. Mata bulatnya menatap Jaya penuh cemas.
“Kamu belum sarapan?” tanyanya sambil membawa piring berisi nasi hangat dan telur dadar.
Jaya tersenyum tipis. “Belum. Lagi mikirin banyak hal.”
Rema mendekat, meletakkan piring itu di meja, lalu duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Jaya, menggenggam erat. “Mas… aku tahu kamu capek, tapi jangan sampai kamu sakit. Kalau kamu tumbang, aku sama Khafi harus bagaimana?”
Kata-kata itu menusuk hati Jaya. Ia menatap wajah Rema yang begitu dekat, melihat setiap detailnya—alis tegas, hidung mungil yang manis, bibir tipis yang selalu bergetar saat bicara dari hati.
“Rem,” ucap Jaya dengan suara berat, “aku nggak apa-apa. Selama ada kamu sama Khafi, aku bisa kuat. Cuma… aku takut kehilangan apa yang selama ini aku bangun.”
---
Sore harinya, ketakutan Jaya mulai terbukti. Seorang rekan bengkel datang tergopoh-gopoh.
“Mas Jaya! Surat ini dari bank.”
Jaya menerima amplop cokelat itu dengan dahi berkerut. Saat dibuka, matanya membelalak. Surat peringatan. Kredit bengkel yang ia cicil selama bertahun-tahun tiba-tiba macet, ada laporan bahwa ia menunggak padahal ia merasa semua cicilan lancar.
“Apa-apaan ini?” gumamnya geram.
Tak lama, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Jaya mengangkat dengan hati-hati.
“Montir sok jago,” suara dingin Rudi terdengar dari seberang. “Gimana rasanya kalau satu per satu hidupmu gua remas?”
“Rudi!” Jaya mengepalkan tangan. “Lu yang ngatur ini, ya?!”
Tawa sinis terdengar. “Lu pikir gampang ngerebut Rema dari gua? Hidup lu gua bisa bikin runtuh sekejap. Mulai dari bengkel lu, sampai rumah kontrakan lu. Semua bisa gua beli. Lu nggak ada apa-apanya dibanding gua.”
Klik. Telepon terputus.
Jaya terdiam. Dadanya panas, wajahnya memerah. Ia tahu Rudi bukan hanya berteriak kosong. Dengan kekuatan uang dan koneksinya, ia bisa benar-benar menghancurkan hidup Jaya perlahan.
---
Malam itu, Jaya duduk di ruang tamu bersama Rema dan Khafi. Bocah kecil itu sudah tertidur pulas di pangkuan ibunya. Rema membelai rambut Khafi dengan lembut, lalu menatap Jaya yang termenung.
“Mas, ada apa?”
Jaya menoleh, lalu berkata pelan, “Bengkelnya terancam, Rem. Ada masalah di bank. Aku yakin ini ulah Rudi.”
Rema terdiam. Wajahnya pucat. “Ya Tuhan… berarti dia serius dengan ancamannya.”
“Ya. Tapi aku nggak akan nyerah.” Jaya menatapnya penuh tekad. “Kalau aku harus kehilangan bengkel, biarlah. Tapi aku nggak akan biarkan kamu sama Khafi jatuh ke tangannya.”
Air mata menitik di sudut mata Rema. Ia mendekat, meraih tangan Jaya, lalu meletakkannya di pipinya. “Mas… aku nggak butuh harta. Aku cuma butuh kamu. Aku rela hidup susah asalkan ada kamu yang jagain aku sama anakku.”
Jaya menatap dalam ke mata wanita itu. Ada ketulusan, ada keberanian. Perasaan hangat menjalar di dadanya, mengalahkan rasa takut sesaat. Ia tersenyum samar, lalu menunduk dan mengecup kening Rema.
“Terima kasih, Rem. Kata-katamu lebih berharga dari semua bengkel di dunia ini.”
---
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Keesokan harinya, gosip mulai beredar di kampung sekitar. Ada orang yang menyebarkan kabar bahwa Jaya adalah “pelakor laki-laki”, merebut istri orang. Beberapa tetangga mulai berbisik-bisik, bahkan ada yang sengaja menatap sinis saat Jaya lewat.
Di warung, dua ibu-ibu terdengar bergumam.
“Itu loh, Jaya. Montir itu. Katanya ngerebut istri orang.”
“Pantas aja si Rema sering keliatan nangis. Kasihan anaknya.”
Jaya mendengar semua, dadanya sesak. Ia ingin membela diri, tapi ia tahu percuma. Lidah orang lebih tajam dari pisau.
Saat pulang, ia mendapati Rema duduk di teras dengan wajah murung. Khafi bermain dengan mobil-mobilan di sampingnya.
“Rem…” panggil Jaya.
Rema menoleh, matanya merah. “Aku dengar orang-orang ngomongin aku di warung. Katanya aku perempuan nggak tahu malu, ninggalin suami demi lelaki lain.”
Suaranya pecah. Ia menunduk, menahan isak.
Jaya segera mendekat, memegang bahunya erat. “Jangan dengerin omongan mereka. Mereka nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Tapi Mas… aku malu. Aku takut Khafi nanti tumbuh besar dan dengar semua omongan itu. Aku takut dia benci aku.”
Jaya menarik napas panjang, lalu menatap mata Rema dengan penuh keyakinan. “Rem, kita nggak bisa kendalikan apa kata orang. Tapi kita bisa buktiin dengan perbuatan. Selama aku ada, aku bakal jagain nama baikmu. Aku bakal pastiin Khafi tumbuh dengan bangga sama ibunya.”
Air mata Rema jatuh, tapi kali ini diiringi senyum tipis. Ia memeluk Jaya erat, seakan mencari perlindungan dalam pelukan itu.
---
Di balik kehangatan itu, Jaya sadar: ini baru awal. Rudi tidak akan berhenti. Ia sudah mulai merusak harta, nama baik, bahkan mungkin akan berusaha memisahkan mereka dengan cara lebih kotor.
Jaya menatap langit malam dari teras. Angin berhembus dingin. Hatinya berbisik lirih:
“Kalau ini peperangan, aku akan lawan sampai titik darah penghabisan. Demi dia. Demi Khafi. Demi cinta ini.”