📖 Bab 8 – Luka yang Membelah
Hujan deras mengguyur Surabaya malam itu. Jalanan becek, suara air beradu dengan aspal, sementara petir sesekali menyambar langit hitam. Jaya menatap keluar jendela bengkel yang sudah lama ditutup. Kepalanya penuh bayangan wajah Rema dan Khafi. Kata-kata ancaman Rudi yang ditemuinya tempo hari masih membekas, menusuk sampai ke tulang.
“Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang.”
Kalimat itu bukan hanya peringatan, tapi juga tantangan.
Jaya menghela napas panjang, lalu duduk di bangku kayu yang mulai lapuk. Tangannya meremas kertas ancaman yang ditemukannya di kos malam itu. Dadanya sesak. Ia ingin percaya bahwa Rema cukup kuat menolak Rudi, tapi kenyataannya? Tatapan Rema selalu bergetar setiap nama itu disebut.
---
Ketukan pintu tiba-tiba memecah lamunan. Jaya bergegas membuka. Ternyata Rema berdiri di sana dengan wajah basah oleh hujan. Rambut panjangnya lepek, matanya merah, tubuhnya gemetar.
“Rema?” Jaya terkejut. Ia langsung menarik wanita itu masuk, memberi handuk.
“Ada apa? Kamu kenapa malam-malam begini ke sini?” tanyanya, penuh cemas.
Rema menggenggam handuk tanpa mengeringkan dirinya. “Mas… aku nggak kuat lagi.” Suaranya parau, nyaris pecah.
Jaya menatapnya lekat-lekat. “Rudi lagi bikin ulah?”
Rema mengangguk, lalu terisak. “Dia datang lagi siang tadi. Dia paksa aku ikut balik sama dia. Kalau aku nolak, dia ancam Khafi. Aku… aku takut, Mas.”
Tanpa sadar, air mata jatuh membasahi pipinya.
Jaya mendekat, menepuk pundaknya pelan. “Ssshh… tenang, Rem. Kamu sama Khafi nggak akan kenapa-kenapa. Ada aku.”
Rema menatap Jaya, mata sendunya penuh rasa bersalah. “Tapi kenapa harus kamu yang terus jadi tameng, Mas? Kenapa aku selalu nyeret kamu ke dalam masalahku?”
Jaya tersenyum pahit. “Karena aku yang pilih jalannya, Rem. Dari awal aku tahu hidupmu nggak gampang. Tapi aku jatuh cinta sama kamu, sama Khafi. Aku nggak pernah nyesel.”
---
Hening sejenak. Hanya suara hujan yang terdengar.
Rema menunduk, lalu berkata lirih, “Mas… kalau aku bilang aku pernah bimbang… aku sempat goyah… apa kamu masih bisa maafin aku?”
Jaya menegang. Hatinya seperti ditusuk. “Maksudmu?”
Rema mengusap air matanya, lalu menatap Jaya dengan getir. “Aku pernah… aku sempat balas pesan Rudi. Aku sempat… kepikiran buat kembali. Bukan karena aku cinta lagi, tapi karena aku takut. Aku takut sama ancamannya. Aku takut Khafi diambil.”
Jaya terdiam. Perasaan bercampur: marah, kecewa, tapi juga iba.
“Rem…” suaranya berat. “Aku nggak akan pura-pura nggak sakit dengernya. Tapi aku ngerti. Kamu perempuan, kamu ibu. Takutmu wajar. Yang penting sekarang kamu jujur.”
Air mata Rema makin deras. Ia berlutut di lantai, suaranya bergetar. “Mas, aku mohon… jangan tinggalin aku. Aku butuh kamu. Aku nggak bisa hadapi ini sendirian.”
Jaya segera meraih tangannya, mengangkatnya berdiri. “Hei, jangan kayak gitu. Aku di sini. Aku nggak akan ninggalin kamu. Selama aku hidup, aku bakal jagain kamu sama Khafi.”
---
Tiba-tiba terdengar suara langkah keras di luar. Jaya refleks menoleh ke pintu. Hujan masih deras, tapi jelas terdengar suara motor berhenti. Lalu… pintu diketuk keras sekali.
Dug! Dug! Dug!
“Rema!” suara Rudi terdengar garang dari balik pintu. “Aku tahu kamu di dalam! Buka pintunya, sekarang!”
Rema menjerit kecil, tubuhnya langsung gemetar. Jaya memeluk bahunya, memberi isyarat agar tenang.
“Diam di sini,” bisiknya.
Ia melangkah ke pintu, membukanya sedikit. Sosok Rudi berdiri di depan, basah kuyup, wajahnya penuh amarah. Matanya menyalak seperti binatang buas.
“Lepasin Rema! Dia milik gue!” teriaknya, mendorong pintu hingga terbuka lebar.
Jaya menahan tubuh Rudi dengan tangan. “Dia bukan barang yang bisa kamu klaim seenaknya. Dia punya hak pilih.”
Rudi mendorong lebih keras. “Lu pikir siapa lu? Hah?! Cuma montir miskin, sok jadi pahlawan. Lu nggak pantas sama dia.”
Jaya mengepalkan rahang. “Miskin atau kaya bukan ukurannya. Yang penting aku nggak pernah ninggalin dia, nggak pernah nyakitin dia. Itu yang nggak bisa lu kasih, Rud.”
Pertengkaran itu semakin panas. Rema berdiri di belakang, menangis ketakutan, sementara Khafi yang terbangun ikut memeluk ibunya erat.
“Kalau lu masih ngeyel,” ancam Rudi, menuding Jaya, “gua pastiin lu nyesel. Lu nggak bakal punya apa-apa lagi.”
Jaya menatapnya tajam, suara rendah tapi tegas. “Silakan. Aku udah kehilangan banyak. Tapi satu hal yang nggak bisa lu rebut: aku nggak pernah berhenti berjuang. Lu bisa hancurin hartaku, tapi nggak bisa hancurin semangatku.”
---
Rudi terdiam sejenak, lalu tertawa dingin. “Kita lihat aja nanti.” Ia berbalik, meninggalkan bengkel dengan deru motor yang meraung menusuk telinga.
Begitu suara itu menjauh, Rema langsung jatuh terduduk, terisak. “Ya Tuhan… aku nggak sanggup lagi, Mas. Aku takut banget.”
Jaya meraih wajahnya, menatap dalam. “Aku janji, Rem. Selama aku ada, nggak ada yang bisa sentuh kamu sama Khafi. Sekalipun itu masa lalumu sendiri.”
Rema menatap Jaya dengan mata bengkak. Ada rasa lega, tapi juga luka mendalam. Dalam hatinya, ia sadar: badai ini baru saja dimulai.
---
Bab ini berakhir dengan Jaya yang masih berdiri tegak, meski hatinya penuh beban. Ia tahu, Rudi bukan sekadar mantan. Ia adalah badai yang bisa menghancurkan segalanya. Namun Jaya juga sadar—dari sinilah perjuangan sebenarnya baru dimulai.