Bab 8 – Luka Lama yang Terkuak
Hujan sudah reda, namun aroma tanah basah masih tercium di udara. Malam itu Rema duduk termenung di ruang tamu kontrakannya. Wajahnya muram, tangannya sibuk memainkan ujung selendang lusuh. Di sampingnya, Khafi sudah terlelap dengan kepala di pangkuannya.
Sementara itu, Jaya duduk di kursi plastik, memandang ibu dan anak itu dengan hati yang campur aduk. Adegan sore tadi—konfrontasi dengan Rudi—terus terputar di kepalanya. Ancaman itu bukan main-main. Rudi bisa kapan saja bertindak lebih kejam.
“Mas Jaya…” suara Rema pelan, memecah keheningan.
Jaya menoleh. “Iya, Mbak?”
Rema menunduk, matanya menatap kosong. “Mas… kenapa sih? Kenapa mau repot-repot jagain aku sama Khafi? Padahal aku ini cuma perempuan gagal. Janda, bekas istri yang penuh luka. Bukannya malah bikin hidup Mas tambah susah?”
Jaya menarik nafas panjang. Ia menatapnya lekat-lekat. “Mbak Rema, jangan pernah bilang gitu lagi. Semua orang punya masa lalu, punya luka. Tapi bukan berarti masa depanmu hancur. Saya di sini bukan karena kasihan, Mbak. Saya di sini… karena saya pengin.”
Kata-kata itu membuat mata Rema berkaca-kaca. Air mata jatuh satu-satu, membasahi pipinya. “Saya takut, Mas. Saya takut semua ini cuma sementara. Rudi orangnya nggak pernah berhenti sampai dapat apa yang dia mau. Saya sudah pernah coba melawan… tapi akhirnya saya balik lagi ke dia. Luka saya nggak pernah hilang.”
Jaya maju, duduk di samping Rema. Tangannya ragu, tapi akhirnya ia mengusap pelan punggung wanita itu. “Kalau Rudi itu luka, biar saya jadi obatnya. Saya nggak janji bisa hapus semua sakit, tapi saya janji nggak akan biarin Mbak hadapi semuanya sendirian lagi.”
Rema terisak, menutup wajah dengan tangan. Suara tangisnya lirih, tapi penuh perasaan yang lama terpendam. Sementara Jaya hanya diam, membiarkan wanita itu meluapkan emosinya.
---
Beberapa hari berikutnya, hidup mereka berjalan dengan lebih hati-hati. Jaya selalu memastikan Rema dan Khafi tidak sendirian. Kadang ia menjemput Khafi sepulang sekolah, atau menemani Rema ke pasar.
Suasana itu membuat mereka semakin dekat. Rema mulai terbiasa tersenyum lagi, Khafi semakin akrab dengan Jaya, bahkan mulai memanggilnya dengan sebutan “Om Pahlawan.”
Namun, di balik semua itu, bayangan Rudi tetap menghantui.
---
Suatu malam, Jaya pulang agak larut dari bengkel. Saat hendak masuk gang menuju kosnya, ia merasakan ada yang mengikutinya. Langkah kaki samar terdengar di belakang. Ia mempercepat langkah, lalu berbelok cepat ke gang kecil.
Saat berbalik, ia melihat dua pria asing berdiri tak jauh. Wajah mereka keras, pakaian lusuh, tatapan penuh niat buruk.
“Sore, Mas Jaya.” salah satu dari mereka menyeringai. “Bos kami nitip salam.”
Jaya menegakkan tubuhnya, jantungnya berdegup kencang. “Bos kalian siapa?” tanyanya dingin, meski ia sudah tahu jawabannya.
“Rudi,” jawab pria itu, senyum sinisnya kian lebar. “Dia bilang, jangan coba-coba deket sama Remanya lagi. Kalau nggak, tangan ini bisa patah. Atau… bisa-bisa kepalamu yang pecah.”
Pria satunya mengayun-ayunkan besi panjang, membuat suara berdenting yang menakutkan.
---
Tanpa banyak bicara, salah satu dari mereka langsung menyerang. Besi itu diayunkan ke arah Jaya. Namun Jaya sigap, menunduk, lalu mendorong pria itu hingga terhantam dinding.
Pria satunya ikut maju, menghantamkan tinjunya. Kali ini pukulan mendarat di pipi Jaya. Rasa perih langsung menyengat, darah mengalir dari sudut bibirnya.
Namun Jaya tak menyerah. Ia membalas dengan pukulan keras ke perut lawannya, membuat pria itu terhuyung mundur.
Perkelahian singkat tapi brutal itu membuat napas mereka terengah. Akhirnya, dua pria itu memilih kabur sambil mengancam. “Lo belum tahu siapa lawan lo, Jaya! Ini baru permulaan!”
---
Dengan tubuh penuh luka, Jaya kembali ke kos. Malam itu ia hanya bisa duduk di ranjang, menatap tangannya yang gemetar. Sakit di tubuhnya tak seberapa dibanding rasa cemas di dadanya.
“Kalau mereka berani nyerang aku, berarti nggak lama lagi mereka bakal nyerang Rema juga,” pikirnya.
---
Keesokan paginya, Jaya menemui Rema. Wajahnya lebam, bibirnya pecah.
Rema terkejut begitu melihat kondisinya. “Ya Tuhan, Mas! Kenapa bisa begini?” serunya panik, tangannya refleks menyentuh luka di pipi Jaya.
Jaya menepis pelan, tersenyum tipis meski sakit. “Nggak apa-apa, Mbak. Cuma sedikit masalah di jalan.”
“Mas jangan bohong! Ini pasti ulah Rudi, kan?” suara Rema meninggi, air matanya hampir jatuh lagi.
Jaya menghela napas. “Iya, Mbak. Dia ngirimin orang buat ngancam. Tapi tenang, saya bisa hadapi mereka.”
Rema menggeleng cepat. “Nggak! Mas Jaya nggak boleh terus-terusan kayak gini. Kalau Rudi makin gila, gimana? Dia bisa nyakitin Mas, bisa nyakitin Khafi, bisa nyakitin aku. Saya nggak mau semua ini jadi lebih parah.”
Suara Rema pecah, tubuhnya bergetar. Jaya hanya bisa menatapnya, hatinya berat. Ia ingin berkata bahwa semua akan baik-baik saja, tapi hatinya tahu: badai ini baru dimulai.
---
Di saat itu juga, Khafi keluar dari kamar, mengucek matanya. “Om… Ibu… kenapa ribut?” tanyanya polos.
Rema buru-buru menghapus air matanya, lalu tersenyum palsu. “Nggak apa-apa, Nak. Ibu cuma… lagi ngobrol sama Om Jaya.”
Tapi bocah itu menatap Jaya, lalu melihat luka di wajahnya. Matanya melebar. “Om… siapa yang nyakitin Om? Om jangan bohong.”
Jaya berjongkok, menatap anak itu dengan lembut. “Om cuma jatuh, Khafi. Nggak usah khawatir, Om masih kuat kok.”
Khafi mendengus, lalu memeluk Jaya erat-erat. “Om jangan pergi, ya. Om harus jagain Ibu sama aku.”
Jaya membalas pelukan itu, hatinya serasa diremas. “Om janji, Khafi. Om nggak akan ninggalin kalian.”
Rema menatap pemandangan itu dengan hati campur aduk. Di satu sisi, ia takut ancaman Rudi semakin nyata. Di sisi lain, ia merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan—rasa aman yang hanya muncul ketika Jaya ada di dekatnya.
---
Namun jauh di tempat lain, Rudi duduk di sebuah kafe murahan bersama dua anak buahnya. Tangannya mengetuk meja, wajahnya masam.
“Kalian kalah sama bocah kampung itu?” bentaknya.
“Dia kuat, Bos,” salah satu anak buahnya menjawab dengan takut-takut. “Nggak kayak orang biasa.”
Rudi menghela nafas panjang, lalu tersenyum miring. “Baiklah. Kalau Jaya mau main keras, gue juga bisa lebih keras. Nggak perlu buru-buru. Gue tahu titik lemahnya. Rema sama anaknya. Kita lihat berapa lama dia bisa bertahan kalau yang gue incar adalah orang-orang yang dia sayang.”
Tawa dingin terdengar dari mulutnya, menggema di ruangan itu.