Bab 7 – Bayangan di Malam Suram
Hujan turun deras malam itu. Jalanan Jakarta basah, lampu jalan berkilau karena pantulan genangan air. Suara gemericik hujan berpadu dengan hiruk pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Jaya melangkah keluar dari rumah kontrakan Rema. Tubuhnya masih tegang, pikirannya berkecamuk. Kertas ancaman yang diremasnya kini hancur di saku celana. Ia mendongak ke langit, hujan membasahi wajahnya, namun ia tak peduli.
“Kalau memang kau ingin perang, Rudi… aku tidak akan mundur,” gumamnya, giginya terkatup rapat menahan emosi.
---
Keesokan paginya, Jaya berangkat ke bengkel lebih awal dari biasanya. Pandangannya terus berputar, mencari tanda-tanda orang asing yang mungkin mengikutinya. Tapi jalanan sepi, hanya pedagang sayur dan tukang ojek yang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Sesampainya di bengkel, Jaya mencoba bekerja seperti biasa. Tapi tangannya berulang kali gemetar. Pikiran tentang ancaman itu terus menghantui. Sesekali ia melihat pintu, berharap Rema dan Khafi akan datang membawa bekal, seperti kemarin.
Dan benar, tak lama kemudian, suara ceria itu terdengar lagi.
“Om Jaya!”
Khafi berlari kecil ke arahnya, wajahnya berseri meski hujan semalam membuat udara dingin menusuk. Di belakang, Rema berjalan pelan, mengenakan cardigan sederhana. Rambutnya diikat ekor kuda, memperlihatkan leher jenjang yang membuat Jaya menelan ludah tanpa sadar.
“Aduh, pahlawan kecilku datang lagi,” sapa Jaya sambil mengangkat Khafi, memutarnya pelan hingga bocah itu tertawa.
“Om, hati-hati! Aku bisa pusing!” protes Khafi di sela tawanya, membuat Rema ikut tertawa kecil.
Rema menyerahkan bekal, kali ini berisi sayur bayam dan tempe goreng. “Mas Jaya, jangan sampai lupa makan. Kerja keras boleh, tapi kesehatan nomor satu.” katanya dengan senyum lembut, matanya menatap dalam penuh perhatian.
Hati Jaya bergetar. Dalam sekejap, semua rasa takut tadi seakan menguap.
Namun, kebahagiaan sederhana itu mendadak sirna.
---
“Wih, pemandangan yang menarik.”
Suara berat dan sinis tiba-tiba terdengar. Dari arah seberang jalan, seorang pria berjaket kulit hitam berjalan mendekat. Wajahnya keras, rahang tegas, tatapan matanya tajam penuh amarah. Rokok menyala di jari, asap mengepul saat ia menghembuskannya dengan arogan.
Rudi.
Langkahnya tenang, tapi aura mengintimidasi terpancar jelas. Orang-orang sekitar yang melihat langsung menyingkir, tahu bahwa masalah besar akan terjadi.
Rema sontak pucat. Tangannya refleks menggenggam lengan Khafi. “Rudi…” bisiknya lirih, tubuhnya bergetar.
Jaya berdiri tegak, menatap tajam pria itu. “Kau akhirnya muncul juga.”
Rudi mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah. Senyum miring tersungging di wajahnya. “Jaya, Jaya… bocah Surabaya yang sok jadi pahlawan. Kau pikir kau siapa berani campuri urusan rumah tangga gue?”
“Urusan rumah tangga?” timpal Jaya dingin. “Mbak Rema sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama kamu. Yang ada hanya kamu… lelaki pengecut yang tega mukulin perempuan.”
Mata Rudi menyipit. “Jaga mulutmu, bocah!” bentaknya, tangannya hampir terangkat ingin memukul.
Rema buru-buru berdiri di antara mereka. “Sudah cukup, Rudi! Jangan buat keributan di depan anak.” suaranya bergetar, namun tegas.
Khafi menangis, memeluk erat ibunya. “Ibu… aku takut…”
Jaya meraih bahu bocah itu, lalu menunduk menatap matanya. “Khafi, tenang. Ada Om di sini. Kamu nggak perlu takut.”
Perkataan itu membuat Rudi semakin murka. Ia meludah ke tanah, lalu menatap Jaya dengan tatapan penuh kebencian. “Kau pikir kau bisa gantiin gue sebagai ayahnya, hah? Jangan mimpi! Rema itu tetap milik gue. Khafi itu anak gue. Dan kau… hanyalah pengganggu yang akan gue hancurkan!”
---
Suasana menegang. Para tetangga mulai mengintip dari balik pintu. Beberapa berbisik-bisik, khawatir pertengkaran itu akan berubah jadi perkelahian besar.
Namun Jaya tetap tenang, meski dadanya membara. “Dengar baik-baik, Rudi. Rema bukan milik siapa-siapa. Dia manusia, bukan barang. Kalau dia memilih pergi darimu, itu karena kau nggak pernah pantas untuk dia.”
Kalimat itu membuat wajah Rudi memerah, tangannya mengepal. Ia melangkah maju, nyaris menghantam Jaya dengan tinjunya.
Tapi Jaya lebih sigap. Tangannya menahan pukulan itu, menggenggam pergelangan Rudi dengan kuat. Sorot matanya tajam, suara Jaya bergetar menahan amarah. “Kalau kau sentuh lagi Rema atau Khafi, aku nggak akan diam.”
Rudi terhenyak. Meski badannya besar, genggaman Jaya terasa kuat. Ia melepaskan diri dengan kasar, lalu mundur selangkah.
“Baiklah,” katanya dengan nada sinis. “Kau mau main keras? Kita lihat siapa yang lebih kuat. Gue nggak akan berhenti sampai kau nyerah.”
Ia lalu menoleh pada Rema, tatapannya dingin menusuk. “Dan kau, Rema… jangan pikir bisa kabur dari gue. Gue tahu cara bikin lo balik.”
Dengan itu, Rudi pergi, meninggalkan suasana penuh ketegangan.
---
Rema jatuh terduduk di kursi kayu depan bengkel. Nafasnya terengah, wajahnya pucat pasi. Air mata menetes tanpa bisa ditahan.
“Mas Jaya… aku takut. Rudi nggak akan berhenti. Dia selalu begitu. Dulu… aku pernah coba lari, tapi selalu ketahuan. Aku nggak mau Khafi hidup dalam ketakutan lagi.” suaranya lirih, patah-patah di sela tangisnya.
Jaya jongkok di hadapannya, menatap mata itu dengan penuh ketegasan. “Mbak, selama saya masih bernapas, saya nggak akan biarin dia nyakitin kamu lagi. Percaya sama saya.”
Rema menatap Jaya, air mata mengalir deras. Ada rasa takut, tapi juga muncul secercah harapan. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang benar-benar ingin melindunginya tanpa pamrih.
Khafi, masih dalam pelukan ibunya, memandang Jaya dengan mata basah. “Om… jangan pergi ya. Om harus jaga Ibu.”
Jaya tersenyum tipis, meski dadanya berat. Ia mengusap kepala bocah itu. “Om janji, Khafi. Om nggak akan pergi.”
---
Namun jauh di sebuah sudut jalan, Rudi berdiri merokok lagi, menatap mereka dari kejauhan. Matanya menyala penuh dendam. Bibirnya menyunggingkan senyum kejam.
“Baiklah, Jaya… lo mau main api? Kita lihat siapa yang kebakar duluan.”
Asap rokok membubung ke udara, seolah menjadi pertanda bahwa badai besar baru saja dimulai.
---