Bab 6 – Ancaman di Balik Bayangan
Langit Jakarta pagi itu masih diselimuti kabut tipis. Jalanan mulai ramai, suara klakson bersahut-sahutan, seperti melambangkan betapa kerasnya kehidupan di kota ini. Namun bagi Jaya, setiap hari tetap harus dijalani. Seberat apapun, ia tak boleh menyerah.
Sejak pindah dari Surabaya, Jaya bekerja di sebuah bengkel kecil. Baju kerja belepotan oli, tangan penuh luka, tapi ia menjalaninya dengan sabar. Kadang, saat matahari menyengat, ia duduk di kursi kayu reyot di depan bengkel, meneguk air putih seadanya.
Hari itu, ketika sedang menekuk baut motor tua, suara riang menyapanya.
“Om Jaya!”
Jaya menoleh, matanya langsung berbinar. Khafi berlari kecil sambil menenteng plastik berisi bekal. Nafas bocah itu terengah, tapi wajahnya berseri-seri. Di belakang, Rema berjalan pelan, membawa termos kecil berisi teh hangat.
“Aduh, siapa ini yang rajin banget nganterin makan?” sapa Jaya dengan senyum hangat, mengelap tangannya dengan kain lap kotor.
“Khafi, Om!” jawab bocah itu dengan bangga. “Ibu masak telur balado sama sayur asem. Katanya Om harus makan biar kuat.”
Rema tiba tak lama setelahnya, rambutnya diikat sederhana, wajahnya lembut meski ada garis lelah di bawah mata. Ia menatap Jaya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Mas Jaya, jangan kerja terlalu keras. Istirahat juga penting.”
Jaya menerima bekal itu dengan hati yang hangat. “Makasih ya, Mbak… dan makasih juga, jagoan kecilku,” timpalnya sambil mengacak rambut Khafi.
Mereka lalu duduk bertiga di bawah pohon depan bengkel. Bekal sederhana terasa luar biasa nikmat ketika dimakan bersama. Sesekali Khafi bercerita tentang sekolahnya, membuat Jaya dan Rema tertawa.
Sekilas, mereka benar-benar seperti keluarga. Kehangatan itu membungkus hari yang keras dengan lapisan kebahagiaan sederhana.
---
Namun, tak jauh dari sana, ada tatapan lain yang penuh amarah. Rudi berdiri di seberang jalan, rokok terselip di jari tangannya. Wajahnya keras, rahangnya mengeras setiap kali melihat tawa Rema dan Jaya.
“Kurang ajar… berani sekali kau, Jaya. Nggak cukup merebut senyumnya, sekarang juga anakku dekat sama kau?” desisnya lirih, penuh bara.
Ia menginjak puntung rokoknya, lalu pergi dengan langkah berat. Kepalanya dipenuhi rencana gelap.
---
Malam itu, Jaya pulang ke kos dengan tubuh lelah. Tapi ketika sampai, langkahnya terhenti. Pintu kamarnya setengah terbuka. Hatinya langsung berdebar, pikirannya penuh waspada.
Perlahan ia mendorong pintu. Lampu kamar masih menyala redup. Meja kayu kecil berantakan, buku catatan terlempar ke lantai. Dan di sana, tepat di atas bantalnya, ada selembar kertas kusut.
Tulisan tangannya kasar, penuh goresan emosi:
> “Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang. Sekali lagi dekat-dekat Rema, nyawamu taruhannya.”
Jaya berdiri kaku. Tubuhnya panas dingin, tapi matanya menajam. Kertas itu diremasnya hingga hancur di tangannya. “Rudi…” gumamnya lirih, penuh amarah yang ditahan.
---
Tanpa pikir panjang, Jaya langsung melangkah ke rumah kontrakan Rema. Nafasnya terengah, keringat membasahi kening meski malam cukup dingin. Ia mengetuk pintu keras-keras.
Rema terkejut melihatnya. “Mas Jaya? Ada apa? Kenapa wajahnya tegang begitu?”
Jaya masuk, menutup pintu di belakangnya. Suaranya berat, matanya menatap lurus. “Rudi sudah mulai bergerak, Mbak. Dia masuk kos saya. Ninggalin ancaman.”
Rema sontak pucat, tubuhnya bergetar. “Ya Tuhan… dia ternyata masih mengawasi kita.”
Khafi yang mendengar, segera berlari memeluk ibunya. “Ibu… aku takut.”
Rema memeluk erat anaknya, mencoba menenangkan, meski wajahnya sendiri dipenuhi rasa panik. “Tenang, Nak… Ibu ada di sini.”
Jaya mendekat, lalu jongkok di depan Khafi. Suaranya pelan, namun tegas. “Khafi, Om janji, nggak ada yang bisa nyakitin kamu sama Ibu. Om di sini buat jaga kalian.”
Bocah itu menatap Jaya dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk kecil.
Rema yang melihat pemandangan itu tak kuasa menahan air mata. Ada rasa bersalah, ada juga rasa haru. Ia tak pernah menyangka ada orang yang mau sekuat itu berdiri di sisinya.
“Mas Jaya…” suaranya bergetar, “saya nggak tahu harus bilang apa. Saya takut… tapi juga merasa tenang kalau Mas ada.”
Jaya menatapnya dalam-dalam. Ada api keyakinan yang menyala di matanya. “Saya nggak akan biarin siapapun menyakiti kamu lagi, Mbak. Termasuk Rudi.”
---
Namun, di luar rumah kontrakan itu, sosok Rudi berdiri dalam gelap, memperhatikan bayangan mereka lewat jendela. Rokok menyala merah di jarinya, asapnya membubung ke udara.
Tatapannya tajam, senyum sinis menyungging di wajahnya. “Baiklah, Jaya. Kalau kau ingin perang… akan ku kasih perang.”