Bab 5 – Rahasia yang Terkubur
Malam itu, Jakarta diguyur hujan deras. Air menetes dari atap kamar kos Jaya, membasahi sebagian lantai. Ia duduk bersandar di dinding, menatap kosong. Pikirannya terus melayang pada kejadian sore tadi—tatapan penuh air mata Rema, ketakutan yang tak pernah bisa ia sembunyikan, dan suara kasar Rudi yang masih terngiang di telinga.
“Kenapa hidupnya begitu hancur?” gumam Jaya lirih. “Perempuan secantik itu… nggak pantas disiksa batinnya.”
---
Keesokan harinya, Jaya sengaja mampir ke warung kecil dekat rumah Rema. Ia duduk di pojok, menikmati kopi hitam panas. Dari sana, ia bisa melihat pintu rumah itu.
Tak lama kemudian, Rema keluar dengan langkah pelan, membawa tas belanja kain. Wajahnya pucat, seakan kurang tidur. Rambutnya hanya diikat sederhana, tapi tetap membuatnya tampak anggun.
Jaya berdiri, menghampiri. “Mau ke pasar, Mbak?” tanyanya sambil tersenyum menenangkan.
Rema terkejut kecil, lalu mengangguk. “Iya, Mas. Mau beli sayuran.”
“Aku ikut, ya. Biar bisa bantu bawain belanjaan,” ucap Jaya ringan, tapi matanya penuh ketulusan.
Rema menatapnya sebentar, ragu. Namun akhirnya ia mengangguk pelan. “Kalau Mas nggak keberatan…”
---
Pasar siang itu ramai, suara pedagang bersahut-sahutan. Jaya berjalan di sisi Rema, sesekali menggendong Khafi yang merengek capek. Orang-orang sempat menoleh, melihat mereka bertiga seperti keluarga kecil yang harmonis.
Di tengah keramaian, Khafi berteriak riang, “Ibu, aku mau ikan lele buat mancing sama Om Jaya!”
Rema tersenyum tipis, meski matanya basah. “Iya, Nak. Kita beli, ya.”
Jaya terkekeh, lalu menepuk bahu Khafi. “Pinter! Lele enak kalau digoreng garing.”
Pemandangan itu sederhana, tapi hangat. Hati Rema bergetar—sudah lama ia tidak merasakan kebersamaan seperti ini.
Namun, di balik senyum samar itu, ia menyembunyikan rahasia besar. Rahasia yang membuatnya tidak pernah bisa benar-benar bahagia.
---
Setelah selesai belanja, mereka duduk sebentar di bangku kayu dekat pasar. Angin sore berhembus lembut.
“Mas Jaya…” suara Rema lirih, hampir tenggelam dalam hiruk pikuk pasar.
“Ya, Mbak?” Jaya menatapnya dengan penuh perhatian.
Rema menggigit bibirnya, menunduk. “Ada sesuatu yang… belum pernah saya ceritakan pada siapa pun. Tentang Rudi… tentang pernikahan saya dulu.”
Jaya terdiam, memberi ruang.
Rema menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. “Saya menikah muda dengan Rudi. Awalnya saya pikir dia pria baik. Tapi setelah menikah, sifat aslinya keluar. Pemabuk, suka berjudi, sering pulang bawa masalah. Saya bertahan karena Khafi. Tapi makin lama, rasa takut itu lebih besar dari segalanya.”
Suara Rema pecah, tangannya gemetar. “Saya pernah dipukul, Mas… di depan Khafi. Pernah juga dikunci di rumah berhari-hari. Sampai akhirnya saya nekat kabur.”
Jaya mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. “Astaghfirullah…” bisiknya pelan, matanya berkaca-kaca menahan marah.
“Dan sekarang dia kembali. Saya takut, Mas. Takut kalau semua akan terulang lagi,” lanjut Rema, air matanya jatuh deras.
Jaya menatapnya dalam-dalam. Tanpa sadar, ia meraih tangan Rema, menggenggamnya erat. “Mbak, selama saya masih ada… saya nggak akan biarkan itu terjadi lagi.”
Rema menoleh, matanya bertemu dengan tatapan Jaya. Di sana ada kehangatan, ada janji yang terasa nyata. Untuk sesaat, dunia seakan berhenti.
Khafi yang duduk di pangkuan Jaya tiba-tiba berkata polos, “Om Jaya, jangan biarin Ibu nangis lagi, ya.”
Jaya tersenyum tipis, lalu mengusap kepala bocah itu. “Om janji, Khafi.”
---
Namun jauh di sudut pasar, seseorang sedang memperhatikan mereka. Mata tajam Rudi menyorot dengan penuh kebencian. Ia mengepalkan tangan, wajahnya penuh dendam.
“Berani sekali kau, Jaya. Kau akan lihat apa akibatnya mengganggu hidupku,” gumamnya dengan senyum sinis.
> Tanpa mereka sadari, badai besar sudah menunggu di depan.
Dan cinta yang mulai tumbuh di antara Jaya dan Rema… akan diuji dengan pengkhianatan yang lebih kejam dari sekadar luka masa lalu.