Bab 4 – Retakan yang Semakin Dalam
Hari itu, Jakarta diselimuti mendung. Jaya baru selesai mengantarkan barang dagangan untuk bos kecilnya. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru melayang ke Surabaya—kampung halaman yang selalu memberi rasa rindu.
Namun, ada sesuatu yang lebih kuat dari rindu itu. Bayangan wajah Rema. Senyum tipisnya, mata indahnya yang selalu tampak menyimpan kesedihan, dan suara lembutnya yang entah kenapa terasa begitu dekat di hati.
Kenapa aku merasa harus melindunginya? Padahal aku bahkan baru mengenalnya beberapa hari… batin Jaya sambil menatap langit abu-abu.
---
Sore menjelang, Jaya sengaja kembali melewati gang kecil itu. Hatinya seperti ditarik untuk melihat Rema dan Khafi lagi.
Di depan rumah sederhana itu, Jaya melihat Rema sedang menjemur pakaian. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, wajahnya tanpa make-up tapi tetap cantik. Namun sorot matanya kosong, seolah pikirannya jauh entah kemana.
Jaya mendekat perlahan. “Assalamualaikum,” sapanya lembut, mencoba tidak mengejutkan.
Rema tersentak kecil, lalu tersenyum samar. “Waalaikumsalam, Mas Jaya. Tumben ke sini lagi?” tanyanya, suaranya tenang tapi terdengar lelah.
Jaya menatapnya dalam. “Kalau boleh jujur, Mbak… saya cuma ingin memastikan Mbak Rema dan Khafi baik-baik saja.”
Rema menunduk, bibirnya bergetar. Ia menaruh pakaian terakhir ke jemuran, lalu berkata pelan, “Kamu terlalu baik, Mas. Sementara saya… saya bahkan nggak tahu harus bersikap bagaimana.”
Jaya terdiam, mencoba membaca isi hati perempuan di depannya.
Tiba-tiba, Khafi berlari keluar sambil membawa buku gambar. “Om Jaya! Lihat, aku gambar Om sama Ibu!” teriaknya riang.
Jaya tertawa kecil, lalu jongkok untuk melihat. Di kertas itu, ada gambar sederhana: tiga orang berdiri berpegangan tangan. Jaya di satu sisi, Rema di sisi lain, dan Khafi di tengah.
Rema menatap gambar itu dengan mata berkaca-kaca. Tangannya refleks menyentuh kepala Khafi. “Nak… kenapa kamu gambar begini?” tanyanya dengan suara bergetar.
Khafi tersenyum polos. “Soalnya aku mau Om Jaya jadi keluarga kita.”
Hening seketika. Rema menutup mulutnya, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Jaya ikut terdiam, dadanya sesak mendengar kata-kata polos itu.
“Khafi…” suara Rema parau, “…jangan bicara begitu.”
Anak itu mengerutkan dahi, bingung. “Kenapa? Kan Om Jaya baik sama Ibu.”
Rema langsung memeluk anaknya erat, menangis di bahunya. Jaya berdiri kaku, tangannya mengepal kuat. Ia ingin menenangkan, tapi takut melangkahi batas.
---
Tak lama, suara langkah berat terdengar dari arah gang. Rudi muncul, wajahnya masam, tatapannya tajam seperti singa lapar.
“Jadi benar,” desisnya. “Kau sudah main gila dengan lelaki lain, Rema?”
Rema spontan berdiri, wajahnya panik. “Bukan begitu, Rudi… dia cuma—”
“Diam!” bentak Rudi, suaranya membuat Khafi kembali ketakutan dan bersembunyi di belakang ibunya.
Jaya melangkah maju, berdiri di antara mereka. “Cukup, Pak. Jangan bentak perempuan di depan anaknya,” ucapnya tegas dengan sorot mata tajam.
Rudi mendengus. “Dan kau pikir siapa dirimu? Hanya tukang ojek miskin yang sok jadi pahlawan!”
Jaya menahan amarahnya, rahangnya mengeras. “Saya mungkin miskin, tapi saya masih tahu caranya menghargai perempuan. Sesuatu yang jelas tidak Anda lakukan.”
Rudi terperangah, lalu tertawa sinis. “Kau berani melawan aku? Lihat saja nanti, Jaya. Kau akan menyesal mengenal perempuan ini!”
Ia pun pergi dengan langkah kasar, meninggalkan aroma ancaman yang membuat udara semakin berat.
---
Rema jatuh terduduk di tangga rumah, tubuhnya bergetar. Air matanya mengalir deras. “Mas Jaya… kenapa kamu harus ikut campur? Sekarang dia pasti makin marah.”
Jaya berjongkok di depannya, menatapnya dengan lembut. “Saya nggak bisa diam, Mbak. Saya nggak tega lihat Mbak diperlakukan seperti itu.”
Rema menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Mas nggak tahu siapa Rudi sebenarnya. Dia bisa lakukan apa saja kalau marah. Saya takut…”
Jaya menatapnya dalam-dalam, lalu berkata pelan tapi penuh keyakinan. “Kalau Mbak butuh tempat bersandar, saya ada di sini. Saya mungkin bukan siapa-siapa, tapi saya janji nggak akan pernah ninggalin.”
Rema terdiam, bahunya bergetar menahan tangis. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa ada seseorang yang benar-benar ingin melindunginya—bukan untuk mengambil, bukan untuk menyakiti, tapi untuk mendampingi.
> Malam itu, benih cinta yang terlarang mulai tumbuh di antara luka dan ketakutan.
Namun, bayangan Rudi selalu mengintai, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan segalanya.