“Rasanya pingin banget minta tambahan cuti ke Pak Mario kalau kayak gini.” Kata Farhan manja sambil memeluk Erina dari belakang. Kepalanya disandarkan di bahu sang istri sambil sesekali menciumi lehernya yang terbuka.
“Ya mintalah, Mas. Kalau melihat kedekatan kalian aku rasa beliau akan dengan mudah memenuhi permintaanmu.” Kata Erina dengan tangan yang berada di atas tangan suaminya.
“Iya sih, Cin. Tapi justru karena itu aku jadi ngga enak kalau sering minta sesuatu sama Pak Mario. Selama ini beliau banyak banget kasih bonus buatku. Beliau juga mudah banget bantuin aku waktu dulu ayah sama mama ada masalah keuangan.” Kata Farhan.
“Ya udah kalau gitu sebaiknya kamu segera berangkat. Kalau kayak gini terus selain kamu bisa terlambat, baju kamu juga bisa jadi kusut lagi, Mas.” Kata Erina.
Farhan menghela nafas berat. “Kamu bener, Cin. Cepet banget habisnya waktu cuti satu minggu ini. Tahu gini aku terima aja tawaran Pak Mario dulu yang mau kasih tiket bulan madu buat kita.”
“Apa, Mas? Kamu pernah ditawari tiket bulan madu?” Tanya Erina. Farhan mengangguk lemah. “Tapi kamu tolak?” Farhan mengangguk lagi.
“Yah mungkin memang bukan rezeki kita, Mas.” Kata Erina meskipun ada kekecewaan terlihat di wajahnya. Dia maklum kenapa Farhan sampai menolaknya. “Ya udah yuk aku antar ke depan. Kamu ngga mau dong di hari pertama kamu masuk setelah cuti malah terlambat. Pasti udah numpuk banget pekerjaan kamu di kantor.”
“Iya, Cin, kamu bener juga. Pasti udah banyak pekerjaan menumpuk selama aku cuti. Aku yakin Pak Mario tidak sanggup menyelesaikannya sendiri. Beliau juga termasuk orang yang tidak mudah percaya, jadi beliau tidak mudah melimpahkan pekerjaan ke orang lain.” Kata Farhan sambil berjalan ke pintu apartemennya bersisian dengan Erina.
“Bersyukurlah kalau kamu bisa menjadi orang kepercayaan atasan kamu, Mas. Semoga kamu juga bisa selalu amanah.” Kata Erina sambil membawakan tas milik Farhan di tangan kanan karena tangan kirinya sudah digandeng oleh suaminya.
“Aamiin. Makasih doanya ya, Cin.” Kata Farhan kemudian mencium tangan Erina yang berada dalam genggamannya.
“Sama-sama, Mas. Nanti kamu pulang jam berapa? Mau dimasakin apa buat makan malam?” Tanya Erina.
“Jam kantor sih sampai jam lima sore, Cin. Tapi kalau masih banyak pekerjaan bisa lebih malam lagi. Kalau soal makanan, aku nggak rewel kok, Cin. Apa aja yang kamu masak, pasti aku makan.” Jawab Farhan.
“Yah, baiklah. Nanti kalau memang harus lembur kamu kasih tahu ya.” Pinta Erina.
“Iya, Cinta. Ya udah, aku berangkat dulu ya. Kamu baik-baik di rumah. Kalau perlu apa-apa langsung hubungi aku ya.”
“Iya, Mas, jangan khawatir. O iya, aku sekalian minta ijin juga ya. Aku minta izin untuk keluar sewaktu-waktu kalau ada kebutuhan yang harus aku beli atau keperluan yang perlu aku urusi.” Kata Erina.
“Kamu nanti mau pergi?” Tanya Farhan.
“Ngga nanti juga sih. Pokoknya sewaktu-waktu, Mas, kalau aku butuh belanja atau ke tempat lain aku ngga perlu minta izin lagi.”
“Ya udah, selama kamu pergi ke tempat yang bener, aku izinkan.” Kata Farhan dengan mata tajam mendekatkan kepala ke arah Erina.
“Iya, Mas. Insya Allah aku akan selalu berusaha untuk menjaga kepercayaan dan kehormatan kamu baik di dalam maupun di luar rumah.” Kata Erina.
“Oke. Ya udah aku berangkat.” Kata Farhan mengulurkan tangan untuk dicium oleh sang istri.
Erina menyambut uluran tangan Farhan dan melakukan apa yang suaminya itu inginkan. Setelahnya Farhan mencium pipi kanan kiri, kening dan terakhir bibir Erina. Di bagian terakhir inilah Farhan melakukannya dengan sangat lama seakan dia enggan untuk melepasnya.
“Udah ah, Mas. Nanti kamu telat.” Kata Erina yang akhirnya berhasil mendorong dadaa Farhan hingga ciuman mereka terlepas.
Setelah Farhan benar-benar pergi, Erina memandang ke sekeliling ruangan apartemen suaminya itu. Dia menggelengkan kepala melihat betapa berantakannya tempat itu. Selama satu minggu ini Farhan selalu melarangnya terlalu lama bersih-bersih. Alasannya karena dia ingin banyak menghabiskan waktu bersama dengannya sebelum masuk kerja lagi. Alhasil, Erina hanya membersihkan bagian dapur saja. Itupun hanya mencuci peralatan yang digunakan untuk memasak dan makan karena jika tidak segera dibersihkan akan menimbulkan aroma tidak sedap.
Pukul tiga sore, Erina baru benar-benar selesai membersihkan apartemen. Dia menjatuhkan diri di sofa depan televisi untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Capek juga walaupun cuma bersih-bersih kayak gini aja." Kata Erina. Sambil bersandar dan kaki berselonjor dia berharap bisa melepas lelah sejenak sebelum menuju ke dapur untuk memasak makan malam. Saat mulai santai, pikirannya mulai melayang ke pertemuan pertamanya dengan Farhan hingga hari ini. Beberapa kali dia tersenyum sendiri mengingat seperti apa hubungan mereka. Jika dihitung lagi pertemuan mereka masih bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki, akan tetapi dia bisa merasakan perasaan yang mereka miliki sudah sama-sama dalam untuk satu sama lain. Mungkin ini yang namanya waktu berkualitas, pikir Erina.
"Astagfirullah!! " Erina terkejut karena baru terbangun pukul lima sore. Sepertinya dia tadi terlalu lelah hingga tidak sadar sudah tertidur.
“Waduh, Mas Farhan pasti udah mau perjalanan pulang ini.” Kata Erina panik. Dengan segera dia menuju ke dapur untuk mulai memasak. Merasa dikejar waktu, Erina melakukan semuanya dengan tergesa. Berkali-kali dia melihat ke jam dinding berharap waktu berhenti sejenak hingga dia selesai masak. Akan tetapi semakin sering dia lihat waktu terasa semakin cepat juga berlalu.
“Alhamdulillah. Akhirnya selesai juga semuanya.” Kata Erina menghela nafas lega karena semua masakannya sudah tersaji rapi di meja. Secangkir teh panas juga sudah dia siapkan karena waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Menurut perkiraannya, sang suami mungkin akan datang sebentar lagi.
Hingga pukul delapan malam Farhan belum juga pulang. Erina yang sejak tadi menunggu dengan penampilan rumahan yang rapi dan wangi pun mulai bosan hingga curiga dengan keberadaan suaminya. Apalagi sejak tadi pesan yang dia kirimkan tidak dibaca sama sekali. Erina mulai berpikir sesuatu yang membuat hatinya tidak nyaman.
“Apa mungkin, Mas Farhan punya rumah lain untuk pulang? Apa sebenarnya dia sudah punya wanita yang mendampinginya sebelum aku? Atau mungkin…’ Erina menggelengkan kepala keras untuk mengusir pikiran buruknya terhadap Farhan. Dia mencoba mengingat kembali sikap Farhan kepadanya selama ini. Dia berusaha memikirkan hal-hal logis yang sudah terjadi untuk meyakinkan dirinya jika Farhan adalah suami yang setia. Akan tetapi sebagai wanita ternyata tidak mudah untuk mengutamakan pikiran dibandingkan perasaan.
Pintu apartemen Farhan terbuka saat Erina masih duduk di sofa ruang tamu untuk meredam emosinya. Namun, pandangan matanya kepada Farhan ternyata tidak mampu menyembunyikan apa yang dia rasakan.
“Emmm, Cin. Kamu ngapain duduk di sini sendirian.” Kata Farhan dengan suara lirih. Perlahan dia mendekat dan mengambil duduk di samping Erina. Istrinya itu masih tetap bersedekap dan memandang tajam sejak Farhan baru masuk hingga sekarang sudah duduk di sampingnya.
“Memangnya ada orang lain yang bisa aku ajak duduk di sini?” Tanya Erina dengan emosi tertahan.
“Oh iya ya.” Kata Farhan salah tingkah.
“Kamu dari mana?” Tanya Erina lagi.
“Ya kerja lah, Cin. Kan tadi pagi aku udah pamitan sama kamu.” Jawab Farhan.
“Tadi pagi kamu bilang jam kantor sampai jam berapa?”
“Jam lima, Cin.” Jawab Farhan semakin lirih. “Tapi kan tadi aku juga bilang itu kalau nggak ada lembur. Ini tadi aku terpaksa lembur karena menyelesaikan banyak pekerjaan yang lebih dari satu minggu ini aku tinggalkan.”
“Aku kan tadi juga sudah minta sama kamu untuk menghubungi kalau memang lembur, Mas. Tapi kamu bukannya kasih kabar, malah pesanku juga nggak kamu baca.”
“Iya, Cin. Maaf aku lupa kasih kabar sama kamu. Memangnya kamu tadi kirim pesan jam berapa, kok aku ngga tau?”
“Kamu lupa ngga kasih kabar apa lupa kalau udah punya istri?”
“Lupa kasih kabar, Cin. Masa iya aku lupa kalau udah punya istri.”
“Atau jangan-jangan kamu pulang ke rumah yang lain lagi.”
“Ya nggak lah, Cin. Kita kan udah membuka dan menceritakan tentang diri kita masing-masing. Kamu juga udah aku tunjukkan isi ponselku kenapa kamu masih ada pikiran kayak gitu?”
“Siapa tahu memang ada yang kamu sembunyikan. Dan kamu pakai alasan lembur buat menemui yang lain.”
“Berani sumpah kalau aku ngga ada wanita lain selain kamu, Cin. Aku beneran pulang telat karena lembur. Pak Mario memintaku menyelesaikan pekerjaan yang sengaja ditunda karena aku cuti. Kalau kamu nggak percaya, sekarang aku telepon ke Pak Mario ya.” Kata Farhan akhirnya. Hanya itu cara yang sekarang terpikirkan olehnya untuk meyakinkan Erina. Istrinya itu hanya diam menunggu kesungguhan Farhan untuk memberikan bukti kepadanya.
Farhan beruntung karena dalam hitungan menit Mario sudah mengangkat teleponnya. Dari pembicaraan mereka pun Erina bisa menangkap jika Farhan benar-benar baru pulang dari kantor.
“Kamu udah percaya kan, Cin?” Tanya Farhan setelah sambungan teleponnya dengan Mario terputus.
“Oke, kali ini aku percaya sama kamu, Mas.” Kata Erina.
“Kenapa cuma kali ini, Cin. Selamanya dong.” Kata Farhan. “Aku kan udah bilang kalau apa yang aku katakan selama ini jujur.” Kata Farhan.
Erina terdiam sejenak. “Iya insya Allah. Ya udah. Aku minta maaf karena sudah berpikir buruk sama kamu.” Kata Erina dengan nada bicara yang sudah melunak.
“Sama-sama. Aku juga minta maaf ya karena udah bikin kamu khawatir.” Kata Farhan.
“Iya, sama-sama, Mas. Kamu mau makan dulu apa mandi dulu?” Tanya Erina.
“Aku mau mandi dulu aja, Cin. Kebetulan tadi udah dibelikan makan juga sama Pak Mario.” Kata Farhan membuat Erina kecewa.
“Jadi kamu udah makan?” Tanya Erina memastikan.
“Udah.” Jawab Farhan ragu-ragu karena melihat wajah Erina yang kembali datar.
“Oh ya udah.” Kata Erina langsung berdiri meninggalkan Farhan menuju ke dapur. Farhan yang terkejut dengan sikap Erina hanya bisa melihat apa yang akan dilakukan istrinya itu. Dari tempat dia duduk, Farhan bisa melihat Erina yang sedang mengeluarkan beberapa kotak dari lemari lalu menuju ke meja makan. Dengan cepat istrinya itu memasukkan semua makanan yang ada di piring ke dalam beberapa kotak.
“Kamu ngapain, Cin?” Tanya Farhan yang akhirnya mendekat kepada Erina karena penasaran.
“Nyuci piring.” Jawab Erina kesal.
“Ini kamu masak buat aku?” Tanya Farhan lagi.
“Menurut kamu?”
“Terus itu mau diapain sekarang?”
“Disimpan di kotak.”
“Mau dibuang?” Tanya Farhan, tapi kali ini Erina tidak menjawab.
“Jangan dibuang dong, Cin. Sayang, kan. Aku minta maaf ya. Kamu sendiri udah makan?” Tanya Farhan lagi.
“Nggak penting! nggak usah dipikirin.” Kata Erina sambil memasukkan semua kotak berisi makanan ke dalam lemari es. Jika boleh rasanya dia memang ingin membuang semua makanan itu saking kesalnya. Akan tetapi karena dia masih punya akal sehat, akhirnya dia masukkan ke dalam lemari es agar bisa dimakan esok hari.
“Cin, aku minta maaf. Kamu makan dulu ya.” Bujuk Farhan.
“Udah, kamu mandi aja sana. Ngga usah mikirin aku.” Kata Erina kemudian masuk kamar dan meninggalkan Farhan sendirian dengan penyesalannya.
Sejak hari itu, Farhan menjadi lebih berhati-hati. Dia selalu memberi kabar jika harus lembur. Dia tidak ingin kejadian yang membuat Erina menangis semalaman dan tidak mau disentuhnya sama sekali itu terulang lagi. Dan sekarang setelah dua minggu berlalu tanpa ada masalah, Erina kembali melayangkan protesnya.
“Kenapa harus lembur lagi sih, Mas? Apa nggak cukup jam kerja kamu di kantor sampai-sampai di rumah kamu juga masih harus bekerja?” Protes Erina.
Dua minggu ini paling tidak tiga kali seminggu, Farhan pasti memberitahu jika akan lembur. Akan tetapi, di hari lain saat dia bisa pulang tepat waktu tetap saja ada pekerjaan yang harus dia kerjakan di rumah.
“Cin, perusahaan sekarang sedang banyak-banyaknya mendapat tender. Jadi otomatis pekerjaanku juga sedang banyak banget. Ngga cukup waktu sembilan jam sehari untuk menyelesaikan semua pekerjaan. Makanya aku terpaksa harus sering lembur di kantor atau mengerjakan di rumah.” Kata Farhan berusaha menjelaskan keadaan kantornya.
"Kalau memang kayak gitu kenapa nggak cari tambahan personel aja? Kalau Pak Mario ngga mudah percaya sama orang, kan dia bisa menggunakan seleksi yang ketat juga perjanjian yang detail. Jangan hanya karena dia yang punya sifat kayak gitu tapi keluarga kamu yang jadi korban. Ini kebetulan aja kamu baru punya istri, coba nanti kalau kita udah punya anak. Masa iya kamu nanti mau menukar waktu kamu sama anak-anak dengan pekerjaan." Kata Erina panjang lebar. Rasanya baru kali ini Farhan mendengar Erina mengomel.
"Kalau nanti kita punya anak, ya nggak mungkin aku mau mengorbankan mereka, Cin. Pasti aku akan memberikan waktu buat mereka. Aku akan bilang ke Pak Mario kalau anak-anakku butuh perhatianku." Kata Farhan.
"Kenapa nunggu nanti kalau punya anak? Apa keberadaanku sekarang masih belum terlalu penting sehingga kamu mengambil waktu kebersamaan kita untuk pekerjaan?" Tanya Erina membuat Farhan tidak bisa menjawab.
"Jawab, Mas! Apa aku ngga penting buat kamu. Apa keberadaanku disini cuma sebagai pelayan yang bertugas menyiapkan kebutuhan kamu atau sebagai wanita pemuas hasrat kamu?" Tanya Erina tajam. Rasanya dia sudah tidak sabar lagi jika harus terus memaklumi kesibukan Farhan. Sebagai istri dia juga butuh waktu untuk berbagi cerita dan keluh kesah dengan suaminya.
"Cin! Kamu kenapa bicara seperti itu?! Mana mungkin aku menganggap kamu seperti itu. Kamu sangat penting buatku, tidak hanya sekedar untuk melakukan hal seperti yang kamu bilang tadi. Jadi jangan pernah lagi kamu berpikir seperti itu." Kata Farhan ikut terpancing emosi.
“Kalau gitu kamu buktikan dong, Mas. Kalau aku penting buat kamu.” Kata Erina tidak mau kalah.
“Bukti apa lagi, Cin? Apa perlakuanku selama ini masih belum membuat kamu menilaiku seperti apa?”
“Bisa, aku sangat bisa menilai berdasarkan sikap kamu selama ini. Dan kamu sudah dengar sendiri bagaimana penilaianku terhadap kamu tadi.”
“Aku nggak nyangka kamu menilaiku seperti itu, Rin.” Kata Farhan.
“Kenapa? Apa aku salah? Sekarang aku tanya sama kamu, Mas. Kalau kamu di posisiku sebagai istri, bagaimana kamu akan menilai sikap seorang suami yang mendekati istri hanya karena butuh sesuatu aja? Aku tahu, Mas, kalau aku sekarang cuma ibu rumah tangga yang nggak punya penghasilan sendiri. Semua kebutuhanku kamu yang penuhi dari gaji kamu. Tapi aku nggak cuma butuh itu, Mas. Aku juga butuh waktu ngobrol dan sharing sama kamu.” Kata Erina dengan air mata yang akhirnya menetes.
“Cin?” Farhan merasa bersalah mendengar ungkapan perasaan Erina. Tapi dia juga tidak bisa menerima anggapan sang istri terhadapnya. “Please, jangan berpikir lagi kalau aku ini suami seburuk itu. Oke, aku memang salah karena tidak banyak waktu buat kamu. Tapi aku tidak hanya menghampirimu jika butuh saja kan, Rin.”
Erina menghela nafas sejenak sambil menutup mata sejenak sehingga ada bulir air mata yang kembali menetes. “Aku minta maaf, Mas. Mungkin aku yang salah karena terlalu menuntut kamu.” Kata Erina kemudian menuju ke kamar meninggalkan Farhan.
Erina duduk di tepi tempat tidur dan melanjutkan tangisnya. Bahunya bergetar menahan agar suara tangisnya tidak terdengar. Dalam hati sebenarnya dia juga dilema. Antara lega bisa mengungkapkan isi hatinya selama ini tapi juga menyesal karena sudah mengatakan yang berlebihan tentang suaminya.
Erina terkesiap saat dua tangan besar Farhan berada di bahunya.
“Cin, aku minta maaf. Aku salah. Sekarang apa yang kamu inginkan agar hatimu bisa lebih tenang.” Kata Farhan. Dia tahu dia tidak sepenuhnya salah, akan tetapi rasa cintanya kepada sang istri membuatnya tidak tega melihat Erina menangis dan terluka karenanya.
“Aku ngga minta banyak, Mas. Aku c*m ingin kamu adil dan meletakkan semua pada porsinya. Silahkan kamu kerja yang maksimal di jam kerja kamu. Tapi di luar itu aku harap kamu juga bisa memberikan waktu untuk keluarga.” Jawab Erina.
“Baiklah, Cin, akan aku usahakan.” Kata Farhan.
“Bicarakan sama atasan kamu, Mas. Jangan samakan kondisi kamu sekarang dengan kondisi kamu waktu masih bujangan dulu. Aku yakin beliau juga akan bisa memahami kondisi kamu.” Kata Erina.
“Iya, Cin. Aku akan bicarakan sama Pak Mario. Udah ya, kamu jangan marah lagi. Jangan sedih lagi. Aku ikut sedih kalau kamu kayak gini. Aku minta maaf ya, Cin.” Kata Farhan.
Erina mengangguk. “Aku juga minta maaf ya, Mas. Aku mencintaimu, Mas.” Kata Erina kemudian memeluk Farhan dan membenamkan wajah di dadaa suaminya itu.