"Untung kita nurut kata Mama, Mas. Kalau ngga, bisa jadi kita tidur di mobil semalaman." Kata Erina.
“Iya sih.” Jawab Farhan.
Mereka sudah setengah perjalanan menuju tempat tinggal Farhan. Di jalan yang saat ini mereka lewati terlihat sisa-sisa potongan batang pohon. Setelah Erina telusuri melalui berita online, ternyata sejak kemarin sore di wilayah itu terjadi hujan deras yang mengakibatkan beberapa pohon tumbang. Dan saat ini mereka masih bisa melihat sisa potongan kayu di tepi-tepi jalan.
Kemarin saat Mutia meminta mereka untuk menginap, tanpa ragu Erina langsung mengiyakan. Selain karena yang meminta adalah ibu mertuanya juga karena Erina ingin mengenal keluarga suaminya itu. Farhan sebenarnya tidak masalah jika mereka lebih lama tinggal di rumah orang tuanya, hanya saja selama ini yang membuat dia kurang nyaman terlalu lama berkumpul bersama keluarganya adalah karena sikap ayahnya yang terkesan selalu dingin kepadanya. Akan tetapi semalam, saat mereka berdua berkumpul dan berbincang bersama kedua orang tuanya, Farhan melihat sosok ayahnya yang sangat berbeda. Pria paruh baya itu terlihat sangat ramah bahkan beberapa kali tertawa lepas di sela obrolan mereka.
“Kamu meskipun di rumah kamu sendiri ternyata pendiam juga ya, Mas.” Kata Erina mengingat kemarin malam Farhan tidak banyak bicara padahal mereka sedang bersama kedua orang tuanya. Saat di rumah Miko, Farhan juga sebenarnya belum terlalu banyak bicara, akan tetapi dari gestur tubuhnya pria itu terlihat santai. Berbeda saat di rumah Fatih, beberapa kali Erina melihat Farhan ingin mengatakan sesuatu tapi diurungkan setelah melihat ke arah Fatih.
“Masa sih? Nggak lah. Kamu lupa kalau semalam aku aktif banget di kasur.” Kata Farhan datar.
Erina mencubit pinggang Farhan gemas. “Kenapa jadi ngomongin itu sih!”
“Awwww! sakit tau, Cin.” Kata Farhan sambil menggosok pinggang bekas cubitan Erina.
“Cin? Siapa itu, Mas? Mantan kamu ya? Atau pacar kamu?!” Tanya Erina mulai tersulut emosi.
“Ya kamulah. Aku kan mencintai kamu dan kamu adalah cintaku satu-satunya. Jadi ngga salah dong kalau aku panggil kamu dengan sebutan ‘CIn’? Cuma beda huruf depan ini.” Ucap Farhan menoleh kepada Erina sebentar lalu kembali fokus ke jalanan di depannya.
“Beneran? Kamu ngga sedang bohongin aku kan, Mas?” Selidik Erina.
“Enggak, Cintaku. Beneran itu panggilan sayangku buat kamu. Kamu ngga keberatan kan? Atau mungkin kamu pingin aku punya panggilan sayang yang lain buat kamu?” Tanya Farhan.
“Ngga, Mas. Terserah kamu aja mau manggil aku gimana.” Kata Erina akhirnya mempercayai ucapan suaminya.
“Oke, Cin. Kamu kalau capek mending tidur aja deh. Nanti kalau udah sampai, aku bangunin.” Kata Farhan sambil mengusap lembut puncak kepala Erina.
“Ngga, Mas. Aku temenin kamu aja sambil menikmati pemandangan.” Kata Erina.
“Kamu manis banget sih, Cin. Jadi pingin kasih matahari.” Ucap Farhan.
“Matahari?” Tanya Erina mencoba memahami kata Farhan.
“Iya, matahari, sun. Muach.” Kata Farhan sambil mengerucutkan bibir seperti memberi ciuman.
Erina yang baru memahami pun tertawa singkat. “Sun.” Ucapnya lirih.
Benar saja, selama perjalanan, Erina sama sekali tidak tidur. Dia benar-benar menemani Farhan sambil mengajak suaminya itu berbincang tentang banyak hal. Dia banyak bertanya sesuatu yang ingin dia tahu dari Farhan. Begitu pula sebaliknya. Hingga tanpa terasa, mobil Farhan sudah sampai di parkiran apartemennya.
“Apartemen kamu termasuk mewah kayaknya ya, Mas.” Kata Erina. Dari tampilan gedung dari pintu gerbang hingga tempat parkir mobil ini, Erina bisa menilai jika apartemen yang Farhan tinggali ini tidak sembarangan. Akan tetapi, jika mengingat seberapa besar gaji suaminya itu, Erina pikir sangat wajar jika Farhan mampu membeli satu atau dua unit bagian dari gedung ini.
“Iyalah. Kalau untuk tempat tinggal seorang ratu kayak kamu memang harus mewah.” Kata Farhan.
“Wah aku jadi ngga percaya kalau selama ini kamu ngga pernah punya pacar.” Kata Erina memicingkan mata. Farhan yang tidak mengerti dengan ucapan istrinya pun bertanya apa maksud perkataan Erina.
“Maksud kamu, Cin? Apa yang membuat kamu jadi ngga percaya sama aku?”
“Sejak kemarin itu omongan kamu manis banget, Mas. Mana ada perempuan yang nggak meleleh mendengar mulut manis dari pria tampan dan mapan kayak kamu.” Kata Erina masih dengan dugaannya. Tanpa Erina sadari, ucapan yang baru saja dia katakan membuat Farhan tersenyum penuh arti.
“Jadi menurut kamu aku pria seperti itu, Cin?’ Tanya Farhan lirih tapi terdengar sangat dalam.
“Pria tampan, mapan, bermulut manis yang bisa membuat wanita meleleh?” Tanya Farhan dengan terus memajukan tubuhnya hingga Erina tersudut. Punggungnya sudah menempel erat di pintu mobil sehingga membuatnya tidak bisa mundur lagi. Kedua tangannya menahan dadaa Farhan agar tidak maju lagi hingga menghimpitnya. Namun, pertahanannya melemah saat bibir Farhan sudah melumat bibirnya.
“Masih manis, Cin?” Tanya Farhan dengan senyum menggoda setelah melepas ciuman mereka. Hanya sebentar tapi bisa membuat Erina terpejam menikmatinya. Wanita itu menjawab pertanyaan Farhan dengan mengerucutkan bibirnya. Dia merasa suaminya itu mengerjainya dengan ciuman singkat itu.
“Ngga usah senyum ngeledek gitu deh. Udah yuk turun, aku udah pingin istirahat di kamar.” Kata Erina sambil membuka pintu mobil. Farhan tersenyum singkat melihat Erina yang sepertinya mulai kesal.
“Kenapa kamu kayak ngga sabar gitu pingin ke kamar. Masa iya gara-gara dicium sama mulut manisku kamu jadi langsung pingin.” Kata Farhan membuat Erin melotot.
“Apaan sih, Mas. Nggak lucu tau! Aku kan udah bilang kalau ke kamar pingin istirahat.” Kata Erina.
“Aku nggak salah kan, Cin? Kamu nggak sabar ke kamar karena pingin.” Kata Farhan memotong ucapan Erina dengan maksud menggoda sang istri.
“Aku pinginnya istirahat, Mas Farhaaan.” Kata Erina kesal.
“Iya, Cintaku. Kan aku juga barusan bilang kayak gitu.” Ucap Farhan.
“Iya, tapi memotong apa yang tadi aku ucapkan. Kalau kayak gitu maknanya kan jadi beda, Mas.” Kata Erina.
“Beda makna gimana, Cin?” Tanya Farhan semakin tergoda untuk membuat istrinya kesal.
“Ya beda, Mas. Kalau yang aku bilang tadi maknanya aku ke kamar itu karena pingin istirahat. Tapi kalau kamu potong kayak tadi, itu kesannya yang aku lagi pingin kita melakukan hubungan suami istri.” Kata Erina.
“Tuh kan aku bener kalau kamu lagi pingin.” Ucap Farhan lagi. “Ya udah, nanti kalau sudah sampai kamar dengan senang hati aku akan menuruti keinginan kamu.” Kata Farhan sambil merangkul pundak istrinya. Erina sudah ingin berontak dan memukul Farhan saat terdengar suara salah satu pintu kamar terbuka.
“Loh, Farhan, kamu sama siapa ini?” Tanya seorang wanita paruh baya yang akan keluar dari unit apartemennya.
“Perkenalkan ini istri saya, Bu Nur.” Kata Farhan menjawab pertanyaan wanita bernama Nur itu sekaligus memperkenalkan mereka berdua.
“Oh, ini istri yang baru kamu nikahi kemarin? Cantik sekali.” Kata Nur sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Erina. Istri Farhan itu membalas uluran tangan Nur dan memberikan senyum ramahnya. “Selamat ya, Farhan, Erina. Semoga kalian bahagia. Mohon maaf aku nggak bisa hadir di pernikahan kalian. Yah karena alasan yang sama seperti biasanya, Han, ngga ada yang antar. Anak-anakku selalu beralasan sibuk kalau aku mintai sesuatu.” Ucap Nur membuat Erina merasa iba.
“Ya sudah, sekali lagi aku ucapkan selamat dan selamat beristirahat. Erina kalau butuh apa-apa bisa menghubungiku ya. Nanti kamu bisa minta nomor teleponku ke Farhan.” Kata Nur.
“Baik, Bu Nur, terima kasih banyak.” Ucap Erina. Nur memberikan senyum kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Farhan dan Erina melihat kepergian Nur sebelum Farhan membuka pintu unitnya yang berada tepat di samping unit milik Nur.
“Yuk, Cin, kita masuk. Katanya kamu udah ngga sabar pingin ke kamar.” Kata Farhan setelah dirinya masuk lebih dulu. Erina yang masih kesal itu pun segera ikut masuk dan segera melakukan niatnya yang tertunda yaitu memukul lengan Farhan.
“Kamu kenapa nyebelin gini sih, Mas? Apa ini sebenarnya sifat kamu yang asli?” Tanya Erina terus memukuli lengan Farhan. Pria itu bukannya kesakitan justru tertawa senang mendapatkan perlakuan dari istrinya. Dia baru menangkap kedua tangan Erina ketika merasa bahwa istrinya itu benar-benar emosi.
“Hahahaha. Sabar, Cin.” Kata Farhan saat Erina sudah berada dalam kendalinya. “Apapun yang kamu tahu dariku sejak pertama kita ketemu, sampai hari ini aku jamin semuanya asli. Apa yang sudah kamu lihat, kamu dengar, kamu sentuh dan kamu rasakan semuanya aku tunjukkan yang asli. Ngga ada satu pun yang imitasi. Termasuk perasaan yang sudah aku ungkapkan sama kamu itu juga asli, Cin.” Kata Farhan sambil memandang lekat istrinya. Erina hanya bisa terdiam karena suasana yang tadinya heboh tiba-tiba syahdu saat Farhan mengatakan semuanya. Dia pun ikut terhipnotis dengan pandangan teduh Farhan kepadanya.
“Aku merasa tidak ada yang terlalu cepat jika kita membahas tentang hati. Jadi aku juga merasa tidak terlalu cepat jika sekarang sebagai suamimu aku sudah jatuh hati kepada kamu istriku.” Kata Farhan sambil membawa tangan Erina melingkari lehernya baru kemudian kedua tangannya bergerak melingkari pinggang Erina. “Aku tidak akan menuntut kamu untuk percaya, tapi aku hanya kamu tahu kalau pria tampan dan mapan ini hanya milikmu. Setiap kata yang keluar dari mulut manis hanya untukmu.”
---
"Mas, kapan aku diajak jalan-jalan keluar? Bosen tau di dalam terus. Mumpung kamu masih cuti ini." Pinta Erina saat mereka sedang santai menonton televisi. Sudah empat hari Erina tinggal bersama Farhan, tapi suaminya itu sama sekali tidak pernah mengajaknya jalan-jalan. Beberapa hari ini Farhan justru lebih banyak mengurung Erina di dalam kamar. Selebihnya, jika Erina harus melakukan suatu pekerjaan pasti Farhan juga akan terus menempelinya. Pria itu sudah seperti seorang anak yang takut jauh dari ibunya. Saat Erina memasak, Farhan akan selalu memeluknya dari belakang. Saat Erina mandi, Farhan juga ikut mandi di kamar mandi yang sama. Saat menonton televisi seperti ini, Farhan juga selalu melingkarkan tangan di bahu Erina. Pria itu bahkan selalu meminta sang istri menyandarkan kepala di dadanya.
"Masa iya berduaan sama aku bikin kamu bosan, Cin?" Tanya Farhan yang terdengar seperti gerutuan.
"Jangan selalu berpikir nggak positif gitu deh. Aku yakin kamu sangat paham apa yang aku maksud." Kata Erina langsung mengangkat kepala dari dadaa Farhan. Pria itu nyengir melihat kekesalan istrinya.
"Hehehe, iya maaf. Cuma bercanda, Cin." Kata Farhan sambil menggerakkan tangan untuk membawa kepala Erina kembali bersandar padanya. "Memangnya kamu ingin pergi ke mana, Cin?"
"Terserah, Mas, yang penting jalan-jalan keluar. Ke tempat kamu biasa nongkrong mungkin, atau ke tempat rekreasi yang terkenal di kota ini." Kata Erina.
"Nah itulah masalahnya, Cin. Selama ini aku nggak pernah nongkrong ataupun rekreasi. Kalaupun pernah makan di luar itu juga karena menemani Pak Mario." Kata Farhan jujur.
"Kamu nggak pernah kemana-mana, Mas? Selama bertahun-tahun tinggal di sini?" Tanya Erina kembali menegakkan tubuhnya demi melihat ekspresi wajah Farhan. Dia hampir tidak percaya jika suaminya itu tidak pernah keluar apartemen selain urusan pekerjaan.
"Iya, Cintaku. Aku keluar dari apartemen ini cuma untuk kerja atau mengerjakan tugas tambahan dari Pak Mario." Kata Farhan, akan tetapi beberapa saat kemudian dia meralat ucapannya setelah mengingat sesuatu. "Emm, tapi sebenarnya pernah sih aku ke mall atau beberapa restoran tanpa Pak Mario. Tapi sama Bu Kania, istri Pak Mario. Kalau atasanku itu pas ngga bisa mengantar istrinya, dia pasti menyuruhku untuk menggantikannya."
"Menggantikannya? Menggantikan ngapain, Mas?" Tanya Erina curiga.
"Menggantikan Pak Mario untuk mengantar istrinya dong, Cin. Memangnya kamu pikir apa?" Ganti Farhan yang curiga dengan pertanyaan Erina.
"Menggantikannya jadi suami. Hehehe."
"Ngaco kamu. Memangnya aku laki-laki apaan." Kata Farhan dengan gaya yang dibuat gemulai.
"Jangan bergaya kayak gitu ah. Geli tahu, Mas!" Protes Erina.
"Habisnya kamu mikirnya aneh-aneh aja." Kata Farhan.
"Iya maaf. Cuma bercanda ini. Ya udah kalau gitu antar aku jalan-jalan ke mall aja lah. Aku pingin tahu juga mall di sini kayak gimana." Kata Erina.
"Sama aja sih, Cin, sama yang ada di kota asal kita. Namanya mall pasti isinya counter-counter buat jualan baju atau makanan." Kata Farhan.
"Jadi kamu keberatan nih ngajak aku jalan-jalan?" Tanya Erina merajuk.
"Bukannya gitu, Cin. Kalau sama kamu aku lebih suka jalan-jalan di atas kasur daripada ke mall atau tempat lain." Kata Farhan dengan alisnya yang dinaikturunkan. "Mending capek bercocok tanam di lahan kamu daripada capek karena jalan-jalan."
"Kamu nih, Mas. Dasar mesuuuummmm." Kata Erina sambil mencubit paha Farhan yang paling dekat dengannya.