“Loh udah selesai, Mas, siap-siapnya?” Tanya Erina saat baru masuk kamar dan melihat Farhan duduk bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
“Udah sih, Rin. Aku kan kemarin cuma bawa satu tas itu aja. Jadi ya ngga ada yang perlu di beresin lagi.” Kata Farhan. Dia merubah posisi kaki dari berselonjor menjadi bersila.
“Iya juga ya.” Kata Erina yang masih berdiri di dekat pintu sambil melihat tas ransel Farhan yang sudah tertutup rapi. Dia kemudian memandang ke sekeliling kamar untuk mencari benda apa kira-kira yang perlu dia siapkan untuk dibawa selama perjalanan. “Aku kok juga jadi bingung sekarang mau nyiapin apa. Barang-barangku udah dibawa ke apartemen kamu. Terus sekarang yang perlu aku bawa apa lagi ya?”
Erina berjalan menuju ke lemari pakaian dan membukanya. Dia teliti setiap baris bajunya untuk mencari kemungkinan ada pakaian yang perlu dibawanya.
“Astaghfirullah.” Erina terkejut saat tiba-tiba tangan Farhan sudah melingkari perutnya. Ditambah kecupan-kecupan lembut di leher membuat Erina merasa geli sekaligus nikmat.
“Maaasss.” Desah Erina.
“Kalau ngga ada yang perlu disiapkan lagi ya udah ngga usah dicari-cari.” Kata Farhan di samping telinga Erina.
“Tapi kalau nanti ada barang yang ketinggalan gimana, Mas?” Tanya Erina dengan degup jantung yang masih tidak beraturan. Hanya dipeluk dari belakang seperti ini saja ternyata mampu membuat perasaannya nyaman.
“Kalau memang diperlukan, nanti kita beli lagi.” Jawab Farhan.
“Yah, baiklah. Kalau gitu apa kita berangkat sekarang aja, Mas? Nanti kan kita masih mau mampir ke rumah Mama juga.” Kata Erina.
“Kayaknya aku ikutin saran Bunda aja deh. Kita berangkat habis sholat dhuhur. Nanggung, tinggal satu jam lagi adzan.” Ucap Farhan.
"Pingin yang kayak semalam, Rin." Kata Farhan kembali menciumi leher Erina.
"Nanti lah, Mas. Masih nyeri ini." Tolak Erina.
"Iya? Apa perlu kita ke dokter, Rin?" Tawar Farhan mulai panik.
"Apaan sih, Mas. Nanti kalau sama dokter ditanya penyebabnya apa gimana? Bisa ditertawakan kalau aku bilang sakit karena setelah menjalani malam pertama." Kata Erina kesal.
"Iya, ya." Kata Farhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Coba aku tanya si mbah gimana caranya." Kata Farhan kemudian duduk di tepi tempat tidur dan membuka ponselnya.
"Tanya Si Mbah?" Tanya Erina tidak mengerti. Dia pun mengikuti Farhan dan duduk di samping suaminya.
"Iya, Si Mbah Google.” Jawab Farhan dengan mata tetap fokus pada layar ponselnya.
“Oalah, aku kira kamu punya kenalan dukun.” Kata Erina kemudian berdiri. Dia berniat meninggalkan kamar untuk mencari makanan yang kira-kira bisa dibawa untuk perjalanan mereka.
“Awww.” Erina terkejut karena Farhan menarik tangannya hingga dia terduduk di pangkuan pria itu.
“Mau kemana? Disini aja.” Kata Farhan.
“Mau ke dapur, Mas. Mau cari makanan.” Jawab Erina setengah merengek.
“Kenapa? Kamu udah lapar lagi? Kita kan baru selesai sarapan.” Kata Farhan. “Lagian, ini juga aku lagi nyari solusi buat masalah kamu, malah mau kamu tinggal.”
“Bukan, Mas. Aku bukannya lapar, cuma mau cari sesuatu yang bisa kita bawa buat bekal di perjalanan.” Jawab Erina.
“Ya udah, nanti kita sama-sama ke dapurnya. Kebetulan ini juga udah ketemu jawaban buat masalah kamu. Ternyata solusinya juga ada di dapur.” Kata Farhan. Dia kemudian sedikit menggeser ponsel agar Erina bisa ikut membacanya.
“Yang mana yang kamu maksud, Mas?” Tanya Erina karena cara yang tertera di website yang Farhan tunjukkan ada lebih dari satu poin.
“Yang ini, Rin.” Jawab Farhan menunjuk ke layar ponsel sehingga posisi kedua tangannya melingkari tubuh Erina.
"Dikompres? Di bagian itu?" Tanya Erina ngeri.
"Iya, kita coba aja gimana?" Tawar Farhan. "Biar kamu ngga kesakitan terus."
"Biar aku ngga kesakitan terus apa biar kita bisa melakukan itu lagi?" Cibir Erina.
"Dua-duanya, sih. hehehe." Jawab Farhan. “Emm, Rin….”
“Kenapa lagi, Mas?” Tanya Erina. Dia merasa pandangan Farhan berubah menjadi lebih serius. Perasaannya menjadi semakin tidak menentu saat pria itu membawa kedua tangannya melingkari leher pria itu.
“Kamu bisa percaya ngga kalau aku sudah mulai punya perasaan sama kamu?” Tanya Farhan serius.
“Bisa iya, bisa juga nggak. Tergantung bagaimana cara kamu bisa meyakinkan aku, Mas. Kenapa? Apa kamu beneran sudah mulai ada rasa sama aku?” Tanya Erina.
“Sepertinya begitu. Entah kenapa aku jadi ingin dekat terus sama kamu. Bisa berada di posisi kayak gini aja rasanya udah seneng banget, apalagi kalau sampai bisa di posisi yang lain.” Kata Farhan. Di mata Erina, pandangan serius Farhan tiba-tiba terlihat menjadi mesumm saat mengucapkan kalimat terakhir.
Erina tertawa singkat. “Percaya sih, Mas, kalau kamu udah punya perasaan sama aku. Bahkan saat awal kita ketemu, pasti kamu juga udah punya perasaan sama aku kan? Cuma, aku belum bisa memastikan aja perasaan apa yang sekarang kamu punya. Apakah perasaan itu berupa benci, illfeel, eneg, bosan, atau-” Farhan meletakkan telunjuknya di bibir Erina.
“Kenapa dugaannya ngga ada yang bagus gitu sih. Ngga mungkin lah aku punya perasaan kayak gitu sama kamu, Rin. Masa iya aku benci sama wanita seperti kamu.” Kata Farhan dengan tangan yang sudah berjalan ke berbagai penjuru tubuh Erina. Hingga terakhir tangannya berada di leher Erina sehingga dengan leluasa bisa menarik wajah sang istri dan menyatukan bibir mereka. Tangan Erina tetap bertahan melingkar di leher Farhan, sedangkan tangan pria itu sudah masuk di balik baju Erina dan mengusap lembut punggungnya.
Farhan tersenyum melihat mata Erina yang masih terpejam bahkan setelah ciuman panas mereka berakhir.
“I love You, Erina.” Bisik Farhan di telinga Erina membuat mata wanita itu terbuka. Wanita itu tertawa singkat.
“Secepat itu kamu bisa jatuh cinta sama aku?” Ledek Erina.
“Kenapa memangnya? Cinta pada pandangan pertama aja ada, apalagi cinta setelah melakukan malam pertama.” Kata Farhan membuat Erina semakin tergelak.
“Yah, baiklah.” Kata Erina setelah tawanya reda.
“Kamu percaya kan?” Tanya Farhan memastikan.
“Insya Allah.” Ucap Erina sambil nyengir. Dia kemudian berdiri dari pangkuan Farhan menuju ke pintu kamarnya.
“Loh kok gitu jawabannya. Kamu mau kemana? Apa kamu masih ngga percaya? Gimana caranya biar kamu bisa percaya sama aku?” Tanya Farhan sambil berjalan cepat mengejar Erian yang sudah membuka pintu.
“Aku mau ke dapur, Mas. Mau cari makanan sekaligus es batu. Kamu ngga mau kan kita berangkat kesorean?” Tanya Erina yang tanpa menunggu jawaban Farhan sudah melenggang menuju ke dapur.
“Eh, Rin, Han? Kalian udah selesai persiapan?” Tanya Cintami yang ternyata sedang berada di dapur. Wanita itu sedang memasukkan kue-kue ke dalam beberapa kotak makanan.
“Udah sih, Bund. Cuma tinggal bekal di perjalanan, hehehe.” Jawab Erina.
“Kamu nih, takut banget kalau kelaparan di jalan.” Cibir Cintami. “Kamu tenang aja. Kamu lupa kalau punya Bunda yang sangat pengertian? Ini udah Bunda bungkusin makanan buat kalian. Sebagian nanti kasih ke orang tua Farhan, sebagian lagi bisa kalian bawa untuk di perjalanan.” Kata Cintami.
“Dibawa aja nih, Bund? Ngga boleh dimakan?” Tanya Erina membuat Cintami dan Farhan menoleh kepada Erina dengan mulut melongo.
“Iya, ngga boleh dimakan. Kasih aja sama kucing.” Kata Cintami ketus.
“Aih, bunda gitu banget. Bercanda kali, Bund.” Kata Erina yang kemudian.
“Maafkan Erina ya, Bund.” Kata Farhan berjalan melewati ibu mertuanya untuk mengikuti Erina yang sudah berada di depan kulkas.
“Udah, Han, kamu ngga usah minta maaf untuk Erina. Nanti biar Bunda kasih tau sama orang tuanya biar dia dididik jadi lebih baik lagi.” Ucap Cintami membuat Farhan bingung sedangkan Erina justru tertawa kecil.
“Iya, Bunda Sayang. Aku minta maaf ya.” Kata Erina.
“Bunda pikir dulu, mau memaafkan kamu atau tidak.” Kata Cintami dengan nada masih ketus. “Itu ngapain kamu buka kulkas? Mau cari apa lagi coba? Ini udah dibilangin kalau udah Bunda siapin bekal juga.” Lanjut Cintami. Farhan sendiri hanya bisa melongo melihat cara bicara Cintami yang sudah seperti kereta api.
“Cari es batu, Bunda.” Kata Erina.
“Es batu buat apa?” Tanya Cintami membuat Farhan dan Erina saling berpandangan.
“Ini, Itu, emmm, anu, buat Mas Farhan, Bund.” Jawab Erina. Mata Farhan terbelalak karena Erina membawa namanya sebagai alasan.
“Buat Farhan? Kamu kenapa, Han? Habis jatuh? Apa yang tadi pagi kamu teriak itu karena jatuh?” Tanya Cintami panik.
“Teriak? Jatuh?” Tanya Erina lirih sambil melihat ke arah Farhan. Pria itu terlihat menggaruk kepala sambil nyengir.
“Mana yang memar, Han? Apa Erina yang menyebabkan kamu jatuh?” Tanya Cintami lagi.
“Bund?!” Panggil Erina protes.
“Itu, Bund. Memarnya di… Emmm, di tempat yang tersembunyi.” Jawab Farhan sekenanya.
“Ooohh.” Ucap Cintami. Dengan cepat dia menggeser tubuh Erina dari depan lemari es agar dia bisa mengambilkan es batu untuk menantu satu-satunya itu. Erina dan Farhan hanya bisa melongo melihat apa yang dilakukan Cintami.
“Nih, Rin. Kamu bantu Farhan kompres memarnya sebagai bentuk tanggung jawab kamu.” Kata Cintami menyerahkan es batu yang sudah dimasukkan ke dalam kantong karet.
“Tanggung jawab apa, Bund?” Tanya Erina bingung.
“Terima kasih banyak ya, Bun. Ayo, Rin.” Kata Farhan segera menarik tangan Erina sebelum muncul lebih banyak pertanyaan lagi yang mungkin berakibat mempermalukan dirinya.
“Tadi maksud Bunda yang kamu jatuh terus teriak itu apa, Mas?” Tanya Erina saat mereka sudah berada di dalam kamar lagi.
“Oh itu. Kapan-kapan aja ya aku cerita. Lebih baik sekarang aku bantu kompres kamu.” Jawab Farhan sambil menuntun Erina agar berbaring di tempat tidur.
"Ngga usah, Mas. Aku kompres sendiri aja." Kata Erina merebut kembali kantong es yang tadi diminta Farhan.
"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu malu." Kata Farhan.
"Itu salah satunya. Salah duanya karena aku khawatir kamu jadi melakukan hal yang lain." Kata Erina.
"Kamu kenapa pinter banget gitu sih, Rin. Ngga bisa dimodusin. Aku jadi tambah cinta." Kata Farhan sambil tertawa.
"Iyalah, perempuan sekarang wajib hukumnya untuk cerdas. Ya udah, mending sambil aku kompres kamu ceritain tentang teriakan kamu itu." Kata Erina lagi.
Wajah Farhan berubah bingung. Dengan salah tingkah dia akhirnya menceritakan apa yang terjadi tadi pagi. Erina sesekali melongo dan menahan tawa mendengar kekonyolan suaminya itu.
----
"Mama kira kalian langsung berangkat ke apartemen Farhan." Kata Mutia setelah menyambut anak dan menantunya. Dia mengajak kedua anaknya itu duduk di meja makan agar Erina bisa merasa nyaman. Jika di ruang tamu, Mutia khawatir Erina merasa hanya dianggap sebagai tamu di rumah ini.
"Iya, Ma. Tadinya rencanaku juga gitu, Ma. Tapi tadi Bunda kasih saran buat kesini dulu sekalian pamitan." Kata Farhan menjelaskan.
"Mertua kamu memang bener sih, Han. Memang seharusnya gitu. Mama kan juga sebenarnya udah bilang gitu kan sama kamu. Selain pamitan, juga biar Erina tahu rumah kita. Masa iya harus nunggu beberapa tahun dulu baru dia tahu rumah mertuanya." Kata Mutia panjang lebar. Dia seperti mendapatkan kesempatan untuk mengomeli Farhan.
"Maaf ya, Rin. Mama jadi ngomel di depan kamu. Habisnya Mama gemes banget sama suami kamu ini. Masa iya cuma beberapa jam jarak tempat tinggalnya dari rumah ini, tapi dia pulang cuma dua kali dalam setahun waktu hari raya aja. Alasannya pasti karena sibuk kerja. Padahal di dunia ini, orang yang kerja kan ngga cuma dia aja ya. Tapi mereka juga masih bisa untuk ketemu keluarganya tiap bulan." Lanjut Mutia.
Erina mengangguk kepada Mutia kemudian menggeleng kepada Farhan.
"Menurut kamu gimana itu, Rin?" Tanya Mutia membuat Erina mengalihkan pandangan kepada ibu mertuanya lagi.
"Apanya, Ma?" Tanya Erina bingung.
"Yah sikap Farhan yang lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan keluarganya kayak gitu." Jawab Mutia.
"Ngga baik sih, Ma, sebenarnya. Karena kalau saya sih, Ma, keluarga itu yang utama. Mereka yang pasti selalu ada bagaimanapun keadaan kita. Apalagi seperti saya yang ngga punya saudara, keberadaan orang itu sangat berarti, Ma." Kata Erina.
"Tuh dengerin apa kata istri kamu. Keluarga yang utama. Sekarang kamu sudah punya istri, Han. Suatu saat kalian mungkin juga akan dikaruniai anak. Jadi Mama harap mulai sekarang kamu bisa belajar merubah sikap kamu. Jangan bos kamu terus yang didulukan." Kata Mutia terdengar semakin berapi-api.
"Iya, Ma. Farhan ngga akan gitu lagi. Kan sekarang udah ada istri." Kata Farhan sambil menaikturunkan alis kepada Erina.
"Mama pegang ucapan kamu. Mama juga minta tolong sama kamu ya, Rin. Kamu jangan bosen ngingetin Farhan untuk ngga terlalu berlebihan menuruti atasannya. Kalau dia masih mendahulukan kepentingan bosnya dibandingkan kamu, lebih baik kamu ngga usah tinggal di apartemennya. Kamu tinggal aja di sini sama Mama." Pesan Mutia.
"Jangan dong, Ma. Masa iya aku harus tinggal berjauhan sama Erina. Aku bisa tersiksa, Ma." Kata Farhan memelas.
"Ngga apa-apa. Lebih baik seperti itu daripada Erina yang tersiksa." Kata Mutia.
"Iya, Ma. InsyaAllah nanti saya ingatkan Mas Farhan semampu saya." Kata Erina. .
"Udah ya, Ma. Masak iya aku mau balik kerja masih diomelin terus." Kata Farhan merajuk.
Mutia menghela nafas keras. "Ya udah, kalian makan dulu aja kalau gitu. Erina kalau mau tidur dulu juga boleh, atau kalian nginep aja di sini dulu gimana? Besok aja berangkat balik ke apartemen Farhan." Kata Mutia.
"Nggak-"
"Baik, Ma." Jawab Erina dan Farhan bersamaan tapi tidak kompak.
"Rin?" Tanya Farhan lirih.
"Kenapa, Mas? Aku kan juga mau kenalan lebih jauh sama Mama." Kata Erina membuat Farhan menghela nafas menyerah.
"Baiklah." Ucap Farhan pasrah namun mampu menerbitkan senyum di bibir dua wanita yang sedang bersamanya.