Mata Farhan mengerjap berusaha menyesuaikan dengan cahaya ruangan yang dia tempati. Pandangan pertamanya jatuh di langit-langit kamar yang menurutnya cukup asing.
“Aku di mana?” Tanya Farhan lirih. Pandangannya berpindah ke bawah karena tubuh bagian dadaa hingga perut terasa dingin karena hembusan angin. Matanya terbelalak melihat setengah tubuhnya yang telanjang. Dia semakin terkejut karena saat membuka selimut ternyata tubuh bagian bawahnya pun tidak berbalut.
Farhan bergegas duduk untuk mencari petunjuk apa yang sudah terjadi kepadanya semalam. Kepalanya memandang sekeliling. Dia masih tidak mengenali di mana dia berada, meskipun dari tampilannya dia bisa menduga jika ini kamar wanita. Hingga saat kepalanya menoleh ke kiri tiba-tiba mulutnya berteriak.
“Waaaaaaa!” Teriak Farhan sambil menarik selimut sampai sebatas dadaa dan mengapitnya dengan ketiak. Sosok wanita dengan wajah tertutup penuh oleh rambut yang berada di sampingnya tidak bergeming membuat Farhan semakin merasa ngeri. Dia terlonjak saat terdengar suara ketukan keras dari pintu kamar yang ditempatinya itu.
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK.
“Farhan! Ada apa?” Teriak suara wanita dari luar membuat Farhan bingung.
“Kok dia bisa tahu namaku? Dari suaranya aku yakin itu bukan Mama.” Kata Farhan sambil berpikir keras.
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK
“Rin! Erina! Farhan kenapa itu, Rin?” Tanya wanita itu lagi.
“Erina?” Tanya Farhan. Dia segera menepuk dahinya keras begitu menyadari kekonyolannya.
“Eh, ngga apa-apa, Bund. Cuma kepeleset aja tadi.” Teriak Farhan setelah mengenali siapa wanita yang mengetuk pintu kamar ini.
“Oh ya udah. Apa kamu ngga apa-apa, Han?” Teriak Cintami lagi.
“Ngga apa-apa, Bund. Aman.” Teriak Farhan lagi. Dia tahu jika apa yang dia lakukan tidak sopan karena berbicara dengan orang tua dengan berteriak tanpa menghampirinya. Tapi saat ini kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk membuka pintu kamar dan bicara baik-baik dengan Cintami.
“Alhamdulillah. Ya udah kalau gitu, segera keluar ya. Sekalian bangunin Erina. Sholat subuh dulu.” Kata Cintami.
“Iya, Bund.” Jawab Farhan. Setelah itu tidak terdengar lagi suara Cintami dari luar.
“Oon banget sih aku. Bisa-bisanya aku lupa kalau kemarin udah nikah dan sekarang berada di kamar Erina.” Kata Farhan menepuk dahinya lagi.
Farhan kembali menolehkan kepala kepada sang istri kemudian menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Bibir Farhan tertarik ke atas mengingat apa yang sudah mereka lakukan semalam. Ternyata benar apa kata kakaknya kalau menikah itu bisa bikin bahagia. Betapa dia bersyukur karena Erina sudah bisa menerimanya lahir batin.
“Rin! Bangun!” Farhan membangunkan Erina dengan mengusap lembut kepalanya. Erina menggeliat kecil tapi kemudian kembali terdiam dalam tidurnya. Farhan yang gemas tidak lagi berusaha memanggil nama istrinya. Dia merasa memiliki ide yang lebih baik untuk membuat istrinya bangun. Farhan membawa tubuhnya dalam posisi tidur miring menghadap sang istri. Bibirnya dia gunakan untuk melumat bibir Erina, sedangkan kedua tangannya juga aktif meremas dadaa sang istri. Jika diizinkan rasanya dia ingin sepanjang hari b******u dengan Erina seperti malam tadi.
Tidur nyenyak Erina tiba-tiba terasa terganggu karena saraf sensorik menghantarkan rangsangan yang Farhan berikan ke otaknya. Erina melenguh, tubuhnya memberikan respon terhadap rangsangan yang diterima. Perlahan matanya membuka ingin mengetahui apa yang terjadi.
Tepat di pandangan matanya saat ini terlihat seorang pria tampan sedang memejamkan mata. Dari raut wajahnya, Erina bisa menilai jika pria itu sangat menikmati apa yang dia sedang dia lakukan. Erina memundurkan wajah untuk melepas tautan bibir mereka. Kedua tangannya juga menyingkirkan tangan Farhan dari dadanya membuat mata pria itu terbuka.”
“Eh, udah bangun, Rin?” Tanya Farhan nyengir.
“Kamu kayak keenakan banget, Mas, sampai ngga sadar kalau aku udah bangun.” Gerutu Erina.
“Emang enak banget sih, Rin. Hehehe.” Ucap Farhan.
“Jam berapa sekarang ini, Mas?” Tanya Erina kepada Farhan akan tetapi matanya sudah bergerak melihat jam dinding untuk mencari tahu sendiri. “Ya Allah udah jam segini.” Kata Erina segera duduk.
“Kamu belum mandi, Mas?” Tanya Erina karena melihat Farhan yang masih berpenampilan seperti semalam sebelum dia tidur.
“Belum, Rin. Tadi sama Bunda, aku disuruh bangunin kamu dulu.” Kata Farhan.
“Ya udah, aku sholat dulu aja kalau gitu. Kamu juga cepetan kalau mandi, Mas. Keburu habis ini subuhnya.” Kata Erina segera berdiri dari tidurnya. Dia sudah hendak berlari ke kamar mandi, akan tetapi baru di langkah pertama dia sudah berhenti lagi.
“Aww!” Pekik Erina membuat Farhan segera berdiri dan menghampiri sang istri.
“Kenapa, Rin? Masih sakit? Apa perlu aku gendong ke kamar mandi?” Tawar Farhan.
“Mas! Pakai baju dulu kenapa? Kamu ngga malu ‘itu’ kamu keliatan sama aku?” Teriak Erina sambil memalingkan wajah.
“Eh iya lupa.” Kata Farhan. Dia bergegas mencari pakaiannya semalam dan memakainya kembali.
“Udah, Rin. Aku udah pakai baju lagi ini.” Kata Farhan kembali mendekati istrinya. “Gimana? Mau aku bantu ke kamar mandi?” Ulang Farhan.
“Ngga usah, Mas. Nanti Ayah sama Bunda bisa mikir macem-macem kalau sampai itu terjadi.” Tolak Erina.
“Tapi kamu gimana jalannya. Kalau masih sakit ngga usah dipaksain, Rin.” Kata Farhan khawatir.
“Bisa kok.” Kata Erina kemudian mulai melangkahkan kaki lagi meninggalkan Farhan. Wanita itu berjalan sangat hati-hati, terlihat sekali jika caranya berjalan sangat berbeda.
“Ini apa mungkin Bunda ngga mikir macem-macem kalau lihat cara jalan Erina kayak gitu?” Tanya Farhan pada dirinya sendiri. Dia tertawa singkat karena mengingat jika Erina kesulitan berjalan seperti itu karena ulahnya.
“Oh iya, Mas. Sambil nunggu giliran ke kamar mandi. Boleh dong sambil bantu beresin kamar ini. Yah itung-itung bentuk pertanggungjawaban kamu karena sudah bikin aku kayak gini.” Kata Erina sebelum benar-benar keluar dari kamar.
“Hahh?!”
Kurang dari sepuluh menit kemudian Erina sudah kembali ke kamarnya. Saat itu Farhan terlihat masih memunguti pakaian Erina yang berserakan di lantai.
“Wah, kamu ternyata rapi juga ya kalau beresin kamar.” Kata Erina takjub melihat tempat tidurnya sudah rapi selama dia tinggal ke kamar mandi.
“Yah maklumlah, selama ini jadi bujangan yang tinggal jauh dari orang tua. Jadi untuk kebersihan kamar harus bisa sendiri. Soalnya buat aku, kamar itu benar-benar tempat pribadi yang ngga boleh dimasuki sembarang orang.” Kata Farhan.
“Mantul.” Kata Erina mengacungkan jempol kanannya.
“Apanya yang mantul, Rin?” Tanya Farhan.
“Ya kamu, Mas. Prinsipnya mantul. Berarti kamar kamu belum pernah dimasuki perempuan dong.”
“Kalau itu, emm. Aku ke kamar mandi dulu ya. Keburu terang.” Kata Farhan kemudian bergegas meninggalkan Erina. Wanita itu menjadi curiga karena Farhan yang terlihat salah tingkah karena pertanyaannya.
"Kalian beneran mau berangkat hari ini juga?" Tanya Miko saat mereka berempat sedang sarapan. Sarapan yang lebih siang dari biasanya karena Erina dan Farhan yang terlambat keluar dari kamar.
Biasanya keluarga ini akan sarapan sebelum jam tujuh pagi. Tapi karena Erina bersikeras meminta Farhan menjawab pertanyaan yang dia lontarkan subuh tadi, jadilah mereka baru keluar dari kamar setengah delapan. Erina bukannya menyesal jika ternyata pernah ada wanita yang masuk ke kamar Farhan dan terjadi sesuatu diantara mereka. Dia hanya ingin Farhan jujur dengan masa lalunya sehingga jika suatu saat ada seseorang yang mendatanginya dan mengatakan pernah punya hubungan dengan suaminya, dia tidak akan terkejut lagi. Akan tetapi dari yang Farhan sampaikan tadi hanya ada tiga wanita yang pernah masuk ke kamarnya yaitu mamanya, kakak iparnya dan keponakannya. Sementara ini Erina akan percaya dengan ucapan Farhan sambil dia akan mencari tahu saat ada kesempatan.
“Kalau saya terserah Erina saja, Yah. Bulan lalu waktu Ayah Fatih menelepon Ayah dan menanyakan hal ini kan Ayah bilang kalau Erina mau langsung ikut saya setelah kami menikah. Tapi kalau sekarang kiranya memang Erina masih ingin di sini, saya tidak keberatan, Yah. Saya masih ada waktu cuti satu minggu lagi.” Kata Farhan.
“Gimana, Rin?” Tanya Miko.
“Aku-” Erina ingin menyampaikan pendapatnya, tapi dipotong oleh Cintami.
“Yah, biarkan semua berjalan sesuai rencana awal. Farhan pasti punya pertimbangan kenapa dari jauh hari sudah menawarkan hal ini kepada Erina. Lagipula, Yah, mereka juga butuh waktu untuk saling mengenal lebih jauh pribadi masing-masing. Selama ini Bunda lihat mereka sama sekali ngga pernah komunikasi di luar pertemuan yang terjadi. Bunda betul kan?” Tanya Cintami kepada Erina dan Farhan.
Sepasang suami istri itu saling berpandangan sebelum mengangguk kepada Cintami.
“Tuh kan. Makanya, Yah, biarkan Erina ikut Farhan mulai hari ini. Biar mereka maksimalkan waktu cuti Farhan ini untuk saling mendalami karakter mereka.” Kata Bunda.
Miko menghela nafas pasrah. “Baiklah kalau begitu. Ayah rela kalau kalian mau berangkat hari ini. Ayah titipkan Erina sama kamu ya, Han. Terima dia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dia mungkin masih ada sifat manjanya meskipun sudah berusia dewasa. Tapi insya Allah dia juga wanita yang mudah ditata. Bimbing dia agar bisa menjadi wanita sholiha dan menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia.” Kata Miko berkaca-kaca. Dia sudah ikhlas putri tunggalnya berpindah tanggung jawab, tapi sebagai seorang ayah tetap saja Miko merasa sedih saat harus berpisah dengan Erina.
“Ayah jangan gitu dong. Aku juga jadi pingin nangis.” Kata Erina yang sudah berdiri menghampiri Miko dan memeluk pria itu dari belakang. Kedua tangannya sudah melingkar di bahu Miko.
“Maaf ya, Rin. Ayah hanya tidak menyangka kamu tiba-tiba sudah jadi milik orang lain.” Kata Miko mengusap lembut lengan Erina yang berada di dadanya.
“Aku akan tetap jadi anak ayah kok.” Kata Erina.
“Saya minta maaf ya, Yah.” Ucap Farhan tidak enak karena merasa menjadi penyebab terpisahnya ayah dan anak.
“Huss, jangan minta maaf. Justru Ayah berterima kasih karena kamu bersedia menikah dan menerima Erina menjadi istri kamu. Kalau tidak, entah kapan putri tunggal ayah ini bisa melepaskan masa lajangnya.” Kata Miko membuat Erina mengerucutkan bibir dan segera melepaskan pelukannya.
“Ayah nih nyebelin. Habis aku dibuat melayang, eh tiba-tiba dijatuhin dengan keras. Sakit tahu, Yah.” Gerutu Erina sambil duduk kembali di tempatnya. Ketiga orang lain yang berada di sana menjadi tertawa mendengar omelan Erina. Suasana yang tadinya haru kembali berubah menjadi ceria lagi.
“Rencananya kalian mau berangkat jam berapa?” Tanya Cintami.
“Tadi malam sih Mas Farhan bilang kalau bisa sebelum dhuhur, Bund. Biar ngga kemalaman sampai di apartemen Mas Farhan.” Jawab Erina.
“Sebelum dhuhur? Lah ini udah hampir jam sembilan. Apa kalian udah siap-siap?” Tanya Cintami.
“Belum sih, Bund.” Jawab Erina lirih.
“Mana keburu kalau jam segini aja kalian belum siap-siap. Kalau saran Bunda, nanti habis sholat dhuhur aja kalian berangkat. Mampir dulu ke rumah mertua kamu sekalian pamitan. Baru habis ashar kalian berangkat ke apartemen Farhan.” Kata Cintami.
“Tapi, Bund, kalau kayak kita nyampek jam berapa di tempat Mas Farhan.” Kata Erina menyanggah saran Bundanya.
“Kalau nanti kemalaman di jalan kan kalian bisa cari hotel untuk istirahat sekalian bulan madu. Masa iya Farhan ngga pingin segera buka segel. Farhan ini kan udah jadi suami kamu, Rin, udah berhak sama apapun yang ada sama kamu. Jadi, kamu ngga usah malu lagi sama Farhan.” Kata Cintami. Farhan dan Erina kembali berpandangan lalu sama-sama menunduk.
“Bunda ngga tahu aja kalau aku udah ngga gadis lagi.” Kata Erina dalam hati.
“Erina? Punya malu, Bund?” Tanya Miko menggoda Erina lagi.
“Apaan sih Ayah ini. Kenapa tanya kayak gitu? Kayak aku yang selama ini ngga punya malu aja.” Protes Erina.
“Lah, memangnya selama ini kamu punya malu? Coba kamu sebutkan kapan kamu pernah merasa malu?” Tanya Miko. Erina hanya cemberut tanpa bisa menjawab.
“Iya, Yah. Tadi malam Erina ke kamar kita minta tolong bukain baju pengantinnya sama Bunda. Padahal udah ada Farhan yang pasti dengan senang hati membantunya. Iya kan, Han?” Ganti Cintami yang menggoda Farhan. Pria itu hanya nyengir dan menggaruk tengkuknya. “Tapi ya itu, Erina yang ngga mau. Malu katanya. Tapi Bunda maklum sih, kalian baru beberapa kali bertemu. Jadi wajar kalau Erina masih ada perasaan malu sama Farhan.” Kata Cintami lagi.
“Ngapain malu sama suami, Rin. Bunda kamu aja dulu ngga pernah malu-malu sama Ayah. Justru Bunda duluan loh yang waktu itu ngajarin Ayah.” Kata Miko spontan.
“Ayah!” Cintami memanggil Miko sambil melotot. “Kenapa diomongin sama mereka sih. Malu tahu!”
“Hahaha. Ngapain malu, Bund. Sama anak sendiri ini.” Kata Miko tergelak.
“Tapi kan ini ada Farhan, Yah.” Protes Cintami lagi.
“Loh, Farhan kan sekarang juga anak kita. Jadi Ayah pikir ngga masalah dong. Lagipula ini tadi kan Bunda sendiri yang bilang sama Erina biar ngga perlu malu kalau sama suami. Ayah kan cuma kasih contoh aja, Bund.” Kata Miko lagi tak mau kalah.
Farhan dan Erina hanya bisa tersenyum dan tertawa melihat perdebatan sepasang suami istri di depan mereka. Farhan yang awalnya terkejut dengan interaksi antar anggota keluarga Miko ini sudah mulai bisa ikut larut dalam kehangatan keluarga ini.
“Ya udah, Rin, Han. Sebaiknya kalian siap-siap sekarang. Ngga usah diingat apa yang tadi Ayah kalian ucapkan ya.” Kata Cintami saat merasa kalah berdebat dengan Miko.
“Iya, Bund. Kamu ke kamar duluan aja ya, Mas. Aku bantuin Bunda beresin ini sebentar.” Kata Erina kemudian berdiri dan mengambil piring kotor yang baru saja mereka pakai. Farhan mengangguk
“Udah, Rin, biar Bunda aja. Kamu temani Farhan aja sana.” Cegah Cintami.
“Udah ngga apa-apa, Bund. Besok kan Erina udah ngga bantuin Bunda lagi.” Kata Farhan.
“Iya juga sih. Harusnya hari ini Bunda suruh Erina ngerjain semua pekerjaan rumah aja ya, Han. Mumpung dia masih di sini.” Goda Cintami.
“Bunda gitu banget. Katanya kita disuruh bulan madu. Kalau sekarang aku ngerjain semua kerjaan rumah dan jadi kecapekan gimana?”
“Iya iya, Bunda juga cuma bercanda. Ya udah ayo kita bersihin sekarang, biar cepet selesai dan kamu bisa segera siap-siap juga.” Kata Cintami.
“Siap, Bunda.”