“Iya, Mas. Aku bersedia.” Jawab Erina malu-malu.
Seperti naluri seorang bayi yang akan mencari airsusu ibunya saat lapar dan haus, seperti itulah naluri yang Tuhan karuniakan kepada sepasang manusia berbeda jenis kelamin yang disatukan dalam sebuah ikatan. Begitu pula yang terjadi pada Farhan dan Erina. Mereka sudah sama-sama yakin jika memang dijodohkan oleh Sang Maha Kuasa. Oleh karena tidak ada keraguan dalam diri mereka untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada pasangan halal mereka.
Farhan dengan perlahan memajukan wajah hingga bibirnya menyentuh bibir Erina. Hanya begitu saja rasanya ada aliran listrik di tubuh mereka yang mampu membangkitkan hasrat masing-masing. Desiran-desiran halus yang mengaliri setiap sel syaraf sensorik saat kulit mereka saling bersentuhan membuat gairah mereka mulai muncul. Tangan Farhan yang sejak tadi hanya memberikan sentuhan di sekitar wajah dan leher mulai berani untuk turun dan bergerak meremas gundukan kenyal milik Erina.
“Emmmhhhh.” Ungkapan kenikmatan ingin Erina suarakan, namun sayang bibirnya masih terbungkam oleh bibir Farhan. Dia terlalu fokus dengan apa yang baru dia rasakan ini hingga tanpa ingin menolak, Erina membiarkan saja saat Farhan melucuti pakaiannya.
Penuh kelembutan Farhan mengeksplorasi tubuh Erina dengan tangannya. Apa yang Farhan lakukan ini semakin membuat wanita itu tidak ingin membuka mata. Sebuah rasa yang tidak ada bandingannya bagi Erina. Beberapa kali Erina mendesah dan mencengkeram lengan Farhan dengan tangannya membuat suaminya ikut terbawa merasakan bahagia.
“Rin, bisa kamu bantu tunjukkan tempatnya? Aku takut tersesat.” Kata Farhan dengan suara serak penuh hasrat.
“Ikuti nalurimu, Mas. Ikuti jalan tengah.” Ucap Erina.
“Oke, Sayang. Apa kamu sudah siap kalau aku buka pintunya sekarang?” Tanya Farhan. Erina hanya bisa mengangguk dengan pandangan sayunya.
“Pelan-pelan ya, Mas.” Pinta Erina.
“Iya, Sayang.”
Farhan sudah berusaha benar-benar melakukannya dengan halus. Namun, karena milik Erina masih tersegel, mau tidak mau dia harus mendobraknya sedikit kuat agar bisa benar-benar masuk.
“Sshhh, sakit, Mas.” Rintih Erina membuat Farhan tidak tega.
“Maaf ya, Rin. Aku ngga sanggup berhenti. Kamu tahan sebentar lagi ya.” Pinta Farhan, antara memelas dan kasihan kepada istrinya. Farhan terus melihat wajah Erina sambil terus melakukan usahanya menuju puncak. Dia hampir menyerah dan berhenti saat melihat wajah Erina yang terus meringis dan merintih kesakitan.
“Masih sakit, Rin?” Tanya Farhan ikut meringis. Dia sudah berniat mencabut jika memang Erina masih merasakan sakit. Akan tetapi gelengen kepala Erina juga arahan darinya membuat Farhan kembali bersemangat.
“Lanjut, Mas. Lanjut.” Desah Erina. Farhan mengangguk mantap dan segera menuruti perintah Erina.
Hingga belasan menit kemudian, akhirnya mereka sama-sama sampai di tujuan. Farhan dengan perlahan melepaskan diri dari sang istri dan menjatuhkan tubuh di samping Erina. Dengan nafas yang sama-sama masih tersengal mereka saling berpandangan dan melempar senyum.
“Makasih ya, Rin.” Ucap Farhan.
“Sama-sama, Mas.” Jawab Erina.
“Maaf sudah menyakiti kamu di malam pertama kita. Semoga selanjutnya kamu ngga akan tersakiti lagi.” Kata Farhan lagi.
“Apaan sih kamu, Mas.” Kata Erina sambil memukul lengan atas Farhan. Pria itu tertawa singkat.
“Kayaknya ini saatnya kita harus benar-benar tidur. Perjalanan panjang membuka dan memasuki goa tadi ternyata cukup melelahkan.” Kata Farhan sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Erina melirik jam dinding sejenak sebelum menuruti ucapan Farhan.
“Mas! Jangan tidur dulu. Kita mandi dulu aja, udah jam segini.” Kata Erina.
Farhan sudah tak mampu lagi mempertahankan matanya agar tetap terbuka. Hanya sebentar matanya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari sebelum terlelap beberapa detik setelahnya.
“Maasss, bangun. Mandi dulu.” Kata Erina sambil menggoyangkan badan Farhan. Tapi sepertinya pria itu benar-benar kelelahan hingga tidak bergerak sedikitpun meskipun Erina menggoyangkan tubuhnya beberapa kali.
“Hehhh, ya udah aku mandi dulu aja.” Kata Erina kepada diri sendiri.
Dia menurunkan kakinya perlahan karena masih merasakan nyeri di inti tubuhnya. Dia melihat sekeliling untuk mencari pakaiannya yang tadi dilemparkan sembarangan oleh Farhan. Mulutnya terbuka tidak percaya saat melihat di lantai kamar tidurnya berserakan pakaian miliknya juga suaminya. Erina hanya bisa menggelengkan kepala kemudian melihat ke arah Farhan yang masih tenang dalam tidurnya.
“Besok pagi kamu yang harus tanggung jawab ya, Mas.” Ucap Erina. Dia memutuskan untuk mengambil satu daster panjang di lemarinya daripada harus mencari keberadaan piyamanya yang entah berada di sebelah mana. Tanpa memakai pakaian dalam, Erina segera menutupi tubuh polosnya dengan daster.
Dengan perlahan Erina membuka pintu kamar agar tidak menimbulkan suara. Dari celah pintu yang baru terbuka sebagian, dia mengintip dan memastikan keadaan rumah. Dia khawatir jika orang tuanya ada yang masih terbangun di jam seperti ini. Setelah memastikan keadaan aman, barulah Erina berjingkat menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri lagi. Rambutnya yang tadi masih agak basah terpaksa harus dia cuci lagi.
“Mas, bangun!” Setelah mandi, Erina berusaha membangunkan suaminya lagi.
“Hemmm?” Ucap Farhan. Kepalanya ditolehkan ke sumber suara, akan tetapi matanya tetap tidak terbuka.
“Mandi dulu, Mas Farhan. Aku ngga mau besok pagi diledekin Bunda kalau tahu kamu mandi dulu sebelum sholat subuh.” Kata Erina lagi.
“Hemmm. Amhbfkfjanwjr.” Farhan bukannya terbangun malah menggerutu tidak jelas. Dengan kesal Erina memukul pundak Farhan, tapi pria itu tetap tidak bergeming. Erina akhirnya menyerah. Dia menuju ke meja rias dan mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.
Setelah dirasa cukup kering barulah Erina kembali ke tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Dia menutup badannya dengan selimut yang sama dengan Farhan. Sebelum memejamkan mata, Erina memiringkan tubuh menghadap Farhan. Dia telusuri pipi tegas Farhan dengan jari telunjuknya.
"Hidup ngga bisa ditebak. Tiba-tiba saja kita dipertemukan dan dengan mudahnya kedua orang tua kita menentukan tanggal pernikahan. Kita bahkan ngga pernah ngobrol berdua sebelum menikah, tapi entah mengapa aku begitu saja rela menyerahkan diri kepadamu, Mas. Semoga Allah benar-benar menjodohkan kita di dunia hingga ke surga. Semoga aku bisa menjadi istri yang taat, dan kamu bisa menjadi suami yang bertanggung jawab." Harap Erina. Dia kembali membawa tubuhnya dalam posisi terlentang. Entah karena acara pernikahannya atau karena malam pertamanya, punggung Erina terasa seperti patah. Sangat nyaman rasanya saat dia luruskan punggung seperti ini.
"Ya Allah, capek banget. Bikin acara pernikahan ternyata sangat melelahkan. Kayaknya cukup sekali ini aja deh aku nikahnya." Kata Erina kemudian memejamkan matanya.