“Belum tidur, Mas Farhan?” Tanya Erina saat baru memasuki kamarnya lagi. Baju pengantinnya sudah berganti dengan setelan piyama katun lengan panjang dipadu dengan jilbab langsung berwarna senada. Aroma segar tercium menguar dari tubuhnya yang memang baru selesai mandi. Dia mendekati Farhan yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Erina merasa lebih menyukai penampilan santai Farhan yang hanya memakai kaos abu dan celana pendek berwarna lebih tua.
“Belum, Mbak Erina.” Jawab Farhan. “Saya ngga enak kalau tidur duluan, sedangkan yang punya kamar masih di luar.” Ucapnya lagi.
Erina yang tadi berdiri di depan Farhan mengambil duduk di samping pria itu dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Dia menghela nafas sejenak sebelum mengatakan apa yang dia pikirkan.
“Mas Farhan, mumpung kita masih baru saja menikah, gimana kalau sekarang kita buat kesepakatan.” Ucap Erina. Wajah Farhan menunjukkan kebingungan sekaligus kekecewaan. Saat mendengar kesepakatan, yang ada dipikirannya adalah Erina akan mengajukan batasan-batasan yang harus mereka patuhi selama belum ada perasaan cinta diantara mereka.
“Kesepakatan? Kesepakatan gimana yang, Mbak maksudnya?” Tanya Farhan ingin mengetahui maksud Erina yang sebenarnya.
“Menurutku mulai saat ini ada beberapa hal yang perlu kita berdua sepakati.” Jawab Erina.
“Misalnya, Mbak?”
“Yang pertama mengenai panggilan untuk satu sama lain. Umurku sekarang memang sudah dua puluh delapan tahun, Mas. Aku juga menyadari kalau itu bukan usia yang bisa dibilang masih muda, tapi kalau ada suami yang memanggil istrinya dengan imbuhan ‘Mbak’, apakah menurut Mas Farhan itu pantas?” Tanya Erina.
“Emmm, yah kurang pantas juga sih, Mbak.” Kata Farhan ragu.
“Oke, berarti sekarang apakah Mas Farhan sepakat kalau tidak lagi memanggilku ‘Mbak’?” Tanya Erina lagi.
“Saya sepakat, Mbak. Eh, itu, anu, emmm lalu sebaiknya saya panggil gimana ya?” Tanya Farhan bingung.
“Panggil nama aja ngga masalah. Karena ngga mungkin kan Mas Farhan punya panggilan sayang kalau diantara kita masih belum ada perasaan apa-apa.” Kata Erina.
Farhan menggaruk tengkuk mendengar keterusterangan Erina. “Baiklah, kalau begitu mulai sekarang saya panggil Erina aja ngga apa-apa ya?”
“Ngga apa-apa, Mas. Itu lebih baik daripada dipanggil ‘Mbak’.”
“Saya rasa juga begitu, Rin.” Kata Farhan mencoba mulai memanggil Erina dengan namanya saja. Hanya dengan begitu saja Farhan sudah merasa hubungan mereka yang sebelumnya terasa kaku menjadi lebih mencair.
“Kalau Mas Farhan kira-kira mau aku panggil gimana?”
“Seperti ini saja ngga apa-apa.” Kata Farhan.
“Yang kedua.” Kata Erina.
“Eh ada lagi?” Tanya Farhan.
“Yup! yang kedua mengenai penyebutan pribadi. Menurut Mas Farhan, kalau suami istri itu sebaiknya menggunakan kata ganti saya-kamu atau aku-kamu?” Tanya Erina.
“Menurut saya sih lebih baik aku-kamu, karena kalau saya-kamu kesannya jadi lebih formal.” Jawab Farhan.
“Lalu kenapa Mas Farhan masih menggunakan kata ganti ‘saya’?” Pertanyaan Erina membuat Farhan kembali nyengir.
“Iya ya? Oke akan saya rubah jadi aku.” Ucap Farhan.
“Baik, berarti untuk yang kedua kita sudah sepakat juga ya?”
“Iya, Rin.”
“Oke. Sementara itu saja yang ingin aku sepakati sama kamu, Mas. Karena mungkin nanti di perjalanan pernikahan ini ada kesepakatan baru yang perlu kita buat. Sebelum kita istirahat apa Mas Farhan ada sesuatu yang perlu kita bahas dan sepakati juga mungkin?” Tanya Erina memberi Farhan kesempatan. Tidak adil menurutnya jika hanya dirinya yang meminta sesuatu dari Farhan tanpa memberi suaminya waktu untuk mengajukan permintaan kepadanya.
“Cuma itu aja yang perlu kita sepakati, Rin?” Tanya Farhan memastikan tidak ada perjanjian aneh yang perlu mereka lakukan.
“Sementara cuma itu, Mas.” Kata Erina lagi.
“Baik, kalau aku emmm sebenarnya bukan kesepakatan sih, tapi lebih ke pemberitahuan dan permintaan.” Ucap Farhan.
“Apa itu, Mas?” Tanya Erina.
“Begini, Rin, sebelumnya aku mau berterima kasih dulu sama kamu karena sudah bersedia merelakan karir kamu dan memilih untuk ikut bersamaku. Jadi aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kamu.” Kata Farhan membuat Erina sedikit meleleh.
“Ini gaji pokokku selama satu bulan, Rin.” Kata Farhan sambil menunjukkan nominal gaji yang tertera di laporan mobile banking di ponselnya. “Misalnya aku kasih ke kamu delapan puluh persennya gimana, Rin? Dua puluh persennya aku gunakan untuk kebutuhan transportasi dan makanku selama bekerja. Apa kira-kira cukup untuk keperluan kamu dan keluarga kita?” Tanya Farhan.
Erina hanya bisa menganga melihat nominal yang Farhan tunjukkan sampai-sampai dia tidak mampu sekedar menggerakkan bibir untuk menjawab pertanyaan Farhan.
“Rin? Gimana? Apa kurang?” Tanya Farhan khawatir jika nominal nafkah bulanan yang akan dia berikan tidak cukup untuk Erina.
“Eh gimana, Mas?” Tanya Erina gelagapan.
“Kalau tiap bulan aku kasih kamu segini untuk nafkah apa kira-kira cukup?” Ulang Farhan.
“Sebentar, Mas, sebelum aku jawab pertanyaan kamu sebenarnya di kantor kamu kerja bagian apa sih?” Tanya Erina memastikan. Dia khawatir Farhan bekerja di bidang yang tidak benar, pasalnya jumlah gaji Farhan satu bulan hampir sembilan kali gajinya dulu. Jika penghasilannya dulu saja sudah sangat cukup untuk kebutuhannya apalagi delapan puluh persen gaji Farhan.
“Aku sekretaris CEO, Rin. Pak Mario yang tadi datang kesini itu CEO di kantor tempatku bekerja.” Jawab Farhan jujur.
“Sekretaris CEO gajinya segini tiap bulan?” Tanya Erina pelan.
“Iya, Rin. Kenapa? Apa terlalu kecil menurut kamu?” Tanya Farhan memicingkan mata.
“Ya nggaklah, Mas. Masa iya segitu kecil? Besar banget lah.” Kata Erina cepat.
“Jadi gimana tadi? Cukup ya berarti?”
“Insya Allah itu sangat lebih dari cukup, Mas.” Kata Erina.
“Alhamdulillah kalau begitu.” Kata Farhan lega.
“Sebenarnya aku berat, Mas, kalau cuma di rumah aja. Tapi, karena sebagai istri aku memang tidak diwajibkan untuk bekerja jadi aku akan berusaha untuk menyesuaikan diri menjadi ibu rumah tangga.” Kata Erina membuat Farhan semakin lega.
“Terima kasih banyak ya, Rin.” Ucap Farhan sambil memandang Erina lekat. Jika diperbolehkan sebenarnya dia sangat ingin memeluk Erina sebagai rasa terima kasihnya, akan tetapi dia khawatir jika istrinya itu belum siap untuk melakukan kontak fisik dengannya.
“Ada lagi yang perlu kamu sampaikan, Mas?” Tanya Erina. Dia benar-benar ingin pernikahan mereka ini berjalan lancar sehingga dari awal dia berharap mereka berdua bisa saling terbuka dan jujur tentang diri masing-masing.
“Sepertinya sudah cukup, Rin. Seperti yang kamu bilang tadi, sementara masih itu. Nanti sambil jalan sambil kita bicarakan lagi tentang apapun masalah yang ada dalam rumah tangga kita. Aku harap kamu juga bisa selalu terbuka sama aku. Kalau ada masalah apa-apa jangan ragu untuk cerita ya.” Kata Farhan sambil setengah mati menahan untuk tidak menyentuh Erina. Padahal saat ini dia ingin mengelus pipi mulus Erina.
“Iya, Mas. Kamu juga gitu, apapun masalah yang kita hadapi nanti aku harap bisa selalu kita diskusikan bersama.” Kata Erina.
“Iya, Rin.”
“Ya udah kalau ngga ada lagi yang perlu kita bahas, sebaiknya kita tidur aja sekarang.” Kata Erina.
“Apa ngga sebaiknya kita sholat sunnah dua rokaat dulu aja?” Tawar Farhan.
“Oh iya, sholat sunnah itu ya, Mas. Ayok lah, mumpung aku masih punya wudhu.” Kata Erina.
“Aku juga udah wudhu sekalian mandi tadi. Kalau gitu aku ganti baju dulu ya.” Kata Farhan. Dia kemudian berdiri menuju ke tempat tasnya berada untuk mengambil sarung dan baju koko. Dia langsung melapisi pakaian yang melekat di tubuhnya dengan satu set pakaian ibadah itu. Saat Farhan berdiri, Erina juga melakukan hal yang sama untuk mengambil mukena beserta sajadah. Dia juga membuka lemari bajunya untuk mengambil satu sajadah lagi untuk Farhan. Sambil menunggu Farhan selesai, dia menggelar kedua sajadah itu dengan posisi depan belakang.
“Udah siap, Mas?” Tanya Erina yang melihat Farhan sudah rapi dan berdiri di dekatnya.
“Udah. Yuk.” Jawab Farhan kemudian berdiri di atas sajadah yang terpasang di posisi depan.
Hampir dua puluh menit waktu yang mereka gunakan untuk sholat sunnah pengantin hingga Farhan yang meniupkan doa di ubun-ubun Erina. Meskipun sama-sama masih merasa canggung, namun mereka berusaha melakukan semua itu dengan sungguh-sungguh.
Erina berdiri lebih dulu setelah dirasa selesai. Dia merapikan mukena miliknya juga sajadah milik Farhan sementara pria itu melepas pakaian ibadahnya.
“Rencananya mau berangkat jam berapa, Mas?” Tanya Erina setelah selesai merapikan alat ibadah mereka. Dia berjalan ke arah tempat tidur untuk menata bantal yang akan dia gunakan tidak lama lagi.
“Kalau bisa sih sebelum dhuhur ya, Rin. Biar ngga kemalaman sampai di apartemen.” Jawab Farhan yang sudah duduk di tepi tempat tidur.
“Berapa jam, Mas, kira-kira perjalanan kesana?” Tanya Erina lagi. Kali ini dia sudah mulai memposisikan tubuh untuk bersiap tidur.
“Kalau bawa mobilnya santai sih bisa sampai empat jam. Tapi kalau pas ngebut, dua sampai tiga jam udah sampai.” Jawab Farhan mengikuti apa yang Erina lakukan.
“Ya udah kita tidur aja sekarang. Biar besok Mas Farhan bisa lebih fresh dan ngga ngantuk waktu mengemudi.” Kata Erina. Baru juga tidur bersisian seperti ini, rasanya dia sudah mulai salah tingkah.
Farhan tidak bersuara untuk menanggapi ucapan Erina. Saat ini dia juga sedang sibuk meredam detak jantungnya yang berdebar lebih kencang sebagai akibat keluarnya hormon adrenalin.
“Rin?” Panggil Farhan setelah beberapa saat ada keheningan diantara mereka. Matanya menerawang memandang langit-langit kamar. Erina yang sudah memejam terpaksa membuka matanya lagi dan menoleh ke samping kanannya tempat Farhan berada.
“Kenapa, Mas?” Tanya Erina. Farhan menolehkan kepala ke arah Erina setelah mendengar istrinya bersuara. Dia bahkan ikut memutar tubuh ke samping kemudian menyangga kepala menggunakan tangan kirinya.
“Menurut kamu butuh berapa lama bagi kita untuk bisa saling mencintai? Mengingat sampai hari ini kita baru tiga kali bertemu. Kita bahkan baru benar-benar ngobrol malam ini.” Tanya Farhan.
“Entahlah, Mas. Setauku sampai saat ini belum ada teori yang menjelaskan hubungan antara kuantitas pertemuan dengan kualitas perasaan cinta. Meskipun ada pepatah Jawa mengatakan ‘Witing tresno jalaran soko kulino’ yang artinya cinta bisa tumbuh karena terbiasa bersama. Tapi untuk berapa lamanya waktu yang dibutuhkan untuk bisa sampai tumbuh perasaan cinta itu yang sampai saat ini belum ada yang tahu. Cuma aku pernah baca tentang konsep cinta menurut salah satu ulama.” Jawab Erina sambil mengingat redaksi kata ulama yang dia maksud.
“Oh ya? Gimana itu, Rin?” Tanya Farhan penasaran.
“Kalau ngga salah menurut Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz, konsep cinta itu: setelah saling sesuai atau cocok, akan datang sikap saling menjaga, setelah saling menjaga, akan datang sikap saling menyayangi dalam cinta.” Kata Erina.
“Seperti itukah?” Tanya Farhan menjadi semakin tertarik dengan ucapan Erina.
“Ya. Dan aku rasa kalau mengingat tadi kita bisa dengan mudah menyepakati beberapa hal, sepertinya kita sudah sampai di tahap saling sesuai.”
“Kamu benar juga. Secara pemikiran kita memiliki beberapa kesamaan. Sebenarnya sejak aku bantu memindahkan barang kamu waktu itu, aku sudah mulai merasa klik sama kamu.” Kata Farhan jujur.
“Masa? Kok bisa?” Tanya Erina penasaran. Dia ikut memutar tubuh sehingga badan mereka saat ini saling berhadapan.
“Waktu itu jujur aku ragu mau bantu kamu karena ngga enak kalau sampai kita berada berdua saja di kamar kamu. Ternyata kamu justru memintaku menunggu di luar, jadi kita ngga sampai berdua di kamar ini. Lega banget rasanya waktu itu.” Kata Farhan.
“Oh karena itu. Iya sih. Aku juga ngga nyaman kalau sampai berdua saja dengan laki-laki selain keluarga di dalam kamar.” Kata Erina.
“Berarti secara pemikiran kayaknya kita memang udah cocok ya, Rin.” Kata Farhan.
“Sepertinya sih gitu, Mas.” Ucap Erina.
“Menurut kamu, kalau secara pikiran kita udah sesuai apa mungkin secara fisik kita juga bisa sesuai, Rin?” Tanya Farhan.
“Maksud kamu, Mas?” Tanya Erina tidak mengerti dengan pertanyaan Farhan.
“Emmm gimana ya ngomongnya.” Farhan terlihat berpikir sejenak.
“Emmm, gini, Rin. Malam ini kan kita sudah mulai bisa saling membuka pikiran juga hati kita satu sama lain.” Kata Farhan menjeda ucapannya. Tangan kanannya mulai bergerak dan dia labuhkan di pipi Erina. Wanita itu terkesiap dengan sensasi hangat yang dia rasakan saat kulit mereka saling bersentuhan. Apalagi saat ibu jari pria itu mulai bergerak lembut membelai wajahnya. Dia semakin terkejut saat Farhan kemudian melanjutkan ucapannya.
“Apa kamu keberatan, Rin, kalau malam ini kita juga saling membuka diri?” Tanya Farhan lirih. Tangannya sudah bergerak menyusuri bahu dan berhenti di lengan Erina. Matanya sudah berpindah fokus di kancing teratas piyama yang istrinya kenakan.
“Maksud kamu-, apa kamu mau-” Erina tidak mampu meneruskan pertanyaannya karena gugup. Farhan mengangguk dan memandang mata Erina sayu. Berada berdua saja dengan seorang wanita dalam sebuah ruangan tertutup seperti ini ternyata membuat hasratnya menjadi naik. Apalagi wanita yang bersamanya saat ini sudah halal baginya. Rasanya tidak salah jika dia mengungkapkan keinginan yang tiba-tiba dia rasakan semakin membuncah.
“Aku yakin kamu tau apa yang aku mau. Apa kamu bersedia kalau kita melakukannya malam ini?” Tanya Farhan lagi. Dia merasa kesediaan Erina lebih penting dibandingkan memaksakan kehendaknya, meskipun dia berhak untuk melakukannya.
“Apa kamu tahu caranya, Mas?” Tanya Erina.
“Ini pengalaman pertamaku, Rin. Tapi aku yakin kalau kita sudah dikaruniai naluri untuk bisa melakukannya tanpa diajari. Kamu bersedia kan?” Pinta Farhan lagi.
“Iya, Mas. Aku bersedia.” Jawab Erina malu-malu.