Pria tampan berjas hitam yang saat ini sedang menjadi pusat perhatian itu berkali-kali mengelap tangannya yang berkeringat dengan sapu tangan biru muda yang selalu dia bawa kemana-mana. Rasa gugup tidak bisa dia enyahkan sejak sang ayah mengantarnya duduk di depan meja rendah yang berada di tengah ruangan besar yang sehari digunakan menyembah sang ilahi lima kali sehari. Pria itu terus saja menunduk sambil menunggu petugas yang dikirim dari Kantor Urusan Agama.
“Tenang, Han. Banyakin baca sholawat biar nanti lancar ijab qobulnya.” Ucap Faisal, kakak Farhan. Pria yang duduk di belakang Farhan agak ke kanan itu sudah sejak dari rumah tadi menyadari jika sang adik sangat gugup.
“Iya, Mas.” Jawab Farhan. Dia menoleh sejenak kepada Faisal kemudian kembali menunduk. Farhan menutup mata dan mulai menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara untuk melakukan apa yang Faisal sarankan. Hingga dia tidak menyadari jika orang yang ditunggu oleh semua orang yang hadir di sana sudah berada di seberang meja.
“Sudah siap, Mas?” Tanya pria di depan Farhan.
“Astaghfirullah!” Farhan terlonjak karena terkejut. Sikapnya ini membuat beberapa orang yang berada di dekatnya tertawa kecil sambil mendengungkan kelucuan Farhan. “Eh, iya, Pak. Anu, itu, sudah.” Ucap Farhan.
“Yakin sudah siap, Mas? Kalau belum, biar saya balik dulu ke kantor dan kembali lagi besok kalau Masnya sudah benar-benar siap.” Goda petugas itu sambil mengambil ancang-ancang untuk berdiri.
“Eh eh, jangan, Pak. Sekarang saja. Saya sudah siap kok.” Ucap Farhan panik sambil memegang tangan petugas dengan kedua tangannya. Lagi-lagi sikap Farhan ini mengundang tawa dari para undangan yang hadir di acara walimatul ursy ini.
“Alhamdulillah kalau Mas sudah siap.” Kata petugas itu setelah kembali duduk di tempatnya. “Bapak-bapak yang sudah diminta sebagai saksi silahkan maju dan duduk di dekat mempelai.” Lanjut petugas itu. Dia kemudian membaca identitas kedua mempelai dengan lantang untuk memastikan bahwa yang akan dinikahkan hari ini adalah benar Farhan dan Erina.
Di gedung yang sama, namun di tempat yang terpisah oleh tabir, sang mempelai wanita tidak kalah gugupnya. Dia diapit oleh ibu dan calon mertua di sisi kanan dan kirinya. Cintami bahkan harus mengipasi wajah Erina yang mulai mengalirkan keringat. Padahal kipas angin yang terpasang di atap masjid ini tidak berhenti berputar sejak semua tamu datang.
“Tenang ya, Rin. Jangan terlalu gugup. Bisa-bisa nanti make up kamu luntur kalau keringat kamu banyak terus kayak gini.” Bisik Cintami di telinga Erina.
“Iya, Erina. Insya Allah semua akan berjalan lancar.” Ucap Mutia, Ibu Farhan.
“Iya, Bund, Ma.” Kata Erina menoleh ke arah Cintami dan Mutia bergantian. Kepalanya kembali dia tundukkan saat mendengar suara lantang dari pengeras yang menunjukkan bahwa acara ijab qobul akan segera dimulai. Jantung Erina berdebar kencang saat suara ayahnya yang mengucapkan ijab sebagai bentuk penyerahan tanggung jawab akan dirinya sepenuhnya kepada Farhan. Mata Erina mulai berkaca-kaca saat suara Miko terdengar bergetar karena menahan tangisannya. Hingga suara mantap Farhan yang menerima penyerahan dari Miko membuat air mata Erina jug hampir semua wanita yang hadir di sana akhirnya tidak tertahankan dan mengalir begitu saja.
“Sah!”
"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin." (mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.)
Hingga setelah kata dan doa itu terdengar, dua ibu yang berada di kedua sisi Erina memeluknya dari samping penuh haru.
“Selamat ya, Sayang. Akhirnya kamu menjadi seorang istri.” Ucap Cintami yang diangguki oleh Erina. Wanita berusia lebih dari setengah abad itu benar-benar sangat bahagia karena harapannya beberapa tahun terakhir ini terwujud. Putri tercinta dan satu-satunya itu akhirnya menikah.
“Iya, Bunda. Terima kasih banyak ya, Bund.” Ucap Erina kepada Cintami.
“Alhamdulillah. Terima kasih ya, Sayang, karena kamu bersedia menjadi pendamping Farhan. Mama doakan semoga kalian selalu bahagia lahir batin dan dunia akhirat.” Ucap Mutia kepada menantu barunya itu.
“Sama-sama, Ma. Saya juga terima kasih karena Mama bersedia menerima saya yang pasti banyak kekurangan ini.” Kata Erina merendahkan diri.
Perbincangan ketiga wanita itu harus terhenti karena pengantin pria yang didampingi wali nikah pengantin wanita, dua orang saksi dan petugas kantor urusan agama muncul dari balik tabir. Jantung Erina kembali berdebar. Pria yang hari ini baru ditemuinya sebanyak tiga kali itu telah sah menjadi suaminya. Entah mengapa di mata Erina saat ini Farhan terlihat lebih tampan dan berwibawa dibanding sebelumnya. Begitu pun Farhan yang matanya tidak bisa dialihkan dari Erina yang kali ini terlihat begitu seksi karena kebaya putih yang dipakainya sangat pas melekat di tubuh semampainya. Jika boleh jujur rasanya dia menjadi tidak rela pria lain melihat lekuk tubuh wanita yang beberapa menit lalu resmi menjadi tanggung jawabnya lahir dan batin.
“Mas Farhan silahkan menyerahkan mas kawinnya dulu agar bisa dilihat para saksi sebagai bukti bahwa Mas Farhan memberikan mas kawin secara tunai.” Kata petugas KUA.
Farhan menoleh ke arah Faisal yang tadi dia minta membawakan mas kawin berupa uang tunai dalam amplop. Faisal yang sudah paham maksud Farhan segera memberikan benda itu. Dengan disaksikan orang yang ada di sekitar mereka, Farhan menyerahkan mas kawin yang sudah mereka sepakati kepada Erina. Setelahnya Erina mencium tangan Farhan. Mereka berdua merasakan jika kedua tangan mereka sama-sama dingin.
"Sekarang cium keningnya Erina, Han." Kata Mutia di telinga Farhan. Pria itu menoleh kepada Mutia gugup sedangkan Erina fokus memandang Farhan dengan perasaan tidak kalah gugup. Farhan kemudian mengalihkan perhatian kepada Erina. Beberapa saat pandangan mereka saling terkunci. Mata mereka saling menghipnotis satu sama lain sehingga indra pendengaran mereka seakan tertutup dari riuh sorai dari para undangan yang menunggu aksi mereka selanjutnya.
"Ehemmm, Mas Farhan, Mbak Erina, bisa kita lanjutkan saja acaranya? Saya ada jadwal ke pernikahan di tempat lain.” Ucap petugas KUA.
“Eh iya, bisa, Pak.” Kata Farhan salah tingkah. Erina menghela nafas panjang kecewa. Dia memang malu jika Farhan mencium keningnya. Namun jika Farhan tidak jadi melakukannya seperti ini, dia jadi merasa kalau pria itu tidak menginginkannya.
“Baik, silahkan Mbak Erina menandatangani dokumen ini dulu.” Kata petugas KUA menyerahkan beberapa lembar kertas dan buku nikah istri kepada Erina. Wanita itu pun mengikuti instruksi dari petugas itu untuk membubuhkan tanda tangannya di beberapa tempat.
“Alhamdulillah.”
Setelah semua prosesi selesai, rombongan pria itu kembali ke tempatnya, termasuk Farhan. Semua pandangan para wanita mengantarkan kepergian para pria itu ke balik tabir pembatas. Saat Farhan sudah membuka tabir pembatas, di menolehkan kepala ke belakang untuk melihat wajah Erina yang sekarang sudah sah menjadi istrinya itu. Dia hendak memberikan senyum, tapi sayangnya Erina justru memalingkan wajah. Api kebahagiaan di hati Farhan seakan tiba-tiba harus padam tersiram air karena sikap Erina. Dia menjadi bertanya-tanya dalam hati apa yang sudah dia lakukan sehingga membuat Erina bersikap seperti itu kepadanya.
Selesai acara akad nikah, kedua mempelai beserta keluarga menuju ke rumah Erina yang dijadikan sebagai tempat resepsi. Keluarga dan saudara dari pihak Miko maupun Fatih, semuanya diundang ke tempat ini karena memang acara resepsi pernikahan Erina dan Farhan hanya akan dilaksanakan di rumah Miko ini saja.
Hampir semua teman kantor Erina diundang ke sini, tapi tidak dengan Farhan. Pria itu hanya mengundang Mario, atasannya beserta istri saja ke pesta pernikahannya ini karena permintaan Mario. Selama ini Farhan memang tidak pernah bisa menolak permintaan Mario. Padahal alasannya tidak mengundang teman teman kantor adalah karena tempat kerjanya berada di luar kota, sehingga dia merasa tidak enak jika teman kerjanya harus bersusah payah melakukan perjalanan jauh hanya untuk datang ke acaranya ini. Apalagi dengan Mario.
“Selamat ya, Han. Akhirnya kamu menikah juga. Kania minta maaf tidak bisa hadir karena dia sedang ada acara juga.” Kata Mario saat naik ke pelaminan untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai. Farhan kemudian memperkenalkan Mario sebagai atasannya kepada Erina.
“Terima kasih banyak karena Bapak bersedia menyempatkan hadir di pernikahan saya ini.” Kata Farhan sambil beberapa kali sedikit membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan. Sikap yang selalu dia tunjukkan kepada Mario saat berada di kantor.
“Hei, kamu kenapa terlalu formal seperti ini sama saya. Ini bukan di kantor, Han, hari ini kamulah rajanya. Jadi jangan bersikap seperti itu di sini kepada saya.” Protes Mario.
“Eh iya, baik, Pak.” Kata Mario. “Sudah kebiasaan soalnya, hehehe.”
“Ck, kamu ini.” Kata Mario sambil menepuk pundak Farhan. “Saya jamin setelah ini kamu pasti akan menyesal.”
“Maksudnya, Pak?” Tanya Farhan tidak mengerti.
“Kamu akan menyesal kenapa tidak menikah sejak dulu. Hahaha.” Kata Mario dengan tawa meledak. Namun, Farhan dan Erina justru saling berpandangan tidak mengerti dengan ucapan Mario. Pria itu langsung terdiam karena gurauannya tidak mendapat sambutan.
“Selamat ya, Mbak Erina. Anda beruntung bisa memiliki suami seperti Farhan. Dia ini tipe pria yang setia.” Kata Mario beralih kepada Erina.
“Terima kasih banyak, Pak.” Ucap Erina memberikan senyumnya.
Mario kemudian berpamitan untuk pulang setelah puas berbincang dengan Farhan. Dia tidak bisa berlama-lama di tempat itu dengan alasan banyak pekerjaan. Sebenarnya Mario sedikit berat saat Farhan meminta cuti selama satu minggu, karena selama ini dia sangat tergantung dengan bantuan Farhan.
“Atasan kamu masih muda ya, Mas.” Kata Erina memandang kepergian Mario keluar dari tempat resepsi pernikahan mereka. Farhan yang sebelumnya melakukan hal yang sama seketika memandang ke arah Erina sambil memicingkan mata.
“Kenapa, Mbak? Kamu tertarik sama dia?” Tanya Farhan tajam. Entah mengapa dia merasa tidak suka Erina memuji pria lain di depannya.
Erina mengangguk perlahan. “Sepertinya begitu. Aku kagum aja kalau ada orang masih muda tapi sudah jadi pimpinan. Yah meskipun dia bisa berada di posisi itu karena keturunan, tapi kalau perusahaan yang dia pimpin bisa terus bertahan bahkan berkembang itu berarti dia punya kemampuan yang mumpuni sebagai pimpinan.” Kata Erina terus memandang ke depan. Hingga setelah selesai berucap, dia menolehkan kepala kepada Farhan. “Kenapa, Mas? Aku salah ya?” Tanya Erina yang menyadari ada ekspresi tidak suka di wajah Farhan.
“Iya, Mbak, kamu salah. Ngga sepatutnya kamu memuji laki-laki lain selain suami kamu.” Kata Farhan datar tapi tajam.
Erina tertawa singkat. “Kamu ngga sedang cemburu kan, Mas?” Tanya Erina menguji perasaan Farhan. Pria itu mendengus. Dia lebih memilih untuk menutup mulut dan memalingkan wajah ke arah lain.
Pukul sembilan malam, acara resepsi disudahi karena sudah tidak banyak tamu undangan yang datang. Cintami meminta Erina mengajak Farhan beristirahat di kamarnya karena besok mereka sudah harus berangkat dan menetap di apartemen Farhan.
“Silahkan, Mas, mohon maaf kamarnya cuma segini.” Kata Erina mempersilahkan masuk ke kamarnya lebih dulu,
“Ngga masalah, Mbak. Kamar saya di apartemen ngga jauh lebi besar dari ini.” Kata Farhan yang sudah duduk di tepi tempat tidur. Erina ikut masuk dan langsung menuju ke tempat lemari pakaiannya berada. Dia mengambil satu set pakaiannya luar dalam kemudian mendekati Farhan.
“Mas Farhan silahkan ganti baju dan istirahat dulu ya. Saya mau mandi dan ketemu sama Bunda dulu.” Ucap Erina. Sebenarnya Farhan keberatan kalau ditinggal sendiri di kamar Erina yang jelas asing untuknya. Akan tetapi dia berusaha memaklumi sikap Erina yang mungkin masih enggan untuk bersama dengannya.
“Iya, Mbak. Kamar mandinya sebelah mana ya, Mbak?” Tanya Farhan sebelum Erina keluar.
“Kamar mandinya ada di luar kamar ya, Mas. Di dekat dapur. Oh iya, Mas Farhan sudah bawa baju belum?”
“Sudah, Mbak. Tadi sudah disiapkan sama Mama.” Jawab Farhan jujur.
“Oh disiapkan Mama. ” Kata Erina mengangguk mengerti. “Mas Farhan kalau mau mandi, silahkan duluan aja.” Kata Erina lagi. Dia kemudian segera keluar untuk menemui Cintami. Dia hendak meminta tolong kepada bundanya itu untuk melepas pakaian pengantin beserta hiasan yang masih melekat di kepalanya.
Tok. tok. tok. Erina mengetuk kamar Cintami.
“Loh, Rin? Kenapa kemari? Suamimu kamu tinggal sendirian di kamar?” Tanya Cintami terkejut karena Erina yang berada di depan kamarnya. Putrinya itu langsung saja nyelonong masuk begitu Cintami membuka pintu kamarnya.
“Iya, Bund. Dia masih mau mandi.” Jawab Erina yang sudah duduk di tepi tempat tidur Cintami.
“Terus kamu ngapain di sini? Bukannya menyiapkan keperluan suami kamu setelah mandi.” Kata Cintami sambil mendekati Erina.
“Keperluan Mas Farhan sudah disiapkan sama mamanya. Jadi apa yang perlu aku siapkan lagi?” Kata Erina datar. “Lagipula aku juga masih pakai baju kayak gini, Bund. Ngga leluasa kalau mau ngapa-ngapain. Aku kesini mau minta tolong Bunda untuk bukain baju sekaligus aksesorisnya.” Kata Erina.
“Kenapa ngga minta bantuan suami kamu aja sih, Rin. Kalian kan udah halal, jadi mau buka-bukaan kayak gimana juga udah boleh.” Kata Cintami.
“Apaan sih, Bund. Malu tau.” Kata Erina mengerucutkan bibirnya. “Ayo, Bund, buruan bantuin udah gerah banget nih.” Kata Erina merubah posisi membelakangi ibunya agar Cintami bisa membuka resleting pakaian pengantin yang berada di bagian belakang.
“Ck, sekarang aja bilang malu. Coba aja nanti kalau udah tau rasanya, pasti kamu jadi ngga tau malu di depan suami kamu.” Cibir Cintami sambil melakukan apa yang Erina minta.
“Oh, jadi bunda sama ayah juga gitu to? Bunda udah ngga tau malu juga sama ayah?” Goda Erina. Cintami tidak menjawab dan hanya mendorong pelan bahu Erina kesal.