"Rin, tadi Pak Fatih telepon ayah. Beliau menanyakan kabar kamu dan mau memastikan lagi apa kamu benar-benar bisa ikut Farhan pindah ke apartemennya setelah kalian menikah." Kata Miko saat mereka makan malam bersama.
Ini sudah satu bulan lewat sejak acara lamaran yang berujung penentuan tanggal pernikahan. Sejak hari itu Farhan atau keluarganya sama sekali tidak pernah menghubunginya. Demikian juga Erina yang enggan memulai komunikasi lebih dulu. Padahal mereka sudah sama-sama memiliki nomor handphone masing-masing.
"Kenapa ayahnya yang tanya? Bukannya dia sendiri? Tanyanya ke ayah pula. Memangnya dia ngga berani menghubungiku sendiri." Batin Erina.
"Rin? Gimana?" Tanya Miko karena Erina hanya diam saja dan tidak segera menjawab pertanyaannya.
"Eh iya? Kenapa, Yah?" Tanya Erina gelagapan.
Miko menghela nafas. "Yang tadi itu loh, Rin. Kan tadi Ayah bilang kalau Pak Fatih menanyakan kepastian kamu apa beneran mau pindah sama Farhan langsung setelah menikah." Kata Miko mengulangi ucapannya.
"Oh itu. Apa aku ada pilihan lain, Yah?" Tanya Erina datar.
"Ya ngga ada sih, Rin. Tapi kamu masih bisa memilih kapan waktu yang terbaik menurut kamu untuk pindah ke sana." Kata Miko. Erina mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan.
"Kalau kata Pak Fatih gimana, Yah?"
"Pak Fatih tadi bilang, kalau maunya Farhan sih kalian langsung pindah sehari setelah kalian menikah. Jadi beliau minta kamu siap-siap dari sekarang. Barang-barang yang sekiranya butuh kamu bawa mau dikirimkan ke apartemen Farhan dua minggu lagi. Tapi tadi Ayah mencoba untuk meminta waktu agar kamu bisa tinggal dulu di sini kurang lebih satu bulan sebelum benar-benar pindah mengikuti suami kamu. Ayah sama Bunda masih mau melepas rindu dulu sama kamu sebelum kamu tinggal jauh dari kami. Gimana menurut kamu, Rin?" Kata Miko terdengar memelas.
Erina melirik Miko singkat. "Tapi bukannya kalau sudah menikah kita harus patuh sama suami ya, Yah?" Tanya Erina santai.
"Iya sih, Rin."
"Ya udah, kalau gitu berarti aku harus ngikutin permintaan suamiku kan, Yah?" Tanya Erina lagi. Sejak tadi pertanyaannya hanya bermaksud menguji kesabaran Miko.
"Jadi, apa kamu mau ngikutin permintaan Farhan atau mau di sini dulu sama kami?" Tanya Miko.
"Menurut Ayah, dari dua pilihan itu mana yang paling benar?" Tanya Erina.
"Bisa benar keduanya, Rin. Kamu benar kalau mengikuti permintaan Farhan,kamu juga benar kalau mengikuti permintaan Ayah dengan seizin Farhan." Jawab Miko diplomatis. Dia mulai mengerti jika Erina sedang ingin memainkan pikirannya.
"Sepertinya aku memilih mengikuti permintaan suami, Yah. Ya bukannya gimana-gimana ya, Yah. Aku sekarang kan belum jadi istrinya Farhan, jadi aku ngga perlu minta persetujuan dia kalau mau ngapa-ngapain. Tapi aku khawatir kalau sekarang terlanjur ngga packing barang dan nanti ternyata Farhan ngga mengizinkanku tetap tinggal gimana,Yah? Aku kan jadi kelimpungan packing barangnya. Jadi biar lebih aman, aku mending ikutin permintaan Farhan aja deh, Yah." Jawab Erina.
"Yaaahhh, baiklah kalau itu keputusan kamu. Nanti Ayah sampaikan lagi ke Pak Fatih." Kata Miko. Erina bisa melihat ada nada kekecewaan dari nada bicara Miko. Ada perasaan tidak tega sebenarnya, tapi karena dia juga masih merasa kesal dengan keputusan Miko di malam lamaran itu membuat Erina ingin membalas sang ayah dengan cara ini.
"Terima kasih Ayah." Kata Erina menampilkan senyum termanis meskipun dalam hatinya sedikit merasa bersalah.
"Sama-sama." Ucap Miko membalas senyum Erina lemah.
Di dalam kamar, Erina masih belum bisa tertidur setelah pembicaraan di meja makan dengan Miko tadi. Padahal ini sudah pukul sebelas malam, sudah lewat satu jam dari jam tidurnya. Tubuhnya sudah merebah sejak tadi, matanya juga sudah dia coba untuk pejamkan. Akan tetapi belum juga jiwanya bersedia masuk ke alam mimpi.
"Aku keterlaluan banget ngga ya sama ayah tadi?" Tanya Erina mengingat apa yang sudah dia putuskan tadi.
"Ayah keliatan kecewa banget."
"Tapi ini juga kan karena dulu Ayah juga sudah bikin aku kecewa karena sudah menerima lamaran dari keluarga Farhan tapi berunding dulu sama aku."
"Hehhh, sebenarnya kalau dipikir lagi ayah sama bunda ngga salah juga sih. Mereka kan juga pasti punya pertimbangan yang matang sehingga menerima lamaran ini buatku. Mereka juga pasti melakukan ini semua untuk kebaikanku."
"Seandainya mereka ngga menerima lamaran keluarga Farhan dan menyepakati tanggal pernikahan belum tentu juga sekarang aku punya calon suami dan akan segera menikah."
Semakin dipikirkan, Erina jadi semakin merasa bersalah kepada kedua orang tuanya. Dia jadi menyesal sudah mengambil keputusan untuk langsung ikut Farhan pindah setelah mereka menikah. Erina segera merubah posisi menjadi duduk.
"Aaahhhhh!!! Kenapa aku tadi bilang kayak gitu sih sama Ayah." Setengah berteriak sambil menggelengkan kepala cepat menyadari kesalahannya.
"Apa aku siap tinggal sama laki-laki yang sama sekali belum aku kenal sifat dan tabiatnya?"
"Kenapa aku ngga nurut aja sama ayah sambil mempelajari karakternya Farhan."
"Lagian si Farhan itu cowok macam apa sih? Kenapa masalah kayak gini harus minta tolong ayahnya bilang ke ayah? Kenapa ngga langsung telepon aku dan menanyakan pendapatku?" Erina kesal sendiri setelah bertanya-tanya mengenai Farhan pada dirinya sendiri yang sudah pasti tidak bisa menjawabnya.
"Ya Allah, apa aku benar-benar sudah siap menikah dan tinggal sama Farhan?" Tanya Erina sambil membanting tubuh bagian atasnya ke kasur lagi. Dia menutupi kepala dengan bantal agar teriakan kekesalannya pada diri sendiri tidak terdengar sampai keluar kamar.
---
"Rin! Udah siap belum barang yang mau dibawa ke tempat Farhan?" Tanya Cintami yang baru membuka sebagian pintu kamar Erina. Wanita itu lanjut masuk begitu melihat Erina yang masih duduk dikelilingi kardus berisi barang-barangnya yang akan dipindahkan lebih dulu ke apartemen Farhan.
"Sebentar, Bund. Ini tinggal dua kardus yang belum aku lakban." Jawab Erina. Dia sudah mulai mencicil untuk menyendirikan barang yang akan dia pindahkan ini sejak dua minggu lalu. Namun, dia benar-benar bisa mengepak semuanya baru tiga hari terakhir dimulai dari hari dia resmi keluar dari pekerjaannya.
"Itu Farhan sudah menunggu di luar. Ayah sedang mengajak dia ngobrol." Kata Cintami.
"Farhan? Ke sini? Sendirian, Bund?" Tanya Erina heran.
"Ngga sih, dia sama Pak Fatih. Mereka mau mengambil dan membawa barang-barang kamu." Jawab Cintami.
"Ooh, terus yang lagi ngobrol sama ayah itu Farhan atau Pak Fatih, Bund?" Tanya Erina sambil melanjutkan merekatkan lakban ke bagian atas kardus yang masih terbuka.
"Ya mereka berdua lah, Rin. Kenapa kamu tanya kayak gitu?" Selidik Cintami.
"Ngga apa-apa, Bund, cuma pingin tau aja." Kata Erina datar. "Udah selesai nih, Bund."
"Udah? Ya udah kamu ke depan gih. Kasih salam sama calon mertua dan calon suami kamu sekalian bilang kalau barang kamu udah siap." Kata Cintami.
"Bunda aja lah yang bilang. Aku lagi males ganti baju nih." Kata Erina yang saat itu memang hanya memakai setelan baby doll lengan pendek.
"Kenapa, Bunda? Lagian ngga sopan juga, Rin, kalau kamu ngga keluar menemui mereka. Udah itu kamu langsung pakai gamis sama jilbab langsung aja kan cepet." Kata Cintami.
Erina menghela nafas malas. "Hehhh, baiklah." Kata Erina yang kemudian berdiri dan mengambil pakaian panjangnya, sebuah daster panjang berpotongan lurus berwarna ungu tua dengan jilbab berwarna senada. Penampilannya bisa dibilang sangat tidak menarik. Apalagi untuk ukuran seorang calon istri yang akan menemui calon suaminya.
"Erina?" Cintami terlihat tidak percaya dengan penampilan Erina. Wajahny terlihat memerah karena menahan malu.
Ternyata tidak hanya Cintami, tapi tiga orang lain yang berada di ruang tamu rumah Miko itu juga terpaku melihat penampilan wanita berusia dua puluh delapan tahun itu.
Erina menganggukkan kepala dan memberikan senyum kepada kedua tamu mereka sebelum duduk di samping Cintami.
"Kamu kenapa pakai baju kayak gini sih, Rin?" Bisik Cintami di telinga Erina.
"Kenapa, Bund?" Bisik Erina juga pura-pura tidak tahu maksud ibunya.
"Ngga sopan tahu ngga?" Bisik Cintami lagi.
"Ehemmm." Erina sudah akan membela diri, tapi suara deheman Miko membuat dua wanita itu mengalihkan pandangan ke sumber suara.
"Gimana kabarnya, Erina?" Tanya Fatih ramah.
"Alhamdulillah baik, Pak Fatih." Jawab Erina sesopan mungkin. Tidak lupa dia juga memberikan senyum sebagai balasan keramahan Fatih.
"Alhamdulillah. Erina jangan panggil Pak Fatih lagi ya. Mulai hari ini kamu harus mulai memanggil saya ayah." Kata Fatih membuat Erina kikuk. Dia ragu antara menuruti permintaan Fatih atau tidak.
"Maaf, Pak Fatih. Apa tidak sebaiknya nanti saja kalau saya sudah resmi menjadi istri Mas Farhan baru memanggil Anda dengan panggilan ayah?" Tawar Erina. Cintami dan Miko seketika menoleh dramatis ke arah Erina. Putrinya itu menurut mereka agak keterlaluan. Mereka jadi merasa tidak enak dengan Fatih. Namun, Fatih, pria itu justru tertawa dengan pertanyaan Erina. Ganti Farhan yang menoleh kepada Fatih tidak percaya. Rasanya baru kali ini ayahnya tertawa renyah ketika ada yang menyanggah ucapannya.
"Kenapa, Rin? Apa kamu masih ragu untuk menikah dengan Farhan? Atau kamu berniat kabur di hari pernikahan?" Selidik Fatih.
"Eh, bukan, bukan seperti itu maksud saya." Kata Erina sambil menggerakkan kedua tangannya.
"Lalu, kenapa kamu keberatan?" Tanya Fatih.
"Saya bukannya keberatan. Tapi-"
"Ya sudah kalau kamu tidak keberatan, berarti tidak masalah kan kalau kamu memanggil saya 'Ayah' mulai sekarang?" Tanya Fatih yang terdengar seperti perintah bagi Erina. Entah mengapa dia merasa Fatih seperti cerminan dirinya ketika berbicara dengan ayah kandungnya.
"Iya, Pak Fatih. Tidak masalah." Kata Erina akhirnya.
"Bisa saya dengar panggilan itu sekarang?" Pinta Fatih.
"Baik, Ayah." Ucap Erina sedikit terbata. Fatih sendiri langsung tersenyum puas setelah mendengar panggilan dari Erina.
"Alhamdulillah, akhirnya saya punya anak perempuan lagi." Ucap Fatih lega. Erina hanya nyengir melihat ekspresi bahagia Fatih. Dia kemudian melirik ke arah Farhan yang sejak tadi tidak terdengar suaranya.
"Silahkan diminum dulu, Pak Fatih, Mas Farhan." Kata Cintami kepada kedua tamu kehormatannya.
"Terima kasih, Bu Cintami." Jawab Fatih. Sedangkan Farhan hanya tersenyum dan menganggukkan kepala sebelum mengangkat cangkir berisi teh yang disuguhkan. Sejenak mereka menikmati hidangan sambil berbincang ringan, tapi hanya antar orang tua, tidak dengan Farhan dan Erina yang hanya sebagai pendengar.
"Sudah siap barang-barang kamu, Rin?" Tanya Miko setelah merasa puas berbincang.
"Sudah, Yah." Jawab Erina.
"Masih di kamar?"
"Iya, Yah."
"Kalau gitu bisa mulai kamu bawa kesini satu persatu sambil Pak Fatih dan Mas Farhan menikmati camilan.
"Baik, Yah." Ucap Erina kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Biar dibantu sama Farhan, Rin." Ucap Fatih membuat Farhan yang sedang meminum tehnya tersedak.
"Aku, Yah?" Tanya Farhan setelah batuknya reda.
"Iyalah, siapa lagi?"
"Tapi-"
"Udah sana, masa ayah yang harus turun tangan?" Tanya Fatih lembut tapi dengan tatapan tajam.
"Ba, baik, Yah." Ucap Farhan gegas berdiri dan berjalan menuju tempat Erina berdiri. Sebenarnya Farhan bukannya tidak mau, tapi dia hanya tidak enak jika harus masuk ke kamar perempuan tanpa ada orang lain selain mereka berdua.
"Mari, Mas." Ajak Erina. Dia juga sebenarnya tidak nyaman, namun dia bisa apa jika Cintami sudah memberikan pelototan saat dia hendak membuka mulut untuk menolak.
"Baik, Mbak." Ucap Farhan sambil mengikuti Erina dari belakang.
"Mas Farhan tunggu di sini aja ya. Biar saya keluarkan kardus-kardusnya." Kata Erina saat mereka sudah sampai di depan pintu kamarnya.
"Baik, Mbak." Jawab Farhan lega. Dia bersyukur karena sepertinya Erina memiliki pemahaman yang sama.
Erina mendorong tiga kardus besar keluar dari kamarnya secara bergantian. Farhan pun demikian, satu persatu dia pindahkan kardus yang Erina berikan ke dalam mobilnya. Hingga setelah kardus ketiga sudah masuk ke mobil, Farhan kembali menunggu di depan kamar Erina. Hampir lima menit menunggu belum juga ada kardus lagi yang keluar melewati pintu kamar Erina.
“Maaf, Mbak Erina, apa masih ada barang lagi yang perlu dibawa?” Tanya Farhan akhirnya.
“Ada, Mas, tinggal satu lagi. Tapi ini agak berat. Sebentar ya, Mas.” Teriak Erina dari dalam kamar. Dari suaranya, Farhan bisa menilai jika Erina sedang berusaha keras.
“Apa saya bawakan saja, Mbak? Mbak Erina bisa keluar dulu.” Kata Farhan menawarkan diri. Dalam hitungan detik, Erina sudah berada di depan Farhan.
“Tinggal satu kardus, Mas. Ngga seberapa besar sih, tapi lumayan berat.” Kata Erina dengan nafas sedikit tersengal.
“Iya, Mbak. Saya bawakan aja. Sebelah mana, Mbak, kardusnya?” Tanya Farhan.
“Kardus bekas bingkisan lebaran, Mas. Ada di sebelah kiri tempat tidur.” Kata Erina.
“Oke, Mbak. Mbak Erina tunggu di sini saja ya. Ngga enak kalau kita berduaan di dalam kamar sebelum halal.” Ucap Farhan.
“Iya, Mas Farhan. Saya juga ngga bisa kalau kayak gitu. Saya tunggu di sini aja ya.” Ucap Erina. Farhan mengangguk kemudian segera masuk ke dalam kamar Erina.
Sampai di dalam kamar Erina, Farhan memandang sekeliling. Baru kali ini dia masuk ke dalam kamar seorang wanita. Dia memindai kamar untuk menemukan tempat kardus yang tadi Erina tunjukkan. Hingga pada satu titik di atas tempat tidur, pandangan Farhan terkunci. Susah payah dia menelan ludah disebabkan beberapa benda yang menurutnya sangat indah.
Di luar kamar, Erina yang sejak tadi menunggu menjadi curiga karena Farhan tidak segera keluar dari kamarnya. Dia berpikir mungkin saja Farhan juga tidak kuat mengangkat sisa kardus yang tadi dia katakan. Sedikit tergesa Erina mendorong pintu agar terbuka lebih lebar. Akan tetapi akibat perbuatannya itu tidak hanya daun pintu yang terdorong tetapi juga Farhan yang ternyata sejak tadi masih berdiri saja di balik pintu. Pria itu terjungkal ke depan dan jatuh ke atas tempat tidur Erina hingga wajahnya berada tepat di depan benda yang sejak tadi membuatnya terpaku.
“Ouchh.!” Erina yang terkejut karena sudah membuat Farhan terjatuh. Dia semakin terkejut hingga hanya mampu menutup mulutnya yang terbuka karena satu set pakaian dalamnya terpampang nyata tepat di depan wajah Farhan.