Pagi hari di kantor sekuritas selalu dimulai dengan tempo yang cepat. Suara ketukan kibor, dering telepon dari para nasabah yang ingin mengecek portofolio saham mereka, serta diskusi hangat mengenai pergerakan indeks harga saham gabungan langsung memenuhi ruangan sejak pukul delapan pagi...
Aulia duduk di meja kerjanya dengan saksama. Ia mengenakan bando hitam yang agak tebal dan sengaja mengurai rambut panjangnya ke depan untuk menutupi bagian kiri wajahnya. Di atas meja, ia meletakkan cermin kecil. Dengan sisa-sisa bedak tabur dan sedikit concealer murah yang ia beli di minimarket dekat rumah, ia mencoba menyamarkan lebam kebiruan di sudut bibirnya.
Setiap kali ada rekan kerja yang lewat, Aulia akan langsung menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk memeriksa laporan transaksi harian nasabah. Ia memakai topeng wanita pekerja yang tenang dan profesional, seolah-olah hidupnya baik-baik saja dan tidak ada badai yang baru saja menghantam wajahnya semalam.
"Selamat pagi, Lia."
Suara itu terdengar bersamaan dengan bunyi ketukan pelan di sekat kubikalnya. Aulia mendongak sedikit dan mendapati Rio sudah berdiri di sana. Hari ini Rio tampak rapi seperti biasa dengan kemeja biru muda yang disetrika licin. Di matanya, tersimpan sorot penuh selidik yang langsung tertuju pada sudut bibir Aulia.
"Pagi, Yo," jawab Aulia pelan. Ia refleks menarik helai rambutnya agar menutupi pipi kiri lebih rapat.
"Boleh aku duduk sebentar?" tanya Rio, menunjuk kursi kosong di sebelah meja Aulia.
Aulia melirik ke sekeliling kantor. Beberapa rekan kerja mereka masih sibuk bersiap-siap, namun berbisik-bisik di pagi hari bukanlah ide yang bagus. "Boleh, tapi jangan lama-lama ya, Yo. Nanti anak-anak lain malah curiga."
Rio mengangguk mengerti, lalu duduk dengan tenang. Ia meletakkan sebuah map plastik kecil di atas meja Aulia. "Aku sempat baca-baca berita pasar global semalam setelah pulang. Ini ada beberapa analisis saham blue-chip yang potensial untuk nasabah kamu hari ini. Biar kamu nggak perlu terlalu pusing memikirkan target bulanan."
Aulia tertegun menatap map tersebut. Di tengah kekacauan hidup pribadinya, Rio justru memikirkan beban kerjanya. "Yo... kamu nggak perlu repot-repot sampai segininya. Pekerjaanmu sendiri kan juga banyak."
"Nggak repot sama sekali, Lia. Aku cuma mau bantu," kata Rio tulus. Matanya lalu berpindah pada riasan wajah Aulia yang tampak tidak rata. "Bedak kamu... agak ketebalan di sebelah kiri."
Wajah Aulia seketika merona merah karena malu. Ia buru-buru mengambil cermin kecilnya dan memeriksa wajahnya dengan panik. "Ah, masa sih? Kelihatan banget ya lebamnya?"
"Kalau orang yang nggak memperhatikan detail mungkin nggak sadar. Tapi karena aku tahu kejadian semalam, aku langsung bisa lihat," tutur Rio dengan suara yang sangat pelan agar tidak terdengar oleh kubikal sebelah. "Masih sakit?"
"Sedikit perih kalau dipakai senyum atau makan," aku Aulia jujur. Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan kembali cerminnya. "Tapi ya mau bagaimana lagi. Hidup harus tetap jalan. Aku nggak bisa terus-terusan mengurung diri di rumah."
"Dia... tahu kamu berangkat kerja?" tanya Rio lagi.
Aulia mengangguk lesu. "Tahu. Tadi pagi sebelum aku berangkat, dia bahkan masih tidur di sofa ruang tamu dengan bau alkohol yang menyengat. Uang belanja yang aku tanyakan semalam sama sekali tidak ada di atas meja. Yang ada justru botol-botol kosong."
Rio mengepalkan tangannya di atas paha. Dadanya bergemuruh menahan amarah yang begitu besar terhadap suami Aulia. "Dia benar-benar keterlaluan, Lia. Dia memanfaatkan kebaikan dan ketakutan kamu untuk menginjak-injak harga dirimu sebagai istri."
"Aku tahu, Yo. Aku tahu..." bisik Aulia, matanya mulai berkaca-kaca lagi. Namun, ia buru-buru mengerjapkan mata agar air matanya tidak merusak riasan wajah yang sudah ia buat dengan susah payah. "Tolong jangan bahas itu di sini dulu karena tidak kondusif. Aku nggak mau menangis lagi di kantor. Aku harus terlihat kuat dan tampil profesional."
"Maaf," ujar Rio menyesal. "Aku nggak bermaksud membuatmu sedih lagi. Aku cuma... nggak tahan melihatmu menanggung ini sendirian."
Sebelum Aulia sempat membalas ucapan Rio, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berat mendekati kubikal mereka. Sontak keduanya langsung merapikan posisi duduk.
Ternyata itu adalah Rian, salah satu broker senior di kantor mereka yang terkenal bermulut tajam dan suka bergosip. Rian membawa map tebal dan langsung bersandar di sekat kubikal Aulia dengan senyum menyeringai.
"Wah, pagi-pagi sudah rapat berdua saja nih," sindir Rian, matanya bergantian menatap Rio dan Aulia. "Kompak banget ya kalian berdua. Ada analisis saham rahasia yang tidak dibagi-bagi ke kami?"
Rio langsung memasang wajah tenang, beralih ke mode profesionalnya. "Cuma diskusi biasa, Yan. Ini membagikan beberapa data emiten sektor perbankan yang baru rilis laporan keuangannya kemarin sore. Biar portofolio nasabah kita aman."
Rian mangut-mangut, namun pandangannya kemudian tertuju pada wajah Aulia. Ia menyipitkan mata, menatap lekat-lekat ke arah sudut bibir Aulia yang tertutup rambut.
"Eh, Aulia, wajah kamu kenapa itu? Kok rambutnya diurai aneh begitu? Biasanya kan selalu diikat rapi," tanya Rian penuh selidik. Ia condong ke depan, mencoba melihat lebih jelas. "Loh, itu di dekat bibirmu biru-biru kenapa? Habis jatuh?"
Jantung Aulia berdegup kencang. Ia merasa topeng yang dipasangnya sejak pagi mulai retak dan hancur di depan rekan kerjanya. Rasa takut dan malu bercampur menjadi satu, membuatnya mendadak kelu untuk bersuara.
"Ah, itu..." Aulia terbata-bata, tangannya gemetar di bawah meja.
Melihat kepanikan Aulia, Rio segera memotong pembicaraan sebelum Rian berspekulasi lebih jauh. "Oh, itu kemarin sore Aulia sempat nabrak pintu kaca di pantry belakang, Yan. Pas mau ambil air panas, dia buru-buru karena ada telepon masuk dari nasabah kakap. Makanya agak lebam begitu."
Rian menatap Rio dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap Aulia lagi. "Nabrak pintu kaca? Kok bisa pas banget di sudut bibir begitu? Hati-hati dong, Lia. Nanti dikira orang-orang kamu habis digebukin suamimu."
Kalimat santai Rian itu terasa seperti hantaman palu godam di d**a Aulia. Napasnya tercekat. Rasa sesak langsung menyerbu tenggorokannya. Ia merasa semua orang di kantor ini seolah-olah sedang menertawakan penderitaannya di balik punggungnya.
"Iya, Yan. Makasih perhatiannya. Lain kali aku lebih hati-hati," jawab Aulia dengan suara bergetar yang ditahan sekuat tenaga agar tidak pecah.
"Ya sudah, kalau begitu. Aku balik ke meja dulu. Ingat ya, hari ini IHSG diprediksi fluktuatif karena sentimen global. Jangan sampai meleng," kata Rian sembari menepuk pundak Rio sekilas sebelum akhirnya melangkah pergi.
Begitu sosok Rian menjauh dan menghilang di balik sekat koridor, Aulia langsung menyandarkan kepalanya di atas meja. Bahunya berguncang pelan. Kebohongan demi kebohongan yang harus ia susun setiap hari demi menjaga nama baik keluarga dan menyembunyikan aib suaminya terasa begitu melelahkan. Topeng yang ia kenakan hari ini benar-benar telah retak sepenuhnya.
Rio menatap Aulia dengan pandangan yang sarat akan rasa iba dan proteksi. Ia menggeser kursinya lebih dekat, lalu berbisik dengan sangat lembut namun penuh penekanan.
"Sampai kapan kamu mau membuat kebohongan demi melindungi orang yang bahkan tidak peduli apakah kamu masih bisa bernapas esok hari, Lia?" Aulia tidak menjawab. Ia hanya bisa menangis dalam diam, meratapi kenyataan bahwa hidupnya kini tak lebih dari sekadar sandiwara yang menyakitkan di bawah gemerlapnya lampu kantor sekuritas...