Ruangan Jenderal Arya bukan ruangan yang dirancang untuk membuat orang merasa nyaman.
Itu kesimpulan pertama Yogi ketika ia melangkah masuk dan pintu ditutup di belakangnya. Tidak ada kursi tamu. Tidak ada meja bundar untuk percakapan yang setara. Hanya meja besar di satu sisi ruangan, rak senjata di dinding kiri, peta kerajaan yang ditempel dengan pin-pin merah di dinding kanan, dan satu kursi di balik meja itu yang ditempati seorang wanita yang sedang membaca dokumen tanpa mengangkat pandangan ketika Yogi masuk.
Yogi berdiri di tengah ruangan dan menunggu.
Satu menit berlalu.
Wanita itu membalik halaman dokumennya.
Dua menit.
Ia menandai sesuatu dengan kuas tinta.
Tiga menit.
Yogi memutuskan ia tidak akan batuk, menggeser kaki, atau melakukan hal lain yang menunjukkan ia tidak nyaman. Ia berdiri tegak dengan tangan di belakang punggung dan memperhatikan peta di dinding kanan karena itu lebih menarik dari menatap kepala orang yang sengaja mengabaikannya.
Pin-pin merah di peta itu terkonsentrasi di perbatasan utara dan barat. Menarik. Gamseong ada di perbatasan utara tapi tidak ada pin di sana. Entah artinya daerahnya aman atau terlalu tidak penting untuk ditandai.
"Kau dari Gamseong."
Yogi memindahkan pandangannya ke wanita di balik meja. Ia akhirnya mengangkat kepala.
Jenderal Arya berusia sekitar tiga puluhan. Rambutnya hitam ditarik ke belakang dengan rapi sampai tidak ada satu helai pun yang berani menyimpang. Seragam pengawal seniornya tidak punya satu kerutan. Tulang rahangnya tegas, matanya tajam dengan cara yang berbeda dari tajam biasa, lebih seperti sesuatu yang sudah diasah selama bertahun-tahun sampai mencapai titik di mana ia bisa memotong hanya dengan menatap.
"Ya," jawab Yogi.
"Nilai ujianmu tertinggi di antara dua puluh peserta lulus."
Itu bukan pertanyaan. Yogi tidak menjawab.
"Nilai strategi sempurna. Nilai fisik kedua tertinggi. Nilai mental tertinggi." Arya menutup dokumennya dan meletakkan tangannya rata di atas meja. "Tapi kau tidak punya silsilah, tidak punya pendidikan formal, dan tidak punya satu pun koneksi di lingkaran istana."
"Benar."
"Itu masalah."
"Saya rasa tidak," kata Yogi. "Ujiannya tidak menanyakan silsilah saya."
Arya menatapnya. Yogi balas menatap.
Ini, Yogi sadari, adalah jenis ujian yang tidak tercantum dalam daftar resmi tapi mungkin sama pentingnya. Siapa yang akan melihat ke bawah lebih dulu.
Arya yang melihat ke bawah, tapi ke dokumen, bukan ke lantai, jadi itu mungkin tidak dihitung.
"Kau tahu apa tugas pengawal istana?" tanya Arya.
"Melindungi anggota keluarga kerajaan dan pejabat tinggi dari ancaman fisik maupun non-fisik. Menjaga ketertiban dalam lingkungan istana. Melaksanakan perintah langsung dari komandan dan hierarki di atasnya."
"Kau hafal regulasinya."
"Ada di buku panduan ujian."
"Regulasi adalah fondasi. Bukan pekerjaan sesungguhnya." Arya berdiri dari kursinya dan berjalan ke sisi meja, lalu bersandar di tepinya dengan tangan terlipat. Dari posisi ini ia tampak lebih tinggi dari Yogi, meskipun sebenarnya tinggi mereka hampir sama. Ada cara tertentu ia berdiri yang mengambil lebih banyak ruang dari yang seharusnya. "Pekerjaan sesungguhnya adalah membaca situasi sebelum situasi itu menjadi masalah. Mengambil keputusan dalam hitungan detik. Dan yang paling penting, mengetahui batas."
"Batas apa?"
"Batas antara pengawal dan orang yang dilindunginya." Arya menatapnya langsung. "Kau berada di sini untuk melindungi, bukan untuk berteman. Bukan untuk berpendapat. Bukan untuk membangun hubungan pribadi dengan siapapun di istana ini. Jelas?"
"Jelas," kata Yogi. Lalu setelah jeda yang satu detik terlalu lama, ia menambahkan, "Boleh saya tanya satu hal?"
Arya tidak mengatakan boleh tapi juga tidak mengatakan tidak boleh. Yogi memutuskan itu cukup.
"Kalau tugasnya hanya berdiri dan tidak berpendapat, kenapa nilai ujian mental perlu tertinggi?"
Hening.
Bukan hening yang nyaman. Hening yang punya tekstur, seperti udara sebelum hujan turun.
Sesuatu di sudut mata Arya bergerak. Bukan kedutan. Lebih seperti sesuatu yang hampir menjadi ekspresi tapi berhasil ditahan di detik terakhir.
"Kau akan memulai rotasi besok pagi," kata Arya akhirnya, seolah pertanyaan itu tidak pernah diucapkan. "Jam enam. Seragam lengkap. Terlambat satu menit dan kau akan menghabiskan minggu pertama di pos penjagaan gudang barat."
"Gudang barat menyimpan apa?"
"Arang dan kentang busuk."
"Saya akan tepat waktu."
"Bagus." Arya memungut dokumennya lagi, pertanda yang cukup jelas bahwa percakapan ini selesai. "Keluarlah."
Yogi berbalik dan berjalan ke pintu. Tangannya sudah menyentuh gagangnya ketika suara Arya terdengar lagi dari belakang.
"Yogi."
Ia berhenti.
"Koridor B di lantai dua sayap timur bukan area pengawal."
Yogi tidak berbalik. "Saya tahu sekarang."
"Pastikan itu tidak terulang."
"Tidak akan."
"Dan satu hal lagi."
Ia menunggu.
"Siapapun yang kau temui di koridor itu," kata Arya, suaranya turun setengah nada, "tidak perlu disebutkan kepada siapapun. Mengerti?"
Yogi memikirkan wanita dengan kimono tidur dan sisir giok. Cara bibirnya hampir tersenyum sebelum menyuruhnya pergi.
"Tidak ada yang perlu disebutkan," kata Yogi. "Saya salah masuk, langsung keluar."
Jeda pendek.
"Bagus," kata Arya. "Sekarang keluarlah."
Koridor di luar ruangan Arya sepi.
Yogi berjalan pelan ke arah asrama, membiarkan pikirannya menyusun kembali informasi dari dua percakapan hari ini. Arya adalah tipe komandan yang ujiannya tidak pernah benar-benar berhenti, yang melihat setiap respons sebagai data tambahan untuk dievaluasi. Itu bukan hal baru baginya. Kepala desa Gamseong punya cara serupa, meskipun skalanya berbeda dan kepala desa tidak punya koleksi senjata di dindingnya.
Yang menarik adalah bagian terakhir.
Siapapun yang kau temui di koridor itu, tidak perlu disebutkan kepada siapapun.
Arya tahu ia masuk ke koridor B. Arya tahu ada seseorang di sana. Tapi Arya tidak bertanya siapa, tidak memarahi lebih jauh, dan tidak membuat laporan resmi tentang insiden itu, karena kalau ada laporan resmi, percakapan tadi pasti dimulai dengan hal yang berbeda.
Arya ingin insiden itu terkubur diam-diam.
Artinya wanita di kamar itu bukan sembarang penghuni istana.
Yogi berhenti di depan pintu asramanya. Di langit di atas tembok istana, beberapa bintang mulai muncul di antara awan tipis. Dari suatu tempat di dalam kompleks istana, sayup-sayup terdengar suara seruling.
Ia tidak punya cukup informasi untuk menyimpulkan apapun sekarang. Besok pagi jam enam rotasi dimulai, dan ia akan belajar lebih banyak tentang tempat ini dengan cara yang lebih baik daripada salah masuk kamar orang.
Yogi mendorong pintu asramanya dan masuk.
Di dalam, beberapa pengawal baru lain sudah bersiap tidur. Pemuda dengan bros keluarga berkilau tadi, yang menertawakan sepatunya, mengangkat dagu sedikit ketika melihat Yogi.
"Dipanggil Jenderal di hari pertama," kata pemuda itu. "Bermasalah sudah?"
"Tidak." Yogi melempar dirinya ke ranjang. "Diskusi biasa."
"Diskusi." Pemuda itu mendengus. "Namaku Riven. Keluarga Dosong."
"Yogi. Keluarga tidak ada."
Riven terdiam sebentar, tampaknya tidak yakin apakah itu lelucon atau bukan.
Yogi memejamkan mata sebelum Riven memutuskan untuk bertanya lebih lanjut.
Jam enam. Seragam lengkap. Tidak terlambat.
Itu saja yang perlu ia pikirkan malam ini.
Tapi tepat sebelum ia benar-benar tertidur, pikirannya kembali sebentar ke sisir giok dan pertanyaan yang belum terjawab: siapa wanita itu, dan kenapa Jenderal Arya yang dingin dan presisi ingin insiden itu terkubur begitu rapat?
Yogi tidak tahu.
Tapi ia punya firasat bahwa ia akan tahu dalam waktu dekat.