Dibutuhkan keyakinan besar agar hati tak berpaling, dan keyakinan itu bukan hanya ditumbuhkan, namun juga harus dijaga dan dipelihara.
***
Kavin's POV
Gue tau gue salah, dan Egita pun juga sama. Berawal dari kejenuhan semuanya berubah jadi seperti ini. Gue tidak memungkiri kalau gue merasa lebih nyaman sama Mayang saat ini.
Kalau gue bisa memutar waktu, gue tidak akan membiarkan kejenuhan ini berlarut-larut. Tapi gue tau, waktu bukanlah sesuatu yang bisa diulang dan diratapi. Kalau sekarang gue sudah kehilangan Egita, gue tidak mau kehilangan Mayang.
Percakapan gue dengan laki-laki tadi membuat gue sadar, kalau dia lebih menginginkan Egita jauh dibandingkan gue.
Delapan jam yang lalu.
“Bisa kita bicara sebentar?”
Suara laki-laki itu membuat hati gue bergemuruh. Melihat bagaimana Egita menahan lengan laki-laki itu supaya tidak pergi lebih jauh, gue sudah tau pembicaraan ini bukan sekadar basa-basi antara kakak sahabat dengan tunangan.
“Boleh,” jawab gue.
Kami keluar dari ruang perawatan diiringi tatapan teman-teman Egita yang tidak ada satu pun berani bersuara. Gue bisa merasakan mata mereka menempel di punggung sampai pintu tertutup.
“Kita cari tempat lain aja Mas, di sini nggak enak,” ucap gue begitu kami sampai di lobi.
Ia mengangguk tanpa banyak bertanya.
Gue membawa mobil keluar dari area rumah sakit tanpa tujuan yang jelas. Sepanjang jalan tidak ada satu pun dari kami yang membuka suara. Radio sudah gue matikan sejak awal, jadi yang tersisa hanya deru mesin dan bunyi sein setiap gue berpindah lajur.
Akhirnya gue berhenti di sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan. Sepi, karena jam segini orang-orang masih terjebak di kantor masing-masing. Kami memilih meja paling pojok, jauh dari pintu.
“Rillo,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Kavindra,” balas gue sambil menyambut uluran tangan itu.
Genggamannya mantap. Tidak dingin, tidak juga terlalu erat seperti orang yang datang untuk menantang. Justru itu yang membuat gue tidak nyaman. Gue lebih siap menghadapi laki-laki dengan urat leher menonjol dibanding laki-laki yang setenang ini.
Pesanan datang. Mas Rillo mengaduk kopinya cukup lama sebelum akhirnya bicara.
“Saya minta maaf udah motong waktu kamu jagain Egita. Tapi kalau nggak sekarang, kayaknya nggak akan pernah ada waktu yang tepat.”
“Nggak apa-apa Mas.”
“Kamu tau saya siapa?”
“Kakaknya Inara,” jawab gue. “Dan orang yang beliin Egita gelang.”
Ia mengangguk pelan. Tidak membantah, tidak juga terlihat malu. “Berarti kita nggak perlu muter-muter.”
Gue menyandarkan punggung ke kursi. Ada bagian dari diri gue yang seharusnya marah, menggebrak meja, dan bilang bahwa perempuan yang sedang terbaring lemas di rumah sakit itu tunangan gue, bukan siapa-siapa dia. Tapi anehnya marah itu tidak kunjung datang. Yang datang justru rasa penasaran, kenapa gue tidak marah.
“Saya nggak akan minta maaf soal perasaan saya, karena saya nggak bisa minta maaf untuk sesuatu yang nggak pernah saya rencanain,” ucap Mas Rillo. “Tapi saya minta maaf karena baru tau soal pertunangan kalian belakangan. Waktu saya tau, saya udah kelewat jauh.”
“Kenapa Mas cerita ini ke saya?”
“Karena kalau saya diam, saya jadi laki-laki yang ngambil punya orang diam-diam. Saya nggak mau jadi orang kayak gitu.” Ia berhenti sejenak. “Dan saya pernah ada di posisi orang yang ditinggalin tanpa dikasih tau apa-apa. Rasanya nggak enak.”
Gue teringat cerita Inara yang pernah sekali dua kali terlontar di meja makan waktu gue main ke rumahnya bersama Aldo. Tentang kakaknya yang ditinggal menikah. Waktu itu gue mendengarnya sebagai kisah orang lain. Sekarang orang itu duduk tepat di depan gue.
“Malam sebelum saya pindah tugas ke Yogya, saya udah beli cincin buat Egita,” lanjutnya, dan gue tidak sempat menyembunyikan keterkejutan gue. “Belum sempat saya kasih. Sekarang cincinnya ada di laci adik saya, dan saya nggak berniat ngambil.”
“Tapi Mas masih di sini.”
“Iya. Saya masih di sini,” akunya tanpa ragu sedikit pun.
Gue meremas cangkir yang belum gue sentuh. Panasnya menjalar ke telapak tangan, tapi gue biarkan.
“Boleh saya nanya satu hal, Kavin?”
Gue mengangguk.
“Kapan terakhir kali kamu jemput Egita?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Sesederhana basa-basi orangtua ke calon menantu. Tapi gue tidak bisa menjawabnya. Gue mencoba menarik ingatan ke belakang, mencari satu tanggal, satu hari, satu momen. Dan yang gue temukan cuma peron stasiun yang gue lewatkan karena gue sedang berdiri di depan ruang IGD, menunggu hasil pemeriksaan Mayang.
“Saya nggak nanya buat mempermalukan kamu,” ucap Mas Rillo begitu melihat gue diam terlalu lama. “Saya nanya karena hari itu saya ada di kereta yang sama sama dia. Dan saya lihat dia turun, berdiri di peron cukup lama, sambil megang ponsel.”
Kerongkongan gue tiba-tiba terasa kering.
“Saya nggak nyapa dia waktu itu. Saya cuma mikir, pasti sebentar lagi ada yang jemput. Ternyata yang datang temennya.”
“Mas nggak berhak nilai hubungan saya,” ucap gue akhirnya. Suara gue keluar lebih pelan dari yang gue mau.
“Betul,” jawabnya cepat. “Makanya saya nggak nilai. Saya cuma nanya.”
Dan justru itu yang paling menyakitkan. Ia tidak menuduh, tidak menghakimi, tidak melebih-lebihkan apa pun. Ia cuma meletakkan satu pertanyaan di atas meja, lalu membiarkan gue sendiri yang menemukan jawabannya.
Kami sempat diam lama. Kedai itu berganti pengunjung dua kali, dan kopi kami sama-sama dingin tanpa berkurang setengahnya.
“Waktu itu saya sempat mikir kamu orangnya kayak gimana,” ucap Mas Rillo memecah hening. “Egita nggak pernah cerita apa-apa soal kamu ke saya. Sekali pun nggak.”
Gue mengangkat wajah.
“Awalnya saya kira dia sengaja nyembunyiin. Lama-lama saya sadar, orang itu nggak cerita bukan karena nyembunyiin, tapi karena nggak ada yang bisa diceritain,” lanjutnya. “Orang yang lagi bahagia sama pasangannya biasanya susah disuruh diem, Kavin. Nyempil dikit aja pasti kesebut.”
Gue ingin membantah. Gue ingin bilang bahwa Egita memang bukan tipe perempuan yang mengumbar hubungannya ke siapa-siapa, bahwa itu justru salah satu hal yang bikin gue nyaman sejak awal. Tapi mulut gue tidak bergerak.
Karena kalau gue jujur, gue pun sama. Selama satu setengah tahun terakhir, di kantor, di rumah, di meja makan bersama Papa, gue lebih sering bercerita soal target divisi, soal karyawan baru, soal apa pun kecuali perempuan yang tinggal beberapa bulan lagi akan gue nikahi.
“Mas mau apa dari saya?” tanya gue pada akhirnya.
“Nggak ada.”
“Nggak ada?”
“Saya nggak akan ambil apa pun yang masih kamu jaga, Kavin,” ucapnya dengan tenang. “Kalau kamu masih mau jagain dia, ya jagain. Saya mundur. Hari ini juga saya bisa ajukan mutasi lagi ke kantor, dan kamu nggak akan lihat muka saya lagi seumur hidup.”
Gue menatapnya, mencari celah di wajah itu. Mencari kebohongan, mencari sedikit saja tanda kalau ia sedang menggertak. Tapi tidak ada.
“Tapi saya minta satu hal,” lanjutnya. “Jangan biarin dia nunggu lagi. Sekali pun.”
Kalimat itu terdengar mudah waktu diucapkan. Baru terasa beratnya waktu gue mencoba mengiyakan di dalam hati, dan gagal.
Karena untuk bisa berjanji seperti itu, gue harus yakin bahwa besok, lusa, dan setahun ke depan, nama yang pertama muncul di kepala gue setiap ponsel berbunyi adalah Egita. Dan gue tidak bisa bilang begitu. Bahkan pagi tadi pun tidak.
Empat jam gue duduk di sana. Pembicaraan kami sempat melebar ke hal-hal lain. Soal pekerjaan gue di kantor Papa, soal audit yang membuatnya nyaris tidak pulang selama tiga bulan, soal Inara yang katanya sekarang berani galak sama kakaknya sendiri. Ada satu titik di mana kami bahkan tertawa bersamaan, dan gue benci mengakuinya, tapi laki-laki ini menyenangkan diajak bicara.
Yang paling membuat gue malu bukan pertanyaan-pertanyaannya. Yang paling membuat gue malu adalah kenyataan bahwa selama empat jam itu, tidak sekali pun gue kepikiran untuk buru-buru kembali ke ruang perawatan Egita. Yang beberapa kali melintas di kepala gue justru ruangan lain, di lantai yang sama, dengan penghuni yang baru dua hari lalu gue antar ke rumah sakit.
Sebelum kami berpisah di parkiran, Mas Rillo mengucapkan satu kalimat lagi.
“Saya pernah kehilangan orang karena saya nggak berani ngomong. Sekarang saya berani, dan hasilnya mungkin tetap sama.” Ia tersenyum kecil. “Tapi setidaknya kali ini saya nggak nyesel karena diem.”
Gue tidak menjawab. Gue cuma mengangguk, lalu masuk ke mobil dan duduk di sana cukup lama sebelum menyalakan mesin.
***
Sekarang, delapan jam setelah percakapan itu, gue berdiri di koridor rumah sakit dengan cincin milik Egita di dalam saku celana. Cincin yang dulu kami pilih berdua sampai bolak-balik tiga toko, sampai penjaganya hafal muka kami.
Egita benar. Hubungan kami memang seperti jalan tol. Lurus, mulus, tanpa tanjakan, tanpa tikungan tajam yang memaksa kami memelankan laju. Dan karena tidak pernah ada yang menyuruh kami melambat, kami jadi tidak pernah benar-benar menoleh ke samping, memastikan orang yang duduk di kursi sebelah masih nyaman atau sebenarnya sudah lama ingin turun.
Gue sudah kehilangan Egita. Itu harga dari kelalaian gue sendiri, dan gue tidak akan sok jadi korban di cerita yang gue rusak sendiri.
Yang belum gue kehilangan adalah Mayang.
Kaki gue melangkah, melewati ruang perawat, melewati dua kamar lain, sampai berhenti di depan pintu bernomor yang sudah gue hafal. Tangan gue terangkat untuk mengetuk, tapi berhenti di udara.
Karena tiba-tiba gue teringat kalimat Mas Rillo tadi. Tentang orang yang hilang bukan karena direbut, melainkan karena tidak pernah diperjuangkan tepat waktu.
Dan gue tidak mau salah untuk kedua kalinya.