Egita’s POV
Seluruh rencana mengenai pernikahan gue yang sudah cukup matang akhirnya dibatalkan. Ah, mungkin dibatalkan bukanlah kata yang tepat, melainkan berpindah tangan. Ya, segala yang Kavin dan gue telah susun kini beralih ke tangan Fikar dan Zenata.
Lucu rasanya saat mendengar ocehan Zenata mengenai orangtuanya yang mengultimatum agar ia segera melangsungkan pernikahan sebelum perutnya membuncit dan jadi bahan pembicaraan orang-orang. Fikar yang kocar-kacir ke sana kemari mencari Wedding Organizer yang tepat akhirnya angkat tangan untuk memenuhi ekspektasi sang calon mertua yang cukup membebani.
Kemudian gue dan Kavin datang sebagai malaikat penolong, menawarkan seluruh paket pernikahan, souvenir dan juga paket foto pre-wedding yang sudah kami pilih ke mereka berdua dengan harga yang jauh lebih miring dibanding harga pasaran. Bahkan sebagian besar sudah lunas kami bayar di muka, jadi yang tersisa untuk mereka tinggal mengganti nama di kontrak dan mengganti ukuran baju.
“Gue nggak enak Git,” ucap Zenata waktu itu, sambil memegang map berisi rundown acara yang dulu gue susun sendiri sampai begadang tiga malam.
“Yang nggak enak itu kalau semua ini gue biarin busuk di laci, Nat.”
“Tapi ini kan buat lo.”
“Dan sekarang buat lo,” potong gue. “Anggap aja gue nyicil kado nikahan yang harusnya gue kasih tahun depan.”
Zenata menangis di situ juga, di depan tumpukan katalog souvenir yang belum sempat gue buang. Fikar yang tadinya sok santai malah ikut-ikutan mengusap sudut mata sambil pura-pura kelilipan.
“Gue sumpah nggak nyangka hidup gue ditolongin sama mantan,” ucap Fikar dengan suara serak.
“Kalau lo ungkit-ungkit soal mantan lagi, gue tarik semuanya.”
Satu-satunya yang tidak gue serahkan cuma gaun pengantin gue. Bukan karena gue masih menyimpan harapan, tapi karena ukurannya memang tidak akan muat di badan Zenata yang perutnya mulai membesar. Gaun itu akhirnya gue titipkan di rumah Yogya, digantung di lemari kamar Mbak Nares yang sudah lama kosong. Mama sempat bertanya kenapa tidak gue jual saja. Gue cuma menjawab nanti, suatu saat, kalau gue sudah bisa melihatnya tanpa dada gue terasa penuh.
***
Pembatalan pertunangan gue dan Kavin tidak seramai yang gue bayangkan.
Tidak ada piring pecah, tidak ada orangtua yang saling menuding, tidak ada air mata di ruang tamu. Kedua keluarga duduk berhadapan di rumah Kavin dengan teh yang mengepul dan kue lapis yang nyaris tidak disentuh siapa pun. Papa yang bicara paling banyak, ayah Kavin yang paling banyak mengangguk.
Kavin dan gue duduk bersebelahan, seperti dua terdakwa yang sudah sepakat mengakui semuanya sebelum sidang dimulai.
“Om, Tante, ini bukan salah Egita,” ucap Kavin. “Saya yang nggak bisa jagain dia.”
“Bukan, Ma, Pa. Ini keputusan kami berdua,” potong gue cepat.
Mama Kavin menggenggam tangan gue cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Tante nggak akan maksa. Cuma Tante minta satu, jangan sampai kalian saling benci.”
Gue mengangguk. Itu satu-satunya janji yang bisa gue tepati tanpa harus berbohong.
Semua selesai dalam waktu kurang dari dua jam. Empat tahun hubungan, satu tahun rencana pernikahan, ratusan pesan, puluhan kali antar jemput, dan semuanya cukup diselesaikan dalam dua jam dan segelas teh yang keburu dingin.
Kavin mengantar gue sampai pagar. Di sana ia berhenti, lalu mengeluarkan kotak kecil dari saku jasnya.
“Cincinnya kamu simpen aja Kak.”
“Ini punya kamu.”
“Yang beliin kakak.”
Ia tersenyum tipis. Senyum yang sudah lama tidak gue lihat, senyum orang yang lega dan bersalah pada waktu yang bersamaan. “Aku titip kamu ke kamu sendiri ya, Git. Jangan telat makan.”
Kalimat terakhir itu yang bikin mata gue panas sepanjang perjalanan pulang.
***
Pernikahan Fikar dan Zenata dilangsungkan enam minggu kemudian, di gedung yang sama, dengan dekorasi yang sama, dengan pengisi acara yang sama seperti yang dulu gue pilih untuk pernikahan gue sendiri.
Gue sempat ragu untuk datang. Bagas yang memaksa.
“Lo nggak dateng, seumur hidup Nat bakal ungkit-ungkit ini tiap arisan,” ancamnya lewat telepon.
Jadi di sinilah gue, berdiri di barisan pengapit pengantin dengan kebaya warna sage, memegang buket kecil, dan berpura-pura tidak mengenali setiap sudut ruangan yang sebenarnya gue hafal sampai ke letak lampunya.
Ternyata gue baik-baik saja. Bukan karena gue kuat, tapi karena melihat Zenata yang biasanya berisik itu menangis sesenggukan saat ijab kabul membuat gue lupa untuk bersedih atas urusan gue sendiri.
Kavin datang. Sendirian, tanpa Mayang. Kami bersalaman, saling menanyakan kabar, dan itu saja. Anehnya, tidak ada satu pun bagian dari diri gue yang berdenyut. Ternyata benar kata Mbak Nares, luka yang diselesaikan baik-baik memang sembuhnya lebih cepat daripada luka yang dipaksa ditutup.
Di meja tamu, Bagas dan Khalil sibuk berebut menghitung amplop yang masuk seolah mereka panitia resmi, padahal tidak ada yang menunjuk mereka. Alan sesekali menegur, Aldo malah ikut-ikutan. Windy dan Marsya cuma bisa geleng-geleng melihat kelakuan pacar dan teman-temannya.
“Git, kalau gue nikah nanti lo mau kasih paket yang mana?” celetuk Bagas tanpa dosa.
“Paket doa, gratis, seumur hidup.”
“Pelit banget anjir.”
“Gebetan lo aja belum jelas, udah mikir paket,” sambar Khalil, yang langsung dibalas Bagas dengan lemparan tisu.
Gue tertawa. Tawa yang pertama kali terasa benar-benar keluar dari perut, bukan cuma dari mulut, sejak malam gue melepas cincin di ruang perawatan itu.
Yang berdenyut justru saat gue tidak menemukan sosok yang diam-diam gue cari sepanjang acara.
Inara menepuk bahu gue di tengah sesi foto keluarga. “Nyariin siapa?”
“Nggak ada.”
“Bohong.”
Gue diam.
“Mas gue di luar, di parkiran,” ucapnya akhirnya. “Dari tadi. Dia nganterin Ibu ke sini, terus nggak mau masuk.”
***
Mas Rillo bersandar di pintu mobilnya, masih dengan kemeja batik yang lengannya dilipat sampai siku. Ia menoleh begitu mendengar suara langkah gue.
“Ramai di dalam,” ucapnya, seperti mencari alasan.
“Mas nggak masuk?”
“Nggak enak.” Ia menggaruk kepalanya yang gue yakin tidak gatal. Kebiasaan lamanya.
Kami berdiri berjauhan, dipisahkan jarak yang sebenarnya cuma dua langkah, tapi terasa seperti dua provinsi.
“Saya udah denger dari Inara,” ucapnya kemudian. “Soal kamu sama Kavin.”
Gue mengangguk pelan.
“Saya nggak akan tanya kamu baik-baik aja atau enggak, karena jawabannya pasti iya, padahal enggak.”
Gue tertawa kecil. Air mata gue malah ikut turun, entah dari mana asalnya.
“Mas kenapa nggak pernah hubungin saya?”
Untuk pertama kalinya sejak gue mengenalnya, Mas Rillo terlihat kehilangan kata-kata. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Karena kalau saya hubungin kamu minggu lalu, kamu bakal nerima saya bukan karena kamu mau, tapi karena kamu lagi nggak punya siapa-siapa.” Ia menatap gue lurus. “Dan saya nggak mau jadi pelarian, Git. Sekali seumur hidup pun nggak mau.”
Gue menunduk. Karena dia benar, dan karena kejujuran seperti itu selalu lebih menyakitkan daripada kebohongan yang manis.
“Kamu baru aja keluar dari sesuatu yang kamu bangun empat tahun. Nggak ada orang yang bisa langsung pindah gitu aja tanpa nyisain apa-apa. Kalau kamu maksain, yang rugi kamu, dan yang disalahin nanti saya.”
“Terus Mas maunya gimana?”
“Saya nunggu.”
Dua kata itu diucapkannya begitu ringan, seolah menunggu adalah hal paling gampang di dunia.
“Sampai kapan?”
“Sampai kamu bisa jawab pertanyaan saya bukan karena kamu lagi kesepian.” Ia tersenyum. “Saya udah nunggu tiga bulan di Yogya waktu itu, Git. Nambah beberapa bulan lagi nggak akan bikin saya mati.”
Gue tidak tahu harus menjawab apa. Jadi gue cuma berdiri di sana, di parkiran gedung pernikahan yang harusnya jadi milik gue, ditemani suara musik dari dalam yang terdengar samar-samar.
***
Dua minggu setelah pernikahan Zenata, gue memutuskan untuk menyusul Mbak Nares.
Awalnya cuma rencana liburan dua minggu. Tapi begitu gue melihat Tasyi yang berlarian di ruang tamu apartemen kakak gue di Osaka, dan Mbak Nares yang menawarkan gue mengurus toko kue kecilnya, dua minggu itu berubah jadi entah berapa lama.
“Kamu lari?” tanya Mbak Nares waktu gue menelepon Mama untuk memberi tahu keputusan gue.
“Bukan lari Mbak, ambil jarak.”
“Sama aja.”
“Beda,” bantah gue. “Kalau lari nggak nengok ke belakang. Kalau ambil jarak, aku masih hafal jalan pulangnya.”
Mbak Nares tertawa di seberang sana. “Adik Mbak udah pinter ngeles sekarang.”
Papa dan Mama sempat keberatan, tapi akhirnya mengizinkan setelah Mbak Nares turun tangan meyakinkan mereka. Teman-teman gue lebih heboh lagi. Bagas mengancam akan menyusul kalau gue tidak pulang dalam setahun, Khalil minta dikirimi oleh-oleh setiap bulan, dan Zenata menangis lagi, walaupun kali ini gue curiga itu efek hormon kehamilannya.
Yang tidak menangis, tidak mengancam, dan tidak melarang cuma satu orang.
Mas Rillo datang ke bandara di hari keberangkatan gue. Berdiri agak jauh dari rombongan teman-teman gue, dengan tangan di saku, seperti orang yang tidak yakin dirinya punya tempat di barisan itu.
Gue menghampirinya lebih dulu.
“Mas nggak nyuruh saya buat tinggal?”
“Enggak,” jawabnya. “Kalau saya nyuruh kamu tinggal, berarti saya nggak percaya kamu bakal balik.”
Gue tersenyum. Entah kenapa, jawaban itu justru membuat kaki gue terasa lebih ringan untuk melangkah.
“Boleh saya telepon kamu?” tanyanya kemudian, hati-hati, seperti anak kecil yang minta izin mengambil kue terakhir.
“Boleh.”
“Tiap hari?”
Gue menoleh ke arahnya, dan mendapati laki-laki itu sedang menahan senyum.
“Terserah Mas.”
Dan itulah kalimat terakhir yang gue ucapkan padanya sebelum gue berbalik, menarik koper, dan berjalan menuju gerbang keberangkatan tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Bukan karena gue tidak ingin.
Tapi karena gue tahu, kalau gue menoleh, gue tidak akan jadi pergi.