Bibit kesabaran akan menghasilkan buah yang indah.
***
Enam bulan telah berlalu, mengasingkan diri di Negeri Sakura nampaknya merupakan keputusan yang paling tepat. Gue terfokus pada perkembangan Tasyi dan bermain bersama Mbak Nares, mencoba melupakan kegagalan yang sudah berlalu dan mencari sudut pandang baru akan sebuah hubungan.
Kalau kalian menyangka setelah putus dari Kak Kavin gue menjalin kasih sama Mas Rillo, kalian salah. Kami tidak pacaran. Namun kehadirannya tidak pernah absen setiap harinya. Rindu yang menyiksa dari hubungan jarak jauh kami bisa terselamatkan dengan adanya fasilitas video call.
“Gi, kamu belum berniat pulang?” tanya Mbak Nares di suatu pagi.
Gue mengangkat bahu, di sini memang nyaman namun gue sadar gue tak bisa selamanya bersembunyi di sini.
“Rillo gimana?” lanjut Mbak Nares sambil menuang teh ke cangkir gue tanpa menunggu jawaban pertanyaan pertamanya.
“Kenapa jadi bawa-bawa Mas Rillo?”
“Ya karena tiap malam yang bikin kamar kamu ada suara orang ketawa cuma dia,” jawab kakak gue santai. “Mbak kira kamu ngobrol sama Tasyi. Ternyata Tasyi udah tidur dari jam delapan.”
Gue menyesap teh untuk menutupi wajah gue yang mulai memanas.
“Kalian ini sebenernya apa sih? Pacaran enggak, putus juga enggak.”
“Temenan, Mbak.”
“Temen yang telepon tiap hari selama enam bulan?”
“Temen yang… ya gitu deh.”
Mbak Nares mendengus, lalu melempar serbet ke arah gue. “Ngeles kamu makin parah aja. Untung Mbak sayang.”
Enam bulan memang bukan waktu yang sebentar untuk sesuatu yang tidak punya nama. Tapi anehnya, gue tidak pernah merasa perlu memberinya nama.
Setiap pagi gue berangkat ke toko kue kecil milik Mbak Nares yang letaknya cuma dua blok dari apartemen. Tokonya mungil, cuma muat enam meja, dengan etalase kaca berisi shortcake, dorayaki, dan roti melon yang laris sejak pintu dibuka. Awalnya gue cuma jadi tukang cuci loyang. Sekarang gue sudah dipercaya memegang oven pagi, dan Mbak Nares sudah berani meninggalkan toko untuk menjemput Tasyi dari yochien tanpa panik.
Ternyata mengurus adonan itu ada enaknya. Adonan tidak bisa dibohongi. Kalau takarannya salah, dia gagal mengembang. Kalau kamu tidak sabar menunggu proofing-nya, hasilnya bantat. Tidak ada adonan yang pura-pura baik-baik saja di dalam oven lalu meledak beberapa bulan kemudian.
Coba hubungan manusia sesederhana itu.
***
Video call itu selalu datang di jam yang sama. Jam sembilan malam waktu sini, jam tujuh malam waktu Jakarta.
“Udah makan?” Itu selalu kalimat pembukanya. Selalu.
“Udah Mas. Tadi makan sisa roti yang gagal.”
“Yang gagal kenapa dimakan?”
“Sayang kalau dibuang.”
“Ya udah, besok yang gagal dikirim ke saya aja.”
“Ongkirnya lebih mahal dari rotinya, Mas.”
“Nggak apa-apa,” jawabnya enteng, dan gue tahu dia serius.
Kadang layar ponsel gue cuma menampilkan langit-langit kamarnya karena ia ketiduran waktu musim audit sedang padat-padatnya. Gue tidak pernah mematikan sambungannya buru-buru. Gue biarkan saja sampai napasnya terdengar teratur, baru gue tutup pelan-pelan, seolah suara tombol pun bisa membangunkannya.
Ia tidak pernah sekali pun menanyakan status. Tidak pernah menuntut jawaban dari pertanyaan yang dulu ia gantung di parkiran gedung pernikahan Zenata. Ia cuma hadir, setiap hari, tanpa absen, tanpa mengeluh soal beda waktu dua jam yang bikin dia sering tidur lewat tengah malam.
Tasyi bahkan sudah hafal. Kalau ponsel gue berbunyi di jam itu, keponakan gue yang belum genap empat tahun itu akan berlari lebih dulu untuk merebut layar, lalu berteriak, “Om Iyoo!” dengan lafal yang tidak pernah benar sampai sekarang.
Mas Rillo tidak pernah keberatan. Ia malah menyiapkan bahan obrolan khusus untuk Tasyi, mulai dari cerita kucing yang tinggal di parkiran kantornya sampai lagu-lagu anak yang ia nyanyikan dengan suaranya yang, harus gue akui, memang jauh lebih bagus dari suara bicaranya.
“Om Rillo kapan ke sini?” tanya Tasyi suatu malam, polos, tanpa tahu betapa pertanyaan itu membuat gue buru-buru mengambil alih ponsel.
Dan Mas Rillo cuma tertawa. “Nanti, kalau Tantenya udah ngizinin.”
Dan justru itu yang perlahan bikin gue takut. Karena gue mulai terbiasa. Dan gue sudah pernah tahu rasanya kehilangan sesuatu yang gue kira akan selamanya ada karena gue keburu terbiasa.
***
Kabar dari Indonesia datang berturut-turut minggu itu.
Zenata mengirim foto perutnya yang sudah sebesar gentong dengan caption yang tidak pantas gue tulis ulang di sini. Perkiraan lahirnya tinggal tiga minggu lagi. Fikar, yang dulu gue ragukan kesiapannya jadi ayah, ternyata sekarang jadi orang paling rewel di grup, menanyakan merek stroller ke semua orang termasuk ke Bagas yang jelas-jelas tidak punya keponakan.
Inara mengabari kalau dia dan Aldo akhirnya wisuda bareng. Fotonya dikirim ke gue lebih dulu sebelum diunggah ke media sosial, lengkap dengan gelang perak berbentuk hati yang masih melingkar di pergelangan tangannya.
Dan satu kabar lagi, yang gue dengar bukan dari siapa-siapa, melainkan gue lihat sendiri di beranda ponsel.
Kavin mengunggah foto. Bukan foto berdua, cuma foto dua gelas kopi di atas meja dengan tangan seseorang yang gue kenal masuk ke dalam bingkai. Tidak ada keterangan apa pun. Tidak perlu.
Gue menunggu beberapa detik, mencari sesuatu di dalam dada gue. Rasa sakit, rasa cemburu, rasa apa pun yang seharusnya muncul.
Tidak ada.
Yang ada cuma satu kalimat pendek yang gue ketik dan gue kirim sebagai balasan, “Selamat ya, Kak.”
Kavin membalasnya sepuluh menit kemudian dengan satu kata, “Makasih.” Lalu ditambah satu kalimat lagi, “Kamu jangan telat makan.”
Gue tersenyum menatap layar. Ternyata benar, ada orang-orang yang memang lebih pantas jadi kenangan yang baik daripada masa depan yang dipaksakan.
***
“Gi, kamu belum berniat pulang?”
Pertanyaan Mbak Nares pagi itu terus menempel di kepala gue sampai sore. Bahkan saat gue sedang menghias baris terakhir cheesecake pesanan pelanggan langganan, kalimat itu masih berputar-putar.
Gue memang tidak bisa selamanya di sini. Papa sudah dua kali menyinggung soal kantor keluarga yang butuh orang, Mama sudah tiga kali menanyakan kapan gue pulang dengan alasan rindu, dan Zenata sudah mengancam akan menamai anaknya dengan nama gue kalau gue tidak hadir saat lahiran.
Tapi ada satu alasan lain yang lebih besar dari semuanya, yang bahkan tidak berani gue akui ke Mbak Nares.
Gue takut pulang. Takut menemukan bahwa yang selama ini terasa hangat lewat layar ternyata berbeda saat dihadapi langsung. Takut menyadari bahwa yang gue rindukan cuma kebiasaan, bukan orangnya.
Menjelang tutup, gue sedang membelakangi pintu sambil menurunkan sisa kue ke dalam kotak diskon sore, ketika lonceng di atas pintu berbunyi.
“Sumimasen, kami sudah mau tutup,” ucap gue tanpa menoleh, sambil mengelap tangan ke celemek.
“Roti yang gagal masih ada?”
Tangan gue berhenti.
Suara itu.
Gue berbalik pelan-pelan, dan yang gue temukan bukan pelanggan langganan yang biasa datang membawa payung, melainkan seorang laki-laki dengan koper kabin, jaket tebal yang jelas-jelas baru dibeli, dan wajah lelah orang yang baru turun dari pesawat tujuh jam.
Mas Rillo.
Berdiri di ambang pintu toko kue Mbak Nares, di Osaka, delapan ribu kilometer dari kubikel kantornya, dengan senyum kikuk yang sama seperti waktu dia dulu menyerahkan kotak gelang di restoran mall itu.
Gue tidak bisa bergerak. Serius. Kaki gue seperti dipaku ke lantai.
“Mas… ngapain di sini?”
“Cuti,” jawabnya singkat. Lalu ia menggaruk kepalanya yang gue yakin tidak gatal. “Saya nabung cutinya dari tahun lalu.”
“Mas nggak bilang apa-apa.”
“Kalau saya bilang, kamu bakal nyuruh saya nggak usah dateng.”
Benar juga.
“Terus… Mas nginep di mana?”
“Ada hotel kapsul deket stasiun. Udah saya bayar tiga malam.” Ia melirik etalase yang sudah nyaris kosong. “Kalau ternyata kamu marah saya dateng, saya balik lusa. Nggak apa-apa. Setidaknya saya udah lihat kamu baik-baik aja.”
Gue mengembuskan napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantung yang berdegup tidak karuan sejak lonceng pintu itu berbunyi.
“Enam bulan Mas nunggu, terus jauh-jauh ke sini cuma buat mastiin saya baik-baik aja?”
Mas Rillo diam sejenak. Kemudian ia meletakkan kopernya, dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan ini gue bisa melihat matanya tanpa perantara layar.
“Enggak,” akunya. “Saya ke sini buat nanya pertanyaan yang dulu saya gantung.”
Dada gue naik turun. Di luar jendela, salju pertama musim ini mulai turun pelan-pelan, menempel di kaca dan meleleh sebelum sempat menumpuk.
“Tapi nggak sekarang,” lanjutnya, membuat gue mengerjap kaget. “Kamu masih pakai celemek dan tangan kamu masih belepotan krim. Masa iya saya nanya hal sepenting itu di situasi kayak gini.”
Gue melihat ke bawah, ke celemek gue yang memang belepotan krim, lalu tertawa. Tawa yang keluar bersamaan dengan air mata yang tidak gue mengerti asalnya.
“Besok toko libur,” ucap gue akhirnya, setelah berhasil menguasai suara gue sendiri.
“Berarti besok saya boleh datang lagi?”
“Boleh.”
Mas Rillo mengangguk, lalu duduk di salah satu kursi tanpa gue persilakan, seperti orang yang memang sudah lama punya tempat di sana.
“Sekarang saya boleh minta roti yang gagal itu?”
Gue mengambil sepotong roti melon yang bentuknya paling tidak karuan dari kotak diskon sore, menaruhnya di piring, dan menyodorkannya ke hadapan laki-laki yang sudah menunggu gue lebih lama dari yang pantas ia lakukan.
Ia menggigitnya, mengunyah pelan, lalu mengangguk-angguk dengan wajah puas.
“Enak.”
“Bohong. Itu gosong.”
“Ya emang,” jawabnya sambil menggigit lagi. “Tapi enak.”
Dan di toko kue kecil berisi enam meja itu, di bawah salju pertama yang turun di luar jendela, gue sadar satu hal yang selama enam bulan ini gue hindari.
Bahwa gue sudah tidak punya alasan lagi untuk bersembunyi.