Gue masih berdiri di belakang etalase, celemek belepotan krim, roti melon gosong sudah berpindah ke piring di depan Mas Rillo. Salju di luar jendela masih turun pelan-pelan, belum sempat menumpuk, meleleh di kaca seperti orang yang datang jauh-jauh lalu ragu menempel.
Dia mengunyah. Gue tidak bergerak.
Bukan karena gue tidak ingin. Kaki gue memang masih seperti dipaku, tapi yang lebih parah adalah kepala gue. Enam bulan gue latih diri untuk tidak kaget kalau layar ponsel menampilkan wajahnya. Enam bulan gue kira itu cukup. Ternyata layar dan orang sungguhan itu dua makhluk berbeda. Orang sungguhan punya jaket tebal yang kaku, koper kabin yang masih ada stiker bandara, dan mata yang tidak bisa gue tutup dengan menekan tombol merah.
“Masal makan berdiri?” tanya gue akhirnya, lebih untuk mendengar suara gue sendiri daripada untuk menegur.
“Nggak. Cuma belum dipersilakan duduk lebih lama.” Ia menatap kursi yang sudah ia duduki. “Tadi saya duduk sendiri. Sekarang saya minta izin resmi.”
“Duduk aja. Toko mau tutup, tapi nggak berarti Mas harus berdiri di ambang pintu kayak salesman.”
Mas Rillo tersenyum kikuk, senyum yang sama seperti waktu dia menyerahkan kotak gelang di restoran mall dulu. Gue benci mengakui bahwa gue hafal senyum itu. Gue benci mengakui bahwa gue rindu senyum itu, dan bahwa rindu itu bukan rindu kebiasaan, melainkan rindu orangnya. Kalimat yang sejak sore gue takuti justru muncul sendiri, tanpa gue undang.
Gue berbalik, mengunci pintu, memutar plang jadi tutup, mematikan lampu etalase. Tangan gue bekerja otomatis. Kepala gue tidak.
“Tasyi belum tidur?” tanyanya, seolah tiga malam hotel kapsul dan delapan ribu kilometer bisa dibuka dengan pertanyaan tentang keponakan gue.
“Belum. Dia nunggu Om Iyoo tiap malam. Kalau malam ini Om Iyoo nggak muncul di layar, dia bakal nanya kenapa.” Gue mengelap meja yang sudah bersih. “Mas mau ke apartemen? Atau hotel dulu?”
“Hotel. Saya nggak mau dateng ke rumah kakak kamu tanpa izin, apalagi jam segini, apalagi saya dateng tanpa kabar.” Ia menggaruk kepala yang gue yakin tidak gatal. “Besok. Kalau kamu masih izinin.”
Gue mengangguk. Itu jawaban yang masuk akal. Itu juga jawaban yang bikin dada gue campur: lega karena dia tidak menyerbu, kesal karena gue ingin dia menyerbu sedikit saja.
“Saya anter Mas ke stasiun?”
“Kamu baru nutup toko. Saya bisa naik kereta sendiri. Saya yang dateng mendadak, bukan kamu yang harus nganterin saya.”
“Mas bawa koper, jaketnya kaku, muka lelah orang tujuh jam pesawat. Saya nggak akan tidur kalau ngerasa nyuruh Mas nyasar sendirian.”
Dia diam sejenak, lalu mengangguk. “Kalau begitu saya terima. Tapi saya yang bayar taksi.”
“Mas di negara orang, saya yang tau jalannya.”
“Tetap saya yang bayar.”
Gue tidak berdebat lebih jauh. Ada perang yang tidak perlu dimenangkan malam ini.
***
Di luar, salju menempel di rambut gue lalu mencair. Mas Rillo menarik koper dengan satu tangan, tangan satunya memegang piring kosong yang ia kembalikan ke gue di depan pintu, seperti orang yang tidak mau membawa barang toko ke jalan.
Taksi yang gue panggil berhenti di tikungan. Sopirnya menoleh, mengangguk waktu gue sebut stasiun. Di kursi belakang, koper ditaruh di antara kami, jadi batas yang sopan dan konyol.
“Mas makan di pesawat?”
“Mie. Nggak enak. Makanya roti gosong tadi terasa kayak bintang lima.”
“Bohong.”
“Sebagian.” Ia menoleh. “Sebagiannya serius. Saya kangen rasanya kamu yang nggak sempurna.”
Gue menatap kaca. Wajah gue di sana basah, bukan cuma karena salju. “Mas jangan ngomong gitu malam ini. Saya masih pakai celemek di tas.”
“Saya ingat. Besok. Pertanyaannya besok.”
“Mas masih mau nanya?”
“Masih. Tapi nggak di taksi, nggak di toko, nggak pas tangan kamu belepotan krim.” Ia menghela napas. “Saya nunggu enam bulan biar kamu bisa jawab bukan karena kesepian. Saya bisa nunggu satu malam lagi biar kamu bisa jawab bukan karena kaget.”
Gue meremas tali tas. “Kalau saya jawab iya karena kangen, itu termasuk alasan yang salah nggak?”
“Tergantung. Kangen orangnya, atau kangen yang nelpon tiap malam biar kamar nggak sepi?”
Gue tidak langsung jawab. Karena jujur, enam bulan pertama gue sendiri sempat tidak tahu. Baru malam ini, waktu lonceng pintu berbunyi dan suara itu menyebut roti yang gagal, gue bisa membedakan. Kamar gue bisa sepi. Yang tidak bisa diganti adalah cara dia mengunyah roti gosong seolah itu keputusan yang tepat.
“Orangnya,” ucap gue pelan.
Mas Rillo tidak merayakan. Dia cuma mengangguk, seperti orang yang menerima barang titipan dan tidak akan membukanya di jalan.
Stasiun ramai orang pulang kerja. Gue turun bersamanya sampai pintu hotel kapsul yang memang dekat, seperti yang ia bilang. Lobi kecil, mesin check-in, bau sabun murah.
“Tiga malam,” ucapnya lagi. “Kalau kamu marah, saya balik lusa.”
“Saya nggak marah.”
“Bagus.” Ia tersenyum. “Kalau begitu saya nggak balik lusa.”
Gue hampir tertawa. “Mas tidur. Jet lag. Besok toko libur. Jam sepuluh saya jemput di sini. Jangan ganti jadwal sendiri.”
“Siap.” Ia menggaruk kepala. “Git.”
“Ya.”
“Makasih udah nggak nyuruh saya pulang.”
Gue mengangguk, lalu berbalik sebelum kaki gue memutuskan untuk masuk ke lobi itu dan tidak keluar. Di taksi pulang, gue buka ponsel. Ada pesan dari Mbak Nares: Tasyi nanya Om Iyoo. Ada pesan dari Zenata: foto perut dan ancaman nama bayi. Ada pesan dari Mama: kapan pulang. Tidak ada pesan dari Mas Rillo. Dia baru saja di depan gue. Itu lebih dari cukup.
***
Apartemen berbau miso. Tasyi lari ke pintu, lalu mengerut waktu yang masuk cuma gue.
“Om Iyoo?”
“Besok,” kata gue, dan gue kaget sendiri karena suaranya mantap. “Om Iyoo di Osaka. Beneran. Bukan di hape.”
Tasyi memekik. Mbak Nares muncul dari dapur, celemek, alis naik. Dhafin menoleh dari sofa, lalu bijak kembali ke berita.
“Dateng?” tanya Mbak Nares.
“Di toko. Cuti. Hotel kapsul. Besok saya jemput.”
Kakak gue menyeka tangan. “Kamu lari, atau ambil jarak, atau sekarang pulang pelan-pelan?”
“Saya belum tau namanya. Saya cuma tau saya nggak mau nutup pintu.”
Mbak Nares mengangguk, lalu menaruh semangkuk miso di meja tanpa diminta. “Makan. Nanti cerita. Jangan sampe Tasyi yang interogasi dulu.”
Gue makan. Hangat. Di luar salju masih turun. Di kepala gue, laki-laki itu masih mengunyah roti gosong dan bilang enak. Gue tidak bersembunyi malam ini. Gue cuma belum menjawab. Besok. Pertanyaannya besok. Dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan, besok tidak terasa seperti ancaman.